“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Putri melangkah maju dengan wajah merah padam.
Plak!
Tamparan itu mendarat keras di pipi Yura, membuat tubuhnya terhuyung ke samping. Suara tamparan menggema di aula yang mendadak sunyi. Beberapa tamu tersentak, sebagian menutup mulut, sebagian lain justru menatap dengan mata berbinar haus drama.
Yura terdiam sesaat, lalu ia tersenyum sinis, dingin, dan menusuk.
Perlahan Yura mengangkat tangannya, menyeka darah tipis di sudut bibirnya. Pandangannya naik, bukan ke Putri, melainkan langsung mengunci mata Hans. Tatapan itu membuat Hans tertegun.
Arga segera bergerak mendekat, wajahnya dipenuhi amarah dan rasa malu.
“Kau mempermalukan aku, Yura!” bentaknya keras. “Kalau kau menginginkan perhiasan, aku bisa membelikannya! Jangan membuat keluarga Pradipta terlihat hina, kami bukan pencuri!”
Yura menoleh tajam ke arahnya.
“Aku juga bukan pencuri!” serunya lantang, suaranya menggema di aula. Hans melangkah satu langkah ke depan, rahangnya mengeras.
“Kamu masih berani membela diri setelah semua ini terjadi?”
Yura tertawa kecil dan terlihat begitu pahit.
“Tuan Hans,” ucapnya dingin, menatap lurus ke mata pria itu, “apa Anda buta?”
Semua orang terdiam.
“Sejak tadi Anda memperhatikan saya,” lanjut Yura tenang namun tajam. “Apa saya pernah bergerak satu langkah pun mendekati Nona Putri?”
Dia melirik ke arah Putri sekilas tatapan jijik tanpa usaha menutupinya.
“Kalung itu benda berharga. Nona Putri pasti menjaganya dengan sangat baik.”
Yura kembali menatap Hans.
“Dan saya?” Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Saya bahkan tidak cukup dekat untuk berdiri di sisinya. Bagaimana caranya saya mencuri sesuatu dari orang yang bahkan tidak mau berdiri satu meter dari saya?”
Bisik-bisik kembali memenuhi ruangan.
“Masuk akal…”
“Iya juga…”
“Dia dari tadi duduk di sana…”
Putri mengepalkan tangannya, kuku-kukunya hampir menembus kulit. Wajahnya mengeras, matanya berkilat marah. Hans menoleh ke arah adiknya, keraguan menyelinap ke wajahnya.
'Apa mungkin…'
Namun, sebelum pikiran itu tumbuh, Putri sudah lebih dulu melangkah maju. Ia memeluk lengan Hans erat-erat, tubuhnya sedikit gemetar, air mata kembali menggenang, sempurna, terlatih.
“Kak…” suaranya lirih dan rapuh. “Jangan dengarkan dia, aku takut…”
Pelukan itu seperti kunci, Hans menegang, lalu menurunkan pandangannya pada Putri dengan sorot protektif yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Sejak hari ia menjadi putri pengganti keluarga Wijaya, sejak hari itu pula Putri menjadi satu-satunya orang yang Hans cintai dan lindungi tanpa syarat, setelah Shasmita tunangan secara diam-diam.
Putri semakin merapat ke sisi Hans, suaranya meninggi di antara isak yang dibuat-buat.
“Kak … kalung itu sangat berharga,” ucapnya terputus-putus. “Itu bukan sekadar perhiasan. Itu tanda bahwa aku adalah Putri keluarga Wijaya.”
Dia mengusap dadanya seolah menahan sesak.
“Kalung itu didesain sendiri oleh seseorang untuk aku … sebagai penghormatan untuk mengenang adik kandungmu yang meninggal bertahun-tahun lalu.”
Tak seorang pun menyangka, kalung penuh makna itu kini justru menjadi jerat yang menjerumuskan Yura.
Arga melangkah maju, berdiri di antara Hans dan Yura. Wajahnya tegang, namun suaranya dibuat setenang mungkin, seolah ia benar-benar seorang pemimpin yang bertanggung jawab.
“Nona Putri,” katanya, “apa yang Anda inginkan untuk menebus kesalahan ini?”
Ia menoleh sekilas ke arah Yura, lalu kembali pada Hans.
