NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: NAFAS DI PUNCAK ABADI

WUUUUUUSSSHHHH!

Angin di Puncak Jaya tidak sekadar dingin, ia menyayat seperti ribuan silet yang dipanaskan di es.

Di ketinggian hampir lima ribu meter, oksigen bukan lagi hak asasi, melainkan kemewahan yang harus kau bayar dengan napas yang tersengal.

Arka Nirwana, yang kini memakai nama samaran Arka Prasetya, berdiri di atas hamparan salju yang kotor oleh tumpahan solar dan debu galian. Di depannya, kamp Global Nexus Corp berdiri seperti luka terbuka di atas tubuh gunung.

VREEEUUUMMM... VREEEUUUMMM...

Alat berat mereka mencoba menembus jantung Papua.Alat berat raksasa meraung, mencoba menembus jantung bumi Papua untuk sesuatu yang mereka sebut sebagai "riset pertambangan".

Arka membetulkan letak kacamata hitamnya yang mulai berembun. Jaket parka kusam yang ia kenakan sudah tidak sanggup lagi menahan gigitan suhu minus sepuluh derajat.

Di sampingnya, Reyna berjalan dengan langkah yang jauh lebih stabil, meski wajahnya pucat karena tekanan udara yang tipis.

"Mereka sudah terlalu dalam, Arka," bisik Reyna. Suaranya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena merasakan rintihan dari dalam lubang galian itu.

"Segel Udara itu... dia sedang tercekik. Jika mereka menarik paksa intinya, sirkulasi angin di seluruh negeri ini akan mati. Kita akan menghadapi kemarau yang abadi."

Arka tidak menjawab. Matanya tertuju pada menara pantau di depan gerbang. Belasan pria dengan senjata otomatis dan pakaian pemanas bertenaga baterai berjaga di sana. Black Order.

Mereka bukan lagi sekadar tentara bayaran; mereka adalah predator yang disewa untuk menjaga jarahan paling berharga di abad ini.

"BERHENTI! JANGAN BERGERAK!"

KLIK! KLIK! (Suara kokang senjata).

Tiga moncong senjata langsung terarah ke dada Arka saat mereka berada dalam jarak seratus meter. Seorang pria bule dengan tato kalajengking di lehernya mendekat, matanya penuh kecurigaan.

"Kami dari tim peneliti lumut... helikopter kami menurunkan di koordinat yang salah," ucap Arka dengan suara yang sengaja ia buat parau, kepalanya tertunduk, bahunya layu.

Ia harus menekan seluruh auranya ke titik nol. Menjadi "Kosong" ternyata jauh lebih sulit daripada menjadi "Isi".

PLAK!

Popor senapan menghantam bahu Arka. BRUUK!  Ia membiarkan dirinya tersungkur ke salju yang dingin. Arka tidak melawan saat pria bertato itu menendang rusuknya.

Ia harus merasakan rasa sakit ini, rasa sakit manusia biasa agar penyamarannya tidak pecah oleh radar ghaib mereka.

"Peneliti lumut? Kau pikir kami bodoh?" pria itu tertawa kasar, lalu beralih menatap Reyna dengan tatapan lapar. "Tapi wanita ini... dia terlalu cantik untuk mati di salju. Kapten Steele pasti butuh penghangat malam ini."

Arka mengepalkan tangannya di bawah salju. Hawa panas Segel Api mulai berontak di nadinya, tapi ia memaksanya diam. Belum saatnya.

***

Di dalam tenda komando yang hangat, Kapten Steele duduk sambil menatap layar monitor yang menunjukkan fluktuasi energi biru dari bawah tanah.

Ia adalah veteran yang sudah melihat ribuan cara manusia mati, namun saat ia menatap pria kusam yang diseret masuk ke tendanya, ia merasa ada sesuatu yang salah.

"Arka Prasetya... Yayasan Hijau Nusantara," Steele membaca tanda pengenal Arka, lalu melemparkannya ke meja.

"Kau datang di waktu yang salah, Nak. Di bawah sana, kami sedang menggali sesuatu yang akan mengubah sejarah manusia."

Tiba-tiba, bumi berguncang! BOOM! DUM! DUM!

Raungan dari bawah tanah meledak, menghancurkan kaca-kaca tenda. Dari lubang galian di tengah kamp, pusaran angin biru neon melesat ke langit, membentuk siluet burung raksasa yang menutupi matahari. Garuda Bayu.

"KEMBALIKAN... NAFAS... BUMI!"

Suara itu merontokkan nyali siapa pun yang mendengarnya. Tentara-tentara Black Order mulai melepaskan tembakan secara membabi buta.

Steele segera memerintahkan aktivasi meriam frekuensi rendah, senjata yang dirancang khusus untuk mengikat entitas non-fisik.

RATATATATATA! Tentara Black Order memberondong tembakan secara membabi buta. Steele mengaktifkan meriam frekuensi. ZINGGG... BZZZZZT!

Arka perlahan berdiri di tengah kekacauan itu. Ia tidak lagi menunduk. Ia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang jernih namun kosong.

"Cukup permainannya," ucap Arka. Suaranya pelan, tapi entah kenapa, semua kebisingan mesin bor dan tembakan senjata mendadak senyap di telinga Steele.

Seorang penjaga menembak. DOR! Arka hanya menggeser posisi tipis. WUTSH! Dalam sekejap, Arka sudah di depan pria itu. Ia menyentuh dadanya. DEG!

