Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Titik Nadir Kehidupanku
Bunyi langkah kaki itu semakin mendekat. Seolah dekat dengan telinga. Setiap gema langkahnya bagai instrumen mengerikan yang pernah kudengar.
“Siapa di sana?” Suara seorang lelaki di balik dinding itu semakin membuatku terdesak. Tiba-tiba … saat pandanganku menelusuri setiap sudut koridor yang kurang dari pencahayaan. Aku melihat sebuah lorong sempit di balik pipa-pipa besar.
Di sana, ada sebuah tangga besi yang menjulang ke atas. Aku lantas bergegas membawa tubuhku masuk. Dengan tangan gemetar, jemariku mencengkeram railing besi yang dingin dan berdebu itu.
Langkahku gemetar. Aku menaiki anak tangga itu dengan lutut dan kaki yang sedari tadi menjerit meminta istirahat. Hingga tampak sebuah celah kecil di langit-langit yang memancarkan sinar rembulan. Inilah jalan terakhirku.
Angin malam menyambutku dengan terpaannya. Menerbangkan rokku yang kini telah lusuh karena debu. Aku bahkan lupa mengenakan hijabku karena didesak oleh keadaan. Rasanya, aku sendiri pun sudah tak lagi pantas mengenakannya.
Ingatanku berlabuh kembali pada kejadian tadi. Betapa mengerikannya iblis di dalam apartemen itu. Bahkan mungkin lebih mengerikan daripada iblis itu sendiri. Dadaku mendadak sesak. Hatiku dilanda gelisah dan kecemasan yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Batinku menjerit sekaligus memukul-mukul kepalaku yang sedari tadi berisik.
"Adelin!" ratapku sambil terus memanggil nama yang menyedihkan itu. Kupukul tubuh ini yang sejatinya telah lelah dan tak bersalah sama sekali. Hingga kurasakan sakit itu kembali merayap di sekujur badan.
Dinginnya angin malam tak lagi menjadi masalah bagiku. Karena di dalam kepalaku, hanya ada kata lari untuk selamat.
Saat aku terduduk meratapi keadaan seraya melihat alam membentang di malam hari, tiba-tiba ... sebuah langkah kaki mengagetkanku. Aku tersentak dari lamunanku. Bergegas bersembunyi di balik sebuah tandon air yang cukup besar.
Sebuah senter menyorot liar area sekitar. Kupastikan, itu adalah seorang satpam. Jika ia tahu aku di sini, aku bisa kena. Kutahan napasku, agar siapa pun tak mendengar lirih suaraku. Langkah kaki itu perlahan menjauh. Setelah bunyi pintu besi itu tertutup, aku kini bisa bernapas lega.
Aku menyandarkan tubuhku pada tandon besar ini. Sekujur badanku terasa remuk tak berdaya. Seolah lenyap sudah tenaga ini karena trauma yang sangat berat menderaku. Kulihat langit malam bersenandung dengan bintang dan rembulan. Mereka terlihat cerah setelah semula hujan memberi ratapan pada alam.
Aku menekuk wajahku. Tersenyum miris melihat diriku yang kini telah lusuh dan ….
“Aku ….” Ucapan itu seolah tercekat di tenggorokan.
“Ya Allah. Benarkah ini semua?” tanyaku pada Tuhan yang kini kuyakini sedang enggan menyapaku. Sebuah tangis kini menjadi pelengkap deritaku.
Teringat lagi dosa-dosa di malam ini. Sebuah dosa yang sudah pasti tercatat di amal burukku. Amal baik yang aku lakukan selama ini, musnah dalam semalam. Lantas, apa masih pantas aku meminta surga pada-Nya?
Aroma tubuh si lelaki bejat itu masih terngiang di kepalaku. Membuat trauma atas kejadian malam ini kembali hadir. Aku ingin berteriak bebas, tapi tak bisa. Karena jika aku melakukannya, maka sama saja aku membunuh diriku sendiri.
Aku menelan segala pahit itu sendiri. Hanya sepi dan pilu yang sedari tadi selalu setia menemaniku. Mungkin sebentar lagi, kewarasan akan lenyap dariku. Kulirik kedua tanganku yang kini tampak pucat. Sepertinya, aku kehabisan banyak energi malam ini. Rasa haus menjalar hingga seolah mencekik tenggorokkanku.
