Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG TERHAPUS
Bengkel "Sinar Jaya" di pinggiran Jakarta Utara itu tampak seperti tempat rongsokan bagi mata awam. Puluhan bangkai mobil berkarat bertumpuk di halaman depannya, menciptakan labirin besi yang menyesakkan. Namun, di bagian paling belakang, di dalam sebuah kontainer kedap suara yang telah dimodifikasi, Reno menjalankan operasi digitalnya.
Baskara memarkir mobilnya dua blok dari sana dan berjalan kaki, memastikan tidak ada mobil hitam milik anak buah Sarah yang membuntuti. Saat ia masuk ke dalam kontainer, hawa dingin dari AC sentral langsung menyergap, kontras dengan udara panas pelabuhan di luar.
"Kau terlihat seperti mayat hidup, Bas," sapa Reno tanpa menoleh. Matanya tertuju pada barisan kode yang mengalir cepat di tiga monitor melengkung.
Baskara melempar flash drive merah itu ke meja kayu di samping Reno. "Isinya. Aku butuh semuanya dibedah. Terutama folder bertajuk 'Suryakencana 1995'."
Reno menangkapnya dengan tangkas, lalu memasukkannya ke dalam mesin dekripsi. "Suryakencana... Nama itu tidak asing. Aku sempat menggali sedikit tadi malam setelah kau menyebutnya di telepon. Itu adalah raksasa logistik di era 90-an. Pemiliknya, seorang pria bernama Adrian Arkananta. Dia jenius, ambisius, dan dalam semalam... dia hilang."
"Bukan hilang, Ren. Dia dihilangkan," potong Baskara dengan nada rendah. Ia duduk di kursi lipat, memijat pelipisnya yang berdenyut. "Aku melihat akta kelahiran Alea di brankas itu. Namanya Alea Arkananta. Sarah memalsukan identitasnya selama dua puluh tahun."
Reno bersiul panjang. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard. "Oke, mari kita lihat apa yang disembunyikan Nyonya Besar Mahardika."
Layar monitor berubah warna menjadi merah saat enkripsi berhasil ditembus. Ratusan dokumen terpampang. Ada surat perjanjian di bawah tangan, kuitansi suap untuk oknum kepolisian, hingga skema pengalihan saham yang sangat rumit.
"Lihat ini, Bas," Reno menunjuk sebuah scan dokumen lama yang kertasnya sudah menguning. "Ini adalah instruksi pemindahan rute truk logistik Suryakencana pada malam 14 November 1995. Instruksi ini ditandatangani oleh ayahmu, Baskoro, yang saat itu menjabat sebagai mitra operasional Adrian Arkananta."
Baskara mendekat, matanya menyipit membaca detailnya. "Ayahku yang mengatur rute itu?"
"Ya. Dan di rute itulah kecelakaan terjadi. Sebuah truk tangki tanpa plat nomor menghantam mobil pribadi keluarga Arkananta di jalan tol Jagorawi yang saat itu masih sepi. Tidak ada saksi mata. Supir truknya melarikan diri, dan mobil itu meledak." Reno terdiam sejenak, lalu menatap Baskara dengan serius. "Tapi ada satu detail yang aneh. Polisi menyatakan tidak ada penyintas. Tapi dua hari kemudian, muncul akta adopsi atas nama Alea yang ditandatangani oleh Sarah. Secara hukum, Sarah mengadopsi 'anak yatim piatu tak dikenal' yang secara ajaib memiliki kemiripan fisik 100% dengan anak Adrian Arkananta."
"Itu cara mereka mencuci tangan," gumam Baskara. "Mereka membunuh orang tuanya, mencuri perusahaannya, lalu membawa anaknya ke rumah agar tidak ada keluarga jauh Arkananta yang bisa menuntut hak waris. Jika Alea ada di tangan mereka, mereka memegang kunci cadangan atas seluruh aset Suryakencana yang kini menjadi tulang punggung Mahardika Group."
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Reno. "Data ini cukup untuk melempar Sarah dan ayahmu ke penjara seumur hidup. Tapi Alea... dia akan tahu bahwa orang yang dia panggil 'Ibu' adalah monster yang membakar orang tuanya hidup-hidup."
Baskara tidak menjawab. Ia teringat wajah ketakutan Alea di meja makan pagi tadi. Gadis itu mencintai Sarah dengan tulus. Alea menganggap Sarah sebagai penyelamat hidupnya, satu-satunya orang tua yang ia miliki. Menghancurkan Sarah berarti menghancurkan seluruh fondasi hidup Alea.
"Cari tahu siapa supir truk itu, Ren," perintah Baskara tiba-tiba.
"Bas, itu kejadian tiga puluh tahun lalu. Orang itu mungkin sudah mati atau dihilangkan juga."
"Gunakan logaritma pencarianmu pada dana pensiun siluman di laporan keuangan Mahardika. Sarah bukan tipe orang yang membuang barang yang bisa digunakan. Jika supir itu masih hidup, dia pasti dibayar untuk diam. Temukan dia. Aku butuh saksi hidup, bukan sekadar kertas yang bisa dibakar."
Reno menghela napas, namun ia mulai mengetik lagi. "Kau mulai peduli pada gadis itu, ya?"
Baskara terdiam, menatap bayangannya di monitor yang gelap. "Aku hanya tidak ingin ada darah orang tidak bersalah lagi yang tumpah karena keserakahan keluargaku."
"Bohong," gumam Reno pelan, namun Baskara berpura-pura tidak mendengarnya.
Ponsel Baskara bergetar. Sebuah pesan dari Alea masuk: "Ibu memanggilku ke ruang kerja. Dia bertanya kenapa aku sering terlihat berbisik denganmu. Baskara, aku takut."
Baskara langsung berdiri. "Aku harus kembali ke kantor. Sarah mulai curiga. Jaga data ini, Ren. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya, bahkan jika itu artinya kau harus membakar kontainer ini."
"Tenang saja, Bas. Tapi ingat satu hal," Reno menahan langkah Baskara di pintu. "Dalam perang seperti ini, kau tidak bisa menyelamatkan semua orang. Pilih satu: Keadilan untuk ibumu, atau keselamatan untuk Alea."
Baskara tidak menjawab. Ia melangkah keluar ke bawah sinar matahari yang terik, namun hatinya terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia masuk ke mobil, memacu kecepatannya menuju gedung Mahardika Group. Di kepalanya, suara denting jam di aula utama rumahnya seolah terus berdetak, mengingatkan bahwa waktu untuk berpura-pura sudah hampir habis.