NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Brakkk!!!

Braakk!!!

Pintu kontrakan malam itu di gebrak beberapa kali dengan paksa, Gilang yang sedang terlelap langsung bangun begitupun dengan anggota keluarganya yang lain. Wildan si adik bungsu bahkan ketakutan sambil memeluk ibunya.

Gilang keluar kamar dengan kepala yang masih pusing, "siapa sih Bu?" tanyanya sambil mengucek matanya.

Ibunya hanya menggeleng dengan wajah pucat, memeluk erat Wildan yang ketakutan. “Entah… coba kamu lihat, Lang.”

Dengan langkah berat, Gilang mendekati pintu. Tapi begitu ia hendak meraih gagang, suara kasar dari luar terdengar jelas.

“Buka pintunya, Gilang! Jangan pura-pura tidur! Kau kira bisa kabur dari tagihan?!”

Jantung Gilang langsung berdegup kencang. Ia mengenali suara itu—rentenir yang beberapa kali mengiriminya pesan ancaman.

Keringat dingin menetes dari pelipisnya.

“Lang… siapa?” tanya ibunya lagi, suaranya bergetar.

Dengan ragu Gilang berkata pelan, "orang itu lagi, Bu."

Ibunya seakan sudah tahu siapa yang dimaksud. Tatapannya langsung jatuh ke lantai, wajahnya semakin pucat.

“Lang… jangan buka pintu,” bisiknya cepat, suara lirihnya terdengar seperti doa yang penuh ketakutan.

Namun, suara gebrakan dari luar semakin keras. Brakk! Brakk! Pintu kontrakan reyot itu bergetar seakan bisa jebol kapan saja.

“Kau pikir bisa lari, hah?! Keluar, Gilang! Atau kami bawa ibumu sekarang juga!”

Ucapan itu membuat darah Gilang seakan berhenti mengalir. Ia menoleh pada ibunya yang semakin erat memeluk Wildan. Adik-adiknya yang lain menatapnya dengan mata bulat penuh ketakutan.

Dengan hembusan nafas kasar, Gilang akhirnya membuka pintu dan tiga rentenir dengan penuh tato dan tindik itu langsung tertawa "ada nyali juga kau keluar," ucap salah satunya sambil menepuk bahu Gilang.

"Udah lama banget kami kasih peringatan baik-baik! Kau kira hutang bisa lunas kalau kau sembunyi terus?! Bapakmu di neraka sana pasti makin tersiksa karena hutangnya belum di bayar!" bentak salah satu Rentenir yang paling besar badannya.

Gilang mengepalkan tangannya keras, rahangnya mengeras menahan emosi. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari pisau mana pun.

“Jangan bawa-bawa almarhum bapak saya,” ucap Gilang dengan suara berat, dingin, matanya menatap tajam.

Rentenir itu justru semakin tertawa sinis. “Lah, kalau nggak mau bapakmu disebut, ya lunasin! Jangan gaya-gayaan sok berani!”

Gilang menghela napas kasar, lalu merogoh ponselnya cepat. “Nomor rekening. Sekarang.”

Nada suaranya membuat dua rentenir lain saling pandang, sedikit kaget karena Gilang tidak lagi terlihat gentar.

Dengan cepat ia mengetik nominal lima puluh juta, lalu menunjukkan layar sebelum menekan tombol transfer.

“Sudah masuk. Cek sendiri.”

Rentenir bertato dengan tubuh gempal itu melirik ponselnya, lalu senyum miring. “Hahaha, lumayan lah walaupun masih kurang banyak. Tapi ingat, bunganya makin besar. Minggu depan kami balik lagi.”

Seorang rentenir dengan tato yang paling banyak menepuk bahu kedua temannya "yok cabut!" katanya sambil berbalik pergi meninggalkan Gilang dengan tangan mengepal dan nafas yang masih memburu.

Tak lama, ibunya keluar dengan langkah ragu, wajah pucat pasi. Tangannya masih memegang tasbih yang sejak tadi tak lepas dari genggaman. “Kamu punya uang sebanyak itu dari mana, nak?” suaranya bergetar.

Gilang menunduk, rahangnya mengeras. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengusap wajah dengan kasar. “Sudahlah, Bu. Yang penting mereka nggak ganggu kita lagi.”

Ibunya mendekat, menatap lekat wajah anak sulungnya. Ada ketakutan yang sulit disembunyikan di matanya. “Gilang… jangan bilang kamu… melakukan hal yang macam-macam?”

Hati Gilang seakan diremas. Ia ingin jujur, ingin berteriak kalau dirinya memang sudah terlalu jauh melangkah. Tapi begitu menatap mata ibunya—mata yang penuh doa dan pengorbanan—lidahnya kelu.