Aku melirik tandon air tersebut. Ada tangga yang menghubungkanku pada ketinggian di atasnya. Saat kunaiki anak tangga tandon ini, kakiku hampir saja terpeleset. Hingga kini aku membuka rokku. Membiarkan celana panjang ketat ini sebagai penggantinya.
Aku mengambil air di dalam tandon itu dengan tanganku. Meneguknya hingga aku puas. Aku tahu rasanya sangat tidak enak dan menjijikkan. Namun, rasa haus yang mencekik jauh lebih menakutkan dibandingkan jijik yang hendak kupertahankan.
Aku kembali menuruni tandon tersebut. Kemudian menyandarkan kembali tubuhku di sana. Semilir angin hampir membuatku terlelap. Tapi, kecemasan yang tinggi menjeda semua rasa kantuk itu. Hingga aku memilih untuk membiarkan mataku terjaga.
"Aku lapar," keluhku seraya melirik sampah plastik roti yang kini hanya bersisa selai cokelat itu. Hingga terpaksa demi agar perutku terisi, aku membiarkan diriku rakus ketika memakan selai cokelatnya.
Aku memegang perutku yang nyeri. Asam lambungku kumat. Aku melirik isi tasku. Kutemukan beberapa butir obat maghku. Kukunyah kemudian menelannya. Rasa manisnya obat magh sedikit menetralisir lidahku yang terasa hambar dan kebas.
Kini, mataku beralih pada tasku. Aku mengambil ponsel yang sedari tadi kubiarkan berdering di dalam tasku. Kulihat layar ponsel yang menampilkan nomor dengan nama kontak, ‘Ibuku Tersayang’. Senyum getir mulai merekah di bibirku. Gemuruh di dada mengundang hujan di balik mata segera turun. Kubiarkan ponsel itu terus bergetar. Deringnya sengaja kumatikan demi keselamatanku.
“Ibu, maafkan aku.” Kupeluk ponsel yang menampilkan potret ibu di wallpaper ponsel. Kuketik sebuah pesan untuk Ibu. Berharap ia tak lagi mengkhawatirkanku setelahnya.
“Ibu. Aku sekarang sedang nginap di rumah teman. Ibu jangan khawatir, ya. Anak Ibu nggak akan ke mana-mana.” Aku berbohong. Faktanya, aku tak tahu lagi ke mana arah pulangku saat ini.
Tangis itu semakin pecah. Mengalahkan suara desir angin malam yang bertiup memekakkan telinga. Hidupku kini tak lagi layak disebut hidup. Sebuah tamparan kembali melesat di pipiku. Berulang kali kulakukan tanpa jeda.
“Kau bodoh, Adelin! Kau bodoh!” sebuah kata yang menjerumuskan diriku pada kerapuhan yang lebih dalam muncul dari balik lisanku. Kemudian, sebuah tawa yang sumbang disertai dengan derai air mata yang kini mengalir bagai tetesan hujan, muncul tanpa permisi.
“Lihat dirimu! Sudah kotor dan tak lagi pantas disebut manusia.” Ucapan rendah diri itu berulang kali kulontarkan. Hingga tanpa sadar, aku telah mematikan harga diriku sendiri.
Pikiran di kepala mulai berkecamuk. Membiarkan kalimat-kalimat negatif bergentayangan di kepala dan sulit sekali untuk kutepis. Kubiarkan suara-suara itu bergemuruh semau mereka. Aku tahu, mereka bukanlah manusia. Mungkin, setan tengah bahagia melihat keadaanku saat ini.
Aku menatap halaman parkir yang kini tampak kecil di mata. Bulu kudukku berdiri seketika. Memerhatikan ketinggian yang selama ini kutakuti. Kini justru berhasil kuterabas demi sebuah keselamatan diri. Namun, tiba-tiba … sebuah kalimat yang menjadi akhir dari kelelahanku atas hidup mulai muncul ke permukaan.
‘'Adelin! Di bawah sana, kamu tak akan sakit lagi." Tatapanku semakin terkunci pada aspal di area parkir tersebut. Menggodaku untuk segera menjatuhkan diri dari ketinggian atap apartemen ini. Darahku berdesir kala kakiku mulai melangkah menjatuhkan diri. Kemudian, sebuah kalimat lolos dari lisanku.
“Selamat tinggal dunia.”
Bugh.
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?