Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Strategi di Meja Batu
Markas Legiun Terbuang bukanlah tempat yang nyaman. Terletak di dalam gua raksasa di balik air terjun beku, tempat itu berbau asap kayu basah, daging bakar setengah matang, dan keringat ratusan prajurit yang telah lama melupakan kemewahan mandi air hangat. Namun, bagi Valerius, tempat ini memiliki aroma yang paling dirindukannya: aroma loyalitas yang jujur.
Di tengah gua, sebuah lempengan batu vulkanik datar dijadikan meja strategi. Peta wilayah Obsidiana yang digambar kasar di atas kulit rusa terhampar di sana, ditindih oleh belati-belati berkarat sebagai penanda posisi.
Ia merasa terbebani namun tajam. Di sekeliling meja itu berdiri para kapten Legiun—pria dan wanita dengan wajah penuh parut luka yang menatapnya dengan campuran harapan dan keraguan. Di sampingnya, berdiri Aethela. Sang Ratu tidak mengenakan mahkota; ia mengenakan tunik kulit pinjaman yang kebesaran dan rambut peraknya diikat praktis ke belakang. Namun, mata ungunya menatap peta dengan intensitas yang membuat para veteran perang itu segan.
"Situasinya buruk," gerutu Jenderal Thorne, menunjuk ke titik merah di peta yang menandai Benteng Obsidian. "Krow telah mengaktifkan Shadow Cannons (Meriam Bayangan) di sepanjang tembok pertahanan. Senjata itu dirancang untuk menembak jatuh naga dari jarak tiga mil. Jika kita menyerang lewat udara dengan para Drake liar, kita akan menjadi hujan daging cincang sebelum mencapai gerbang."
"Bagaimana dengan jalur darat?" tanya Valerius, menyilangkan tangannya di dada.
"Jembatan utama telah dihancurkan oleh Alaric," jawab seorang kapten wanita bernama Vera, yang memiliki satu tangan mekanik terbuat dari tulang. "Satu-satunya akses adalah melalui Gerbang Kematian di sisi utara, tapi itu jalan setapak sempit yang hanya bisa dilewati dua orang berjejer. Mereka bisa menahan ribuan pasukan kita hanya dengan sepuluh pemanah di sana."
Keheningan yang berat menyelimuti meja batu itu. Valerius menatap peta itu, otaknya berputar mencari celah. Obsidiana dibangun untuk tidak bisa ditembus. Ironisnya, pertahanan yang dulu ia banggakan kini menjadi mimpi buruknya sendiri.
"Kita tidak bisa menang dengan serangan frontal," gumam Valerius. "Jumlah kita kalah lima banding satu. Dan persenjataan mereka jauh lebih canggih."
"Jadi apa rencanamu, Pangeran?" tanya Thorne sinis. "Menunggu sampai mereka mati karena bosan?"
Aethela mendengarkan setiap laporan dengan seksama. Ia bukan ahli strategi militer seperti Valerius atau Thorne, tapi ia memiliki satu keunggulan yang tidak mereka miliki: ia pernah menjadi "tamu" yang mempelajari musuh dari dalam, dan ia adalah seorang Vespera—bangsa yang menciptakan dasar sihir pertahanan Obsidiana ratusan tahun lalu.
Ia merasa percaya diri. Rasa takut yang dulu melumpuhkannya kini telah bertransformasi menjadi kalkulasi dingin. Ia melangkah maju, jarinya yang ramping menunjuk ke arah Shadow Cannons di peta.
"Meriam-meriam ini," kata Aethela, suaranya tenang namun memotong perdebatan para pria. "Mereka ditenagai oleh Ley Lines (Jalur Sihir) yang terhubung langsung ke Jantung Gunung, bukan?"
Thorne menatapnya dengan alis terangkat. "Benar. Jadi kenapa?"
"Saat aku memurnikan Jantung Gunung bersama Valerius," lanjut Aethela, menatap Valerius sekilas, "aku mengubah frekuensi sihirnya. Meriam-meriam itu masih disetel untuk menerima energi gelap yang korup. Tapi sekarang, energi yang mengalir di gunung ini adalah energi murni—campuran cahaya dan bayangan."
Mata Valerius melebar, menyadari ke mana arah pembicaraan ini. "Jika mereka mencoba menembakkan meriam itu dengan kekuatan penuh..."
"...meriam itu akan overload," sambung Aethela, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum licik. "Energi murni itu akan bertabrakan dengan mekanisme korup meriam. Mereka tidak akan meledakkan kita. Mereka akan meledak di wajah mereka sendiri."
Para kapten Legiun saling berpandangan. Thorne mengelus janggutnya yang dikepang, menatap Aethela dengan rasa hormat baru.
"Teorimu menarik, Ratu Kecil," kata Thorne. "Tapi untuk memicu overload itu, seseorang harus memancing mereka untuk menembak dengan kekuatan penuh secara serentak. Siapa yang cukup gila untuk menjadi umpan?
"Aku," kata Valerius tanpa ragu.
"Tidak!" Aethela menyela cepat, tangannya mencengkeram lengan Valerius.
Valerius menoleh, menatap Aethela dengan lembut namun tegas. "Ini satu-satunya cara, Aethel. Aku satu-satunya yang bisa terbang cukup cepat dan memiliki perisai bayangan yang cukup kuat untuk bertahan dari tembakan pertama. Jika aku memancing tembakan mereka, kau dan Thorne bisa memimpin pasukan darat masuk melalui celah ledakan tembok."
