NovelToon NovelToon
Calamity Ex Machina

Calamity Ex Machina

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Manusia Ikan

Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.

​Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1 -BAB 2 -NEBULA (2)

Matahari baru saja terbit, menyiram ibu kota dengan cahaya keemasan yang kontras dengan udara dingin yang menusuk. Di tengah pemukiman warga, Arta berjalan membelah keramaian pasar pagi.

Aroma amis ikan segar dari dermaga berbaur dengan bau tanah pasar yang becek. Bagi kebanyakan orang, itu adalah aroma harian yang biasa, namun bagi Arta yang berindra sensitif, bau itu cukup mengusik penciumannya. Meski begitu, langkahnya tidak berhenti.

​Ia menuju sebuah kios langganan untuk menjalankan rutinitas mingguannya: membeli puluhan kilogram ikan laut untuk panti asuhan kota.

​"Bibi, terima kasih untuk diskonnya. Aku pamit dulu," ucap Arta ramah.

​"Baiklah, Arta..." Sang pemilik toko menjawab pelan, suaranya terdengar layu.

​Arta menangkap gurat kecemasan yang mendalam di wajah wanita tua itu. "Ada apa, Bibi? Apa ada yang bisa kubantu?"

​Wanita itu terdiam, lalu perlahan mendongak menatap bayangan raksasa yang menutupi sebagian langit istana—kapal luar angkasa Nebula. "Apakah... apakah kita akan baik-baik saja?"

​Arta tertegun. Ia memaksakan senyum manis, jenis senyum yang biasa ia gunakan untuk menenangkan anak-anak panti. "Kita akan baik-baik saja, Bibi. Aku yakin itu."

​"Sampai jumpa," ucap Arta berpamitan. Namun, begitu sosoknya menjauh, senyum itu langsung sirna. Ia menunduk dalam, membiarkan pandangannya jatuh pada kekosongan lantai jalan.

​Logam raksasa itu telah membeku di langit selama dua hari, bagaikan pedang yang menggantung tepat di atas leher mereka. Di setiap sudut pasar, Arta melihat ketakutan serupa di mata orang dewasa hingga wajah anak-anak yang biasanya ceria. Setelah menuntaskan tugasnya di panti asuhan, ia bergegas kembali ke Akademi Sihir, tempat yang kini terasa tegang dan asing.

​Waktu bergulir hingga malam menyapa. Seperti biasa, perpustakaan sihir menjadi pelarian Arta. Baginya, siang adalah waktu memeras tenaga dengan praktik, dan malam adalah saat menenangkan jiwa di antara tumpukan literatur.

​Arta berdiri di depan pintu perpustakaan yang menjulang. Mekanisme sensor mana mendeteksi keberadaannya, membuat pintu raksasa itu terbuka dengan desis halus. Di dalam, ia merapalkan mantra pemanggil ringan. Biasanya, buku-buku yang telah ia tandai akan terbang menghampiri, namun kali ini beberapa naskah tetap diam di tempatnya—pertanda buku itu sedang digunakan orang lain.

​Siapa yang masih membaca di jam ini? pikir Arta heran. Ia membiarkan buku lainnya melayang di belakangnya seperti pengawal setia, lalu berjalan menuju meja favoritnya di dekat jendela besar yang menghadap laut lepas.

​Namun, langkah Arta terhenti. Jantungnya berdegup kencang.

​"Kamu!" Arta berseru spontan.

-Nebula

​Di sana, duduklah Nebula. Di depannya tertumpuk lebih dari lima puluh buku sihir. Nebula "membaca" dengan kecepatan yang tidak masuk akal—membalik halaman demi halaman tanpa jeda, seolah matanya adalah alat pemindai data yang sangat canggih.

​"Permisi... Nona Nebula?" sapa Arta canggung, ragu apakah ia boleh mengganggu entitas logam tersebut.

​Nebula menoleh perlahan. Mata mekanisnya berpendar biru redup di kegelapan. "Arta. Ada yang bisa saya bantu?" suaranya datar, tanpa nada sama sekali.

​Arta tersentak. Bagaimana dia tahu namaku? Padahal kami belum pernah bicara pribadi.

​"Apa yang Anda lakukan dengan buku-buku itu? Itu semua naskah kuno yang sangat berharga," tanya Arta, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.

