Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diculik ke Mansion Berdarah
Atmosfer di dalam mobil Limo yang membawa Kaivan dan Gendis kembali ke mansion pusat terasa sedikit lebih tenang, namun itu hanya ketenangan palsu sebelum badai sesungguhnya datang. Gendis masih sibuk menceritakan betapa "bawelnya" Don Alessandro yang protes karena piza di Italia sekarang terlalu banyak modifikasi topping, sementara Kaivan hanya menatap keluar jendela dengan pikiran yang berkecamuk.
Namun, ketenangan itu pecah saat iring-iringan mobil mereka melewati jalanan perbukitan yang sepi dan dikelilingi hutan pinus yang rapat.
DAR! DAR! DAR!
Tiba-tiba, kaca depan mobil pengawal di depan mereka hancur berkeping-keping. Ban mobil melengking hebat sebelum akhirnya terguling dan menutupi jalan.
"Tuan! Penyerangan!" teriak Marco sambil membanting setir ke kanan, mencoba mencari celah untuk berbalik arah.
Kaivan dengan sigap menarik kepala Gendis agar merunduk di bawah jok. "Jangan bergerak! Tetap di bawah!"
"Aduh, Kak! Ini kepala saya kepentok tempat sampah mobil!" Gendis berteriak di tengah suara desingan peluru yang menghantam badan mobil antipeluru mereka seperti hujan rintik-rintik yang mematikan. "Kak, ada yang nggak beres! Aura di luar bukan cuma orang jahat, tapi ada bau busuk banget!"
Kaivan tidak sempat mendengarkan keluhan mistis Gendis. Ia mengeluarkan dua pistol otomatis dari balik jasnya. "Marco, tembus blokade itu!"
"Tidak bisa, Tuan! Mereka menggunakan truk tangki untuk menutup jalan!"
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar terjadi di samping mobil mereka. Guncangannya begitu hebat hingga mobil Limo seberat beberapa ton itu terangkat dan terguling ke pinggir tebing kecil. Dunia serasa berputar bagi Gendis. Kesadarannya perlahan menipis saat kepalanya menghantam kaca jendela. Hal terakhir yang ia lihat adalah bayangan pria-pria bertopeng dengan seragam hitam legam mendekati mobil mereka, dan suara Kaivan yang memanggil namanya dengan nada panik yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Saat Gendis membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah bau karat yang menyengat. Bukan karat besi biasa, tapi bau darah yang sudah mengering dan tertimbun selama bertahun-tahun. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun kedua pergelangan tangannya terikat rantai besi ke sebuah kursi kayu tua.
"Aduh... mak... kepala Gendis kayak dipukul pakai palu Thor," rintihnya pelan.
Ia melihat sekeliling. Ruangan itu gelap, lembap, dan hanya diterangi oleh beberapa obor yang menempel di dinding batu yang basah. Ini bukan lagi di Sisilia yang modern. Ini tampak seperti penjara bawah tanah dari abad pertengahan.
"Gendis? Kau sudah bangun?"
Gendis menoleh ke samping. Di kursi sebelah, Kaivan juga terikat. Namun, kondisinya jauh lebih buruk. Kemeja putihnya robek di bagian bahu, menampakkan luka sayatan yang masih mengalirkan darah. Wajahnya yang biasanya bersih kini penuh lebam, namun tatapan matanya masih setajam elang.
"Kak Kaivan! Kakak nggak apa-apa? Waduh, itu mukanya jadi kayak kerupuk melempem," ucap Gendis, masih sempat-sempatnya berkomentar konyol meski nyawa di ujung tanduk.
Kaivan meringis. "Masih sempat kau bercanda? Kita sedang berada di 'Mansion Berdarah' milik keluarga Moretti. Ini adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang pernah keluar hidup-hidup."
"Moretti? Siapa lagi itu? Musuh baru?"
"Saingan lama yang lebih kejam dari Lucchese. Mereka penganut sekte kuno. Mereka percaya bahwa darah musuh bisa memberikan kekuatan," jelas Kaivan dengan suara berat.
Gendis tiba-tiba bergidik. Bukan karena penjelasan Kaivan, tapi karena ia melihat ke arah pojok ruangan yang paling gelap. Matanya yang indigo menangkap belasan, bahkan puluhan bayangan hitam yang merayap di langit-langit.
"Kak... pantas saja disebut Mansion Berdarah. Ini bukan cuma tempat eksekusi, ini mah tempat pesta setan! Kakak tahu nggak, di atas kepala Kakak sekarang ada hantu tanpa tangan yang lagi nyoba nyekik Kakak pakai lidahnya?"
