"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELUKAN HANGAT SANG NENEK
"Samudera! Itu cucu Mama?"
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian anggun namun bersahaja berlari kecil mendekat, diikuti oleh seorang pria berwajah tegas di belakangnya yang tak lain adalah orang tua Samudera. Wajah sang Nenek tampak sudah basah oleh air mata haru sejak pertama kali melihat sosok kecil di gendongan putranya.
"Iya, Mama, Papa. Ini Arkana," ucap Samudera dengan senyum bangga yang merekah lebar.
Samudera perlahan menurunkan Arkana ke atas lantai marmer. Bocah kecil itu sempat agak canggung dan bersembunyi di balik kaki panjang Samudera, meremas celana kain sang papa sambil memeluk erat robot besarnya.
Nenek Arkana langsung berlutut di atas lantai tanpa memedulikan pakaian mahalnya. Ia merentangkan kedua tangannya dengan gemetar. "Astaga... tampan sekali cucu Nenek. Sini, Sayang, sini memeluk Nenek."
Melihat ketulusan dan air mata di wajah wanita itu, rasa asing di hati Arkana perlahan memudar. Ia menoleh ke atas, menatap Samudera yang mengangguk lembut memberikan izin. Dengan langkah kecilnya, Arka maju dan menghambur ke dalam pelukan hangat sang nenek, disusul oleh sang kakek yang langsung ikut membungkuk, mengusap punggung cucu pertamanya itu dengan rasa syukur yang membumbung tinggi ke langit.
Sambil mendekap erat tubuh mungil itu, tangis haru Mama Samudera pecah. Setelah beberapa saat melepaskan kerinduan yang mendalam, ia perlahan mengurai pelukannya, namun kedua tangannya tetap memegang lembut bahu kecil Arkana.
Ia menatap wajah cucunya lekat-lekat dari jarak dekat. Ibu jarinya yang gemetar bergerak mengusap sisa air mata di pipinya sendiri, lalu beralih menyentuh lembut pipi gembil Arkana. Mata wanita paruh baya itu membelalak takjub saat memperhatikan setiap jengkal wajah bocah empat tahun di hadapannya.
"Astaga, Papa... lihat ini," bisik Mama Samudera dengan suara bergetar, menoleh ke arah suaminya yang berdiri di sampingnya. "Dia... dia benar-benar tiruan kecil Samudera waktu masih balita. Tidak ada yang meleset sedikit pun."
Sang Kakek ikut berlutut di samping istrinya. Pria berwajah tegas yang biasanya jarang tersenyum itu kini menatap Arkana dengan pandangan mata yang melembut penuh binar kebahagiaan. Ia mengangguk setuju. "Kamu benar, Ma. Garis rahangnya, tatapan matanya... bahkan cara dia mengerutkan kening saat bingung, ini benar-benar Samudera."
Mama Samudera kembali menatap Arkana, jemarinya bergerak lembut merapikan poni rambut depan cucunya. "Bentuk matanya yang tajam tapi bersih ini... benar-benar persis seperti mata papanya saat pertama kali masuk TK dulu. Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah membawa cucu tampanku ini pulang."
Samudera yang berdiri tegak di samping mereka hanya bisa tersenyum simpul, menyilangkan dada dengan perasaan lega dan bangga yang membuncah. Melihat bagaimana kedua orang tuanya langsung jatuh cinta dan menerima Arkana tanpa keraguan sedikit pun, membuat separuh beban di pundaknya runtuh seketika.
Arkana yang diperhatikan begitu intens oleh kakek dan nenek barunya hanya bisa berkedip polos. Ia mendongak menatap Samudera, lalu kembali menatap wajah sang nenek yang masih berkaca-kaca.
"Nenek... kenapa menangis?" tanya Arkana dengan suara cicitnya yang menggemaskan, tangan mungilnya yang bebas dari memegang robot mencoba menyentuh ujung mata sang nenek. "Arka nakal, ya?"
Mendengar kepolosan itu, tangis Mama Samudera langsung berubah menjadi tawa bahagia. Ia kembali menarik Arkana ke dalam pelukan hangatnya, mencium puncak kepala cucunya dengan penuh kasih sayang. "Tidak, Sayang... Arka tidak nakal. Nenek menangis karena Nenek terlalu bahagia bisa bertemu dengan anak ganteng ini."