NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Gelar Iblis Arena dan Mata Sang Penilai

​Tuntutan Lin Tian untuk melawan sepuluh orang sekaligus menggema di seluruh Arena Pertarungan Darah bawah tanah. Untuk sesaat, tribun penonton terdiam, meresapi arogansi yang tak masuk akal itu, sebelum meledak dalam teriakan gila dan makian kasar.

​"Sepuluh orang?! Si cacat ini benar-benar gila!"

"Wasit, kabulkan permintaannya! Biarkan anjing-anjing liar mencabik-cabik dagingnya yang sombong itu!"

​Di balkon VIP yang tersembunyi di balik kaca pengintip gelap, seorang pria tua bertubuh kurus kering dengan jubah hitam elegan duduk menyilangkan kaki. Ia adalah Manajer Asosiasi, yang dikenal dengan nama Tuan Hei. Di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik—resepsionis pendaftaran tadi.

​"Menarik," gumam Tuan Hei, menyipitkan matanya yang setajam ular berbisa. "Aku tidak merasakan secercah pun Qi di dalam tubuhnya. Bahkan saat dia menahan gada baja spiritual itu, tidak ada resonansi sihir. Apakah itu fisik fana murni?"

​"Tuan Hei, apakah kita harus mengirim sepuluh petarung sekaligus?" tanya wanita itu ragu-ragu. "Itu melanggar aturan duel tunggal. Lagipula, jika dia mati terlalu cepat, kita akan kehilangan pemasukan taruhan dari pertarungan selanjutnya."

​"Aturan di sini dibuat olehku," sahut Tuan Hei sambil memutar cincin giok di jarinya. Seringai licik muncul di wajah tuanya. "Kirimkan sepuluh 'Anjing Darah' dari barak budak. Taruhan kali ini: bertaruh apakah si 'Mo' ini bisa bertahan lebih dari tiga menit. Naikkan persentasenya."

​Di atas arena pasir, gong perunggu dipukul tiga kali berturut-turut.

​Gerbang besi di sisi berlawanan berderak terbuka. Kali ini, sepuluh pria berotot kawat dengan wajah yang ditutupi topeng besi melangkah keluar. Mereka adalah "Anjing Darah"—petarung yang jiwanya telah dikendalikan dan rasa sakit dihilangkan dari saraf mereka. Mereka memegang sepasang belati bengkok yang ujungnya meneteskan cairan hijau beracun.

​Kekuatan mereka masing-masing berada di Pengumpulan Qi Tingkat Puncak, tetapi kemampuan kerja sama mereka sebagai mesin pembunuh menjadikan mereka setara dengan beberapa ahli Pembangunan Pondasi!

​"Bunuh." Suara wasit terdengar dingin.

​Sepuluh Anjing Darah tidak mengaum. Mereka melesat menyebar, bergerak dalam formasi mengepung yang sangat terlatih. Kecepatan mereka luar biasa tinggi berkat otot yang dipaksa melampaui batas dengan sihir gelap.

​Tiga dari depan, empat dari samping, dan tiga melompat ke udara, mengincar titik buta di belakang Lin Tian. Belati beracun meluncur dari segala arah, menciptakan jaring kematian yang tidak bisa dihindari oleh petarung biasa.

​Lin Tian tetap berdiri diam di tengah arena. Tangan kanannya yang diperban masih santai menggantung di sisi tubuhnya.

​Saat ujung belati paling depan berjarak dua inci dari lehernya, mata Lin Tian, yang tersembunyi di balik topeng kayunya, menyala perak. Inti Teratai Pedang di perutnya, meski masih retak, berputar sekilas, menyalurkan Niat Pedang tingkat awal ke otot-otot kaki dan tangan kirinya.

​"Gerakan kalian... terlalu berisik."

​SWUUUSH!

​Bagi mata penonton di tribun, sosok Lin Tian mendadak kabur, meninggalkan bayangan sisa di tempatnya berdiri. Sepuluh belati beracun itu menembus bayangan tersebut dan saling berbenturan satu sama lain dengan suara logam nyaring.

​Para Anjing Darah kebingungan sejenak. Target mereka menghilang!

​"Di sini," bisik sebuah suara dari atas.

​Salah satu Anjing Darah yang melompat ke udara mendongak. Apa yang ia lihat adalah sepatu kain lusuh Lin Tian yang menukik turun dengan kecepatan peluru, langsung menghantam puncak kepalanya.

​CRAAAK!

​Tulang leher Anjing Darah itu melesak masuk ke rongga dadanya sendiri. Tubuhnya menghantam pasir layaknya meteor kecil, mati seketika.

