Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Benturan Dua Dunia dan Rahasia Suku Ular Putih
Gemuruh di tribun penonton belum juga surut meski Yu Fan telah turun dari arena. Aroma debu yang terbakar dan sisa energi petir dari panah Caelum masih menggantung di udara. Namun, perhatian penonton segera teralih ke tengah panggung saat wasit memanggil kontestan berikutnya.
Pertandingan kedua: Mo Han dari Sekte Pedang Iblis melawan Seraphina, sang penyihir berambut merah dari Akademi Saint-Aurelius.
Mo Han melangkah ke arena dengan aura keangkuhan yang meluap-luap. Ia menghunus pedang besarnya yang berwarna ungu gelap, ujungnya menggores lantai batu hingga mengeluarkan percikan api. "Sepertinya nasibku cukup beruntung," ucap Mo Han sambil menatap Seraphina dengan remeh.
"Melawan penyihir kecil yang tampak rapuh... ini akan berakhir cepat sebelum matahari bergeser satu jengkal."
Seraphina tidak menunjukkan rasa takut. Ia membuka sebuah kitab kuno yang melayang di depannya, lembaran-lembarannya berdesir tertiup angin yang tiba-tiba muncul dari kekuatannya sendiri. "Mulut pria Timur memang selalu lebih besar daripada kemampuannya," jawab Seraphina ketus. "Kau akan menyesal telah meremehkan seni manipulasi realitas, ksatria sombong."
"Mulai!" teriak wasit.
Mo Han tidak membuang waktu. Ia meledakkan aura ungu pekatnya dan menerjang seperti badai. "Langkah Iblis: Bayangan Ungu!" Tubuhnya seolah menghilang, menyisakan jejak cahaya ungu yang menyambar ke arah Seraphina.
“Ignis Scutum!” Seraphina merapalkan mantra dengan cepat. Sebuah perisai api melingkar muncul tepat saat pedang Mo Han menghantam.
BOOM!
Benturan itu menciptakan gelombang panas yang menyapu arena. Mo Han terdorong mundur satu langkah, namun ia segera memutar tubuhnya dan melancarkan tebasan bertubi-tubi. Seraphina, dengan kelincahan seorang penyihir yang terlatih, melayang mundur sambil terus membaca mantra dari kitabnya.
"Hanya lari? Itu bukan gaya bertarung!" ejek Mo Han. Ia menebas setiap bola api dan es yang dilemparkan Seraphina dengan mudah. "Pedang Iblis: Penghancur Elemental!"
Mo Han menebas secara vertikal, membelah hujan es yang dilemparkan Seraphina. Namun, sang penyihir tiba-tiba menghentakkan tongkatnya ke lantai. “Ferrum Radix!”
Lantai batu arena retak, dan tiba-tiba akar-akar yang terbuat dari logam cair yang membeku melesat keluar, melilit kaki Mo Han. "Sial!" umpat Mo Han. Ia mencoba memotong akar itu, namun logam tersebut terlalu keras dan terus tumbuh menjerat tubuhnya.
Seraphina mengangkat tangannya ke langit. Wajahnya yang cantik kini terlihat dingin dan tanpa ampun. Langit yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi gelap, awan hitam berputar-putar di atas arena membentuk pusaran raksasa.
"Kau tidak akan bisa lari dari cengkeraman akar logamku, Mo Han," ucap Seraphina dengan nada hina. "Sambutlah kehancuranmu. “Cosmic Devastation, Meteor Rain!”
Sebuah bola api raksasa, sebuah meteor yang dikelilingi api kehijauan, muncul dari balik awan gelap. Tekanannya begitu besar hingga pelindung transparan arena bergetar hebat. Para penonton menahan napas; ini adalah sihir tingkat tinggi yang hanya bisa dikeluarkan oleh praktisi jenius di ranah Master.
Mo Han menatap meteor yang menuju ke arahnya. Alih-alih takut, tawa gila meledak dari bibirnya. "Hahaha! Mainan kecil ini kau sebut sihir terkuat? Jangan membuatku tertawa, penyihir!"
