"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Garis Tarik dan Puing Kebanggaan
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun saat Gani dan Kirana tiba di kompleks Balai Desa Karangbanyu. Panasnya terasa memanggang kulit kepala, membuat udara di sekitar aspal bergetar menciptakan fatamorgana tipis.
Gani berjalan dengan langkah sedikit tertahan, menarik ujung topi bisbol pudar yang ia pinjam dari rumah peninggalan ayahnya agar menutupi separuh wajahnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, dan alasannya sama sekali bukan karena kelelahan berjalan.
Alasannya adalah pria paruh baya berkumis tebal yang saat ini sedang berdiri berkacak pinggang di tengah pelataran Balai Desa. Pak Kades.
"Ingat," desis Gani pelan pada Kirana yang berjalan santai di sebelahnya sambil memutar-mutar payung kertas. "Kalau dia menyinggung soal mangga atau musang, kau yang harus bersuara. Aku tidak mau reputasiku yang sudah hancur ini ditambah dengan gelar maling kampung."
Kirana tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng angin di tengah cuaca panas. "Tenang saja, Komandan. Pak Kades itu rabun jauh kalau tidak pakai kacamata. Dia tidak akan mengenali siluet maling yang melompat dari pohonnya kemarin. Lagipula, hari ini kau punya misi yang jauh lebih penting dari sekadar menjaga gengsi."
Gani menghela napas pasrah. Ia mengalihkan pandangannya dari Pak Kades menuju struktur bangunan di belakang pria itu.
Kompleks Balai Desa Karangbanyu terdiri dari sebuah pendopo utama tempat warga berkumpul, dan sebuah Surau kayu yang menempel di sisi kanannya. Di antara pendopo dan Surau tersebut, terdapat sebuah bangunan lorong penghubung beratap genteng tanah liat yang cukup panjang.
Atau lebih tepatnya, mantan bangunan lorong penghubung.
Atap di bagian tengah lorong itu telah ambruk sepenuhnya, menyisakan puing-puing genteng pecah dan balok kayu yang patah berserakan di lantai semen. Badai angin kencang yang diceritakan Kirana beberapa minggu lalu tampaknya telah menghancurkan struktur utama penyangga atap tersebut.
Saat ini, ada sekitar empat orang pria paruh baya yang tampak kebingungan di sekitar puing-puing. Salah satunya memegang gergaji, sementara yang lain menggaruk-garuk kepala menatap sisa tiang penyangga.
"Aduh, Kang Ujang! Sampeyan ini kan tukang kayu paling senior di desa! Masa menyambung balok kuda-kuda saja bingung?!" tegur Pak Kades dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat pria kurus pemegang gergaji itu berjengit kaget.
"Bukan begitu, Pak Kades," balas Kang Ujang dengan nada memelas, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di leher. "Kayu jatinya ini patah tepat di titik tumpu. Kalau kita cuma ganti balok yang patah dan dipaku seperti biasa, bentangannya terlalu panjang. Nanti kalau ada angin kencang lagi, pasti ambruk lagi. Harus dibongkar dari dasar."
"Dibongkar dari dasar bagaimana?! Dana desa dari kabupaten belum turun! Kita cuma punya kayu sisa perbaikan pos ronda!" Pak Kades memijat pelipisnya dengan frustrasi. "Surau ini mau dipakai untuk pengajian akbar minggu depan. Kalau kehujanan, mau ditaruh di mana muka saya di depan Pak Bupati?!"
Tepat di tengah perdebatan sengit itu, Kirana melangkah maju dengan payung kertasnya, menarik perhatian semua orang di sana.
"Assalamualaikum, Pak Kades, Kang Ujang!" sapa Kirana dengan nada ceria yang sangat kontras dengan suasana tegang tersebut.
Pak Kades menoleh. Guratan marah di wajahnya sedikit mengendur saat melihat siapa yang datang. Di desa ini, nyaris tidak ada yang bisa benar-benar marah pada Kirana. Gadis itu memiliki semacam aura kekebalan diplomatik karena senyumnya dan tentu saja, kondisi kesehatannya yang diketahui oleh para tetua desa.
