Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Tatapan Alya membeku saat melihat Romeo berdiri gagah di pintu kelas. Suasana seketika hening, teman-temannya pun tak kuasa menahan decak kagum. Ketampanan dan wibawa Romeo begitu mempesona, membuat hati kaum hawa bergetar.
Karena Alya tak bergerak sedikit pun, Romeo pun maju menghampirinya, langkahnya tenang tapi sarat aura memikat yang membuat sekeliling terasa hening.
"Ayo, sayang, kita pulang." gumam Romeo dengan suara lembut yang menenangkan.
Dengan mata lentik yang berkedip pelan, Alya menatap Romeo, wajahnya yang terbuka mulutnya membuatnya tampak lucu sekaligus memikat.
Cup!
Sebuah ciuman singkat namun penuh arti mendarat di bibir Alya. Seketika, teriakan histeris memenuhi ruangan, sementara Alya merah padam, merasa sangat malu apalagi teman-temannya juga menyaksikan adegan itu.
"Ah… Tuan." gumamnya pelan, wajah Alya bersemu merah.
"Mau aku cium lagi, di depan dosenmu?" bisik Romeo lembut, suaranya membuat Alya tersentak dan wajahnya memerah karena malu.
Dengan hati-hati, Alya menggelengkan kepalanya, tak berani membantah atau berkata apa pun. Ia takut jika Romeo berani bertindak lebih liar lagi.
"Tuan, kita mau ke mana? Saya masih ada mata kuliah." ujar Alya sambil menahan tubuhnya agar tak tergesa masuk ke mobil Romeo.
"Si kembar pengin makan di restoran steak, mereka minta kita yang jemput, dan waktunya sekarang. Eh, ngomongnya kenapa tiba-tiba berubah lagi?" tanya Romeo dengan nada dingin.
"Hmm, kalau begitu baiklah." ucapnya ringan, seakan melepaskan sedikit ketegangan.
"Alya, kau harus menjawab pertanyaanku." desah Romeo marah, matanya menatap tajam.
"Maaf, pertanyaan yang mana, ya?" Alya menunduk sebentar, merasa canggung karena tak ingat apa yang Romeo tanyakan tadi.
"Kok gaya bicaramu berubah lagi, sih?" tanya Romeo dingin, matanya menatap Alya penuh penasaran.
" Jadi karena Tuan bicara terlalu formal, saya pun ikut menyesuaikan. Bukankah begitu?" gumam Alya, nadanya santai tapi penuh arti.
Hanya dengan sebuah dengusan, Romeo menunjukkan rasa tak terima.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sekolah si kembar. Alya turun lebih dulu untuk menemui kedua anaknya, sedangkan Romeo mengikuti di belakang, matanya menatap dengan penuh perhatian dari jarak yang aman.
"Ibu…!" teriak si kembar, berlari secepat mungkin begitu melihat ibunya menunggu.
"Pelan-pelan, jangan lari begitu." teriak Alya, suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Keduanya langsung berlari dan memeluk Alya erat, penuh kasih sayang. Tak ada sedikit pun kesan bahwa mereka bukan anak kandungnya,semuanya terlihat begitu alami, seperti hubungan ibu dan anak kandung.
"Belajarnya tadi gimana, sayang?" gumam Alya lembut, matanya menyorot kedua anaknya satu per satu.
"Bisa, Bu! Aku dapat empat bintang, Kak Serena dapat lima. Dan cuma kita yang dapet bintang loh!" teriak Selina penuh semangat.
Hari ini, mereka belajar kata benda dengan pengucapan bahasa Inggris, dan kedua anak itu tampak begitu mudah menguasainya.
"Hebat, anak ibu! Nanti malam belajar lagi sama ibu, biar besok bisa dapat bintang lagi, oke?" gumam Alya lembut, matanya berbinar penuh kasih.
"Baik, Ibu." gumam mereka serentak, suara polos penuh ketaatan.
Mereka pun segera menuju restoran populer di Semarang, tempat mereka akan mencicipi steak. Si kembar sebenarnya sudah menantikan ini sejak lama, namun harus bersabar menunggu waktu yang tepat dan antrean yang padat sebelum akhirnya bisa datang sekarang.
Begitu menyadari menu steak, Alya langsung menegang sedikit alerginya pada daging sapi membuatnya khawatir.