Kaivan menghela napas, mencoba tetap tenang di tengah siksaan fisik dan informasi gaib Gendis. "Bisakah kau suruh dia pergi? Aku sedang tidak mood untuk dicekik lidah."
"Sudah saya usir, Kak. Saya bilang kalau dia nggak pergi, nanti saya doain biar dia reinkarnasi jadi cacing tanah. Dia langsung mutung, sekarang lagi mojok di sana," Gendis menunjuk ke arah tumpukan tulang belulang di sudut sel.
Tiba-tiba, pintu besi berat berderit terbuka. Seorang pria bertubuh raksasa dengan kapak besar di pundaknya masuk, diikuti oleh seorang pria paruh baya yang berpakaian sangat rapi—Don Moretti.
"Ah, Sang Raja Hitam, Kaivan Vittorio. Akhirnya kau jatuh ke tanganku," Moretti tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas pada kayu.
Moretti mendekati Gendis, menatapnya dengan penuh minat. "Dan siapa gadis ini? Wanginya... sangat murni. Darahnya pasti akan sangat cocok untuk ritual malam ini."
Gendis melotot. "Wangi murni mata mu! Om, saya ini belum mandi dari pagi, keringetan, bau matahari! Darah saya asam lambung semua isinya, Om nggak akan suka!"
Moretti tertegun. Jarang sekali ada korban yang berani membalas ucapannya dengan nada songong seperti itu. "Kau punya keberanian, Nona kecil. Tapi itu tidak akan menyelamatkanmu."
"Eh, sebentar!" Gendis tiba-tiba berteriak, membuat Moretti menghentikan langkahnya. Gendis menatap ke arah belakang Moretti dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Om... itu di belakang Om... ada anak kecil pucat yang lagi gelayutan di kaki Om. Dia bilang... 'Papa, kenapa Papa bunuh aku?'."
Seketika, wajah Moretti berubah pucat pasi. Langkahnya goyah. "Apa... apa yang kau katakan?"
"Iya, dia bilang dia dulu main petak umpet, terus Om nggak sengaja ngunci dia di lemari besi sampai dia... ya gitu deh, lewat. Dia sedih lho, Om. Sekarang dia lagi gigit-gigit betis Om. Pantesan Om jalannya agak pincang, kan?"
Moretti gemetar hebat. Rahasia kematian putranya sepuluh tahun lalu yang ia klaim sebagai kecelakaan adalah beban terberatnya. "Diam! Kau tukang sihir!"
"Bukan sihir, Om! Itu anaknya lagi nangis! Dia bilang dia mau Om ikut dia sekarang juga!" Gendis mulai menggunakan kemampuan aktingnya, suaranya dibuat serak dan menakutkan. "Ayo Papa... ikut aku ke lubang yang gelap... ayo Papa..."
"TIDAK! PERGI KAU!" Moretti berteriak histeris, ia mundur dengan ketakutan dan hampir jatuh tersungkur. Ia berbalik dan berlari keluar dari sel, meninggalkan anak buahnya yang bingung.
Kaivan menatap Gendis dengan takjub. "Kau... kau baru saja mengusir penguasa paling kejam di wilayah ini hanya dengan cerita hantu?"
Gendis mengembuskan napas lega. "Hantu beneran kok, Kak. Tapi emang anaknya Moretti itu dendam banget. Nah, sekarang mumpung anak buahnya lagi bengong, Kakak bisa lepasin rantainya nggak? Saya nggak mau mati di sini, nanti nggak ada yang bayarin seblak!"
Kaivan mencoba mengerahkan tenaganya. Karena ketakutan Moretti tadi, si penjaga berkapak juga ikut merasa ngeri dan tidak memperhatikan Kaivan yang sedang menggesekkan rantainya pada bagian tajam dari kursi kayu yang tadi sempat ia rusak.
"Sedikit lagi..." gumam Kaivan. Dengan satu hentakan kuat, kayu kursi itu patah. Kaivan berhasil membebaskan tangannya.
Dalam gerakan yang sangat cepat, bahkan sebelum penjaga berkapak itu bisa bereaksi, Kaivan sudah melompat dan melumpuhkannya dengan satu tendangan telak di leher.
Kaivan segera menghampiri Gendis dan membuka rantainya. "Ayo, kita harus keluar dari sini sebelum Moretti sadar dia sedang dikerjai."
"Bentar Kak! Ambil kapaknya! Buat jaga-jaga kalau ada hantu yang mau ikutan tawuran!" seru Gendis.
Mereka berlari menyusuri lorong-lorong gelap mansion yang luas itu. Gendis menjadi pemandu jalan—bukan karena dia tahu peta, tapi karena dia bertanya pada hantu-hantu pelayan yang merasa kasihan padanya.