"Waalaikumsalam, Nduk Kirana," jawab Pak Kades, nada suaranya menurun dua oktaf. "Siang-siang panas begini kok main ke Balai Desa? Nanti sakitmu kambuh lho. Pulang saja, istirahat."
"Kirana sehat, Pak," jawab gadis itu sambil melipat payungnya. Ia kemudian menyingkir ke samping, membiarkan sosok Gani yang sedari tadi bersembunyi di belakang payungnya kini terlihat jelas oleh semua orang. "Kirana ke sini cuma mau mengantar bala bantuan."
Keheningan yang sangat canggung mendadak turun menyelimuti pelataran itu.
Tatapan Pak Kades berpindah dari Kirana ke arah Gani. Mata pria paruh baya itu menyipit, memindai penampilan Gani dari ujung sepatu kets usangnya hingga ke kaus oblong dan topi pudar yang ia kenakan.
"Bala bantuan?" ulang Pak Kades, nada suaranya kembali menajam, kali ini diwarnai dengan nada sarkasme yang kental. "Kamu membawa anak almarhum Pak Haris ke sini untuk memperbaiki atap?"
Gani mengatupkan rahangnya. Ia bisa merasakan tatapan menilai dari Kang Ujang dan para tukang lainnya. Tatapan yang tidak asing baginya akhir-akhir ini. Tatapan yang menelanjangi kegagalannya.
"Ya, Pak. Mas Gani kan arsitek," sahut Kirana dengan polos, seolah ia tidak menangkap ketegangan di udara.
Pak Kades tertawa hambar, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti dengusan meremehkan. Pria itu melangkah mendekati Gani, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Arsitek, ya?" cibir Pak Kades, menatap lurus ke mata Gani. "Saya dengar berita di tivi minggu lalu, Mas Gani. Berita soal gedung-gedung miliaran rupiah di Jakarta, soal korupsi, dan perusahaan yang bangkrut. Desa kita ini desa kecil, Mas. Kami memang tertinggal, tapi kami masih punya tivi."
Setiap kata yang keluar dari mulut Kepala Desa itu seperti jarum kecil yang ditusukkan tepat di atas luka terbuka Gani. Telinga Gani memanas. Insting pertamanya adalah berbalik, meninggalkan tempat terkutuk ini, dan kembali mengunci diri di dalam rumah gelapnya. Di Jakarta, ia biasa melawan hinaan dengan angka dan kekuasaan. Di sini, ia tidak punya keduanya.
Namun, sebelum Gani sempat membalikkan badan, Kirana menyentuh punggung tangannya dengan sangat lembut. Sentuhan itu ringan, tapi cukup mengejutkan untuk membuat Gani tetap berpijak di tempatnya.
"Permintaan keduaku," bisik Kirana, suaranya sangat pelan hingga hanya bisa didengar oleh Gani. "Buktikan bahwa dia salah. Jangan lari."
Gani menoleh menatap Kirana. Gadis itu menatapnya dengan sepasang mata sabit yang tajam, penuh keyakinan yang tak terbantahkan. Keyakinan yang bahkan tidak Gani miliki untuk dirinya sendiri saat ini.
Gani menarik napas panjang, menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya. Ia membuang pandangannya dari Kirana, menatap kembali ke arah Pak Kades yang masih menunggu reaksi darinya.
"Bapak benar," ucap Gani akhirnya, suaranya datar dan terkendali, sebuah keterampilan yang ia pelajari dari ratusan jam rapat dewan direksi. "Perusahaan saya memang hancur. Saya kehilangan semuanya. Tapi..."
Gani melangkah maju, melewati Pak Kades, dan berjalan lurus menuju puing-puing atap yang runtuh. Ia berhenti tepat di bawah sisa-sisa rangka kayu yang menggantung berbahaya. Ia mendongak, matanya yang selama berbulan-bulan diselimuti kabut depresi, kini tiba-tiba berkedip dengan fokus yang tajam.