Saat membantu si kembar menikmati hidangan, Alya tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Memikirkan efek alergi membuatnya ragu menyentuh makanan itu sendiri.
"Ayo, Bu, makan!" seru Serena sambil menatap ibunya dengan tatapan heran, melihat Alya tampak cemas.
Saat menikmati makanannya, Romeo menoleh sejenak ke Alya. Ia bisa melihat bahwa istrinya tampak gelisah, namun alasan di balik rasa tidak nyamannya itu masih misteri baginya.
"Apa yang terjadi?" tanya Romeo dengan nada lembut tapi penuh wibawa, matanya berpindah dari Alya ke putri sulungnya.
"Tidak, tidak ada." kilahnya dengan nada ringan, tapi matanya sedikit menghindar.
"Ibu nggak mau makan, Pa." gumam Serena pelan, raut wajahnya penuh penekanan.
"Gak enak ya? Atau nggak suka?" gumam Romeo sambil mengangkat alis sebelah, nada suaranya setengah menggoda.
"Tentu saja suka." jawabnya cepat, menahan napas sedikit, takut jika jujur akan membuat Romeo kesal.
"Kalau gitu, perlu aku yang nyuapin kamu?" gumam Romeo dengan nada menggoda.
Alya cepat-cepat menggeleng, tapi akhirnya tak punya pilihan lain selain memakan steak yang sudah tersaji di depannya.
Romeo kembali menikmati makanannya, tak terlalu memusingkan Alya, tapi Serena terus menatap ibunya dengan rasa ingin tahu yang jelas terlihat.
"Kak, kenapa ibu tampak gelisah?" tanya Selina lirih, suara kecilnya bergetar.
Tanpa menjawab, Serena hanya menunduk sambil perlahan menggelengkan kepala.
Dengan susah payah, Alya mencoba menelan steak itu. Nikmatnya terasa, namun alerginya menjadi penghalang, terlebih obat yang biasa ia konsumsi sudah lama tidak tersedia.
Bruk!
Alya limbung dan jatuh ke lantai tanpa peringatan, sementara teriakan panik si kembar langsung memenuhi ruangan VIP. Romeo pun tak kalah kaget melihat kejadian itu.
"Bu…!" teriak si kembar panik, matanya membesar melihat Alya jatuh.
"Alya…!" teriak Romeo, nadanya campur kaget dan panik.
Romeo segera berlari menghampiri Alya, yang tampak tak berdaya dengan wajah bengkak, terutama di bibir dan tulang pipinya. Panik melanda Romeo sepenuhnya, hingga ia sama sekali tak memikirkan si kembar yang kini menangis histeris.
"Papa… ibu kenapa?" teriak Selina sekuat tenaga, suaranya penuh panik.
"Ayo, telepon Om Satria dan minta dia langsung ke rumah sakit, cepat!" ujar Romeo panik, matanya penuh cemas.
Beruntung, kedua anak cepat menangkap maksud dan tujuan Papanya. Dengan sigap, mereka langsung menelepon Satria sesuai instruksi.
Kejadian tadi sempat membuat kegemparan di restoran, tapi karyawan yang sudah akrab dengan Romeo langsung menolong, membantu mengeluarkan Alya dari tempat itu.
Romeo tak membuang waktu, menggendong Alya ala bridal style. Panik menguasai ekspresinya saat melihat istrinya tak sadarkan diri. Rasa takut menelan pikirannya, antara trauma masa lalu dan ketakutan kehilangan Alya yang amat dalam.
Di belakang, si kembar berlari secepat kilat mengejar ayah mereka dan tanpa ragu langsung meloncat masuk ke mobil. Tak ada yang menyangka, dua bocah itu sungguh cerdik luar biasa. Sementara ayahnya sibuk panik memikirkan kondisi ibunya, mereka justru dengan sigap mengumpulkan semua barang milik ayah dan ibu yang tertinggal di tempat itu.
Mobil Romeo melaju kencang menembus jalanan. Di kursi belakang, Selina terisak tanpa henti, matanya tak lepas dari Alya yang tampak lemah. Sementara itu, Serena duduk tenang, wajahnya datar, padahal hatinya sama gelisahnya sebenarnya ia juga ingin menangis, tapi menahan diri.
“Sabar ya, sayang papa antar ibu ke rumah sakit sekarang.” ucap Romeo, suaranya bergetar tapi penuh kepastian, menenangkan kedua putrinya.
