Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Tangan Kontrak
Pertemuan keluarga, akhirnya menjadi pertemuan untuk membahas pernikahan.
Karena Ghea tahu seberapa brengsek anaknya. Dan dia gak rela, jika nanti Violet di hancurkan sebelum menikah.
Karena itu, sama saja dia seperti mengkhianati sahabatnya sendiri.
"Kalian menikah minggu depan, dan karena privat, maka hanya do hadiri oleh keluarga inti, dari kedua belah pihak,"
"Bu ..." Violet menatap dengan tatapan memohon.
"Turuti saja, setidaknya kita bisa lepas lebih cepat dari ayahmu," balas Dania.
Dan setelah di pikir-pikir, apa yang ibunya katakan ada benarnya juga. Alhasil, mau tak mau, Violet tak membantah sedikit pun, keputusan orang tua mereka.
🍇🍇🍇
Kembali kekantor, walaupun keduanya hampir menikah, tapi masing-masing mereka tetap profesional.
Keduanya, sama-sama tak membahas tentang pernikahan di kantor. Dan jika ada yang ingin di bahas, mereka memilih untuk membicarakan di luaran sana.
Seperti hari ini, di saat jam makan siang. Seperti biasa, Violet duduk sendiri di sudut kantin perusahaan.
Dia memesan, beef teriyaki. Menu yang paling di sukai, dari menu-menu lainnya.
Baru saja, Violet menyuapi beberapa suap. Ponselnya bergetar.
Rysh mengajaknya untuk makan di luar. Karena ada hal yang ingin di bicarakan.
"Saya di kantin, lagi makan ..." balas Violet.
Bukan menolak, namun dia berharap jika Rysh mau menunggunya untuk menghabiskan makan di depannya.
Sebab Violet, paling benci menyisakan makanan karena gengsi. Dia bahkan gak malu, dengan tatapan aneh karyawan lain.
"Hai Violet, boleh saya gabung?" Rysh datang, menghampirinya.
Dan itu, berhasil membuat karyawan dan penjaga kantin shock. Karena pada kenyataannya, ini pertama kalinya Rysh datang ke sana.
Karena kalau gak makan di luar, Rysh lebih memilih makan di ruangan, dengan menu dari kantin, juga tentunya.
"Pak, disana ada meja kosong lainnya," tunjuk Violet, dengan dagunya.
"Aku duduk semeja dengan calon istri, memangnya salah?" Rysh bertanya dengan menaik-turunkan alisnya.
Violet mendengus, geram akan sikap dari atasannya.
"Kalo gitu, biar saya yang pindah," ujar Violet, seraya membawa makanan dan juga minumannya.
"Duduk, ada masalah pekerjaan yang harus kamu selesaikan," perintah Rysh, dengan suara yang sengaja di perbesar, agar orang-orang disana tak lagi salah paham.
Dengan muka masam, mau tak mau Violet kembali duduk di depan Rysh.
"Ini kontrak untuk kita," bisik Rysh, mengeluarkan sebuah map.
Violet membelalakkan matanya.
"Kenapa harus disini?"
"Kan kamu yang gak mau aku ajak keluar," balas Rysh acuh.
"Miss, tolong bungkuskan beef aku ya. Karena ada hal mendesak, yang harus aku bicarakan sama pak boss," Violet mengangkat tangan, memanggil seorang perempuan paruh baya.
"Kok di bungkus? Makan aja, aku nunggu kok,"
"Kamu pikir, aku bisa makan dengan tenang?" Violet mendengus.
Setelah kepergian Rysh dan Violet, kantin langsung kembali riuh seperti semula.
Sejak tadi, karyawan disana memang diam. Selain takut sama Rysh, mereka juga sempat curi-curi pandang pada Rysh dan Violet.
"Violet kayak kaku gitu ya hidupnya. Bahkan sepertinya dia gak tertarik sama pak Rysh," bisik seorang perempuan yang satu lantai dengan Violet.
"Iya, dia kayak gak pernah melihat pak Rysh sebagai lawan jenis," sambung lainnya.
"Aku malah curiga, Vio itu sebenarnya lesbian," tuduh lainnya.
Dan begitulah, pembicaraan yang menyudutkan Violet terus berlanjut. Dari satu mulut, ke mulut lainnya. Dan Violet, bukan tak tahu masalah itu, tapi dia memilih abai, berharap gosip itu, segera menghilang di terpa angin badai, puting beliung, topan dan halilintar.