"Ke kiri, Kak! Di depan ada penjaga yang lagi main kartu, kita lewat jalur rahasia di balik lukisan yang matanya bisa gerak-gerak itu!" Gendis menarik tangan Kaivan.
"Kau yakin?" tanya Kaivan ragu saat melihat sebuah lukisan tua yang tampak sangat menyeramkan.
"Yakin! Hantu pelayannya bilang lewat sini aman, soalnya mereka juga benci sama Moretti yang pelit nggak pernah kasih sesajen piza!"
Mereka mendorong lukisan itu, dan benar saja, sebuah lorong sempit terbuka. Mereka merayap di dalamnya sampai akhirnya mencapai balkon luar yang menghadap ke tebing laut. Angin malam yang dingin menyapu wajah mereka.
"Kita harus melompat ke air, Gendis. Itu satu-satunya jalan," ujar Kaivan sambil menatap ombak yang menghantam karang di bawah sana.
Gendis menelan ludah. "Melompat? Kak, saya ini indigo, bukan atlet loncat indah! Kalau saya mati, saya jadi hantu penunggu laut yang paling bawel lho!"
Kaivan memegang kedua bahu Gendis, menatap matanya dalam-dalam. "Percayalah padaku. Aku tidak akan membiarkanmu mati. Kita akan melompat bersama."
Gendis menatap mata abu-abu Kaivan. Di tengah kegelapan dan bahaya, ia merasakan ketulusan yang luar biasa. "Janji ya, Kak? Kalau selamat, seblaknya harus pakai topping tulang sama ceker yang banyak!"
Kaivan tersenyum kecil, lalu merangkul pinggang Gendis erat. "Janji. Satu... dua... TIGA!"
Mereka melompat dari ketinggian puluhan meter. Udara dingin menerpa tubuh mereka sebelum akhirnya... BYUR!
Air laut yang dingin menusuk tulang menyambut mereka. Kaivan segera menarik Gendis ke permukaan. Di bawah cahaya bulan, mereka berenang menjauh dari Mansion Berdarah yang kini mulai riuh dengan suara alarm dan teriakan anak buah Moretti.
Di kejauhan, di atas balkon tempat mereka melompat tadi, Gendis melihat bayangan Don Alessandro—sang kakek buyut—berdiri sambil melambaikan tangan. Ia tampak sangat bangga melihat cucunya akhirnya melakukan aksi heroik demi seorang gadis.
"Kak... Kakek buyut Kakak bilang, 'Bagus, itu baru laki-laki!'. Terus dia bilang... jangan lupa jemur jasnya, mahal katanya," bisik Gendis sambil terengah-engah di atas sebuah perahu nelayan kecil yang mereka temukan terikat di pinggir karang.
Kaivan hanya bisa tertawa lepas, suara tawa yang jarang sekali terdengar. Ia berbaring di atas perahu kayu itu, menatap bintang-bintang di langit Sisilia.
"Gendis," panggil Kaivan.
"Ya, Kak?"
"Terima kasih. Kau menyelamatkan nyawaku hari ini."
Gendis ikut berbaring di sampingnya, tubuhnya menggigil tapi hatinya terasa hangat. "Sama-sama, Kak. Tapi beneran ya, jangan diculik-culik lagi. Capek tahu jadi orang pinter di tengah-tengah Mafia yang pada baperan sama masa lalu."
Kaivan meraih tangan Gendis, menggenggamnya erat di atas perahu yang bergoyang pelan. Dendamnya pada Moretti kini bertambah satu lapis lagi, namun kehadirkan Gendis di sisinya membuat malam yang berdarah itu terasa seperti sebuah petualangan romantis yang tak masuk akal.
Di tengah laut lepas, antara hidup dan mati, Raja Mafia Italia dan Gadis Indigo Indonesia itu baru saja memulai babak baru dalam hidup mereka. Babak di mana cinta mulai tumbuh di sela-sela peluru dan kemenyan.
"Kak, hantunya Moretti yang tadi ikut nggak ya?" tanya Gendis tiba-tiba, merusak suasana romantis.
"Gendis... diamlah."
"Iya deh, galak amat. Padahal kan saya cuma mau mastiin kalau dia nggak ikut naik perahu, soalnya perahunya kecil nanti keberatan muatan..."
Suara ombak menelan omelan Gendis, sementara Kaivan hanya bisa tersenyum lebar sambil menatap langit. Malam ini, ia tidak hanya selamat dari maut, tapi ia juga menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kekuasaan: seorang gadis semprul yang membuat dunianya yang gelap jadi penuh warna.
aku like banget
seribu jempol
aku like...