“Jangan pergi, Ibu. Selina sama Serena butuh Ibu. Kita baru punya Ibu, Ibu jangan pergi.” ratap Selina sambil memeluk erat tangan ibunya.
Hati Romeo tercekat mendengar ratapan putrinya, tapi saat ini pikirannya hanya satu,mengantar Alya secepat mungkin ke rumah sakit.
Mobil Romeo berhenti di depan IGD sebuah rumah sakit mewah dan ternama di Semarang. Panik yang membara membuatnya tak peduli lagi pada wajah kusutnya atau pakaian yang berantakan.
“Cepat,tangani dia! Selamatkan dia!” perintah Romeo, suaranya terputus-putus oleh napas yang terengah.
Dokter dan perawat yang menyambut Romeo mengangguk singkat sebagai tanda mengerti, lalu tanpa menunggu lagi, mereka segera membawa Alya ke ruang tindakan.
Di saat Romeo tenggelam dalam kecemasan, Arjuna mengambil alih, mendekati si kembar dan menenangkan mereka. Untungnya, anak-anak itu cukup bijak untuk memahami keadaan ayah mereka.
Tak berselang lama, Satria datang tergopoh-gopoh, diikuti Arjuna di belakangnya. Keduanya tampak panik luar biasa setelah menerima telepon dari si kembar yang memberitahu bahwa ibu mereka pingsan dan tak kunjung sadarkan diri.
“Rom!” teriak Satria dengan suara penuh kepanikan.
“Sat… aku takut. Anak-anak baru saja merasakan hangatnya kasih sayang Ibu dari Alya, tapi sekarang dia…” ucap Romeo dengan suara bergetar.
Romeo tak sanggup menyelesaikan ucapannya, rasa panik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kini menghantui dirinya, hanya karena Alya.
“Apa yang terjadi, Rom? Lo harus tetap tenang. Lihat anak-anak juga jadi panik kalau lo nggak terkendali.” tegur Arjuna dengan tegas.
Baru sadar akan situasinya, Romeo cepat-cepat menceritakan kejadian di restoran secara ringkas.
“Maaf ya, Rom. Gue lupa memberitahumu, Alya punya alergi daging, sama seperti gue.” sesal Satria, suaranya serak menahan rasa bersalah.
Mendengar Satria, Romeo membeku. Ia menyadari, ia memaksa Alya makan steak dan menyindirnya, padahal dari awal Alya sudah tampak gelisah saat memasuki restoran.
“Astaga,dia nggak ngomong sama sekali. Harusnya dia kasih tau gue tentang alerginya.” umpat Romeo kesal.
“Rom, maaf kalau gue salah, tapi dia pasti nggak bilang karena takut sama lo. Takut lo ngamuk atau marah, apalagi lo pesan segitu banyak. Dia juga pasti ngerti harga makanannya, makanya cuma pasrah pas lo suruh dia makan.” ucap Satria menenangkan Romeo.
“Papa minta maaf, semuanya jadi kacau karena Papa.” ucap Romeo penuh penyesalan saat mendekati kedua putrinya.
“Papa, Ibu bisa sembuh, kan?” tanya si kembar dengan suara gemetar, takut kehilangan Alya selamanya.
“Tentu bisa, Ibu akan sembuh.” jawabnya dengan keyakinan penuh.
Dokter pun melangkah menghampiri Romeo dan si kembar, membawa aura tegas dan penuh perhatian.
“Kondisi pasien tidak stabil. Ia tak bisa mengonsumsi makanan tertentu,alergi itu membuat tubuhnya menganggap protein itu sebagai ancaman, sehingga memicu pelepasan zat kimia yang menimbulkan reaksi alergi.” jelas dokter dengan tenang.
“Apakah dia perlu dirawat di sini?” tanya Arjuna.
“Sebaiknya pasien dirawat selama dua sampai tiga hari. Kesadarannya belum pulih, dan bengkak di wajahnya cukup parah. Saya akan minta perawat menyiapkan kamar untuknya.” jawab dokter.
“Siapkan kamar terbaik untuknya. Dia istri Romeo Andreas.” tegas Arjuna kepada dokter itu.
“Tentu, Tuan.” balasnya, nada suara tegas menunjukkan kesungguhan.
