Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5. dia itu berbeda
"Dan satu lagi, dia memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita, Dek. Ingat itu," ucap wanita berumur dua puluh tujuh tahun itu, yang beberapa bulan lagi akan menikah dengan calonnya yang juga memiliki profesi yang sama yakni seorang guru.
Entah kenapa, setiap kakak perempuannya berbicara kepadanya, hati Maya selalu berubah menjadi resah. Ia tahu jika Chris memiliki kepercayaan yang berbeda dengan dirinya. Bahkan Chris menjadi satu-satunya teman yang Maya miliki, dalam artian satu-satunya teman yang memiliki keyakinan berbeda dengan Maya dalam hal agama.
"Iya, aku tahu kok," sahut Maya lirih.
Lia duduk di sisi ranjang Maya, dengan mengenakan piyama dan wajah tanpa makeup, tapi sorot matanya terlihat serius malam itu. Tangannya menggenggam tangan adiknya erat, seolah ingin memastikan setiap kalimat yang akan keluar dari mulutnya benar-benar sampai ke hati Maya.
“Maya,” ucapnya pelan. “Ini demi kebaikan mu, Dek. Sebentar lagi kakak akan menikah dan tinggal di Solo, ikut suami kakak. Ayah juga akan semakin sering keluar kota. Kakak nggak mau adik kakak yang cantik ini terjerumus ke hubungan yang rumit."
Maya menoleh, mengangguk pelan meski ada sedikit perasaan tak nyaman di dadanya. Ia tahu, nada suara kakaknya itu selalu jadi pembuka untuk obrolan yang berat.
“Kakak nggak bisa ngawasin kamu lagi setiap hari. Nggak bisa tahu kamu pulang telat, siapa yang jemput kamu, atau kamu lagi deket sama siapa.”
Maya menunduk.
“Makanya sebelum kakak pergi, kakak mau kamu jaga diri baik-baik. Jangan gampang percaya sama siapa pun, apalagi cowok. Termasuk Chris.”
Maya mendongak cepat, ingin protes, tapi Lia buru-buru melanjutkan.
“Bukan karena kakak benci dia, Dek. Tapi karena kakak belum yakin dia bisa jaga kamu dengan cara yang kakak harap. Dia dari kota besar, gaya hidupnya beda. Kakak tahu kamu bilang dia baik, tapi kadang yang baik di awal belum tentu baik selamanya.”
Suara Lia makin pelan, seperti menahan emosi. “Hati perempuan itu gampang luluh, Dek. Tapi kalau udah kecewa, susah banget buat sembuh. Kakak cuma nggak mau kamu ngerasain itu.”
Maya diam. Tangannya mencengkram bantal di pangkuannya, hatinya penuh campur aduk.
“Kamu boleh deket sama siapa pun,” lanjut Lia, menatap Maya lembut. “Tapi jangan pernah lepasin akal sehat kamu. Jangan cuma karena rasa suka, kamu jadi buta.”
Maya mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu, di balik kalimat-kalimat itu, ada kasih sayang yang tak pernah berubah. Meski kadang terasa mengekang, nasehat kakaknya selalu berasal dari niat untuk melindungi.
Maya kembali diam karena ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan.
"Sudah malam. Kakak tahu kamu sudah ngantuk. Tidurlah." Lia berdiri dan mengusap puncak kepala Maya dengan senyum keibuannya. Setelah itu Lia keluar dari kamar dan meninggalkan Maya sendirian.
Maya duduk di ranjangnya sambil memeluk lutut, menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai. Malam sudah larut, tapi pikirannya belum juga tenang.
Ia tahu cepat atau lambat, Lia pasti akan membahasnya lagi tentang Chris. Tentang betapa kakaknya meragukan kepercayaan cowok itu.
Dan itu membuat Maya resah.
Bukan karena ia takut dimarahi, tapi karena ia tahu Lia bisa sangat meyakinkan saat bicara. Kata-katanya tajam tapi dibungkus dengan nada lembut, dan seringkali berhasil menggoyahkan isi hati Maya sendiri.
