Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Patah
Ketika Sheza terbangun, dia merasa tubuhnya sangat tidak nyaman. Masih dalam kondisi yang seperti kelelahan.
Mengingat apa yang terjadi semalam. Sheza segera bangkit duduk. Dia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
Melihat piyama di tubuhnya, Sheza membulatkan matanya. Tapi dia tidak merasakan ada yang aneh di bagian bawah. Setidaknya dia bisa menghela nafas lega.
Ceklek
Begitu pintu kamar terbuka, seorang pria masuk dengan paper bag di tangannya.
"Kamu sudah bangun? ini pakaian ganti untukmu!"
Sheza mencoba memperhatikan pria di depannya itu. Seingatnya dia memang kesulitan bernafas dan melihat ketika salah seorang preman memberikan bubuk aneh padanya. Dan dia samar-samar melihat pria itu membantunya.
Selanjutnya dia tidak ingat apapun lagi. Selebihnya hanya potongan-potongan kecil yang sulit untuk dia percaya benar atau tidaknya.
"Kamu..."
"Jendra Alvaro, kebetulan aku lewat dan melihat seorang wanita di keroyok 6 pria. Kamu lumayan juga! cari masalah gak tanggung-tanggung!"
Sheza mendengus pelan. Memangnya siapa yang sengaja cari masalah dengan para preman itu. Jelas-jelas para preman itu orang-orang suruhan Karen. Tapi mau dia bilang itu pada kedua orang tuanya atau pada Alex. Orang-orang itu juga tidak akan percaya.
Menyebalkan sekali memang berhadapan wanita munafik penuh intrik macam Karen.
Sheza kembali pada pakaian yang dia pakai.
"Baju ini..."
"Bubuk itu obat perangsangg. Rumah sakit terlalu jauh, aku panggil dokter pribadi kemari dan aku terpaksa membawamu ke bawah shower supaya kamu tidak minta tidur denganku..."
Mata Sheza membelalak lebar.
"Aku!" sela Sheza sangat terkejut.
Dia sungguh tidak ingat selanjutnya yang terjadi setelah dia terpengaruh bubuk obat itu. Tapi, rasanya tidak mungkin kalau dia mengajak pria itu tidur.
Sheza menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
"Aku meminta tidur denganmu?" tanya Sheza nyaris tak percaya.
Jendra mengangguk yakin.
"Benar! bukan itu saja! kamu meraba seluruh tubuhku, bahkan mencuri ciuman pertamaku!"
Sheza sungguh tak sanggup lagi mendengarnya. Rasanya dia benar-benar ingin menghilang saja.
'Apa aku seperti itu? ah tidak mungkin, aku tidak mungkin seperti itu' batin Sheza yang mengelak semua ucapan Jendra di dalam hatinya.
"Lihat ini, bengkak!" kata Jendra menunjuk bibirnya.
Sheza menelan salivanya dengan susah payah. Dia sendiri merasa bibirnya juga tebal. Dia perlahan menyentuh bibirnya, dan benar saja, sepertinya bibirnya juga bengkak.
'Ah, tidak mungkin. Apa aku benar-benar seperti itu?' batinnya yang mulai terpengaruh ucapan Jendra.
"Aku... aku pasti tidak sengaja. Obat itu mungkin... lagipula kamu juga sudah mengganti pakaianku, melihat semuanya kan? anggap saja impas!" celetuk Sheza yang tidak mau memperpanjang masalah ini.
"Tega sekali, aku menutup mataku saat mengganti pakaianmu. Aku hanya meraba..."
"Agkkhhhh!"
Bugh
Bugh
Sheza memekik kesal dan melempar dua bantal yang ada di dekatnya ke arah Jendra.
"Dasar pria brengsekk!" maki Sheza.
"Kenapa malah marah? aku kan tidak menyentuhmu. Kalau tidak di ganti pakaian kamu semalam. Kamu bisa masuk angin. Kamu ini memang wanita kejam ya, kebaikan ku di balas dengan makian. Tega sekali!"
Sheza mendengus kesal. Kalau dipikir-pikir iya juga. Memangnya ada orang yang kebetulan berbuat baik begitu. Meski diganti pakaian, pria itu juga tidak menyentuh Sheza.
