Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Sirkus Peringkat "A"
Di sudut terdalam Guild Adventurer yang pengap dan temaram, Alice merasa seolah sedang berdiri di hadapan sekumpulan anomali yang siap meledak kapan saja. Arthur, ksatria yang biasanya tampak seperti pilar ketenangan yang tak tergoyahkan, kini terus-menerus memijat keningnya seolah sedang menahan sakit kepala yang luar biasa.
"Kenapa kalian ada di sini?" geram Arthur, suaranya rendah dan penuh tekanan.
"Mencari hiburan, tentu saja!" Violet menyahut riang.
Gadis itu melompat dari kursi kayu yang didudukinya. Gerakannya begitu cepat, melesat bagaikan kilatan jubah hitam yang membelah udara. Dalam sekejap mata, Violet sudah berdiri tepat di depan Alice. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter, hingga Alice bisa merasakan hembusan napas gadis itu.
"Wah, kulitmu halus sekali. Sayang kalau harus tergores taring monster... atau pisauku."
Violet tertawa, sebuah nada yang terdengar terlalu manis dan polos untuk seseorang yang baru saja melontarkan ancaman terselubung.
Alice menelan ludah dengan susah payah, merasakan aura haus darah yang tipis namun pekat merayap keluar dari sosok gadis itu.
"Hentikan, Violet. Kau menakutinya," sela Xena. Penyihir wanita itu mencoba berdiri dengan gerakan anggun yang dibuat-buat, namun malapetaka terjadi saat ujung jubah panjangnya tersangkut kaki meja.
BRAK!
Xena jatuh tersungkur dengan posisi yang jauh dari kata estetis.
"Aduh... tongkatku! Di mana tongkat sihirku?!" teriaknya panik sambil meraba-raba lantai.
"Ada di tangan kirimu, Xena," sahut Albertio malas tanpa mengalihkan pandangan dari katananya. Kemudian dia menatap Alice dengan tenang.
"Selamat datang di tim kami, Nona. Kami punya ksatria yang terlalu serius, pembunuh yang agak gila, dan penyihir yang lupa cara berjalan tegak."
"Dan seorang pengguna katana yang kerjanya hanya bicara," balas Arthur tajam.
"Heh, Ketajamanku ada pada pedang, bukan cuma lidah," balas Albertio pelan, hampir berupa bisikan.
Arthur hanya mendengus dengan senyum simpul yang dipaksakan, mencoba menyembunyikan kecanggungan saat mendengar celotehan datar rekannya itu.
"Ngomong-ngomong, kau berasal dari mana nona?" tanya Albertio Tiba-tiba, Ia bersandar pada dinding kayu aula guild, melipat tangannya di dada sambil menatap lurus ke arah Alice.
"Aku?" Alice tampak ragu-ragu. Keraguan yang hanya sesaat itu cukup untuk membuat Violet memicingkan matanya, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah sang gadis.
"Dia dari desa sebelah, orang tuanya menitipkannya padaku untuk mencari peruntungan dan uang di kota." potong Arthur dengan nada yang diusahakan setenang mungkin, meski butiran keringat dingin mulai muncul di pelipisnya karena beban kebohongan yang ia pikul.
"Serius?" Albertio mengalihkan tatapan tajamnya pada Arthur.
"Aku sudah lama mengenalmu Arthur, kau tidak punya kenalan gadis cantik seperti ini di desa manapun." ucapnya datar tanpa keraguan.
"Apa maksudmu bodoh? Kau terlalu meremehkan ku!" Arthur mulai terpancing emosi, suaranya sedikit meninggi untuk menutupi kegugupannya yang kian memuncak.
"Ahahaha... begitu ya... kasihan sekali Arthur.." Xena tertawa terpingkal-pingkal meski tubuhnya masih menelungkup, tangannya memukul-mukul lantai kayu guild karena perasaan geli.
Arthur menahan kedutan emosi di pelipisnya yang kian mengencang. Ia menghela napas panjang sebelum bergumam rendah.
"Kalian hanya belum tahu saja." ucapnya sembari membuang muka ke arah lantai.
"Oh ya? Kalau begitu, siapa nama orang tuanya? Di mana tepatnya mereka tinggal? Dan kenapa kau bisa-bisanya setuju membawanya kemari?" Violet melangkah mendekati Arthur dengan wajah riang yang kontras dengan aura mengintimidasi yang ia pancarkan. Ia memutar-mutar belatinya dengan lincah, menciptakan kilatan logam di udara.
"Namanya.." Arthur terbata-bata, lidahnya kelu karena tak menyiapkan skenario sejauh itu.
"Aku hanya anak dari panti asuhan di desa, orang tua yang dimaksud tuan Arthur adalah biarawati disana. Tuan Arthur mengizinkanku ikut karena ingin mengajarkan dunia luar padaku." potong Alice dengan suara yang tenang dan mantap. Wajahnya tetap tersenyum, seolah-olah kebohongan yang baru saja ia rakit adalah kebenaran mutlak yang tak terbantahkan.
Keheningan seketika menyelimuti meja mereka...