"...Saya bangkrut karena salah memilih rekan bisnis, Pak Kades," lanjut Gani tanpa menoleh ke belakang. Ia melepas topi bisbolnya, membiarkan panas matahari menyengat kepalanya. "Saya tidak bangkrut karena saya tidak bisa merancang bangunan."
Hening. Kang Ujang dan para tukang kayu saling berpandangan.
Gani mengabaikan mereka semua. Ia melangkah ke tengah puing-puing bata dan genteng. Saraf-saraf di dalam otaknya seolah dihidupkan kembali, menyala satu per satu seperti lampu kota yang dinyalakan saat senja. Bau serbuk gergaji, kayu jati tua, dan semen basah masuk ke dalam penciumannya, memicu memori otot yang telah lama tertidur.
Bagi orang awam, apa yang ada di hadapan Gani hanyalah tumpukan kayu patah yang berantakan. Namun bagi Gani, puing-puing itu adalah sebuah persamaan matematika yang sedang menunggu untuk dipecahkan.
Gani menyipitkan matanya, memindai sisa-sisa tiang penyangga. Ia mulai melihat garis-garis vektor tak kasat mata di udara. Garis distribusi beban, titik shear stress (tegangan geser), dan gaya gravitasi yang bekerja pada struktur tersebut.
Ia berjongkok, meraba patahan kayu jati pada salah satu balok kuda-kuda utama yang jatuh ke lantai. Serat kayunya pecah terbelah panjang.
"Ini bukan salah angin badai," suara Gani memecah keheningan, kali ini nadanya jauh lebih otoritatif, menggemakan karisma seorang Chief Architect.
Kang Ujang mengerutkan dahi, merasa tersinggung. "Maksud sampeyan apa, Mas? Jelas-jelas bulan lalu anginnya kencang sekali sampai atap warung Bu Teti juga terbang!"
Gani berdiri, menunjuk ke arah tiang penyangga yang masih berdiri miring. "Angin memang kencang, Kang. Tapi angin hanya memberikan beban lateral (beban samping). Atap ini ambruk murni karena kegagalan struktur di titik sambung. Joinery-nya salah."
Gani melangkah mendekati Kang Ujang. "Saat Akang membangun lorong ini dua tahun lalu, Akang menggunakan sistem sambungan kayu bibir miring tanpa pasak pengunci yang memadai di titik tengah bentangan, kan?"
Mata Kang Ujang terbelalak. Mulutnya setengah terbuka. Ia menatap struktur kayunya, lalu menatap Gani dengan tatapan tidak percaya. Pemuda itu bahkan tidak ada di desa ini saat lorong itu dibangun, namun ia tahu persis teknik sambungan yang disembunyikan di dalam atap.
"D-darimana Mas Gani tahu?" tanya Kang Ujang gagap.
"Karena serat patahannya melintang tajam dari titik tengah," jawab Gani cepat, berjalan mengitari sisa pilar bangunan. "Bentang lorong ini lebih dari enam meter. Akang menopang atap genteng tanah liat yang sangat berat hanya dengan balok kayu ukuran delapan-belas yang disambung di tengah tanpa pilar penyangga tambahan. Begitu angin menekan dari samping, titik sambung itu menerima momen lentur maksimal. Kayunya tidak kuat menahan tarikan ke bawah, lalu patah."
Pak Kades yang sejak tadi mendengarkan mulai terlihat kebingungan dengan istilah-istilah tersebut, namun wibawa Gani yang mendadak muncul membuatnya tidak berani memotong.
"Lalu... lalu sekarang bagaimana, Mas?" tanya salah satu tukang muda yang memegang palu. "Kita cuma punya sisa balok kayu ukuran lima-sepuluh dari pos ronda. Ukurannya terlalu kecil untuk menggantikan balok utama yang patah. Kayu jati batangan lagi kosong di panglong (tempat pemotongan kayu)."