Seketika, aura ungu Mo Han berubah menjadi hitam-ungu yang sangat pekat. Pupil matanya memanjang, berubah menjadi ungu menyala. Dua tonjolan kecil muncul di keningnya. Manifestasi Tanduk Iblis. Tubuhnya bergetar, otot-ototnya menguat secara drastis seiring dengan energi yang meluap.
"Aku sebenarnya tidak mau menggunakan kekuatan warisan ini karena efek sampingnya, tapi kau sudah memaksaku," suara Mo Han berubah menjadi lebih berat dan bergema.
BOOM!
Ledakan energi ungu itu menghancurkan akar logam yang melilitnya. Mo Han melesat ke angkasa, beradu langsung dengan meteor raksasa itu. Di mata penonton, ia tampak seperti garis ungu kecil yang menantang matahari.
"Tebasan Iblis, Pembalikan Takdir!"
Mo Han mengayunkan pedangnya. Sebuah garis cahaya ungu membelah meteor itu menjadi dua, lalu ribuan partikel debu yang terbakar. Tanpa berhenti, ia menukik tajam ke arah Seraphina yang masih tertegun.
BUM!
Mo Han mendarat tepat di depan Seraphina dan melayangkan tendangan telak ke perutnya. Sang penyihir terlempar, batuk darah, dan menghantam dinding pelindung arena. Namun, Seraphina adalah petarung tangguh. Sama seperti Caelum, ia mengaktifkan kartu asnya. Matanya bersinar putih murni, retakan cahaya muncul di wajahnya.
“Divine Lightning, Judgment of the Heavens!”
Seraphina memanggil petir raksasa yang menyambar dari langit gelap. Jutaan volt listrik menghantam Mo Han berulang kali. Mo Han bertahan dengan pedangnya, tubuhnya bergetar hebat, kulitnya mulai terbakar.
Kesadarannya hampir hilang, namun tekadnya tetap teguh. Dengan sisa tenaga, Mo Han menerjang melalui badai petir dan memberikan pukulan terakhir ke ulu hati Seraphina.
Kedua energi itu meledak secara bersamaan. Ketika debu pertarungan mengendap, penonton tertegun. Mo Han dan Seraphina
berdiri tegak saling berhadapan, namun mata mereka putih mereka berdua pingsan dalam posisi berdiri.
"Hasilnya... SERI!" teriak wasit. Gemuruh sorak-sorai kembali pecah untuk pertandingan yang luar biasa epik tersebut.
...****************...
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memberikan warna jingga kemerahan pada arena yang kini sudah hancur sebagian.
Namun, suasana justru semakin mencekam saat dua wanita cantik melangkah maju.
Lin Xueru dari Sekte Teratai Putih dan Yan Er (Sang Gadis Rembulan) dari Akademi Saint-Aurelius.
Xueru berdiri dengan tenang, jubah putihnya melambai lembut. Namun, di dalam hatinya, badai sedang mengamuk. Ia menatap Yan Er dengan penuh selidik. Mengapa wanita ini begitu berani mengaku sebagai istri Yu Fan? Apa yang terjadi di antara mereka yang tidak aku ketahui?
Di seberangnya, Yan Er menatap Xueru dengan mata yang dingin dan penuh tantangan. Ia tahu Xueru sangat dekat dengan Yu Fan di akademi ini. Rasa cemburu seorang wanita jauh lebih tajam daripada mata pedang mana pun.
"Jadi, kau adalah 'teman' yang sering disebut-sebut itu?" Yan Er membuka pembicaraan, suaranya halus namun tajam. "Teratai yang suci... tapi aku mencium aroma ketertarikan yang kau sembunyikan untuk suamiku."
Xueru mengangkat wajahnya, ekspresinya tetap datar namun suaranya mendingin. "Suamimu? Yu Fan bukan milik siapa pun. Dan aku tidak punya urusan dengan khayalanmu, Gadis Rembulan. Di sini, aku adalah perwakilan akademiku, dan kau adalah penghalang."