"Baiklah, terima kasih!" kata Sheza yang segera turun dari tempat tidur dan menyambar paper bag yang ada di tangan Jendra.
**
Sheza segera menuju ke villanya dan Alex. Ya, villa itu dibeli Alex dengan nama mereka berdua. Mereka akan tinggal disana setelah menikah.
Sayangnya ponsel Sheza kehabisan daya. Jadi, dia tidak bisa mengabari Alex terlebih dahulu.
Begitu Sheza sampai di villa itu. Mobil Alex masih ada. Sheza pikir, mungkin Alex masih menunggunya.
Sheza segera masuk ke dalam villa, karena memang dia sudah tahu kata sandi pintunya. Sheza membuka pintu, dia baru mau membuka mulutnya untuk memanggil Alex, ketika dia mendengar suara yang terdengar familiar.
"Terima kasih untuk yang semalam, aku akan mengingatnya...!"
"Berhenti bicara seperti itu Karen. Selama ini kamu juga pasti sangat kesepian. Jangan khawatir, sebelum aku menikah dengan Sheza. Aku akan terus menemanimu!"
Deg
Sheza mendengar itu, langkahnya yang tadinya semakin melambat, langsung terhenti.
Di balik dinding menuju ruang tengah itu, Sheza melihat calon tunangannya mencium mesra sepupunya.
Tangan Sheza terkepal. Rasanya hatinya sakit sekali. Selama ini dia sudah merelakan keluarganya, ayah dan ibunya yang lebih berat kasih sayangnya pada Karen. Dia pikir, sebentar lagi dia akan bertunangan dan menikah dengan pria yang dia cintai dan mencintainya. Dia akan tinggalkan rumah itu dan Karen. Lalu bahagianya bersama Alex.
Tapi, di depan matanya. Semua harapannya itu hancur. Mimpinya sebagai seorang penari sudah dihancurkan oleh sepupunya yang kata orang baik dan suci itu. Sekarang, harapannya juga dihancurkan.
Kedua orang itu masih berciuman tanpa rasa malu. Entah apa yang sudah mereka lakukan semalam. Sheza rasanya mual sekali melihatnya.
Sheza berbalik, air matanya sudah menggenang. Air matanya sungguh sudah memenuhi kelopak matanya itu. Jika dia berkedip, sudah pasti air mata itu akan tumpah.
Tapi ketika dia akan pergi, langkahnya kembali terhenti.
'Tunggu!' batinnya sendiri melarangnya untuk segera pergi dari tempat itu.
Sheza berpikir, kenapa dia harus menangis? bukankah kalau Alex tidak mau, Karen juga tidak akan bisa mendekatinya. Lantas kenapa dia harus marah, bukannya mereka belum bertunangan? Jika dia pergi, maka orang tuanya masih akan terus memaksakan pertunangan dan pernikahannya dengan Alex. Karena memang bukan masalah Alex dan Sheza saling suka, hubungan itu juga menguntungkan perusahaan ayahnya.
Sheza mengedipkan matanya dengan kuat. Membuat semua air mata di pelupuk matanya tumpah. Lalu dia menyekanya dengan cepat.
Sheza menarik nafas dalam-dalam. Dan bertepuk tangan.
Prok prok prok
Alex segera menarik dirinya dari dekapan Karen.
"Sungguh pertunjukan yang sangat menarik!" kata Sheza yang tampak sudah tidak lagi perduli atau sakit hati seperti tadi.
"Sheza!" Alex kaget bukan main.
"Sheza, aku bisa menjelaskan ini. Ini bukan salah Alex, ini salahku...!"
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Karen.
"Kenapa kamu pukul aku?" tanya Karen tak senang.
"Loh, kenapa masih tanya? bukannya tadi kamu bilang kalau kamu salah! aku pukul, wajar kan?" balas Sheza.
Karen terlihat kesal. Tapi dia juga tidak boleh menunjukkan emosinya.
"Kamu benar, pukul saja lagi, aku memang pantas! aku sangat mencintai Alex. Tapi dia tidak mencintaiku, aku akan pergi. Aku tidak akan muncul lagi di hadapannya!"
"Cih, mau berakting di depan siapa?" tanya Sheza.
Brukk
Karen berlutut di depan Sheza.
"Ini salahku, Alex sangat mencintaimu!"
***
Bersambung...