📝 Tang Siyun adalah seorang pengembang game online berbakat, tetapi hidupnya hancur berantakan saat ia dikhianati secara bersamaan oleh pacar yang diselingkuhinya dan rekan kerja yang merebut hasil jerih payahnya.
⚰️ Kematiannya yang menyusul penuh dengan rasa pahit dan penyesalan.
🌍 Ia terbangun di dunia novel "Soul Land" yang sangat dikenalnya, terlahir kembali sebagai seorang bayi yatim piatu.
⏱️ Soul-nya yang bangkit bukanlah senjata atau binatang buas, melainkan Pocket Watch (Jam Saku) misterius dengan kemampuan yang belum tergali sepenuhnya.
🏚️ Nasibnya berubah drastis ketika ia diselamatkan oleh Tang Hao, ayah dari protagonis dunia itu, Tang San. Melihat potensi dan nasib malang Siyun, Tang Hao memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak angkat, menjadikan Tang Siyun kakak angkat Tang San.
🔖 Isekai, Reinkarnasi, Fantasi, Romansa Dewasa, Harem, Aksi, Petualangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meong Punch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[ Bab 17 ] » Bos di Balik Layar
Kembali dari Hutan Berburu Roh, atmosfer di Akademi Nuoding terasa berbeda bagi Tang Siyun. Jika sebelumnya ia hanyalah "anak baru yang hobi tidur," kini ia memiliki sesuatu yang sangat berharga di dunia ini: sebuah Cincin Roh kuning yang melingkari jam saku peraknya. Namun, sesuai dengan filosofi hidupnya yang baru, Siyun tidak berniat memamerkan kekuatannya di barisan depan. Ia lebih suka menjadi dalang yang menarik benang dari kegelapan.
Asrama Tujuh, tempat para siswa beasiswa tinggal, adalah mikrokosmos pertama yang harus ia jinakkan. Di dunia asalnya, Siyun tahu bahwa untuk mengelola sebuah tim pengembang yang liar, kau tidak butuh menjadi orang yang paling berisik di ruangan, melainkan orang yang paling sulit ditebak.
Di Asrama Tujuh, aturan kuno berlaku: yang terkuat adalah pemimpin. Tang San, dengan bakat alaminya dan bimbingan Grandmaster, dengan cepat mengalahkan Wang Sheng, pemimpin lama asrama tersebut. Secara resmi, Tang San diangkat menjadi "Bos" asrama. Namun, semua orang di ruangan itu tahu bahwa ada sosok lain yang lebih patut diwaspadai.
Siyun duduk di tempat tidur paling pojok, tempat tidurnya kini dilapisi oleh kain sutra halus yang entah bagaimana ia dapatkan dari pasar kota. Ia sedang mengupas apel dengan gerakan yang sangat lambat, namun setiap potongan jatuh dengan presisi yang mengerikan.
"San, kau adalah pemimpinnya," ujar Siyun tanpa menoleh, suaranya tenang namun bergema di seluruh ruangan yang tiba-tiba sunyi. "Kau yang mengatur jadwal latihan, kau yang membela mereka jika ada siswa bangsawan yang cari masalah. Aku? Aku hanya ingin memastikan tempat tidurku tetap hangat dan stok makananku tidak pernah habis."
Wang Sheng dan anak-anak lainnya menelan ludah. Mereka pernah melihat Siyun "bermain" dengan seorang siswa senior beberapa hari lalu. Siyun tidak memukulnya; ia hanya berjalan melewati senior itu, dan tiba-tiba saja celana senior tersebut melorot sementara dompetnya berpindah ke tangan Siyun tanpa ada yang melihat gerakannya. Itu bukan sihir, itu adalah teror yang tidak terlihat.
"Tapi Ge," Tang San mencoba memprotes, "kau lebih tua, kau seharusnya—"
"Tidak ada 'seharusnya', San kecil," sela Siyun sambil melemparkan sepotong apel ke mulutnya. "Seorang bos butuh wajah yang jujur dan tulus sepertimu. Tapi seorang bos juga butuh 'bayangan' untuk membereskan masalah yang terlalu kotor untuk disentuh pahlawan. Mulai hari ini, sebut aku penasihat. Dan aturannya sederhana: Jangan ganggu waktu tidurku, dan pastikan setiap minggu ada upeti berupa dendeng daging berkualitas tinggi di meja ini."
Sebagai mantan pengembang game, Siyun melihat sistem logistik akademi sebagai sebuah database yang penuh dengan celah (bug). Ia mulai menjalin hubungan dengan staf dapur dan petugas kebersihan orang-orang yang sering dianggap remeh namun memegang kunci kenyamanan.
Ia menggunakan sedikit kemampuan Time Perception Adjustment-nya untuk membantu koki kepala dapur mempercepat proses pemotongan sayuran atau membantu petugas perpustakaan menata ribuan buku dalam waktu singkat. Hasilnya? Siyun mendapatkan akses ke "menu rahasia" di kantin dan kunci cadangan ke bagian referensi terlarang di perpustakaan.