Tidak ada ledakan. Hanya suara “deg” yang tumpul. Penjaga itu terlempar ke belakang... DUAAAGH!   menabrak dinding besi hingga penyok, dan langsung pingsan. Arka tidak menghancurkan kulitnya, ia menghancurkan aliran energinya dari dalam.

"Kau... siapa kau?!" Steele berteriak sambil mencabut pistol energinya.

"Aku adalah orang yang akan menutup lubang yang kau buat," sahut Arka.

Arka melompat. TAP! TAP!  Ia tidak terbang, tapi udara di sekelilingnya seolah-olah membentuk pijakan tak kasat mata. BRAK!  Ia mendarat di atas mesin bor raksasa yang sedang membelenggu Garuda Bayu dengan jaring frekuensi.

"Reyna, bersihkan sisanya. Jangan ada darah yang tumpah di tanah suci ini," perintah Arka.

Reyna mengangguk. Ia melepaskan syalnya, membiarkan rambutnya terurai ditiup angin kencang. Ia merentangkan tangannya... SHUUUUUTTTTT...   gelombang energi hijau yang sejuk menyebar ke seluruh kamp.

Para tentara yang tadinya beringas tiba-tiba merasa kaki mereka lemas. Senjata-senjata mereka jatuh. KLANG! KLANG! KLANG!

Mereka tidak pingsan, tapi mereka kehilangan seluruh keinginan untuk bertarung. Welas Asih telah melumpuhkan amarah mereka.

Arka berdiri tepat di depan pusaran Garuda Bayu. WHUUUUUUUUUUUUU!  Ia merasakan tekanan udara yang sanggup meremukkan paru-paru manusia.

Di dalam badai itu, ia melihat kilasan masa lalunya, bukan lagi pengkhianatan istrinya, tapi masa-masa ia merasa kecil dan tak berdaya.

"Lepaskan bebanmu, Arka," suara Garuda Bayu bergema di dalam kepalanya. "Kau tidak bisa memegang udara jika tanganmu masih menggenggam batu dendam."

Arka memejamkan mata. Ia membiarkan ingatan tentang penghinaan keluarga Adiningrat menguap. Ia membiarkan rasa bangganya sebagai Satria Piningit menghilang. Ia hanya menjadi Arka, seorang manusia yang ingin bernapas.

FIIIUUUU... (Hembusan napas panjang).

Seketika, badai itu tenang. Pusaran biru itu menyusut, memadat menjadi satu titik cahaya, dan masuk ke dalam dada Arka saat ia menarik napas panjang.

Dingin yang luar biasa menusuk setiap sarafnya, disusul oleh perasaan ringan yang tak terlukiskan.

Segel Kelima: Udara, telah menyatu.

SSHH...  Arka mendarat di atas salju dengan sangat pelan, seolah-olah berat tubuhnya sudah tidak ada. Steele menatapnya dengan gemetar. "Kau... si pemilik toko buku itu..."

Arka berjalan mendekat. Ia tidak membunuh Steele. Ia hanya meletakkan tangannya di dahi pria itu. "Pulanglah. Katakan pada tuanmu, Nusantara punya penjaganya sendiri. Dan hari ini, kau akan lupa pernah bertemu dengannya."

Dengan satu hentakan energi Udara, Arka menghapus memori jangka pendek semua orang di kamp itu. Mereka akan bangun dengan rasa bingung, tanpa tahu apa yang terjadi.

BRRRRRRRRTTT....

Di langit, suara raungan mesin pesawat tempur tanpa logo mulai terdengar. Global Nexus mengirimkan serangan udara untuk menghapus jejak kegagalan mereka.

"Mereka ingin membakar tempat ini?" Arka menatap ke atas. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya ke arah awan.

WHUUUUUUUUSSSHHH-BOOM!

Bukan tiupan biasa. Sebuah kolom angin vertikal melesat ke langit, menciptakan turbulensi hebat yang membuat pesawat-pesawat tempur itu terpontang-panting seperti layangan putus.

Radar mereka mati, mesin mereka kehilangan daya angkat. Pilot-pilot itu tidak punya pilihan selain berputar balik sebelum mereka jatuh berkeping-keping.

"Ayo kita pulang, Rey," ajak Arka sambil menggendong tas ransel kusamnya lagi. "Aku sudah berjanji pada Dafa akan membawa sebongkah batu es dari sini."

Reyna tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Arka sejenak. "Kau semakin hebat dalam menjadi 'Kosong', Arka."

Mereka berjalan meninggalkan kamp yang sunyi itu. Salju turun sangat lebat, menutup seluruh jejak perjuangan mereka dalam hitungan menit, seolah-olah Puncak Jaya ingin merahasiakan kembali rahasianya.

***

Keesokan harinya, Mas Arka kembali duduk di depan toko bukunya di Batu. SRUPTTT...  Ia menyesap teh melatinya sambil memperhatikan Dafa yang bermain dengan sebongkah es yang ia simpan di dalam cooler box.

Di matanya, tidak ada kilat ungu atau aura dewa. Hanya ada seorang ayah yang sedang menikmati senja.

Namun di dalam tubuhnya, lima elemen Nusantara kini telah bersatu, menunggu saat yang tepat untuk membuka dua gerbang terakhir: Ruang dan Waktu. Dan ia tahu, perang yang sebenarnya baru saja akan dimulai.

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan like dan komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!