“Kamu tuh harus hati-hati, Dek. Cowok kayak Chris itu manis di awal, tapi siapa yang tahu niatnya?” Kalimat itu masih membekas di telinganya.
Padahal Maya sendiri pun belum sepenuhnya yakin dengan Chris. Tapi ketika Lia mulai meragukan Chris, muncul rasa tidak nyaman, seolah Lia tak percaya bahwa Maya bisa menilai orang dengan baik.
Maya menarik napas panjang. Ia tak mau memperdebatkan hal yang belum jelas. Tapi di sisi lain, ia juga tak mau selalu merasa bersalah hanya karena hatinya mulai memberi ruang untuk Chris.
Ia hanya ingin mengenal seseorang tanpa merasa diawasi, tanpa tekanan dari ekspektasi keluarga.
Keresahannya tumbuh bukan karena Chris saja, tapi karena ketakutan akan kehilangan kepercayaan dari satu-satunya orang terdekat yang selalu menjaganya, yaitu kakaknya sendiri.
Maya bimbang. Dengan tekad bulat, ia kemudian membuka ponselnya. Ia mengetik pesan singkat untuk Chris.
[Chris, aku nggak jadi ikut camping. Maaf]
Setelah mengirim pesan itu, Maya segera menonaktifkan ponselnya. Mulai sekarang ia harus menjaga jarak dengan Chris. Harus.
...****************...
Perpustakaan Kampus
"Kok bengong aja dari tadi? Ada apa sih, May?"
Maya menoleh dan mengalihkan matanya dari novel yang sedikit pun tidak ia baca kepada sahabatnya. Putri Septiani, sahabat perempuan satu-satunya yang mengerti dan memahami Maya sejak mereka masih berada di sekolah menengah pertama.
"Nggak apa-apa kok. Cuma lagi malas aja," jawab Maya asal.
Putri masih menatap Maya dengan tatapan tidak percaya disertai ragu di matanya. "Yakin? Ini pertama kalinya kamu ngajakin berangkat bareng. Biasanya juga Chris yang sering antar jemput kamu. Kamu lagi marahan ya sama Chris?"
"Lagi ngomongin apa sih? Kok kayaknya serius banget."
Maya yang sedang asyik membalik halaman bukunya asal, dikagetkan oleh suara lain dari orang yang mendekat dan suara kursi yang ditarik tiba-tiba juga ikut membuat Putri tersentak. Ia menoleh cepat, dan matanya langsung bertemu dengan sosok yang sama sekali tak ia harapkan.
Pandu duduk di samping Maya, membawa buku yang bahkan tampak seperti hanya alasan. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Maya mendengus ringan, dan kembali memposisikan duduknya agar lebih tegak.
Maya mencoba tersenyum, walau kaku. “Nggak kok, kita cuma lagi omongin masalah cewek aja,” jawabnya pelan, lalu buru-buru kembali menatap bukunya, berharap itu cukup sebagai isyarat. Tapi Pandu seperti tidak mengerti jika keberadaannya membuat Maya merasa tidak nyaman.
Ya, satu lagi pemuda yang membuat Maya tidak nyaman. Dia adalah Pandu. Pandu memang tak pernah berbuat kasar atau terang-terangan mengganggu. Tapi perhatian yang ia berikan terasa berlebihan dan terkesan memaksa. Tak hanya suka kepo terhadapnya, Pandu bahkan hampir setiap malam, mengiriminya pesan singkat seperti 'Selamat malam, semoga mimpinya indah' atau 'Kamu udah makan belum?'
Pesan-pesan yang awalnya bisa dianggap manis, kini terasa membebani. Bukan karena Maya membenci Pandu, tapi karena ia tahu perasaan itu tidak pernah ia bagi. Dan Pandu seolah tak peduli. Dan seharusnya Pandu tahu jika Maya risih setiap ada didekatnya.
"Oh. Ehm Maya, malam ini—"
Belum juga Pandu selesai berbicara, sosok lain lagi-lagi muncul di depan Maya. Maya berhasil di buat terkejut untuk yang kesekian kalinya.
"Aku dari tadi nyariin kamu. Ternyata kamu ada disini. Ayo, ikut aku."