NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Perkumpulan Tanpa Mandat

Siang itu, Hongluo terasa lebih panas dari biasanya. Matahari berdiri tegak di puncak langit, menekan jalan tanah nan berdebu. Bayangan manusia memendek dan mengeras di bawah kaki, seolah siapa pun yang berjalan terlalu lama akan terpanggang perlahan. Bau kering tanah bercampur peluh menjadi sesuatu yang lumrah pada waktu itu.

Di ujung jalan menuju Selendang Merah, tiga orang nampak melawan sengatan matahari. Mereka berjalan perlahan, tidak tergesa, namun tidak pula santai. Kepala mereka tertunduk sedikit di bawah dou li, sebuah topi anyaman bambu lebar khas wilayah Lianzhou, biasa dipakai petani ataupun pedagang keliling. Tepi topi itu menutupi wajah hingga ke tulang pipi, menyisakan dagu dan garis mulut. Dari jauh, mereka tampak seperti warga desa biasa yang datang mencari minuman atau hiburan murah.

Namun jika dilihat dari dekat, kesan itu akan cepat berubah. Setiap langkah mereka terlalu rapi. Jarak antar kaki konsisten. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Setiap kali ada kereta kuda atau caravan lewat ataupun penjaga kota yang melintas, salah satu dari mereka akan sedikit menggeser posisi, bukan untuk menghindar, melainkan untuk melihat sudut jalan lain. Gerakan kecil, nyaris tak terlihat, tapi terlatih.

Yang berjalan di tengah adalah yang tertua. Tetua Feng, kira-kira enam puluh tahun usianya. Rambut putihnya disisir rapi dan diikat rendah di bawah dou li. Punggungnya lurus, tidak bungkuk. Tangannya terlipat di balik lengan jubah abu-abu lusuh, jari-jarinya tenang, tidak gemetar. Mata di balik bayangan topi tajam, dingin, jenis tatapan yang lebih banyak menimbang daripada menilai.

Di sebelah kirinya berjalan Zhang Lao, usia sekitar empat puluhan. Tubuhnya tegap, bahunya lebar. Di punggung tangannya tampak bekas luka lama, bekas sayatan yang sudah menutup tapi tak pernah sepenuhnya pudar. Ia terlihat seperti buruh angkut atau penjagal pasar, tapi cara ia menempatkan kaki saat berjalan menunjukkan keseimbangan yang terlatih.

Di kanan Tetua Feng, Liu Shi. Usianya paling muda, awal tiga puluhan. Tubuhnya ceking, jubahnya paling sederhana. Ia jarang menoleh, tapi matanya yang sipit, lebih tipis dari goresan tinta, bergerak cepat di balik bayangan dou li, mencatat wajah, arah angin, bahkan setiap langkah. Jika dua lainnya tampak seperti batu dan baja, Liu Shi adalah benang, nyaris tak terasa, tapi mematikan bila menjerat sesuatu.

Tidak satu pun dari mereka berbicara. Komunikasi terjadi lewat gerakan kecil seperti sentuhan jari di lengan, langkah yang diperlambat setengah detik, atau lewat tatapan mata. Mereka bukan sekadar pengelana. Mereka adalah Penolak Mandat Langit, cabang timur.

Perkumpulan Tanpa Mandat yang menolak tunduk pada pajak qi, penyerapan meridian, dan mandat Tianyuan. Mereka tidak membangun sekte besar, tidak mengibarkan panji. Mereka bergerak senyap, menyabotase gudang qi maupun gudang lainnya, merusak jalur distribusi, membocorkan informasi ke desa-desa terpencil, menyebarkan pamflet Bunga Malam Hitam dan menghilang sebelum nama mereka sempat dicatat.

Kematian Mo Wuxie mengguncang Tianyuan. Jalur komando di wilayah ini melemah. Gudang qi Hongluo kini dijaga oleh tangan-tangan baru yang belum sepenuhnya saling percaya. Itu sebabnya mereka datang.