"Percayalah... Ayo percaya...!" Alice berkonflik hebat di dalam hatinya, meski secara lahiriah ia tetap menampakkan ekspresi secerah matahari.
Semua orang terpaku mendengar penjelasan itu. Mereka semua memiliki latar belakang yang kelam, dengan luka dan masa lalu masing-masing. Bagi mereka, penjelasan Alice barusan adalah sebuah alasan yang masuk akal, bahwa sosok berambut merah muda di hadapan mereka hanyalah satu lagi jiwa yang sedang berjuang demi hidup, persis seperti mereka.
"Begitu rupanya, aku mengerti." Jawab Albertio singkat.
"Seriusan?" teriak Alice heran di dalam benaknya. Ia tak menyangka alibi dadakannya akan diterima semudah itu.
"Kau membuatku tersinggung Albertio, kau lebih mempercayai cerita Alice dibandingkan ceritaku." keluh Arthur dengan nada gusar.
"Hmmmp... Kalau kau sampai punya kenalan dengan orang tua seorang wanita, dunia pasti akan kiamat esok harinya, Arthur. " Albertio mendengus remeh.
"Apa kau bilang?" Arthur berteriak tertahan, wajahnya memerah menahan kesal.
"Sudah-sudah, aku pusing mendengar kalian berdebat. Cepat perlihatkan misi yang mau kita ambil!." Violet mendesak mereka, menghentikan pertikaian konyol itu. Arthur kembali memijat pelipisnya, merasa kepalanya mulai berdenyut.
Albertio berjalan menuju meja petualang dengan langkah santai yang berwibawa. Ia kemudian melemparkan sebuah gulungan perkamen kusam ke tengah meja.
"Ini dia, ada misi menarik. Eksplorasi reruntuhan kuno di perbatasan Varkass. Bayarannya sangat tinggi."
Alice menatap gulungan itu dengan mata membelalak. Reruntuhan Athena. Ingatannya segera melayang pada Lore game Celestia Online. Itu adalah sebuah dungeon legendaris yang dikenal sebagai kuburan massal bagi para pemain level rendah. Jebakan sihir tingkat tinggi dan monster kuno menghuni setiap sudutnya. Bahkan banyak pemain level tinggi yang dikabarkan gugur di sana.
"Kita butuh support," ucap Arthur sambil menatap Alice.
"Alice punya sihir yang tidak biasa. Dengan dia, peluang kita bertahan hidup meningkat 40 persen."
"40 persen? Aku suka angka itu! Itu berarti 60 persen sisanya adalah peluang untuk melihat darah mengalir!" Violet bertepuk tangan kegirangan dengan binar mata yang mengerikan.
Xena akhirnya berhasil berdiri, meskipun topinya kini sangat miring menutupi satu matanya. "Aku... aku akan membakar semua monster dengan sihir area! Selama aku tidak salah merapal mantra ledakan di dalam ruangan sempit lagi..."
Alice memandangi mereka satu per satu. Arthur yang menjunjung moralitas, Violet yang tidak stabil, Xena yang ceroboh, dan Albertio yang terlalu tenang. Mereka adalah tim yang secara logika seharusnya sudah hancur sejak lama, namun entah bagaimana, mereka adalah ksatria dan penyihir terkuat yang pernah ia temui.
"Aku baru saja mulai jadi petualang. Apa petualang pemula sepertiku benar-benar diperbolehkan mengikuti kalian?" tanya Alice dengan nada ragu.
"Tenang saja. Selama ada ksatria tangguh sepertiku di sisimu, semua akan baik-baik saja," ucap Arthur dengan nada mantap yang menenangkan.
"Ahaha... aku suka itu, Nona Kelinci. Meski kau terlihat lemah, setidaknya buff milikmu itu sangat berguna bagi kami," Violet menambahkan, lengkap dengan senyum aneh yang sulit diartikan.
"Selama... kau menjalankan misi bersama kami, semuanya akan terjamin, Nona," Xena menimpali sembari memperbaiki posisi topinya, mencoba memberikan kesan berwibawa yang terasa kikuk.
"Begini-begini kami adalah petualang Peringkat A, Nona," Albertio tersenyum bangga.
"Jika petualang Peringkat F sepertimu menjalankan misi bersama kami, pihak Guild pasti akan langsung memberi izin." Albertio bersedekap sembari memejamkan mata dengan penuh percaya diri.
Alice terdiam, menimbang-nimbang setiap risiko yang ada di kepalanya.
"Haruskah aku ikut? Ini terdengar seperti bunuh diri. Tapi, siapa lagi yang bisa kupercaya di tempat ini selain mereka?" batin Alice, diselimuti rasa ragu.
"Baiklah," bisik Alice, jemarinya meremas kuat tongkat kayu di genggaman.
"Aku ikut," ucapnya, meski nada suaranya bergetar getir.
Satu kaki melangkah ke Reruntuhan Athena berarti satu kaki sudah berada di liang lahat. Jika Alice ingin pulang dalam keadaan utuh, ia harus memastikan tim 'sirkus' ini tidak hanya membawa nyali, tapi juga senjata yang mampu membelah kutukan kuno. Persiapan di kota Silph, Eltra Celestia pun dimulai.
cape😅