"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maunya Arkan
"Fransisca, kenapa kamu ada disini?" Tanya Doni hendak melangkah mendekat.
"Keponakanku...mohon jaga jarak. Karena aku tidak ingin pamanmu salah paham." Ucap Fransisca bergelayut manja pada Arkan Zoya. Mengecup pipinya dengan cepat."Kami sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Secara hukum dan agama. Benar bukan...yang mulia suami?" Tanya Fransisca pelan.
"Ke... kenapa!?" Doni mengerutkan keningnya sedikit gugup. Ada rasa sesak yang aneh pada dadanya. Apa Doni mengidap asma? Serangan jantung? Atau karena terkena penyakit merindukan mantan stadium akhir.
"Fransisca...kamu melakukan ini hanya untuk membuat Doni cemburu? Tidak perlu sampai seperti ini. Tidak perlu mengorbankan perasaan paman Arkan. A...aku, hidupku tidak lama lagi, setelah kematianku, Doni hanya akan kembali mencintaimu. A...aku hanya ingin memiliki satu anak darinya. Hanya itu permintaan terakhirku." Mira menitikkan air matanya, nada suaranya bergetar. Menggugah hati semua orang. Siapa yang tidak akan terharu melihatnya. Mengingat sisa usianya, katanya tidak banyak lagi.
"Mira...kamu akan berumur panjang. Aku janji akan mencarikan dokter terbaik." Ucap Doni berusaha menenangkan. Dijawab dengan anggukan pelan oleh Mira.
Benar-benar pasangan yang romantis. Membuat Fransisca mengangkat sebelah alisnya.
"Kak Fransisca tidak akan meninggalkan Arkan kan?" Tanya Arkan Zoya memeluknya manja.
Fransisca membalas pelukannya, kemudian menggeleng."Arkan dengar sendiri... keponakan kita berkata akan menikahiku setelah kematian Mira. Tapi dia berkata Mira tidak akan mati. Itu artinya Mira ada dalam mode imortal (abadi). Jadi... selamanya Doni akan bersama Mira... untuk selamanya juga Arkan akan menjadi suami Fransisca. Tapi... kalau Mira mati pun, yang mulia istri akan tetap setia pada yang mulia suami."
"Cukup!" Bentak Naya."Kamu cuma bisa membuat kegaduhan si rumah ini. Sekarang pergi---"
Plak!
Wajah Naya benar-benar ditampar cukup kencang.
"Pergi? Ini rumah suamiku. Aku nyonya rumah ini, sekaligus wali dari Arkan Zoya!" Tegas Fransisca, kembali mengecup pipi Arkan Zoya. Anggap saja mengecup pipi anak kecil berwajah orang dewasa.
"Pergi! Tujuanmu hanya harta bukan? Akan aku berikan sebagai kompensasi!" Johan segera bangkit dari tempat duduknya. Mengambil cek, kemudian menuliskan uang sejumlah 500.000.000 rupiah. Melemparkannya pada wajah Fransisca.
"Kamu yang pergi!" Teriak Arkan pada kakak iparnya.
"Sttt... tenang yang mulia suami." Fransisca menghela napas meraih cek yang terjatuh di lantai."500 juta rupiah?" Tawa terdengar di mulutnya.
"Jika terjadi sesuatu pada Arkan Zoya, hanya total uang cash nya saja mencapai 12 juta dollar. Belum aset lainnya... semuanya akan menjadi milik kalian. Tapi, jika Arkan Zoya memiliki istri dan anak, coba tebak apa yang akan kalian dapatkan." Ucap Fransisca, mendekati Mira.
Srak!
Kalung digunakan Mira ditarik paksa olehnya hingga terlepas.
"ZONK... semua akan menjadi milikku dan putraku." Tawa kembali terdengar dari mulut Fransisca.
Tangan Doni bergerak hendak menamparnya.
"Sajikan teh untuk bibimu ini. Nanti aku berikan angpao." Ucap Fransisca penuh senyuman.
Tangan Doni yang telah terangkat gemetar. Perlahan diturunkan olehnya.
"Kenapa? Tidak jadi menampar? Takut tidak mendapatkan angpao dari bibimu ini?" Tanya Fransisca tersenyum.
"Fransisca... Doni tidak menikahi mu karena Mira sudah terlanjur hamil. Lagipula Mira memiliki penyakit kanker darah. Kamu tidak punya rasa kemanusiaan padanya!?" Bentak Naya.