​Lin Tian menggunakan mayat yang jatuh itu sebagai pijakan, melenting kembali dengan gerakan zig-zag yang melawan hukum gravitasi fana.

​BAM! BAM! KRAAAK!

​Tidak ada sihir. Tidak ada ledakan Qi yang menyilaukan mata. Yang terdengar di arena itu hanyalah suara patahan tulang, robekan daging, dan benturan keras berturut-turut yang bergema seperti pukulan beduk kematian.

​Setiap kali Lin Tian muncul dari kekaburan gerakannya, tangan kirinya yang membentuk cakar harimau akan merobek tenggorokan, atau sikunya akan meremukkan dada salah satu Anjing Darah. Gerakannya efisien, brutal, dan murni untuk membunuh dalam satu serangan.Seninya didesain bukan untuk turnamen, melainkan untuk membantai di medan perang Sembilan Kematian.

​Dalam waktu kurang dari dua puluh tarikan napas jauh sebelum batas tiga menit yang ditetapkan sebagai taruhan—sepuluh Anjing Darah itu telah menjadi sepuluh tumpukan mayat yang patah dan bengkok di atas pasir berdarah.

​Lin Tian mendarat dengan mulus di tengah tumpukan lawannya. Jubah abu-abunya tetap bersih dari cipratan darah, karena kecepatannya jauh mendahului darah yang muncrat.

​Tribun kembali hening. Sorak-sorai yang tadi menggila kini tergantikan oleh kengerian yang mencekik leher. Para penjudi yang bertaruh si Mo akan mati dalam tiga menit memucat melihat koin mereka melayang, namun lebih dari itu, mereka merinding melihat kebrutalan absolut di depan mereka.

​Bahkan wasit pun terdiam, lupa untuk membunyikan gong tanda kemenangan.

​Lin Tian tidak membuang waktu. Ia kembali melakukan rutinitasnya: menjarah setiap kantong penyimpanan yang ada di pinggang sepuluh mayat itu. Ia berjalan menuju gerbang keluar dengan santai, mengabaikan ribuan tatapan yang menembus punggungnya.

​Di ruang ganti yang gelap dan berbau tembakau, Lin Tian sedang menghitung Batu Spiritual hasil taruhannya dan jarahannya.

​Total, malam ini ia meraup dua ribu Batu Spiritual tingkat rendah dan lima puluh Batu tingkat menengah, serta berbagai pil murahan dan senjata patah. Bagi sekte kecil, ini adalah kekayaan bulanan mereka. Bagi Lin Tian, ini cukup untuk membeli ramuan penyembuh tulang yang mahal di pasar gelap esok hari.

​Tiba-tiba, intuisi Niat Pedang Lin Tian mendeteksi sebuah kehadiran halus di belakangnya. Tidak ada suara langkah kaki, hanya fluktuasi ruang yang dipelintir. Seseorang dengan kultivasi tinggi baru saja menyelinap masuk.

​Tanpa menoleh, Lin Tian meremas kepingan Batu Spiritual di tangannya.

​"Berhenti di situ," suara Lin Tian datar, mengancam, mengunci aura si penyusup dengan kekosongan yang memancar samar dari tubuhnya.

​Dari balik bayangan pintu, Tuan Hei melangkah maju sambil bertepuk tangan pelan. Resepsionis wanita tadi berdiri di belakangnya dengan patuh.

​"Refleks yang luar biasa tajam, Tuan Mo," kekeh Tuan Hei. "Dan aku berani bersumpah, tidak ada setetes pun energi Qi di dalam pembuluh darahmu. Apakah kau melatih teknik seni bela diri kuno yang sudah punah? Atau kau adalah kultivator fisik dari negeri barbar di utara?"

​Lin Tian membalikkan badan, menyembunyikan jarahannya. Topeng kayunya tetap menutupi emosinya. "Aku tidak tertarik berbasa-basi dengan pengelola arena. Apa maumu? Apakah kau ingin merampok uang taruhanku kembali?"

​"Oh, sama sekali tidak," Tuan Hei tersenyum lebar, memamerkan giginya yang keemasan. "Uang itu adalah hakmu. Aku datang untuk menawarkan sesuatu yang jauh lebih menggiurkan."

​Tuan Hei maju selangkah, menatap balutan perban di lengan kanan Lin Tian.

​"Kau membutuhkan sumber daya yang masif, bukan? Menyembuhkan luka fana yang tidak bisa diobati oleh pil Qi biasa... atau mungkin kau sedang mencoba menembus belenggu fisikmu? Arena biasa tidak akan cukup memuaskan kebutuhanmu."

