Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU SETUJU OTW JADI IBU TIRI***
*MALAM ITU, JAM 11 LEWAT.*
Bailla belum tidur.
Lampu kamar dimatikan, tapi dia ga berani baring. Ada beban di dada yang kalau dipaksa tiduran, rasanya bakal numpuk di tenggorokan dan jadi sesak.
Dia duduk di lantai. Punggung nyandar ke pintu kamar yang udah dikunci dari dalam.
Di pangkuan ada buku diari warna cokelat tua. Sampulnya lecet di pojok, halaman-halamannya penuh coretan tinta hitam, biru, kadang merah kalau lagi marah.
Di sebelahnya, ada selembar kertas HVS. Tiga syarat yang tadi dia tulis ulang pakai pulpen biru. Tulisannya sengaja diteken kuat-kuat, biar ga bisa dibilang bercanda.
*Lunasi utang.
*Rumah atas nama Mami.
*Aku tetap kuliah.
Tiga kalimat. Tiga genggam harapan terakhir.
Kalau Pak Arya nolak satu aja, Bailla udah siap kabur malam itu juga. Ke rumah tante di Bekasi. Hidup ngontrak. Makan mie sebulan penuh. Asal ga jual diri sama keadaan.
Tapi laki-laki 38 tahun itu nerima semua.
Tanpa nawar.
Tanpa bilang “nanti dipikir”.
Tanpa senyum sinis yang biasanya keluar dari mulut orang kaya kalau denger permintaan orang miskin.
Bahkan sebelum pulang dari Kopi shop, dia nambah satu kalimat. Suara rendahnya pelan, tapi nancep kayak paku.
“Kamu boleh benci Bapak dulu. Asal jangan benci anak-anak.”
Bailla ketawa waktu inget itu.Ketawa yang pahit, tapi bukan marah.Laki-laki itu ga janjiin cinta. Ga bawa bunga. Ga ngomong manis. Dia janjiin tanggung jawab.
Dan untuk keluarga yang lagi di ujung tanduk, tanggung jawab kadang lebih mahal dari bunga, puisi, sama janji manis anak kampus.
Jam dinding di ruang tamu nunjukin angka 11 malam.
Bailla narik napas. Berdiri. Kaki pegel karena kelamaan duduk di lantai.
Dia ketuk pintu kamar Mami Papi. Pelan. Tiga kali.
“Siapa?” Suara Papi parau. Udah serak karena kebanyakan begadang.
“Aku, Pi.”
Pintu kebuka.
Mami dan Papi belum tidur. Mana bisa tidur kalau nasib rumah, nasib keluarga, ditentukan dari jawaban anak gadisnya yang baru 21 tahun.
Mami langsung narik Bailla masuk. Bau minyak kayu putih nyengat. Bau keringat, bau kecemasan yang udah seminggu numpuk di kamar ini.
Papi duduk di pinggir ranjang. Kepala tunduk. Bahunya turun. Lega yang bentuknya seperti malu.
Bailla masuk. Dia bawa diari, bawa kertas syarat, bawa muka yang udah ga merah karena nangis.
Udah putih. Putih karena pasrah yang dipilih, bukan dipaksa.
“Mi, Pi,” katanya. Suara dia pelan, tapi jelas.
Dia taruh kertas syarat di meja kecil di antara mereka.
“Aku ketemu Pak Arya. Aku ngomong langsung. Dia setuju semuanya.”
Mami langsung tutup mulut pakai tangan. Mata yang udah sembab dari seminggu lalu, banjir lagi.
Papi menunduk lebih dalam. Bahunya turun. Kayak beban 100 juta yang numpuk di pundak, tiba-tiba diangkat orang lain.
“Jadi...?” suara Papi hampir tidak kedengaran. Kayak takut kalau dia tanya keras-keras, jawabannya bakal berubah.
Bailla duduk di antara mereka. Di lantai.
Untuk pertama kali setelah seminggu, dia genggam tangan Mami dan Papi sekaligus. Dingin. Kapalan. Tangan yang pernah suapin dia bubur waktu kecil.
Tangan yang pernah ngajarin dia naik sepeda, jatuh bangun, terus bilang “gapapa, ulang lagi.”
Tangan yang sekarang gemetar karena nunggu dia ngomong “iya”.
“Aku terima, Pi,” bisik Bailla. “Aku mau nikah sama Pak Arya.”
Mami pecah.Nangisnya ga ada suara. Cuma air mata jatuh ke tangan Bailla, panas. Papi narik napas panjang. Panjang banget. Kayak narik napas terakhir sebelum nyebur. Lalu napasnya patah di tengah.