"Khayalan?" Yan Er tersenyum tipis, tangannya memutar dua pedang melengkungnya. "Kita lihat apakah kesucianmu bisa bertahan melawan dinginnya kedua pedang rembulanku."
Di tribun penonton, suasana tidak kalah panas. Yu Fan duduk di samping Putri Yuexin, namun kondisinya sangat mengenaskan. Wajahnya bengkak di bagian pipi kiri karena baru saja dipukul oleh Yuexin.
"Bela dirimu sekarang, Yu Fan! Beri aku alasan logis kenapa wanita asing itu memanggilmu suami!" Yuexin mengomel tanpa henti, tangannya masih siap untuk mencubit atau memukul lagi.
"Yuexin... tolong dengarkan, aku hanya mengalahkannya dalam duel pasar malam, aku tidak pernah menyetujui apa pun!" bela Yu Fan sambil meringis kesakitan.
"Hmph! Kau pikir aku percaya?! Kau pasti terpesona dengan kecantikannya yang eksotis itu, kan?!"
Para penonton di sekitar mereka hanya bisa tertawa melihat 'Pahlawan Akademi' mereka sedang disiksa oleh sang putri.
"Mulai!"
Yan Er bergerak lebih dulu. Gerakannya sangat lincah dan gesit, bak ular yang meliuk-liuk di padang rumput. Ia tidak menyerang secara frontal, melainkan memutar di sekitar Xueru, mencari celah. Xueru mengaktifkan platform teratai energinya, melayang beberapa inci di atas tanah untuk menghindari serangan rendah Yan Er.
KLANG! KLANG! KLANG!
Denting pedang mereka terdengar seperti musik yang cepat. Xueru melancarkan kelopak-kelopak energi yang tajam, namun Yan Er menghancurkannya dengan putaran pedang gandanya yang luar biasa cepat. Pertarungan berlangsung sangat lama, dari jingga sore hingga malam benar-benar jatuh dan bulan purnama muncul dengan sempurna di langit.
Cahaya bulan purnama seolah memberi kekuatan tambahan pada Yan Er. "Xueru, kau cukup kuat, tapi kau terlalu kaku," ucap Yan Er di sela-sela dentuman senjata.
Xueru tidak menjawab. Ia merapalkan jurus: "Teratai Suci: Penjara Cahaya!"
Ribuan garis cahaya mengurung Yan Er, namun Yan Er menemukan satu celah sempit. Dengan gerakan akrobatik yang mustahil bagi manusia biasa, ia melompat, menendang platform teratai Xueru hingga hancur, dan mengirim Xueru jatuh menghantam lantai arena dengan tendangan keras di bahunya.
Xueru terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. Ia belum pernah merasa seterdesak ini. Ia memejamkan mata sesaat, dan tiba-tiba, sebuah aura murni yang sangat dalam meledak dari tubuhnya.
"Sekte Teratai Putih, Manifestasi Dewi Teratai!"
Tubuh Xueru diselimuti cahaya perak yang sangat menyilaukan. Yu Fan yang melihat dari tribun tersentak berdiri. Aura ini... ada sesuatu yang sangat kuno di dalam diri Xueru. Sekte Teratai Putih benar-benar menyimpan rahasia besar.
Xueru menyerang dengan membabi buta. Setiap ayunan tangannya menciptakan gelombang energi yang menghancurkan lantai arena. Yan Er dipaksa bertahan total, tubuhnya mulai dipenuhi luka sayatan kecil. Namun, di tengah keterdesakannya, Yan Er justru tersenyum gila.
"Kau ingin melihat rahasia di balik julukanku?" tanya Yan Er. "Kau tahu kenapa aku dipanggil Gadis Rembulan?"
