"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Penyelamat Tampan yang Mendominasi
Suster Mia melangkah perlahan mendekati Alana. Jantung Alana berdegup kencang.
Campuran antara rasa takut dan gugup menjadi satu saat tangan Suster Mia hampir menyentuh plester di lehernya.
Sorot mata Suster Mia begitu tajam, seolah ingin membedah kebohongan Alana.
"Aku jadi penasaran, serangga macam apa yang bisa menggigit hingga meninggalkan bekas sampai harus ditutupi plester medis begitu rapi, Alana?"
"Atau... jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu? Ingat, jangan sampai perilaku kamu merusak reputasi rumah sakit!" ucap Suster Mia mengintimidasi.
Alana menelan ludah susah payah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Itu... anu Sus, ini karena bekas gigitan serangga yang... sangat langka! Iya, serangganya sangat besar dan sepertinya beracun," jawab Alana asal.
"Makanya tadi saya minta bantuan pasang plester agar tidak infeksi. Kan bahaya kalau saya kenapa-napa, Suster pasti kesepian tidak ada teman debat," lanjut Alana ngawur.
"Jangan mengada-ada! Sini biar saya cek lukanya, wajah kamu tidak meyakinkan!" sahut Suster Mia tidak percaya.
"Kalau ini beneran serangga beracun, harus segera dilaporkan ke IGD!"
Suster Mia menarik tangan Alana kuat, memaksanya diam di tempat seperti tersangka.
Aduh, tamatlah riwayatku! Kalau kata Upin-Ipin, tamatlah sudah alkisah kami... tamat beneran! batin Alana panik.
Ia memejamkan mata saat tangan Suster Mia mulai meraih plester di lehernya.
Cemoohan rekan kerja hingga ancaman dipecat sudah terbayang di benaknya. Alana benar-benar pasrah.
Namun, tepat sebelum plester itu terlepas, sebuah suara berat yang familiar menggelegar dari belakang.
"Suster Mia, apa yang Anda lakukan?!"
Suara itu tajam dan dingin, membelah udara koridor yang mendadak sunyi. Dokter Raden muncul layaknya pahlawan di saat kritis.
"Anda tidak bisa berbuat seenaknya kepada asisten pribadi saya! Anda sangat keterlaluan, Suster!" tegas Dokter Raden.
Suara penuh wibawa itu menggelegar seperti petir, sekaligus menggetarkan hati Alana.
Suster Mia serentak menoleh dengan tubuh kaku.
Dokter Raden berdiri gagah dengan tangan di saku jubah putihnya. Wajahnya datar, namun ketampanannya terlihat lebih berbahaya saat sedang marah.
"Eh, ada Dokter Raden..." Suster Mia seketika berubah haluan. Ia menatap Raden dengan pandangan memuja yang genit.
"Ini loh Dok, saya hanya ingin memastikan luka Alana agar tidak menular. Tidak salah kan kalau saya perhatian?" jawab Suster Mia dengan suara mendayu.
Raden tidak menjawab dengan kata manis. Ia melangkah maju dengan gerakan tegas dan posesif.
Ia menarik tubuh mungil Alana agar berdiri di sampingnya, menegaskan siapa "pemilik" wilayah di sana.
"Anda tadi bertanya siapa yang memasang plester itu, kan?" tanya Raden dengan suara rendah yang menekan.
"Saya orangnya. Saya sendiri yang menanganinya karena Alana mengalami reaksi alergi serius. Apa Anda meragukan diagnosa saya, Suster Mia?"
Wajah Suster Mia berubah pucat pasi.
"Ti-tidak, maksud saya bukan begitu Dok. Mana mungkin saya meragukan Dokter Raden? Maafkan saya," ucapnya terbata-bata.
Ia langsung pergi dengan langkah seribu tanpa berani menoleh lagi.
Alana baru bisa bernapas lega. Ketegangan yang mencekik perlahan memudar, digantikan rasa syukur.
"Hufffffft.... hampir saja saya serangan jantung, Dok! Dokter bener-bener penyelamat tapi juga pembawa sial!" omel Alana sambil mencoba melepaskan rangkulan Raden.
Bukannya melepaskan, Raden justru menarik Alana kembali dengan lebih kuat dan membawanya masuk ke lift.
Ia menekan tombol lantai paling atas, area VVIP yang sunyi seperti kuburan.
"Dokter! Kita mau ke mana lagi? Saya belum makan siang dan lapar!" protes Alana kesal.
Raden tidak menjawab. Begitu pintu lift tertutup, ia langsung memojokkan Alana di sudut lift yang sempit.
"Makan siangnya bisa ditunda nanti, Sayang. Aku belum selesai memberi pelajaran karena kamu berani menyebutku pembawa sial," bisik Raden serak.
Alana terkesiap saat tangan besar Raden menyentuh pinggangnya, menarik tubuh mereka hingga menempel tanpa celah.
Raden membenamkan wajahnya di leher Alana yang tidak tertutup plester.
Ia memberikan kecupan-kecupan kecil yang menuntut, membuat tubuh Alana kembali bergetar hebat.
"Dok... jangan di sini.... nanti kalau ada yang masuk?" rintih Alana lirih.
Tangannya mencoba mendorong bahu tegap Raden, tapi kekuatannya hilang entah ke mana.
"Tenang saja Sayang, lift ini sudah kuatur agar tidak berhenti di lantai lain," bisik Raden, membuat bulu kuduk Alana meremang.
Raden mengangkat tubuh mungil Alana, mendudukkannya di atas pegangan besi lift yang kuat.
Alana refleks melingkarkan kakinya di pinggang Raden agar tidak terjatuh.
"Katakan... kamu milik siapa, Sayang?" bisik Raden dengan napas memburu.
"Milik... Dokter Raden...." jawab Alana pasrah. Ia terlanjur tenggelam dalam pesona sang Iblis Tampan.
Raden tersenyum puas. Ia memberikan satu gigitan kecil tapi lembut, sebelum akhirnya melepaskan ciuman karena lift sudah sampai.
Ia menurunkan Alana dan merapikan seragam gadis itu dengan sangat lembut.
"Anak pintar. Sekarang kamu boleh pergi makan, asistenku sayang." Raden mengelus pipi gembul Alana.
"Tapi ingat, nanti malam kamu harus ada di mejaku dengan laporan pasien VVIP. Jika kamu terlambat...."
Raden sengaja menggantung ucapannya sambil menatap bibir Alana yang memerah.
Alana mengangguk pasrah. Begitu pintu lift terbuka, ia segera berlari keluar secepat kilat.
Ia merasa hidupnya kini di antara surga dan neraka. Namun anehnya, di balik rasa takut, ia justru merasa baper dan tidak sabar menantikan "denda" selanjutnya.
"Dasar dokter gila! Kau benar-benar merenggut kewarasanku, aku sudah seperti pasien RSJ!" batin Alana dengan wajah semerah kepiting rebus.
Sepanjang jalan menuju kantin, Alana tak berhenti tersenyum seperti orang gila. Ia bahkan tidak sadar telah menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat di sekitarnya.
*******
Catatan Penulis:
Duh, Dokter Raden makin ke sini makin nggak ada obat ya! Kasihan Alana sampai dikurung di lift begitu.
Menurut kalian, denda apa lagi ya yang bakal dikasih si Iblis Tampan ini buat Alana nanti malam? 👀
Jangan lupa tinggalkan jejak lewat komen, like, dan kasih rating Bintang 5 ya! Dukungan kalian adalah semangatku buat lanjut ke bab denda selanjutnya! ❤️