NovelToon NovelToon
DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: Nanda Amalia

Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Saat Ia berhenti Menahan

Ada perubahan yang tidak langsung terlihat namun perlahan terasa di setiap sudut ruangan setiap jeda percakapan dan setiap tatapan yang terlalu lama untuk disebut kebetulan karena sesuatu dalam diri Arshaka yang selama ini selalu terkendali kini mulai bergeser bukan hilang bukan juga meledak tapi berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi lebih dalam dan justru karena itu jauh lebih berbahaya daripada kemarahan yang terlihat jelas di permukaan

Elora bisa merasakannya bahkan tanpa harus diberi tahu karena sejak ia memilih untuk tidak mengatakan semuanya sejak ia mulai menyimpan sebagian dari rasa takutnya sendiri sejak pesan pesan itu datang tanpa ia tunjukkan kepada siapa pun ada ketegangan yang tidak pernah benar benar pergi dari udara di antara mereka sesuatu yang menggantung tipis namun cukup kuat untuk membuat setiap interaksi terasa lebih berat dari sebelumnya

Ia duduk di sofa dengan posisi yang tidak banyak berubah sejak beberapa waktu lalu tubuhnya sedikit condong ke depan dengan kedua tangan menggenggam ponsel yang layarnya sudah lama mati namun pikirannya masih terus kembali pada satu kalimat yang sama kalimat yang terlalu sederhana untuk dianggap biasa tapi terlalu mengancam untuk dilupakan begitu saja dan setiap kali ia mengingatnya dadanya terasa semakin sempit seolah napas yang ia tarik tidak pernah benar benar cukup

Keluar sendiri atau aku yang jemput

Kalimat itu terus berputar tanpa henti tidak hanya sebagai ancaman tapi seperti sesuatu yang benar benar akan terjadi bukan kemungkinan bukan sekadar menakut nakuti tapi kepastian yang menunggu waktu yang tepat untuk datang dan Elora tidak tahu bagaimana cara menghentikannya karena untuk pertama kalinya ia merasa berada dalam situasi yang tidak bisa ia kendalikan bahkan dengan usahanya sendiri

Suara Arshaka akhirnya memecah keheningan yang sejak tadi terasa terlalu panjang dan terlalu penuh untuk dibiarkan begitu saja dan meskipun nada suaranya tetap sama seperti biasanya tenang rendah tanpa emosi yang berlebihan ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia mengucapkannya sesuatu yang membuat pertanyaan sederhana itu terasa seperti sesuatu yang sudah ia ketahui jawabannya

“Berapa kali dia kirim pesan”

Elora menoleh perlahan gerakannya tidak cepat seolah ia butuh waktu hanya untuk merespons pertanyaan itu matanya sempat ragu sebelum akhirnya bertemu dengan tatapan Arshaka yang tidak berpindah darinya sedikit pun dan di momen itu ia tahu bahwa tidak ada gunanya mencoba menghindar sepenuhnya meskipun ia masih berusaha menahan sebagian dari kebenaran yang ada

“Beberapa kali”

Jawaban itu keluar pelan tidak sepenuhnya jelas seolah ia sendiri tidak ingin mendengar apa yang ia katakan namun cukup untuk memberi gambaran bahwa sesuatu memang terjadi lebih dari sekali lebih dari yang seharusnya

Arshaka tidak langsung bergerak dari tempatnya berdiri beberapa langkah di belakangnya tapi keheningan yang ia biarkan justru terasa lebih menekan daripada respons apa pun karena ia tidak mengalihkan pandangannya tidak juga mengurangi intensitas tatapannya seolah ia sedang menunggu sesuatu yang belum selesai sesuatu yang belum diucapkan sepenuhnya

“Berapa”

Pertanyaan itu kembali kali ini lebih tegas lebih jelas tidak memberi ruang untuk jawaban yang menggantung seperti sebelumnya dan itu membuat Elora menelan pelan sebelum akhirnya menjawab meskipun ia tahu jawabannya tidak akan benar benar memuaskan

“Aku tidak hitung”

Kalimat itu terdengar lemah tidak karena ia tidak tahu tapi karena ia tidak ingin mengakui seberapa sering pesan itu datang seberapa sering ia membaca tanpa mengatakan kepada siapa pun dan terutama kepada Arshaka