Di sinilah letak tantangannya. Ini bukan proyek dengan budget unlimited di mana Gani bisa menyuruh asistennya memesan baja ringan H-beam dari distributor. Ini adalah perdesaan dengan material terbatas. Ia harus memecahkan masalah dengan apa yang ada di depannya.
Gani menopang dagunya dengan ibu jari dan telunjuk, berpikir keras. Matanya menyapu sisa-sisa kayu gelondongan kecil yang menumpuk di sudut pelataran.
"Kita tidak perlu balok yang tebal," gumam Gani, matanya berbinar menemukan solusi. "Kita hanya perlu mengubah cara bebannya didistribusikan."
Gani menoleh cepat ke arah Kirana yang sejak tadi memperhatikannya dengan senyum bangga dari pinggir pelataran.
"Kirana, apa di dalam tasmu ada kertas dan pulpen?" pinta Gani.
Gadis itu mengangguk dengan antusias. Ia segera membongkar tas kecilnya, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bergaris dan sebuah pulpen bertinta hitam. Gani menghampirinya, mengambil buku itu dengan gerakan cepat. Ujung jari mereka bersentuhan, dan Gani bisa merasakan getaran kecil dari antisipasi gadis itu.
Gani meletakkan buku catatan itu di atas permukaan meja kayu yang ada di teras pendopo. Ia menggulung lengan kaus kemejanya hingga ke siku. Plester luka di pergelangan tangannya terekspos jelas di bawah sinar matahari. Beberapa tukang menyadari luka itu, begitu pula Pak Kades, namun tidak ada yang berani berkomentar. Mereka terlalu tersihir oleh konsentrasi pria di hadapan mereka.
Dengan pulpen murah berharga empat ribu rupiah, Gani mulai menggoreskan garis di atas kertas.
Gerakannya sangat luwes, presisi, dan sangat cepat. Tanpa menggunakan penggaris, ia menarik garis-garis lurus yang membentuk sudut-sudut tajam. Ia tidak sedang menggambar bunga atau pemandangan; ia sedang menerjemahkan isi kepalanya ke dalam dimensi dua dimensi.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, sebuah sketsa isometric tiga dimensi yang sangat detail tercipta di atas kertas bergaris itu.
Gani membalikkan buku catatannya, menunjukkannya kepada Kang Ujang dan Pak Kades yang secara refleks sudah berkumpul mengelilinginya.
"Kita akan membuat struktur Truss atau kuda-kuda rangka batang tipe Howe," Gani menjelaskan, menunjuk pada gambar segitiga bersilangan yang sangat rapi di atas kertas.
Kang Ujang menelan ludah melihat gambar itu. Bagi seorang tukang kayu tradisional, gambar sketsa Gani terlihat seperti karya seni tingkat tinggi. Proporsinya sempurna, lengkap dengan detail letak paku dan takikan kayu.
"Daripada menggunakan satu balok besar yang tebal untuk menahan atap," lanjut Gani, menggunakan pulpennya sebagai penunjuk, "Kita akan menyusun kayu-kayu kecil sisa pos ronda itu menjadi bentuk segitiga-segitiga kecil yang saling mengunci. Bentuk segitiga adalah struktur geometri paling stabil yang pernah diciptakan alam. Saat beban genteng menekan dari atas, beban itu tidak akan bertumpu pada satu titik lemah, melainkan akan disebarkan merata ke tiang-tiang penyangga di ujung melalui gaya tekan (compression) dan gaya tarik (tension)."
Gani menatap Kang Ujang lekat-lekat. "Dengan cara ini, meskipun kayu yang kita gunakan ukurannya lebih kecil dan lebih murah, kekuatan renggangnya akan dua kali lipat lebih kokoh dari balok jati utuh Akang sebelumnya. Bahkan jika badai angin datang lagi, atap ini hanya akan bergetar, tidak akan patah."