“Bukan karena aku cinta,” lanjut Bailla cepat, sebelum mereka salah paham.
“Aku gak bohong. Pak Arya memang tampan, matang, dan kaya. Tapi aku belum bisa menempatkan dia di hati, walaupun di sudut terkecil sekalipun.
"Sampai hari ini aku gak cinta. Tapi aku sayang kalian. Aku sayang rumah ini. Dan Pak Arya... dia gak minta aku cinta hari ini. Dia cuma minta aku datang.”
Papi akhirnya ngangkat muka. Mata yang biasanya galak, sekarang basah.
“Kamu yakin, Nak? Sekali kamu keluar dari rumah ini pakai baju pengantin, kamu...” kalimat Papi terputus. Dia ga sanggup ngucapin kata “bukan anakku lagi.”
“Aku tahu, Pi,” potong Bailla. Pelan.
“Aku tahu aku gak akan balik sebagai Bailla yang sama seperti dulu. Bailla yang manja, centil, yang setiap hari dilayani Mami bikin sarapan. Tapi setidaknya, kalian gak tidur di jalan.
Dan aku... aku masih bisa lulus kuliah. Itu cukup buat hari ini.”
Mami peluk Bailla kencang. Bau minyak kayu putih dan keringat. Bau rumah. Bau yang selama 21 tahun bikin Bailla merasa aman, meski dompet kosong.
“Maafin Mami, Bailla. Maafin…” suara Mami putus-putus.
Bailla geleng di bahu Mami.
“Gak ada yang perlu dimaafin, Mi. Kita sama-sama korban.
Bedanya, aku masih bisa milih cara kalahnya.”
Malam itu, untuk pertama kali sejak kata “bangkrut” masuk rumah, mereka tidur dengan lampu dimatiin. Ga ada suara Papi bolak-balik di ruang tamu. Ga ada suara Mami ngaji pelan sambil nangis. Ga ada suara debt collector ketok pagar jam 9 malam.
Hening. Hening yang mahal.
Di kamarnya, Bailla buka diari lagi. Lampu belajar dinyalain. Cahayanya kuning, redup. Dia nulis. Tulisannya miring, cepat, kayak takut kalau kelamaan mikir, keberanian itu hilang.
1 Mei 2026.
Hari ini aku bilang iya ke Pak Arya. Bukan karena aku nyerah.
Bukan karena aku gak punya pilihan lain. Tapi karena aku nemu cara buat tetap berdiri, meski caranya harus nikah sama duda anak tiga yang bonusnya tampan dan kaya.
"Doain aku, Bailla yang dulu.Aku titip mimpi kamu ke aku yang sekarang. Kita pelan-pelan aja ngejarnya. Kuliah harus lulus. Mami Papi harus sehat. Rumah ini harus tetap ada"
"Kalau nanti aku benci Pak Arya, ingat aku kenapa aku ada di sini. Kalau nanti aku cinta Pak Arya, jangan kaget. Itu bukan pengkhianatan. Itu cuma manusia biasa yang capek perang sendirian.”
Bailla tutup diari. Tarik napas panjang. Dia simpan di bawah bantal. Kayak nyimpen rahasia terakhir Bailla yang dulu, sebelum dunia maksa dia dewasa dalam semalam.
Di dalam dada Bailla, perang belum selesai. Ada rasa takut. Ada rasa malu. Ada rasa bersalah. Tapi ada juga rasa lega. Lega karena dia ga lari. Lega karena dia pilih berdiri, meski jalannya harus lewat pintu nikah sama duda yang baru dia temui beberapa saat .
“Gue ga akan biarin foto itu cuma jadi kenangan, Mi, Pi,” bisiknya pelan.
“Meskipun caranya harus nikah sama orang yang gue belum cinta.”
Tapi malam ini, dia tidur tanpa mimpi buruk debtcollector. tanpa Mami nangis di pojok dapur. Tidur dengan satu janji kecil ke dirinya sendiri:
Meski caranya harus nikah tanpa cinta. Meski caranya harus belajar sayang pelan-pelan.
Di luar, hujan reda. Di dalam dada Bailla, perang belum selesai. Tapi setidaknya, dia sudah pilih medan tempurnya sendiri.
Di luar, hujan bener-bener berhenti. Bintang keluar satu-satu.
Di dalam dada Bailla, perang belum selesai. Tapi setidaknya, malam ini dia udah pilih medan tempurnya sendiri. Dan dia ga sendirian lagi.
...***************...