“Aku… kerja, Bu. Ada yang mau bayar jasaku.” Itu saja yang keluar, dengan suara parau.

Ibunya mengangguk pelan, seolah memaksa dirinya untuk percaya. Senyum tipis tercetak di wajahnya, meski jelas terlihat getir. “Ibu tahu kamu anak baik, Lang… kamu pasti nggak akan nyakitin diri sendiri hanya demi uang, kan?”

Gilang tercekat. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada bentakan para rentenir tadi. Ia hanya bisa menunduk semakin dalam, menyembunyikan wajah yang hampir pecah karena rasa bersalah.

“Istirahatlah, nak. Besok kamu harus kuliah. Jangan terlalu dipikirin,” ucap ibunya lirih, lalu berbalik menuju kamar.

Gilang menatap punggung ibunya yang semakin rapuh, lalu mengepalkan tangannya sendiri. Air mata akhirnya jatuh, meski ia buru-buru menghapusnya.

“Maaf, Bu…” bisiknya hampir tak terdengar. “Aku sudah kotor.”

****************

Sementara itu, di rumah megah milik Valeria…

Valeria berbaring di ranjang, wajahnya datar. Suaminya, Dimas, baru saja selesai menyalurkan hasratnya. Ia langsung rebahan miring membelakangi Valeria, napasnya berat seperti orang kelelahan.

“Maaf ya, Velly… aku keburu keluar lagi,” ucap Dimas dengan suara lelah.

Valeria hanya menatap langit-langit, bibirnya terkatup rapat. Kata “maaf” itu sudah terlalu sering ia dengar. Baru sebentar, sudah selesai. Ia dibiarkan menggantung, lalu suaminya tidur begitu saja.

“Aku capek banget, kerjaan di kantor gila-gilaan,” tambah Dimas, lalu benar-benar terlelap.

"Cih! Selalu saja begitu, dasar lelaki tak berguna," gumamnya pelan.

Valeria menghela napas panjang. Tangannya meremas selimut, matanya dingin menatap punggung suaminya.

“Selalu sama… nggak pernah bikin aku bahagia,” gumamnya lagi.

Valeria lalu bangkit dan berjalan ke balkon, angin malam langsung menerpa wajahnya, dingin seperti hatinya saat ini. Dengan gerakan malas ia meraih ponsel di meja kecil. Layar menyala, menampilkan daftar kontak.

Matanya berhenti pada satu nama: Romeo.

Jari-jarinya menyentuh layar, tapi tidak menekan.

Foto profil Gilang terpampang jelas. Wajah muda itu, terlihat polos tapi menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Valeria menatap lama, bibirnya melengkung tipis.

“Anak ini… bisa bikin aku dapat apa yang Dimas nggak pernah bisa kasih,” gumamnya pelan.

Tanpa sadar, Valeria menekan tombol call dilayar, “Apa yang aku lakukan sih…” gumamnya pelan. Ia buru-buru menggeser layar ke tombol end call untuk membatalkan. Tapi sial— sebelum sempat ia tekan, suara berat di seberang sudah terdengar. “Halo…?” suara Gilang masuk begitu saja, membuat Valeria membeku.

"Halo? maaf ini siapa ya?" tanya Gilang diseberang sana.

Dengan sedikit gugup akhirnya Valeria membuka suara. " Saya Valeria, hm, anu... untuk tugas kamu besok, saya sudah booking tempatnya di hotel The Grand Palace dan jangan sampai kamu telat lagi, saya gak punya banyak waktu!". Lalu klik!. Valeria buru mematikan sambunggan telepon, begitu saja. Jantungnya berdegup kencang sementara wajahnya panas seolah melakukan hal yang memalukan.

Valeria menatap layar ponselnya beberapa detik setelah sambungan terputus. Dadanya masih terasa berdebar cepat, seolah baru saja melakukan sesuatu yang tak seharusnya.

Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel itu di meja dengan sedikit keras.

“Aneh banget…” gumamnya pelan.

Ia menyandarkan tubuh ke kursi balkon, menatap jalanan kota di bawah yang masih ramai meski sudah larut malam. Biasanya, hal seperti ini bukan sesuatu yang ia pikirkan lama.

Tapi kali ini berbeda.

Entah karena cara Gilang bicara tadi—yang terdengar polos, atau karena dirinya sendiri yang mulai terlalu jauh melangkah.

Valeria menutup mata sejenak, lalu menggeleng pelan, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri.

“Fokus aja sama tujuan,” bisiknya tegas pada diri sendiri.

Namun dihatinya, iia tahu kalau ini sudah keluar dari batas yang seharusnya.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!