Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
“Oh, kita sudah sampai.”
Nindi sedikit terkejut menyadari mereka sudah berada di depan rumah Sonya. Ia bahkan tidak sadar perjalanan pulang terasa begitu cepat sejak tadi mereka keluar dari toko bahan makanan. Entah karena percakapan yang mengalir, atau karena keberadaan Clay yang membuat suasana terasa berbeda dari biasanya.
“Mana belanjaanku,” kata Nindi sambil menoleh.
Namun Clay justru melangkah lebih dulu menuju pintu rumah tanpa menyerahkan kantong belanja di tangannya.
“Buka pintunya,” ucapnya singkat.
Nindi mengernyit kecil. Cara bicara Clay selalu seperti itu, tegas, singkat, tanpa ruang untuk membantah, seolah dunia memang harus mengikuti arah yang ia inginkan.
“Cepat,” tambah Clay lagi, kali ini sedikit lebih tajam.
Nindi menghela napas pelan, lalu menggeleng kecil. “Iya, iya.”
Nindi akhirnya membuka pintu rumah Sonya, dan begitu pintu terbuka, Clay langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan lebih lanjut, masih membawa belanjaan di tangannya seolah perbuatannya itu sudah menjadi hal yang paling wajar di dunia ini.
“Letakkan saja di meja pantry,” kata Nindi sambil berjalan melewatinya menuju kamar.
Clay hanya mengangguk singkat.
Sebelum masuk kamar, Nindi sempat berhenti dan menoleh. “Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku tidak apa-apa.”
“Tidak,” jawab Clay cepat tanpa ragu sedikit pun. “Aku di sini.”
Langkah Nindi sempat terhenti sesaat, tapi ia tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya masuk ke kamar dan menutup pintu di belakangnya.
Clay berdiri sendiri di ruang tamu kecil itu. Matanya perlahan bergerak mengamati sekeliling rumah yang cukup rapi, lalu berhenti pada pintu kamar yang baru saja tertutup itu. Di balik pintu itu, ada Nindi disana.
Untuk beberapa detik, ia hanya diam.
“Jadi dia tidur disana,” gumamnya pelan, seolah baru menemukan sesuatu hal yang berharga.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka kembali.
Nindi keluar dengan rambut yang masih sedikit basah, tanda ia baru saja mandi. Wajahnya terlihat lebih segar, tanpa riasan, dengan beberapa helai rambut jatuh di sisi wajahnya. Sederhana, tapi entah kenapa justru membuat perhatian Clay langsung tertuju padanya tanpa ia sadari.
“Clay?” suara Nindi terdengar sedikit terkejut. “Kamu belum pulang?”
“Belum,” jawab Clay santai.
Nindi mengernyit. “Bukannya tadi aku sudah bilang kamu boleh pulang?”
“Aku tidak mau pulang,” jawab Clay datar. “Aku mau lihat kamu memasak.”
Nindi terdiam sejenak, lalu menghela napas kecil. “Kamu aneh.”
Clay tidak menanggapi. Matanya justru mengikuti gerakan Nindi yang sedang mengikat rambutnya ke atas.
Gerakan itu sederhana, dilakukan tanpa sadar, tapi entah kenapa membuat Clay sedikit kehilangan fokus. Ada sesuatu dalam cara Nindi bergerak yang membuat matanya bertahan lebih lama dari seharusnya.
“Kalau kamu mau pulang, ya pulang saja,” ulang Nindi lagi sambil merapikan rambutnya.
“Aku di sini,” jawab Clay singkat.
Nindi menoleh sekilas. “Aku bisa sendiri.”
Kalimat itu seharusnya biasa saja, tapi untuk beberapa alasan, Clay tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan Nindi lebih lama dari biasanya.
Rambut yang diikat, leher yang terlihat jelas, dan cara gadis itu bergerak tanpa ragu sedikit pun di dapur kecil itu. Semua terlihat sederhana, tapi justru itu yang membuatnya sulit untuk mengalihkan pandangan.
“Clay?” suara Nindi akhirnya memecah keheningan.
“Apa?” Clay tersadar.
“Kamu tadi kenapa diam saja?”
“Tidak apa-apa,” jawabnya cepat, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.
Nindi hanya menggeleng pelan dan kembali ke dapur.
Nindi mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kantong belanja, menata semuanya di meja, sebagian dimasukkan ke wadah, sebagian lagi disimpan di kulkas. Gerakannya cepat dan teratur, seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan dapur.