Tiba-tiba, Yan Er melepaskan kedua pedangnya yang kemudian melayang di sisi tubuhnya. Rambut hitamnya berubah menjadi putih salju dalam hitungan detik. Yang paling mengerikan sekaligus menakjubkan adalah bagian bawah tubuhnya. Rok birunya robek saat kakinya perlahan menyatu dan berubah menjadi ekor ular raksasa berwarna putih bersih dengan sisik yang berkilauan seperti mutiara.
Wajahnya menjadi semakin cantik dengan tanda lahir berbentuk bulan sabit di dahi, dan pedang gandanya berubah menjadi emas melengkung sempurna.
"Suku Ular Putih?!" teriak Wakil Dekan dari panggung kehormatan. "Sekte legendaris yang seharusnya sudah punah puluhan ribu tahun lalu bersama era para dewa?!"
Yu Fan terpana. Jadi itu alasan dia begitu kuat dan lincah... Yan Er adalah keturunan suku ular putih.
Yan Er mengibaskan ekor raksasanya. BUM! Serangan itu begitu cepat hingga Xueru tidak sempat menghindar. Xueru terpental puluhan meter, memuntahkan darah dalam jumlah banyak. Pakaian putihnya kini ternoda merah pekat.
Xueru bangkit kembali dengan sisa tenaganya, matanya menyala dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Aku tidak akan kalah di sini!"
"Aku juga tidak akan mempermalukan suamiku!" balas Yan Er.
Keduanya mengumpulkan seluruh energi sisa mereka untuk serangan terakhir. Xueru membentuk sebuah teratai raksasa dari energi jiwanya, sementara Yan Er memusatkan cahaya bulan purnama ke ujung ekor dan pedang emasnya.
"ULTIMATUM TERATAI, PENGHANCURAN SURGA!"
"SIHIR BULAN SABIT, TARIAN ULAR PUTIH!"
Dua kekuatan dahsyat itu berbenturan di tengah arena. Terjadi ledakan cahaya yang membutakan mata semua penonton. Suara dentuman itu terdengar hingga berkilo-kilometer jauhnya. Saat cahaya memudar, kedua wanita itu sudah kembali ke wujud manusia biasa mereka.
Yan Er berdiri gemetar, menatap ke arah Yu Fan dengan senyum puas. "Aku... menepati janjiku... Yu Fan..." bisiknya sebelum akhirnya matanya terpejam dan ia jatuh pingsan. Xueru juga ambruk di sisi lain, kesadarannya hilang total karena kehabisan energi batin.
"Hasilnya... SERI LAGI!"
Penonton terdiam sejenak sebelum sorak-sorai paling riuh sepanjang sejarah akademi meledak. Pertandingan hari ini benar-benar di luar nalar manusia.
Dekan berdiri dan mengangkat tangannya. "Karena kondisi arena dan kelelahan para petarung, pertandingan akan dilanjutkan besok pagi! Semua murid dan tamu dipersilakan beristirahat!"
Tim medis segera membawa Xueru dan Yan Er. Yu Fan menatap mereka dengan perasaan campur aduk. "Mereka berdua... benar-benar wanita yang mengerikan jika sedang serius," gumamnya.
Namun, lamunannya terhenti saat sebuah tangan mungil menjewer telinganya dengan sangat keras.
"Aduh! Aduh! Sakit, Yuexin!"
"Ikut aku, Yu Fan! Kita belum selesai bicara!" Yuexin menyeret Yu Fan keluar dari tribun menuju asrama pribadi. "Malam ini, kau akan menjelaskan semuanya dari A sampai Z tanpa ada yang terlewat! Paham, Yu Fan?!"
"I-iya, Yuexin... ampun..."
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang sama yang memberi kekuatan pada Yan Er, Yu Fan harus menghadapi pertarungan yang jauh lebih sulit daripada melawan monster tingkat 4. Interogasi sang putri yang sedang cemburu. Namun di balik itu semua, ia sepertinya lebih baik melawan monster dari pada berhadapan dengan Yuexin yang sedang marah ini.