Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Juan masih duduk di tepi ranjang ketika ponselnya kembali bergetar hebat di tangannya.
Nama Raisa terpampang jelas di layar, membuatnya menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang aroma parfum Lisa yang mungkin masih tertinggal di indra penciumannya sebelum akhirnya menekan tombol panggilan balik.
Tidak membutuhkan waktu lama, sambungan itu langsung terhubung.
“Juan!” Suara Raisa langsung menyergap, cepat dan beruntun, seolah ia sudah menyiapkan rentetan pertanyaan sejak lama.
“Kamu dari mana saja? Habis dari kampus ke mana? Kenapa ponselmu tidak aktif? Kamu tahu tidak aku menelepon berapa kali? Aku sampai berpikir yang tidak-tidak!”
Juan tersenyum lebar tanpa sadar. Nada cemas yang bercampur kesal itu justru terasa hangat di telinganya, sebuah kontras dari suara erangan Lisa yang ia dengar beberapa jam lalu.
“Hei, hei… pelan-pelan,” kata Juan sambil tertawa kecil. “Kalau kamu bertanya semuanya sekaligus, aku bisa kehabisan napas untuk menjawabnya.”
Di seberang sana, Raisa terdiam beberapa detik, lalu terdengar tawa kecil yang pelan namun jelas. Ketegangan di suaranya langsung mencair seperti es yang tersiram air hangat.
“Kamu ini ya. Selalu saja bisa membuatku kehabisan kata-kata.”
Juan menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, otot-otot dadanya yang bidang tampak menegang saat ia merentangkan tangan.
“Jadi, mau mulai dari pertanyaan yang mana dulu, Nona Interogator?”
“Hmm,” Raisa berpura-pura berpikir. “Dari yang paling penting saja.”
“Apa itu?”
“Kenapa kamu tidak memberi kabar?” Nada suara Raisa kali ini jauh lebih lembut, hampir seperti bisikan. Juan tahu, di balik semua omelan tadi, itulah inti dari kegelisahan Raisa.
Juan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Maaf. Benar-benar maaf. Tadi ponselku mati total, daya baterainya habis dan aku baru sempat mengisinya sekarang setelah sampai di rumah.”
Belum sempat Raisa menanggapi, layar ponsel Juan tiba-tiba berubah. Panggilan suara itu langsung beralih menjadi panggilan video. Juan refleks duduk lebih tegak, sedikit merapikan rambutnya yang berantakan.
Wajah Raisa muncul memenuhi layar. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya tampak bersih mengilat tanpa riasan.
Namun, yang membuat jakun Juan bergerak naik turun dengan cepat bukan hanya kecantikan wajahnya. Raisa hanya mengenakan tanktop hitam berbahan tipis. Pakaian itu begitu sederhana, namun sangat efektif mencetak lekuk tubuhnya yang indah.
Karena sudut kamera yang sedikit ke bawah, bukit kembar Raisa tampak mengintip nakal di balik potongan rendah tanktop tersebut, memperlihatkan belahan yang putih dan halus.
Fokus Juan terarah ke sana selama beberapa detik, pikirannya yang baru saja dihajar oleh Lisa kini kembali tergelitik oleh pemandangan di depannya.
Raisa menyipitkan mata, memperhatikan ekspresi Juan yang terpaku. Bibirnya melengkung membentuk senyum kecil yang sangat jahil.
“Kamu melihat apa, Juan? Kenapa matamu tidak berkedip begitu?” tanyanya dengan nada menggoda yang membuat bulu kuduk Juan meremang.
Juan terkekeh pelan, mencoba mengalihkan pandangan sejenak sebelum kembali menatap layar dengan berani. “Aku cuma berpikir…”
“Mikir apa? Hayo… jangan mesum ya!”
“Di dunia ini,” kata Juan santai dengan suara yang diberatkan, “tidak ada kucing yang tidak tergiur kalau dikasih ikan asin yang segar tepat di depan matanya.”
Raisa terdiam satu detik, wajahnya memerah padam, lalu ia meledak tertawa. “Kamu berani-beraninya menyamakan aku dengan ikan asin? Kurang ajar!”
“Lho, aku kucingnya. Dan kucing selalu tahu mana ikan asin yang paling berkualitas,” balas Juan cepat dengan kedipan mata.