​"Langsung pada intinya," potong Lin Tian tak sabar.

​"Sekte Pedang Surgawi... salah satu Tanah Suci di Benua Tengah," Tuan Hei merendahkan suaranya, senyumnya berubah menjadi seringai penuh perhitungan, "telah mengirimkan pasukan pengejaran yang dipimpin oleh dua Tetua elit untuk mencari iblis yang menghancurkan kapal mereka. Mereka memblokade seluruh jalur keluar kota ini."

​Mata di balik topeng Lin Tian sedikit menyipit. Pasukan pengejaran telah tiba? Gerakan Tanah Suci lebih cepat dari dugaannya.

​"Banyak pemburu bayaran tolol di kota ini mencoba mencari sang Iblis Tanpa Dantian demi hadiah besar itu," lanjut Tuan Hei. "Tapi aku tahu orang-orang tolol itu hanya akan mati konyol. Dan menariknya, malam ini aku melihat seorang pemuda tanpa Dantian bertarung seperti iblis di arenaku."

​Suasana di ruangan itu menegang. Resepsionis wanita di belakang Tuan Hei tanpa sadar memegang gagang belati beracun di pinggangnya. Jika Tuan Mo ini benar-benar buronan Tanah Suci, membunuhnya sekarang berarti mendapatkan seratus ribu Batu Spiritual!

​Namun, Tuan Hei malah mengangkat tangannya, memberi isyarat agar anak buahnya tetap tenang.

​"Tenanglah, Tuan Mo. Seperti yang kubilang, di kota ini tidak ada sekte atau hukum Tanah Suci. Asosiasiku selalu bersikap netral... selama harganya cocok."

​"Apa maumu?" ulang Lin Tian dingin. Jika pria tua bangka ini berniat menjual kepalanya ke Tanah Suci, Lin Tian sudah bersiap melepaskan bilah dari Gagang Pemutus Langit, bahkan dengan risiko inti teratainya akan kembali retak. Ia bisa membunuh Inti Emas setengah langkah ini sebelum ia sempat berteriak.

​Tuan Hei tertawa pelan. "Aku punya penawaran kerja sama. Aku tidak akan menjualmu ke Sekte Pedang Surgawi. Sebagai gantinya, aku ingin kau mewakili Asosiasi Tentara Bayaran kami di turnamen rahasia yang akan diadakan oleh para penguasa pasar gelap lusa."

​"Turnamen?"

​"Ya. Turnamen Puncak Darah. Pemenangnya akan mendapatkan satu peninggalan langka yang baru saja digali dari reruntuhan sekte kuno: Kristal Tinta Tulang Naga.

​Mendengar nama bahan itu, Niat Pedang di dalam tulang Lin Tian berdesir liar. Kristal Tinta Tulang Naga! Bahan legendaris yang memiliki elemen penguatan tulang paling murni di dunia kultivasi. Benda itu cukup untuk menyempurnakan tahap Tulang Pedang Sejati miliknya hingga puncaknya, mengobati lengan kanannya yang retak, dan mungkin bisa menahan beban penggunaan Gagang Pemutus Langit hingga tiga kali tebasan tanpa cedera!

​"Jika kau menang untukku," lanjut Tuan Hei licik, "Aku akan menyerahkan Kristal itu padamu, memberikanmu pil tingkat tinggi untuk adik-adikmu, dan lebih dari itu... aku akan menyelundupkan kalian bertiga keluar dari blokade Sekte Pedang Surgawi menggunakan jalur rahasia pribadiku."

​Tuan Hei menyodorkan tangan kurusnya. "Bagaimana, Iblis Tanpa Dantian? Apakah kita punya kesepakatan?"

​Lin Tian menatap tangan tua yang keriput itu. Ia tahu orang ini sama sekali tidak bisa dipercaya. Bekerja sama dengan ular beracun berisiko digigit dari belakang. Namun, hadiah Kristal Tulang Naga itu dan jalur keluar dari blokade Tanah Suci terlalu menggoda untuk dilewatkan.

​Sang Teratai Pedang membutuhkan sumber daya, dan jika ia harus bermain dalam pertunjukan berdarah milik para penjahat perbatasan, biarlah. Pada akhirnya, semua pedang mereka akan patah di tangannya.

​"Setuju," kata Lin Tian, dan menjabat tangan Tuan Hei dengan tangan kirinya. "Tapi pastikan adik-adikku aman selama turnamen berlangsung. Jika sehelai rambut mereka hilang, aku akan mengubah asosiasimu menjadi rawa mayat."

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!