Suasana kembali hening. Kang Ujang mengambil buku catatan itu dengan tangan gemetar, mengamati detail persendian kayu yang digambar Gani. Guratan kekaguman tercetak jelas di wajah pria paruh baya itu.
"Masya Allah..." gumam Kang Ujang. "Mas Gani... ini... ini jenius. Saya tidak pernah kepikiran menyusun kayu kecil jadi kuda-kuda rapat begini."
Pak Kades berdeham keras, mencoba menjaga gengsi otoritasnya yang mulai terkikis. Ia melongok melihat gambar itu. "Ini... benar-benar bisa pakai kayu sisa itu, Mas Gani? Tidak perlu beli material baru?"
"Seratus persen bisa, Pak Kades," jawab Gani tegas, menatap pria itu tanpa berkedip. "Beri saya tiga orang untuk membantu memotong kayu sesuai ukuran yang saya instruksikan. Dalam waktu kurang dari empat jam sebelum asar, rangka atap ini sudah akan naik dan terkunci sempurna."
Pak Kades menatap mata Gani. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, apalagi keputusasaan. Yang ia lihat adalah sorot mata seorang ahli yang tahu persis apa yang ia lakukan. Pria yang tadi ia hina sebagai produk gagal, baru saja menyelamatkan anggaran desanya dan menyelamatkan mukanya di depan bupati.
Pak Kades akhirnya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum pengakuan yang tulus.
"Tangan emas keturunan Pak Haris memang tidak bisa bohong," ucap Pak Kades, menepuk bahu Gani cukup keras hingga pria itu sedikit terhuyung. "Baiklah, Arsitek! Kang Ujang, siapkan gergaji dan meteran! Kalian semua nurut apa kata Mas Gani! Kita selesaikan atap ini sebelum sore!"
Pelataran Balai Desa yang tadinya diselimuti frustrasi, seketika berubah menjadi medan kerja yang penuh energi.
Gani tidak hanya berdiri dan memberi perintah. Ia melepaskan sisa-sisa egonya. Ia ikut mengangkat kayu, mengukur sudut kemiringan dengan busur derajat pinjaman, dan menginstruksikan pemotongan kayu dengan presisi milimeter. Keringat membasahi tubuhnya, bercampur dengan serbuk kayu gergajian yang menempel di lengannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gani tidak memikirkan nilai saham, profit margin, atau persaingan bisnis kotor. Ia murni bekerja sebagai seorang pembangun. Menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Memperbaiki sesuatu yang rusak menjadi kokoh kembali. Proses itu terasa sangat katarsis, seolah setiap paku yang ia tancapkan ke dalam kayu, ikut menancapkan kembali kepingan jiwanya yang sempat hancur.
Dari bawah naungan pohon mahoni, Kirana duduk diam mengamati seluruh proses itu dengan payung kertas di pangkuannya. Gadis itu tersenyum lembut. Ia tahu, rencananya berjalan sempurna. Pria yang kemarin malam bersiap mengalungkan tali ke lehernya, kini sedang berdiri di atas tangga perancah, meneriakkan instruksi dengan penuh semangat dan kehidupan.
Suara azan Asar mulai berkumandang dari speaker Surau tepat saat Gani menancapkan paku terakhir pada rangka atap segitiga tersebut.
Rangka kuda-kuda Howe itu kini berdiri kokoh di atas tiang penyangga, membentang sepanjang enam meter tanpa melengkung satu sentimeter pun di bagian tengahnya. Para tukang kayu bertepuk tangan dan bersorak kecil melihat hasil kerja keras mereka. Struktur itu tidak hanya fungsional, tapi bentuk segitiga berulangnya yang simetris terlihat sangat estetis secara visual.
Gani turun dari tangga kayu dengan napas terengah-engah. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Otot bahu dan lengannya menjerit protes setelah bekerja fisik selama berjam-jam di bawah terik matahari.
Kang Ujang menghampirinya, menyodorkan segelas es teh manis yang dibawakan oleh warga desa.