“Sebagai pihak yang membawa asisten saya ke acara ini, izinkan saya meminta maaf atas sikapnya.”
Kata asisten itu sengaja ditekankan, padahal semua orang tahu, perempuan yang berdiri dengan pipi memerah dan bibir berdarah itu adalah pengganti Shasmita selama bertahun-tahun. Namun, bagi Arga, Yura tak lebih dari alat yang bisa dikorbankan.
Putri mengangkat wajahnya, matanya berkilat kejam.
“Aku ingin dia berlutut dan memohon,” ucapnya lantang, tanpa ragu.
“Dan itu hukuman yang ringan.”
Ia melangkah setengah langkah mendekat, menunjuk Yura.
“Mencuri dari keluarga Wijaya adalah penghinaan yang tidak bisa dimaafkan.”
Ruangan mendadak senyap.
“Tidak!” teriak Yura keras, suaranya pecah namun penuh harga diri.
“Aku tidak akan melakukan itu! Aku tidak bersalah!”
Mario bergerak refleks, melangkah setengah langkah ke depan. Namun, sebelum ia sempat berbicara, Yura menoleh tajam ke arahnya. Tatapan itu dingin, memerintah, dan penuh makna.
Mario membeku, rahangnya mengeras. Ia tahu, jika ia melangkah lebih jauh, semuanya akan hancur, bukan hanya rencana Yura, tapi juga keselamatan mereka.
Perlahan, dengan berat hati, Mario menarik diri. Langkahnya mundur, lalu berbalik pergi dari aula itu, meninggalkan Yura sendirian di tengah badai. Yura berdiri tegak, meski tubuhnya gemetar. Ia menatap Putri, Hans, lalu Arga, satu per satu.
Arga melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Yura. Tatapannya dingin, nadanya rendah namun memaksa.
“Lakukan apa pun yang Nona Putri minta,” katanya tegas. “Jangan mempermalukan keluarga Pradipta.”
Dada Yura naik turun. Ia menggeleng keras. “Aku dijebak,” ucapnya lantang. “Aku tidak mencuri apa pun.”
Putri tertawa kecil, sinis. “Kau tak punya bukti kalau aku menjebakmu,” katanya tajam. Lalu ia mengangkat tangan, memperlihatkan kalung berlian itu.
“Tapi aku punya bukti kalau kau mencuri. Kalung ini ada di tasmu!”
Hans menatap Yura dengan mata sedingin es. Pandangannya kemudian jatuh pada kalung di tangan Putri, ada goresan halus, sedikit rusak. Rahangnya mengeras. Benda itu ia jaga mati-matian untuk adiknya, simbol duka dan cinta yang tak tergantikan.
“Aku punya bukti.”
Satu kalimat itu memotong udara, semua kepala menoleh bersamaan.
Di ambang aula, seorang pria berdiri dengan setelan gelap, langkahnya mantap, sorot matanya tajam, dia Sky Alexander. Riuh rendah pecah, nama itu berbisik dari mulut ke mulut.
Hans mengerutkan kening saat melihatnya.
"Dia!”
“Aku punya semua bukti,” potong Sky tenang namun mengandung tekanan. “Termasuk bagaimana Nona Putri menjebak Yura.”
Bisik-bisik makin liar. Banyak yang saling pandang, penasaran, mengapa Sky membela Yura.
Putri tersentak, lalu berteriak, suaranya meninggi.
“Bukti apa, Tuan Sky? Tidak ada CCTV di sini!” Ia menunjuk Yura. “Aku melihat sendiri dia yang mengambilnya!”
Putri mendekat setengah langkah, senyumnya berubah kejam.
“Atau … apa dia juga naik ke ranjang Anda, Tuan Sky, sampai Anda membelanya? Seperti dia naik ke ranjang Tuan Arga?”
Kalimat itu menghantam seperti cambukan. Mata Sky menggelap seketika. Ia melangkah maju satu langkah, auranya berubah tajam dan berbahaya.
“Jaga ucapanmu,” katanya dingin. Tatapannya menusuk Putri tanpa ampun. “Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan.”
Hans bergerak refleks melindungi adiknya, namun Sky tidak mundur.
“Dan satu hal lagi,” lanjut Sky, suaranya rendah namun jelas, “jangan gunakan kebohongan murahan untuk menutupi kesalahan.”
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