Langkah Arshaka akhirnya terdengar pelan namun pasti setiap gerakannya terasa terarah tanpa tergesa tapi juga tanpa ragu dan ketika ia berhenti tepat di depan Elora jarak di antara mereka menjadi terlalu dekat untuk diabaikan terlalu nyata untuk dianggap biasa dan Elora bisa merasakan tekanan itu bahkan sebelum Arshaka kembali berbicara

“Kasih ponselnya”

Nada suaranya tetap rendah tidak tinggi tidak juga keras namun jelas tidak memberi pilihan lain dan itu membuat Elora tanpa sadar menggenggam ponselnya lebih erat seolah benda kecil itu menjadi satu satunya hal yang bisa ia tahan meskipun ia tahu itu tidak akan mengubah apa pun

“Aku bisa tangani sendiri”

Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan lebih seperti refleks daripada keputusan dan justru karena itu terdengar lebih defensif daripada yang seharusnya

Arshaka tidak langsung mengambil tidak juga memaksakan dirinya untuk bergerak lebih jauh ia hanya berdiri di sana menatap lebih lama lebih dalam seolah mencoba melihat apa yang tidak diucapkan mencoba memahami apa yang sengaja disembunyikan dan dalam diam itu ada sesuatu yang perlahan berubah

“Kamu tidak sedang dalam posisi buat bilang itu”

Nada suaranya tetap terkendali tapi tekanan di dalamnya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya dan itu membuat Elora menggeleng pelan meskipun ia sendiri tidak yakin apa yang ia tolak sebenarnya

“Aku cuma tidak mau kamu jadi makin terlibat”

Kalimat itu akhirnya keluar membawa sedikit kejujuran yang sejak tadi ia tahan namun belum cukup untuk menjelaskan semuanya

“Sudah”

Satu kata itu memotong tanpa memberi ruang untuk melanjutkan dan membuat Elora langsung diam seolah seluruh penjelasan yang ingin ia berikan tiba tiba kehilangan tempat untuk keluar

Arshaka mengulurkan tangan perlahan tidak terburu namun tetap di sana menunggu tanpa menariknya kembali tanpa menunjukkan bahwa ia akan mundur

“Kamu sembunyikan dari aku sejak kapan”

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti tuduhan tapi lebih seperti sesuatu yang sudah ia pahami sejak awal dan justru karena itu terasa lebih berat untuk dijawab

Elora menatapnya matanya mulai goyah pikirannya penuh dengan hal hal yang ingin ia katakan tapi tidak satu pun terasa cukup untuk menjelaskan tanpa membuat semuanya semakin rumit

“Aku tidak—”

“Kamu baca pesannya tanpa bilang ke aku”

Kalimat itu datang lebih cepat lebih tepat dan langsung menutup kemungkinan untuk menghindar dan Elora tidak bisa berkata apa apa lagi karena ia tahu itu benar sepenuhnya benar

Hening kembali jatuh lebih dalam dari sebelumnya seolah udara di ruangan itu ikut menahan napas menunggu sesuatu yang tidak kunjung selesai

Arshaka menarik napas pelan kali ini lebih terasa seolah ia benar benar menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan namun tidak lagi bisa ia sembunyikan sepenuhnya

“Kasih”

Tangannya masih terulur dan kali ini Elora tidak punya alasan untuk menolak perlahan ia menyerahkan ponselnya jemarinya sedikit gemetar saat melepaskan seolah ia juga melepaskan sesuatu yang selama ini ia tahan sendiri

Arshaka mengambilnya membuka membaca tanpa banyak perubahan di wajahnya tapi matanya semakin dingin setiap kata yang masuk tidak hanya dibaca tapi dipahami disimpan dan diubah menjadi sesuatu yang akan ia selesaikan

“Dia minta kamu keluar”

Kalimat itu keluar datar tanpa emosi berlebihan namun cukup untuk membuat Elora mengangguk pelan sebagai jawaban yang tidak perlu diperjelas lagi

“Aku tidak akan pergi”

Suara Elora pelan tapi kali ini lebih pasti karena di tengah semua ketakutan itu ada satu hal yang masih bisa ia pegang

Arshaka mengembalikan ponselnya lalu berkata singkat

“Bagus”

Namun keheningan setelah itu terasa berbeda lebih berat lebih dalam seolah sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di bawah permukaan