"Hebat, Mas Gani. Hebat luar biasa," puji Kang Ujang, menjabat tangan Gani dengan erat. "Bapak sampeyan pasti bangga sekali lihat sampeyan hari ini. Kapan-kapan, ajarin saya baca gambar truss itu ya, Mas."
Gani menerima jabatan tangan itu dengan tulus. Tangan Kang Ujang yang kasar oleh kalus terasa jauh lebih berharga dibandingkan jabatan tangan CEO mana pun yang pernah ia temui di Jakarta.
"Tentu, Kang. Kapan saja," jawab Gani sambil tersenyum tulus.
Pak Kades ikut mendekat, menyerahkan sebatang rokok yang dengan sopan ditolak oleh Gani. "Mas Gani, saya minta maaf soal ucapan saya tadi siang. Terkadang, mulut orang tua ini memang suka lebih cepat dari otak. Desa ini... selalu punya tempat untuk Mas Gani kalau Mas mau menetap."
Kalimat penerimaan itu sederhana, namun menghantam dada Gani dengan gelombang emosi yang kuat. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Pak Kades. Terima kasih."
Gani memisahkan diri dari kerumunan, berjalan menuju pohon mahoni tempat Kirana menunggunya. Gadis itu menyodorkan handuk kecil miliknya yang wangi melati kepada Gani.
Gani menerimanya, mengusap keringat di wajah dan lehernya. Ia menyandarkan tubuhnya yang lelah ke batang pohon mahoni, menatap mahakarya kayunya yang kini sedang dipasangi genteng oleh warga.
"Kau sengaja merencanakan ini, kan?" Gani menoleh, menatap Kirana. "Kau tahu persis kalau menyuruhku memperbaiki atap akan memaksaku kembali menjadi arsitek."
Kirana mengedikkan bahu dengan polos, sebuah senyum usil bermain di bibirnya. "Aku cuma butuh tempat yang teduh untuk berteduh kalau hujan. Kebetulan saja kau bisa memperbaikinya."
Gani terkekeh. Ia menengadah, melihat sisa-sisa sinar matahari sore yang menerobos melalui daun kersen.
"Terima kasih," ucap Gani, suaranya sangat pelan, hampir tertiup angin. Namun, maknanya begitu dalam. Ia tidak hanya berterima kasih karena Kirana telah menyelamatkan harga dirinya di depan Pak Kades, tapi ia berterima kasih karena gadis itu telah mengembalikan tangannya yang hilang.
Kirana menatapnya dengan lembut. Ia melangkah maju satu langkah, menatap lurus ke dalam mata Gani.
"Tangan yang bisa menciptakan struktur seindah itu," bisik Kirana, melirik sekilas ke arah pergelangan tangan kiri Gani yang terbalut plester, "terlalu berharga untuk dihancurkan oleh pisau murahan atau tali nilon, Gani. Ingat itu."
Dada Gani berdesir hangat. Kalimat itu mengunci seluruh keraguannya. Pria itu menyadari satu hal yang absolut: ia tidak akan pernah lagi mencoba mengakhiri hidupnya. Setidaknya, tidak selama gadis tiran kecil ini masih bernapas di bumi yang sama dengannya.
"Baiklah," Gani menarik napas panjang, dadanya terasa jauh lebih ringan dari yang pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Ia menunduk menatap Kirana, senyum percaya diri khas masa kejayaannya perlahan kembali membingkai wajahnya. "Dua permintaan selesai. Kau tidak bisa menahanku dengan atap rusak dan buah mangga lagi. Apa permintaan ketigamu besok?"
Kirana tertawa ceria, memutar payung kertasnya dengan anggun sebelum berjalan mendahului Gani menuju jalan pulang.
"Oh, jangan terburu-buru, Tuan Kota! Istirahatkan dulu otot-otot manjamu itu malam ini," seru Kirana dari depan. "Karena untuk permintaan ketiga besok, kau akan sangat membenciku!"