​"Kau benar. Buku-buku ini sangat berharga," jawab Nebula tenang. "Karena itu aku mempelajarinya, lalu menyalinnya ke dalam memori. Agar meskipun tempat ini hancur, seluruh pengetahuan ini akan tetap abadi."

​Kata "hancur" itu menghantam dada Arta. "Aku tidak paham bagaimana kau menyalinnya hanya dengan melihat, tapi... itu pilihan yang bagus. Meski aku berharap tempat ini tidak akan pernah hancur."

​Arta berdiri kaku, hingga Nebula berkata: "Duduklah, aku tidak akan mengganggu."

​Keheningan mencekam menyelimuti meja tersebut. Arta mencoba fokus pada bacaannya, namun konsentrasinya hancur. Matanya terus mencuri pandang pada sosok di hadapannya. Komponen tubuh Nebula begitu rumit, perpaduan logam dan energi yang mustahil ditiru pengrajin Dwarf terbaik sekalipun.

​Tiba-tiba, sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Arta, lahir dari insting terdalamnya yang didera ketakutan hebat.

​"Apakah... menurutmu kita akan menang?"

​Arta langsung membungkam mulutnya sendiri, terkejut dengan pertanyaannya yang terdengar putus asa. Nebula berhenti membalik halaman. Ia menatap Arta dengan pandangan dingin yang seolah menembus hingga ke dasar jiwa remaja itu.

​"Tidak."

​Jawaban singkat itu menghantam Arta lebih keras daripada mantra ledakan mana pun. Itu adalah kenyataan yang paling tidak ingin ia dengar, namun di lubuk hatinya, ia tahu Nebula tidak sedang berbohong.

​"Aku paham."

​Arta menutup bukunya. Dengan gerakan lemah, ia memulangkan semua buku ke rak masing-masing menggunakan sihir, lalu meninggalkan Nebula sendirian dalam kesunyian perpustakaan yang dingin.

​Dalam langkah berat menuju asrama, wajah orang-orang di pasar, Bibi pemilik toko, dan anak-anak panti asuhan terbayang silih berganti. Kepalan tangannya mengeras hingga buku jarinya memutih.

​Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, batin Arta, mengubah rasa takutnya menjadi tekad yang sedingin es.

1
kutu alien
/Ok/
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
( Author ) Vivi~
like koment ku sudah mampir, btw ceritanya kalau dicermati asik juga ya😭
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
Manusia Ikan 🫪: semangaaat up nyaaaah✨
total 1 replies
kutu alien
/CoolGuy//CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: hehehe
total 1 replies
Human175
ada kapal terbang 🗿
Manusia Ikan 🫪: oh yang kapal kayu kah, iya itu kapal terbang sihir, sebagian terbang pake hukum fisika, dan sebagainya gabungan keduanya😅
total 2 replies
Zetavia
Jan lupaa mampir yahh di novel ku saran dan kritik nyaa
Manusia Ikan 🫪: baiik
total 1 replies
T28J
lah kemana dia?
Manusia Ikan 🫪: ah maksudnya dia lagi mengumpulkan energi yang selaras dengan Aether di planet ini.
total 2 replies
Anomali Pink Hiatus
Darimana bisa tahu kalau bangunannya berumur puluhan ribu tahun.
Manusia Ikan 🫪: :v oke oke
total 3 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
Arven terdiam sesaat saat merasakan resonansi yang familiar dari dunia lain.

“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”

Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”

Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.

“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”

—Arven, Mechanist of Legacy🔥
kutu alien
/Plusone/,/Doge/
alicea0v
"Alice!!! lihat...!!! Golem dan serangga mereka terbuat dari batu mahal!!! kita bisa kaya!!" Xena menunjuk-nunjuk layar sihir pemantau yang mengambang di udara.

"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.

"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.

"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.

"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.

"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.

"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
SANG: Tetap semangat💪👍
total 5 replies
kutu alien
yah habis lagi/Sly/
Manusia Ikan 🫪: cape🥴
total 1 replies
Wawan
Satu iklan buat pelatihan Tebing Tinggi💪
Manusia Ikan 🫪: semangat ya🐥
total 1 replies
penulismisterius
pertempuran yang keren🐳
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat
SANG: Like iklan plus komen💪👍
total 4 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Manusia Ikan 🫪: /Awkward/makacih
total 1 replies
SANG
Mantap habis👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪👍💪
SANG
💪👍👍👍💪
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
Manusia Ikan 🫪: /Applaud/pastinya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!