"Kakak ipar...masa lalu adalah masa lalu. Lagipula aku sudah punya masa depan yang lebih baik. Tubuh Arkan lebih indah dibandingkan dengan tubuh Doni. Wajahnya lebih tampan, tidak bisa berselingkuh... selalu setia padaku seumur hidupnya. Dan yang paling penting K A Y A. Untuk apa aku memikirkan keponakanku yang hanya jago membuat anak, bahkan menbuat proposal saja masih sering meminta bantuanku?" Tanya Fransisca.
"Fransisca tidak seharusnya kamu begitu. Doni tulus padamu. Ini karena keegoisanku. Ini karena aku sakit-sakitan. Lebih baik aku mati..." Mira menangis sesenggukan.
"Mati sana!" Fransisca mengangkat sebelah alisnya.
"Doni! Fransisca menyumpahi aku mati. A...aku tidak apa-apa, tapi...tapi anak dalam kandunganku bagaimana." Mira kembali memeluk Doni erat.
"Bacot!" Satu kata singkat, padat jelas dari Fransisca.
"Ka... kakak! Arkan sayang pada kak Fransisca. Ma... maksud Arkan...Arkan sayang pada yang mulia istri. Jika kak Johan marah-marah terus, maka lebih baik Arkan kabur dari rumah!" Teriak Arkan Zoya.
Semua orang hanya dapat menghela napas. Antara ingin tertawa atau menangis melihat keadaan orang ini. Benar-benar miris, pria paling dingin, tajam dan ditakuti kini bertingkah seperti anak kecil.
"Arkan tidak perlu kabur. Jika mereka tidak menyukaiku, maka mereka yang harus pindah. Ada pengacara dan polisi yang bisa mengosongkan rumah ini." Ucap Fransisca menjelaskan pelan.
Doni mengepalkan tangannya. Tidak disangka Fransisca yang dulu begitu polos dan baik dapat seperti ini. Menghela napas lebih baik membujuknya sementara. Lagipula Fransisca mencintainya setengah mati.
Pria yang mendekat hendak menyentuh tangan Fransisca. Mencoba merayu dengan mulutnya yang lebih lebar dari buaya mangap-mangap.
Tapi dengan cepat pula Arkan membentangkan tangannya. Berada diantara mereka berdua."Keponakan jahat! Keponakan jahat. Jangan ganggu yang mulia istri!"
Pria yang bagaikan anak kecil itu memukul ke arah Doni. Terlihat asal-asalan menggerakkan tangannya. Tapi, anehnya, rasanya benar-benar sakit.
Terkena rahang bagaikan tidak sengaja, terkena mata bagaikan itu cuma asal. Mengenai perut seperti anak kecil mencoba menabung gendang. Yang jelas terlihat asal pukul tapi efektif membunuh buaya jadi-jadian.
"Paman! Hentikan! Paman! Sakit! Hentikan! Aku tidak akan dekat-dekat lagi!" Teriaknya cepat.
"Yang mulia suami... hentikan ya..." Ucap Fransisca pelan namun berkelas. Menipiskan bibir menahan tawanya. Suaminya walaupun bertingkah seperti anak kecil tapi lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan sang mantan terindah.
Gila!
Doni dipukuli hingga memar. Matanya bagaikan mata panda akibat lebam. Pipinya bengkak, seperti bakpao ungu. Wajah tampannya yang bagaikan pangeran kini bagaikan pengemis emperan.
"Kalian sebaiknya pergi dari rumah ini." Ucap Fransisca lagi, memperhatikan kukunya yang baru di pedicure beberapa hari lalu. Benar-benar santai dengan nada malas.
"Rumah ini, walaupun atas nama Arkan. Tapi setengah tanahnya atas nama mendiang ibuku. Kamu tidak bisa mengusir kami." Tegas Naya.
"Benarkah? Nanti akan aku tanyakan pada butler. Melelahkan sekali...Arkan sayang ... maksudku...yang mulia suami, mau aku ajari hal yang enak?" Tanya Fransisca.
"Apa!? Apa!? Apa membuat kue raksasa!? Apa membuat ice cream?" Tanya Arkan Zoya antusias.
"No! No! No! No! Arkan sayang, ada hal yang lebih enak dari itu. Nanti aku janji Arkan sayang akan ketagihan." Kalimat dari Fransisca pelan.
"Apa!? Apa!? Apa? Arkan mau! Arkan mau!" Teriak Arkan, antusias penuh semangat.
"Arkan, jangan dengarkan dia. Dengarkan kakak, dia bukan wanita baik. Sekarang kamu ke kamar...kakak akan membelikan mainan ya?" Pinta Naya.
"Tidak mau! Aku ingin melakukan hal yang menyenangkan dengan kak Fransisca!" Ucap Arkan melekat.
"Benar mau?"
"Melakukan apa? Apa membuat origami?"
"Lebih menyenangkan...Membuat anak..."
"Arkan mau!"