Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menebus dosa
Dalam hitungan detik sebelum tubuh Azalia terhantam, Gavin berhasil meraih pergelangan tangannya, menarik keras ke dalam pelukannya.
Tubuh Azalia jatuh ke dadanya dengan hentakan kuat, membuat napas mereka sama-sama memburu, Gavin membalikkan tubuhnya sedikit, menahan benturan agar Azalia tidak terbentur trotoar.
Mobil itu melesat lewat, nyaris menyambar tempat Azalia berdiri barusan.
Mata Gavin menatap tajam ke sana, hingga mobil itu tidak dapat dijangkau pandangannya lagi.
Saat sadar, Gavin buru-buru menjauhkan tubuh Azalia perlahan, menatapnya baik-baik. "Kau tidak apa-apa?"
Azalia menggeleng, menjauhkan tubuhnya dengan gugup. Perasaan takut dan syok tadi membuat wajahnya sedikit memucat.
"Maaf, Gavin... aku-aku..., "
"Duduk saja di sana. Aku yang akan membeli minum."
Gavin pergi, meninggalkan Azalia.
Azalia duduk dengan lemas. Tubuhnya masih gemetar, dadanya juga berdebar. Tapi kali ini dia tidak bisa membedakan, Apa yang membuat jantungnya seperti berloncatan. Nyawanya yang hampir melayang, atau, pelukan Gavin.
Rasanya sama saja. Sama-sama membuatnya Hampir mati.
Gavin datang membawa dua botol air mineral, menyodorkan pada Azalia yang duduk menikmati ubi bakarnya.
"Minum ini dulu," katanya, tanpa melihat Azalia.
"Kau hendak pergi!" Melihat kegelisahan Gavin, Azalia tahu pria itu sepertinya sedang ada urusan.
Tapi Gavin yang seorang gentlemen tak bisa membiarkan istrinya ditengah keramaian seorang diri. Setidaknya mulai saat ini.
"Aku mau nelpon sebentar." Gavin menjauh.
"Periksa plat nomor yang baru saja kukirim." Perintahnya pada pemilik nomor. Setelahnya pria itu kembali di sisi Azalia yang masih duduk melihat kearahnya.
"Aku baik-baik saja." Gadis itu kembali meyakinkan Gavin.
Setelah kencan yang mendebarkan itu, Azalia diantar pulang oleh Gavin.
Setelah kejadian barusan, baik Gavin atau pun Azalia tidak ada yang bicara sepanjang perjalanan, tapi tangan Gavin tak pernah melepaskan tangan Azalia.
Azalia juga menelan sendiri rasa yang mulai mengganggu ketenangan jantungnya.
"Mandi air hangat dan istirahatlah. Aku keluar sebentar." Tanpa menunggu respon dari Azalia, Gavin bergegas pergi.
Sebelum memasuki mobilnya, dia kembali menelpon. "Di mana?"
Di dalam ruangan yang gelap, Marta terduduk di lantai dengan lutut tertarik ke dada. Tangannya menggenggam rambutnya sendiri, jari-jarinya mencengkram seolah ingin mencapai sesuatu yang tak bisa ia sentuh. Amarahnya.
Terdengar napasnya memburu. Dadanya naik turun tak beraturan. Pikirannya terus dipenuhi oleh pemandangan tadi, saat dia menginjak pedal gas tanpa ragu, saat tubuh Azalia nyaris terhempas, dan saat Gavin berlari dengan ekspresi penuh kepanikan untuk menyelamatkan istrinya.
Bodoh.
Betapa bodohnya dia sampai membiarkan amarahnya lepas kendali. Sampai dia benar-benar hampir melakukan sesuatu yang tak bisa dia tarik kembali.
Mencelakai putri kandungnya sendiri.
Apa yang dia pikirkan? Membunuh Azalia? Lalu apa? Apakah setelah itu Mahesa akan memujinya?
Tidak.
Mahesa sudah meninggalkannya di ambang kehancuran.
Pria itu tak ingin bicara dengannya, bahkan tidak pulang.
Tapi.. tapi dia juga tak bisa menerima ini!
Usaha yang dia rintis bertahun-tahun, pengorbanan yang dia lakukan demi tetap berada di sisi Mahesa, semuanya hancur hanya karena ketidakbecusan Azalia.
Marta menggigit bibirnya, menahan isak yang ingin pecah. Dia membenci Azalia. Membenci Mahesa, dan membenci dirinya sendiri.
Namun, di balik amarahnya, di balik rasa sakit yang menggerogoti, ada ketakutan yang tiba-tiba menyerangnya.
Bagaimana jika Gavin tahu? Bagaimana jika Gavin mencurigainya?
Apa yang akan terjadi padanya? Apa yang akan dilakukan Gavin jika mengetahui bahwa dia yang ada di balik kemudi mobil tadi?
Melihat cara Gavin menolong Azalia, pria itu seperti rela menukar nyawanya sendiri demi nyawa sang istri menggambarkan seberapa penting gadis itu.
Tubuh Marta bergetar. Tangannya mencengkeram karpet di bawahnya, mencakar permukaannya seolah bisa meredam kegelisahan yang makin menggila.
Satu menit.
Dua menit.
Seperti apa yang ia takutkan, seseorang tiba-tiba menggedor pintu kamarnya dengan keras.
"Keluar!"
Itu suara Gavin.
Marta terperanjat.
Ya, suara Gavin. Nadanya berat, penuh tekanan. Caranya menggedor pintu seolah ingin merobohkan kamarnya.
Jantung Marta berdegup kencang, tubuhnya menegang. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, tapi ketakutan itu semakin mencekiknya.
Brak!
Tak sampai 5 menit pintu itu sudah terlepas dari engselnya.
Tatapan Gavin menembusnya seperti belati tajam. Matanya gelap, penuh bara kemarahan. Rahangnya mengatup keras, napasnya berat.
Gavin menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar tubuh itu di tarik keluar.
Dan dua pria berpakaian hitam segera meraih tangan Marta kiri dan kanan, menariknya paksa seperti tahanan.
"Lepaskan!"
Marta memberontak, tapi tentu sangat tidak berguna.
Yang terjadi berikutnya, tidak pernah Marta bayangkan.
Bagus sih si Marta di kasih hukuman, lagian mau mencelakai anak kandungnya sendiri. Apalagi orang yang mau di celakai istri seorang Gavin.
Ibu macam apa kamu, mau mencelakai anak kamu sendiri