Dan kini, Violet berada di ruangan Rysh. Lelaki itu, memperlihatkan kembali map yang sempat di sodorkan dikantin tadi.
Dan kini, Violet membaca dengan seksama.
"Jadi aku dapat uang bulanan 200 juta? Apa itu gak terlalu besar?" Violet bertanya, sembari mengernyit.
"Hah? 200 juta besar? Kamu gak salah?" Rysh bertanya dengan nada remeh.
Sesaat, Violet tertampar. Dia lupa, kalo lelaki di depannya bahkan bisa memenangkan proyek yang nilainnya miliyaran.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Violet.
"Itu yang aku tunggu sayang," batin Rysh, seolah tahu, apa yang di minta oleh Violet.
"Bisa gak— kamu menghilangkan poin ke 5. Tetap bebas walaupun sudah menikah," Violet menatap Rysh lama. "Aku gak mau pak Rysh masih jajan di luar sana," sambung Violet.
"Baik lah, untuk itu bisa diatur," balas Rysh.
Dan Violet langsung menandatangani kontrak tersebut. Karena poin terpenting, telah di coret olehnya, atas persetujuan Rysh.
"Berarti kamu setuju, note paling kecil di bawah sana? Melayani segala kebutuhanku, termasuk urusan ranjang,"
Deg ... Map yang sempat di sodorkan ke Rysh, kembali di tarik oleh Violet.
"Apa ini? Kenapa tulisannya kecil sekali?" Violet berteriak.
"Bukankah, kewajiban istri itu memang melayani suami?" Rysh kembali menggoda Violet. "Dan kamu, terlambat sayang," Rysh menarik map daei tangan Violet dengan cepat.
*Kalau salah satu dari pihak di atas tidak setuju untuk pihak lainnya, jajan bebas di luaran sana. Maka, pihak tersebut, wajib menanggung segala keinginan pihak terkait. Termasuk, urusan ranjang.
🍇🍇🍇
Di tempat lain, Ghea dan Dania sedang duduk di sebuah saung untuk makan siang. Hari ini, Dania tampil seadanya. Dia bahkan membiarkan lebam di mukanya tak tertutup sempurna.
Tujuannya sudah jelas. Ia ingin Ghea tahu, tentang apa yang dialaminya selama ini.
"Jadi selama ini, kamu?"
"Maka dari itu, lindungi lah, Violet. Dia satu-satunya harta yang paling berarti di hidupku, bahkan di bandingkan nyawaku sendiri," pinta Dania, penuh harap.
"Aku akan melindungi mu, melindungi Violet dari lelaki durjana itu," balas Ghea, mengenggam tangan Dania.
Ghea bahkan ikut menjatuhkan air matanya. Merasakan sakit yang dialami sahabatnya.
"Kita lapor sekarang? Aku akan menyewa seribu pengacara terbaik untukmu,"
"Nikah kan, Violet dulu. Karena bagaimana pun, lelaki itu, masih walinya," pinta Dania.
Kembali ke ruangan Rysh.
Violet masih ngos-ngosan. Sejak tadi, dia gagal merebut map dari tangan Rysh. Bahkan kini, map itu sudah aman di brangkas yang berada di ruangan itu.
Beruntung, ruangan itu kedap suara. Jadi, orang-orang tak mendengar teriakan frustasi dari Violet, sejak tadi.
"Memang salah ya, seorang istri melayani suami?" Rysh menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Violet yang berada si sofa yang sama, meliriknya sinis.
"Bisa saja, anda sudah tertular penyakit kan? Selama ini, anda kan jajan sembarangan," cibir Violet.
Rysh tersenyum, dia tak sedikit pun merasa sakit hati, atas perkataan Violet.
"Walaupun sembarangan, aku menghabiskan ratusan juta, untuk semalam," balas Rysh, bangga.
Violet memutar mata malas.
"Dan kita bisa ke semua dokter yang ada di seluruh negeri ini. Untuk cek, apakah aku punya penyakit yang kamu tuduhkan, ataupun nggak," sambung Rysh lagi.
"Vio ..." Rysh memanggil ketika Violet, beranjak dan hampir membuka pintu.
"Kenapa kamu menerima tawaran ku?" tanya Rysh, penasaran.
tpi kenapa vio gk hamil2...