Setelah dokter pergi, Romeo tetap berdiri membeku, terkejut oleh apa yang baru didengarnya. Padahal kondisinya tidak terlalu parah, tapi ketakutannya luar biasa. Arjuna hadir di samping si kembar untuk menenangkan mereka, sementara Satria menangani urusan administrasi Alya.
“Gue selalu gagal, jadi suami.” Romeo tiba-tiba menggumam, suaranya serak menahan perasaan bersalah.
“Maksud lo apa?” Arjuna menatap Romeo bingung.
“Zalina dulu juga sakit dan akhirnya pergi karena jadi istri gue. Gue nggak bisa nyelametin dia buat anak-anak. Sekarang Alya,walau perasaan gue belum ada, gue tetap ngerasa gagal ngelihat kondisinya sekarang.” kata Romeo dengan suara sendu.
Terlihat jelas bagi Arjuna bahwa Romeo sedang hancur, tapi ini adalah musibah yang tak terelakkan. Sebentar saja, muncul pikiran,apakah Romeo mulai jatuh hati pada Alya? Jika iya, gengsinya terlalu tinggi untuk diungkapkan.
“Rom, gue yakin dia bakal pulih. Lo cuma harus lebih berhati-hati ke depannya. Jangan sampai lo marah sama dia nanti begitu sadar, dia pasti nggak berani jujur karena takut dan sungkan sama lo.” ujar Arjuna menenangkan.
“Gue ngerti maksud lo.” gumamnya lirih, matanya menatap jauh.
Kini Alya berada di kamar rawat inap yang lebih baik, sebuah ruangan khusus untuk pasien penting, lengkap dengan tempat bagi keluarga yang menunggu di dekatnya.
“Papa,kapan Ibu akan sadar?” Serena, yang dari tadi pendiam, kini menatap Romeo dengan mata berkaca-kaca.
“Nanti Ibu pasti bangun, sebentar lagi. Kalian istirahat dulu ya nanti pulang sama Om Arjuna.” bujuk Romeo lembut.
“Gak, Papa kita tetap di sini. Kita nggak mau ninggalin Ibu.” tolak mereka sambil menggenggam tangan Romeo.
“Nak, biar Ibu istirahat ya. Kasihan kalau Ibu bangun nanti terus diganggu kalian.” ujar Romeo membujuk lagi.
Serena menunduk, perlahan menyadari bahwa papanya benar. Ia akhirnya mengalah, duduk di sofa, dan menenangkan diri sejenak.
Dengan lembut, Arjuna membujuk si kembar agar beristirahat. Dari dulu, saat Romeo kesulitan, dialah yang selalu menjaga kedua putrinya.
“Ugh…” keluh Alya pelan saat matanya berusaha terbuka.
Bengkak di wajahnya mulai mereda, membuat Alya kesulitan membuka mata. Romeo, yang sebelumnya tertidur, sontak bangun ketika mendengar suara dan gerakan Alya.
“Alya… bisakah kau dengar saya?” Romeo bertanya pelan, sambil menatap wajahnya dengan lembut.
Dengan lemah, Alya mengangguk. Ia kebingungan sendiri mengapa matanya begitu sulit terbuka.
“Pelan-pelan saja, jangan dipaksa. Mata kamu susah dibuka karena bengkak.” ucap Romeo sambil tersenyum menenangkan.
Mendengar itu, Alya tersentak dan segera menutupi wajahnya. Pasti kini wajahnya tampak bengkak seperti habis dipukul.
“Jangan kaget,kamu tetap nggak berbeda. Waktu sehat juga nggak ada cantiknya kok.” ujar Romeo dingin.
“Jaa…jahat.” gumamnya tersendat, menahan emosi yang campur aduk.
Romeo tersenyum tipis, tawa singkatnya tadi hanyalah topeng untuk menutupi rasa lega dan bahagia karena Alya sudah sadar.
“Tunggu sebentar, aku panggil dokter dulu. Kamu harus dicek sama mereka. ” ujar Romeo pelan.
Hanya dengan menekan tombol, Romeo memanggil dokter dan perawat yang berada di luar ruangan untuk segera masuk.
“Lain kali jangan paksakan diri kalau nggak bisa makannya. Saya nggak bakal marah sama sekali.” ujar Romeo sambil menatap Alya lembut.
Alya hanya bisa terpaku, heran dengan perubahan sikap suaminya yang begitu lembut padanya.
“Tuan, aku ingin makan.” ucap Alya sambil menatap Romeo dengan mata lemah.