Raisa menggeleng-gelengkan kepala, masih tertawa, membuat bukit kembarnya di balik tanktop hitam itu bergoyang pelan, pemandangan yang membuat Juan harus menelan ludah berkali-kali.
“Dasar kamu.”
Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya ada tatapan yang saling mengunci melalui layar.
“Jadi,” Raisa kembali ke nada semula, meski senyum masih menghiasi bibirnya. “Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Tadi ke mana saja?”
Juan mengangguk mantap. “Tadi kami cuma berkumpul saja. Andre, Doni, dan aku. Biasalah, obrolan cowok. Ponselku mati di tengah jalan dan baru bisa diisi saat sudah di rumah.”
Ia mengucapkannya dengan nada tenang yang sangat meyakinkan. Raisa memperhatikannya dengan saksama, matanya meneliti setiap inci wajah Juan, seakan mencari celah kebohongan di sana.
Namun, Juan sudah terlatih. Tidak mungkin ia memberitahu Raisa bahwa ia baru saja menggempur Lisa dengan timun super-nya hingga wanita itu ampun-ampunan.
“Benar cuma berkumpul?” tanya Raisa meyakinkan.
“Benar,” jawab Juan mantap tanpa keraguan sedikit pun.
Raisa mengangguk perlahan. “Ya sudah. Aku percaya.” Namun dari sorot matanya, Juan tahu Raisa bukan gadis yang sepenuhnya polos. Ia memilih percaya karena ia ingin percaya pada Juan. “Lain kali, jangan begitu lagi ya. Aku sempat kepikiran macam-macam.”
“Iya, janji,” jawab Juan singkat namun tulus.
Setelah percakapan santai itu berakhir dengan janji Raisa yang misterius, Juan menutup panggilan tersebut. Layar ponsel kembali gelap.
Ia meletakkan ponselnya, lalu merebahkan tubuhnya. Pikirannya penuh, namun rasa lelah akhirnya menariknya masuk ke dalam alam bawah sadar.
Kabut tipis menyelimuti pandangannya saat ia memasuki alam mimpi yang dipengaruhi oleh kekuatan Liontin Sakti. Ketika kabut itu memudar, Juan mendapati dirinya berada di sebuah ruang kosong dengan cahaya temaram yang aneh.
Sosok ruh penunggu liontin itu muncul. Namun kali ini, penampilannya benar-benar membuat napas Juan tertahan. Ruh itu mengambil rupa Bu Hani.
Sosok itu berdiri hanya mengenakan kemeja putih yang sangat ketat, hingga kancingnya seolah hampir lepas menahan tekanan bukit kembarnya yang besar.
Di bawahnya, ia hanya mengenakan rok mini yang sangat pendek, mencetak lekuk bokong bohaynya dengan sangat jelas dan vulgar.
“Kamu terlihat lelah, Juan,” ucap ruh berwujud Bu Hani itu dengan suara yang mendesah nikmat, persis seperti saat mereka di ruang dosen.
Juan menghela napas, matanya tak bisa lepas dari sosok erotis di depannya. “Aku memang lelah. Tapi kenapa kali ini wujudmu seperti dia?”
Ruh itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh godaan namun menyimpan wibawa kuno. “Karena dia baru saja meninggalkan jejak energi yang sangat kuat dalam perjalananmu hari ini. Kamu baru saja menaklukkan satu sisi, namun keraguan masih menggelayuti pikiranmu.”
Ruh itu melangkah mendekat, kemeja putihnya yang transparan memperlihatkan bayangan bra renda yang membungkus aset berharganya.
“Ingat, Juan… jalan yang kamu pilih tidak bisa setengah-setengah. Setiap desahan yang kamu ciptakan, setiap wanita yang kamu taklukkan, adalah bahan bakar bagi kekuatanmu. Keraguan hanya akan menghancurkanmu.”
Cahaya di sekeliling mereka perlahan menguat menjadi keemasan yang panas. Juan merasakan liontin di dadanya bergetar hebat, menyatu dengan detak jantungnya yang kian kencang melihat wujud Bu Hani yang semakin mendekat.
“Setiap langkahmu,” ujar ruh itu sambil menyentuh dada Juan dengan jemari halusnya, “akan mendekatkanmu pada kekuatan mutlak… atau justru menyeretmu ke dalam kehancuran jika kamu kehilangan kendali.”