Suatu sore, Siyun terlihat sedang bersantai di taman belakang akademi yang seharusnya terlarang bagi siswa beasiswa. Ia duduk di kursi malas yang ia "pinjam" dari gudang, sementara dua siswa junior sibuk memijat kakinya.
"Siyun-ge, apakah ini tidak berlebihan?" tanya Wang Sheng yang kini bertindak sebagai pengawal pribadi tidak resmi Siyun. "Jika guru-guru tahu kita mengambil jatah bantal ekstra dari gudang bangsawan..."
Siyun membuka satu matanya, menatap Wang Sheng dengan pandangan yang membuat pria besar itu merinding. "Wang Sheng, di dunia ini, sumber daya tidak diberikan kepada mereka yang berhak, tapi kepada mereka yang tahu cara mengambilnya tanpa merusak sistem. Aku tidak mencuri; aku hanya melakukan redistribusi aset yang tidak terpakai. Dan sebagai imbalannya, bukankah aku sudah memberimu tips untuk meningkatkan kecepatan tinju mu?"
Wang Sheng terdiam. Memang benar, Siyun telah menunjukkan padanya titik-titik lemah pada pola serangan siswa bangsawan dengan sangat detail, seolah-olah Siyun bisa melihat gerakan mereka dalam gerak lambat. Berkat "penasihat" mereka, siswa Asrama Tujuh tidak lagi menjadi bulan-bulanan. Mereka menjadi faksi yang paling ditakuti di Nuoding.
Kehebatan Siyun bukan terletak pada kekerasan, melainkan pada informasi. Melalui jam sakunya, ia sering kali "mendengarkan" percakapan di ruang guru atau pertemuan rahasia para siswa bangsawan. Ia tahu siapa yang berhutang pada siapa, dan siapa yang memiliki rahasia memalukan.
Bagi Tang San, Siyun adalah kakak yang melindungi. Bagi Xiao Wu gadis kelinci yang baru saja bergabung dan menjadi teman dekat Tang San, Siyun adalah sosok misterius yang selalu memiliki permen enak dan cerita-cerita tentang dunia luar yang belum pernah ia dengar.
"Siyun-ge, kau orang yang aneh," ujar Xiao Wu suatu kali saat mereka duduk di atap asrama. "Kau punya kekuatan yang besar, tapi kau memilih untuk tidak menggunakannya untuk kemuliaan. Mengapa?"
Siyun menatap bulan, memutar jam peraknya. "Karena aku pernah memiliki semua kemuliaan itu, Xiao Wu. Dan kemuliaan itu menusukku dari belakang. Di kehidupan ini, aku lebih suka memiliki kendali daripada memiliki nama besar. Nama besar hanyalah target bagi anak panah musuh. Tapi bayangan? Bayangan tidak bisa dipanah."
Xiao Wu tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia merasakan kesedihan yang mendalam di balik kata-kata Siyun. Ia mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Siyun. "Kalau begitu, aku akan menjadi bayanganmu juga."
Siyun tertawa kecil, mengusap telinga kelinci gadis itu. "Kau? Kau terlalu berisik untuk jadi bayangan, kelinci kecil. Jadilah pedang untuk adikku, dan biarkan aku yang mengatur waktu kapan pedang itu harus menebas."
Dalam beberapa bulan, Siyun telah mengubah Asrama Tujuh menjadi sebuah organisasi kecil yang efisien. Di bawah kepemimpinan resmi Tang San yang adil dan kuat, siswa-siswa itu berlatih keras. Namun, di bawah arahan "Penasihat" Siyun, mereka belajar tentang taktik, pengintaian, dan bagaimana memanfaatkan kelemahan lawan.
Siyun juga mulai menunjukkan sisi protektifnya yang lebih gelap. Ketika seorang instruktur pria mencoba bertindak kasar pada salah satu siswa beasiswa perempuan, Siyun tidak melaporkannya. Ia hanya memastikan bahwa setiap kali instruktur itu mencoba berjalan, waktunya "bergeser" satu detik, membuatnya terus-menerus tersandung, jatuh ke dalam selokan, atau menumpahkan kopi panas ke tubuhnya sendiri sampai instruktur itu ketakutan dan mengundurkan diri karena mengira dirinya dikutuk.
"Hidup adalah tentang manajemen risiko," gumam Siyun sambil menyesap teh berkualitas tinggi yang ia dapatkan dari kantor dekan (yang secara 'ajaib' berpindah ke cangkirnya).
Dengan Tang San sebagai tameng dan Xiao Wu sebagai ujung tombak, Siyun telah membangun fondasi kekuasaannya. Ia bukan lagi Tang Siyun yang dikhianati. Ia adalah arsitek dari realitas barunya. Dan target berikutnya? Bukan hanya sekadar kenyamanan asrama, tapi juga pesona-pesona matang yang mulai ia amati di sekitar kota Nuoding, para wanita yang memiliki rahasia yang hanya bisa dibuka oleh kunci waktu miliknya.
"Satu detik dalam hidupku adalah keabadian bagi mereka," Siyun tersenyum, menutup jam sakunya dengan bunyi klik yang memuaskan. "Dan aku akan memastikan setiap detik itu berharga."