“Apa yang mau kamu lakukan”

Pertanyaan Elora keluar pelan membawa kekhawatiran yang tidak lagi bisa ia sembunyikan

Arshaka tidak langsung menjawab ia berbalik berjalan beberapa langkah menjauh sebelum akhirnya berhenti dan dalam jeda itu ada keputusan yang sudah terbentuk dengan jelas

“Selesaikan”

Satu kata itu cukup untuk mengubah arah percakapan menjadi sesuatu yang lebih serius lebih gelap dan Elora langsung mengerti bahwa ini bukan lagi sekadar rencana

“Maksudnya”

Suaranya sedikit naik meskipun ia berusaha tetap tenang

Arshaka menoleh tatapannya tetap sama tidak berubah

“Aku akan cari dia”

Nada suaranya datar namun pasti tanpa ruang untuk ditarik kembali dan itu membuat Elora langsung berdiri sedikit lebih cepat dari sebelumnya

“Itu berbahaya aku tidak mau kamu kenapa kenapa”

Kalimat itu keluar dengan lebih banyak emosi dari sebelumnya tapi Arshaka tetap pada posisinya

“Kamu tidak perlu mau”

Jawaban itu cepat dan langsung memotong tanpa memberi ruang untuk dibantah

Arshaka kembali mendekat jarak mereka kembali hilang dalam beberapa langkah

“Mulai sekarang kamu tidak keluar tanpa aku”

Nada suaranya tidak tinggi tapi kali ini jelas tidak bisa ditawar

Elora menatapnya lama

“Itu terlalu mengekang”

Arshaka diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab

“Kalau aku tidak lakukan itu kamu akan keluar sendiri”

Kalimat itu terlalu tepat untuk disangkal dan Elora hanya bisa menahan napas

“Aku tidak minta kamu nyaman”

lanjut Arshaka pelan

“Aku cuma pastikan kamu tetap aman”

Dan di titik itu Elora menyadari bahwa ini bukan lagi soal pilihan atau kesepakatan karena Arshaka sudah mengambil kendali sepenuhnya dan ia tidak berniat mengembalikannya

Malam itu berjalan lebih sunyi dari biasanya namun bukan karena tidak ada suara melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak diucapkan Arshaka berdiri sendirian di ruangan lain ponselnya di tangan layar menampilkan data yang terus masuk satu per satu seperti potongan kecil yang perlahan membentuk sesuatu yang lebih jelas

Nama nomor lokasi jejak digital semuanya tersusun tanpa emosi tanpa ragu karena dalam pikirannya ini bukan lagi pencarian tapi proses menuju akhir

Ia menekan panggilan menunggu beberapa detik sebelum akhirnya berbicara

“Aku tidak mau setengah setengah”

Suaranya rendah

“Temukan dia secepatnya”

Tidak ada nada marah tidak ada ancaman yang diucapkan secara langsung tapi justru karena itu perintah itu terasa jauh lebih berat

Ia menutup panggilan tanpa menunggu jawaban panjang tatapannya tetap dingin kosong bukan karena tidak peduli tapi karena semuanya sudah diputuskan

Di dalam ruangan Elora duduk sendirian ponselnya kembali bergetar dan kali ini ia menatap layar itu lebih lama dari sebelumnya seolah ia tahu bahwa apa pun yang ia lihat tidak akan membawa sesuatu yang baik namun tetap saja tangannya bergerak membuka

Kamu diam saja ya

Napasnya tertahan

Tidak apa

Aku yang datang

Dan di saat itu Elora benar benar mengerti bahwa waktu yang ia miliki tidak lagi banyak dan sesuatu yang ia coba hindari sejak awal kini sudah semakin dekat dari yang ia kira.

Di tempat lain Alven Arkana tersenyum tipis menatap layar di tangannya menikmati setiap pergerakan kecil yang ia lihat dengan kesabaran yang tidak tergesa karena baginya semuanya sudah berjalan sesuai rencana dan tidak ada alasan untuk mempercepat sesuatu yang pasti akan sampai pada titik yang ia inginkan

“Sekarang kamu tidak punya ruang lagi”

Gumamnya pelan

Dan malam itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa lagi dihentikan dengan mudah

————

See you di next episode yaa!

1
T28J
hadiir kk 👍
T28J
aw.. aw.. aw👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!