Clay memperhatikannya dari meja makan yang masih satu ruangan dengan dapur.
“Berapa hari kamu di sini?” tanya Clay tiba-tiba.
“Aku tinggal di sini,” jawab Nindi tanpa menoleh.
“Tinggal disini?” ulang Clay memastikan.
“Ya,” jawab Nindi singkat.
Sudut bibir Clay bergerak sedikit. “Bagus.”
Nindi menoleh. “Bagus apa?”
Clay tidak menjawab. Ia justru berdiri dan mendekat ke dapur.
“Aku bantu,” katanya singkat.
“Tidak perlu,” jawab Nindi cepat. “Kamu duduk saja.”
Tapi Clay sudah lebih dulu mengambil satu bawang dari meja.
“Ini dipotong seperti biasa?”
“Clay…”
“Tipis?” lanjutnya tanpa menunggu jawaban.
Nindi menghela napas panjang. “Terserah kamu.”
Senyum kecil muncul di wajah Clay.
Dan tanpa banyak diskusi lagi, Clay benar-benar mulai membantu.
Dapur kecil itu akhirnya dipenuhi aktivitas. Nindi sebagai koki utama, sementara Clay tanpa diminta berubah menjadi asisten yang cukup serius. Ia memotong bahan, mencuci sayuran, membersihkan udang, bahkan mengambilkan peralatan tanpa banyak bertanya.
Gerakannya tidak sehalus Nindi, tapi cukup rapi untuk seseorang yang sebenarnya tidak punya niat awal membantu.
Beberapa kali Nindi meliriknya, tapi tidak lagi melarang.
Di tengah kesibukan itu, Clay akhirnya bersuara, “Kamu terlihat berbeda saat memasak.”
“Berbeda bagaimana?”
“Terlihat, Lebih hidup,” jawab Clay singkat.
Nindi tersenyum kecil. “Aku memang seperti ini kalau di dapur.”
“Aku awalnya tidak percaya kamu benar-benar chef,” aku Clay jujur.
“Sekarang?”
“Sekarang lebih masuk akal.”
Nindi terkekeh pelan. “Terima kasih?”
Clay tidak menjawab. Matanya justru mengikuti gerakan saus yang sedang mendidih di wajan.
“Boleh coba?” tanyanya tiba-tiba.
“Silakan.”
Nindi menyodorkan sendok, tapi sebelum ia menyerahkan sepenuhnya, Clay justru memegang tangan Nindi dan membantu mengarahkannya ke mulutnya sendiri.
Gerakan itu terlalu cepat untuk dipikirkan.
Terlalu dekat untuk diabaikan.
Nindi sempat diam sepersekian detik.
“Hem … Ini enak,” kata Clay setelah mencicipi. Nada suaranya terdengar jujur, bahkan sedikit terkejut.
Nindi hanya tersenyum kecil. “Bagus kalau begitu.”
Masakan terus berlanjut. Aroma lasagna mulai memenuhi ruangan, diikuti sayur kacang hijau yang ditumis ringan. Nindi bergerak cepat, sementara Clay terus memperhatikan, seolah setiap gerakan kecilnya adalah sesuatu yang menarik untuk dipelajari.
“Oh … tali rambutku putus,” gumam Nindi tiba-tiba.
Belum sempat ia bergerak, Clay sudah berdiri dan mendekat.
Dari sakunya, entah bagaimana ia mengeluarkan tali rambut baru.
“Aku bantu,” katanya singkat.
Nindi ragu sesaat. “Aku bisa sendiri.”
“Tanganmu sibuk.”
Tanpa menunggu jawaban, Clay mengikatkan rambut Nindi dengan hati-hati. Gerakannya pelan, tidak terburu-buru. Dan untuk sesaat, dapur itu berubah menjadi sangat sunyi. Hanya suara air mendidih di kompor yang terdengar jelas.
Clay masih berdiri di belakang Nindi. Tangannya baru saja selesai mengikat rambut gadis itu. Tapi ia tidak segera melepaskan tangannya.
Nindi tidak berbalik.
“Sudah?” tanya Nindi pelan.
Clay tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang membuatnya berhenti berpikir sejenak. Ia tidak sedang membantu. Ia sedang terlalu dekat dengan Nindi. Dan itu terasa sedikit mengganggu.
Clay langsung melepaskan tangannya.
“Sudah,” katanya datar. Tapi langkahnya sedikit mundur lebih cepat dari biasanya.