Di depan Selendang Merah, langkah mereka berhenti bersamaan.

Bangunan itu berdiri tenang di tengah hiruk-pikuk Hongluo, fasadnya merah kusam, tidak mencolok, tapi bersih. Tirai pintu sedikit terbuka, memperlihatkan bayangan dalam ruangan.

Madam Luo sudah menunggu. Ia berdiri di ambang pintu, mengenakan jubah merah muda dengan sulaman sederhana. Rambutnya disanggul rapi, kipas lipat menutupi setengah senyumnya. Wajahnya ramah, profesional.

“Tuan-tuan petani.” Senyumannya manis meski panas menyengat. “Siang begini masih sempat mampir. Silakan masuk. Teh sudah disiapkan.”

Tetua Feng mengangguk singkat. “Terima kasih, Nyonya Luo.”

Tidak ada basa-basi tambahan. Mereka melangkah masuk. Dou li tetap terpasang, bahkan saat tirai ditutup dan suara jalanan teredam di belakang mereka.

Di sisi lain jalan, dua penunggang kuda melambat. Li Shen menarik kendali sedikit, kuda hitamnya berhenti di area terbuka tak jauh dari Selendang Merah, tempat umum yang biasa dipakai warga sekitar untuk menambatkan kuda. Hua’er turun lebih dulu, gerakannya kembali gesit seperti dulu.

Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, teriakan super berisik terdengar dari belakang.

“Hei! Kalian dari mana saja?” Luo Pang melambaikan tangan lebar-lebar sambil berjalan cepat menghampiri. Keringat mengalir di pelipisnya, napasnya agak terburu-buru. “Madam sudah menunggu. Katanya hari ini ada tamu penting.”

Li Shen melepaskan tali kekang, menambatkan kudanya dengan gerakan singkat. “Kami hanya ada urusan kecil.”

Hua’er hanya mengangguk, tidak menambah penjelasan.

Luo Pang mendengus, tapi tidak memaksa ataupun berpikir yang aneh-aneh. “Cepatlah! Sebelum Madam mengurangi porsi makan siangku.”

Ruang rapat berada di bagian terdalam Selendang Merah. Pintu kayu ditutup rapat. Tirai tebal menahan panas dan suara luar. Di dalam, udara lebih sejuk, wangi teh hangat dan makanan ringan memenuhi ruangan.

Tetua Feng, Zhang Lao, dan Liu Shi sudah duduk mengelilingi meja rendah. Dou li mereka kini diletakkan di samping kursi, memperlihatkan wajah-wajah yang lelah namun waspada. Adapun Madam Luo duduk di hadapan mereka, kipasnya kini tertutup.

Li Shen dan Hua’er masuk menyusul. Luo Pang berdiri di dekat pintu, sementara Mei Lan mondar-mandir, menuangkan teh, menyusun piring kecil berisi kudapan, tangannya cekatan meski matanya sesekali melirik ke arah tamu asing. Tidak ada pelayan lain hari ini, hanya mereka yang terlihat.

Tetua Feng mengangkat cangkirnya, menghirup aroma teh sebelum bicara. “Waktu Tianyuan sedang goyah.” Memicingkan mata ke tumpukan kudapan nan menggoda lidah. “Gudang qi Hongluo menyimpan cadangan besar. Jika jalurnya runtuh, tekanan mandat di wilayah ini akan lebih longgar.”

Madam Luo tersenyum tipis. “Selendang Merah juga selalu tertarik pada peluang.”

Li Shen diam, tapi matanya mengamati setiap wajah di ruangan itu. Sementara di sudut, Hua’er duduk tenang, tangan di pangkuan. Wajahnya datar, namun di balik ketenangan itu, sesuatu bergerak perlahan, nama yang pernah dihapus, dendam yang belum selesai, dan sebuah pilihan yang mulai mendekat.

1
MuhFaza
bagus. lanjutkan
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!