Ia benci rencana ini. Ia benci harus berpisah dari Aethela di medan perang. Namun, sebagai pemimpin, ia tidak bisa meminta orang lain melakukan tugas bunuh diri ini.
"Kau tidak akan terbang sendirian," kata Thorne tiba-tiba. "Aku akan menyiapkan skuadron penunggang Drake terbaikku untuk mengalihkan perhatian pemanah."
Aethela tampak ingin membantah, tapi ia melihat tekad di mata Valerius. Hubungan batin mereka mengirimkan gelombang emosi Valerius: Percayalah padaku. Aku tidak akan mati. Aku punya alasan untuk pulang sekarang.
Aethela menghela napas panjang, lalu mengangguk kaku. "Baiklah. Tapi jika kau mati, Valerius, aku akan membangkitkanmu lagi hanya untuk membunuhmu sendiri."
Valerius tertawa kecil, mencairkan ketegangan di ruangan itu. "Catatan diterima."
Rencana ditetapkan. Serangan akan dilakukan saat fajar menyingsing, momen di mana sihir bayangan paling lemah dan sihir cahaya Aethela paling kuat.
Malam itu, kamp Legiun sibuk dengan persiapan perang. Suara asahan pedang dan dengkuran naga mengisi udara. Aethela duduk di tepi tebing di luar gua, memandang ke arah selatan di mana kilatan cahaya sihir dari Benteng Obsidian terlihat samar di kejauhan.
Valerius datang dan duduk di sampingnya, menyerahkan sepotong daging rusa bakar.
"Makanlah," kata Valerius. "Kau butuh tenaga untuk besok."
Aethela menerima makanan itu, tapi tidak memakannya. "Valerius, bagaimana jika Alaric menggunakan sandera? Ayahmu... dia masih di sana."
"Ayahku adalah Raja Naga," jawab Valerius datar, matanya menatap kejauhan. "Dia lebih memilih mati daripada dijadikan alat tawar-menawar. Yang aku khawatirkan bukan ayahku. Yang aku khawatirkan adalah kau."
Valerius menggeser duduknya, merangkul bahu Aethela. "Besok, saat kau memimpin pasukan darat, kau akan menjadi target utama mereka. Alaric menginginkanmu kembali hidup-hidup, tapi Krow ingin kau mati. Jangan ragu, Aethela. Gunakan Api Pertama. Bakar siapa pun yang mencoba menyentuhmu."
"Aku tidak takut membunuh untuk melindungi kita," kata Aethela pelan. Perubahannya dari putri yang polos menjadi ratu perang terasa nyata. "Tapi aku takut kehilangan kemanusiaanku dalam prosesnya."
Valerius meraih tangan Aethela, mencium punggung tangannya tepat di atas cincin sihir mereka. "Kau tidak akan kehilangan itu. Karena akulah yang akan menanggung dosa pembunuhan itu. Kau bawalah cahayanya, biar aku yang menjadi bayangannya."
Tiba-tiba, seorang pengintai berlari mendekat, napasnya tersengal.
"Pangeran! Ratu! Ada berita dari mata-mata kita di dalam benteng!"
Valerius berdiri seketika, menarik Aethela bersamanya. "Laporan!"
Pengintai itu membungkuk. "Pangeran Alaric... dia berencana melakukan eksekusi publik besok siang. Tapi bukan Raja Malakor yang akan dieksekusi."
Wajah Valerius mengeras. "Siapa?"
"Para pelayan yang setia padamu, Pangeran. Termasuk... dayang dari Solaria yang bernama Lady Elara."
Aethela tersentak, tangannya menutup mulut. Elara. Satu-satunya teman dan pelayannya dari rumah, yang ikut bersamanya ke Obsidiana. Ia pikir Elara sudah dipulangkan, tapi ternyata dia ditahan.
Rasa bersalah berubah menjadi kemarahan yang membara. Alaric tahu persis cara menyakitinya. Dia menggunakan orang-orang yang tidak bersalah untuk memancing emosi Aethela.
"Dia ingin memancingku keluar," desis Aethela, matanya menyala perak berbahaya.
"Dan dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan," sahut Valerius, suaranya dingin dan mematikan. "Tapi dia tidak akan menyukai apa yang datang bersamamu."
Valerius berbalik menghadap pasukannya yang sedang berkumpul di belakang mereka, tertarik oleh keributan itu. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Api Pertama di dalam darahnya merespons, membuat bilah pedang itu menyala dengan api putih.
"Dengarkan aku, Legiun!" teriak Valerius, suaranya menggema di lembah. "Mereka mengancam keluarga kita! Mereka menyandera yang tak bersalah! Besok, kita tidak hanya merebut kembali benteng. Besok, kita akan menghapuskan nama 'Pemberontak' dari sejarah Obsidiana!"
Sorak sorai prajurit dan raungan naga menjawab panggilannya.
Aethela berdiri di samping Valerius, merasakan gelombang kekuatan yang menyatukan mereka semua. Tidak ada lagi keraguan. Strategi di meja batu telah berubah menjadi sumpah darah. Besok, salju putih Forbidden Wilds akan memerah, dan Aethela bersiap untuk menjadi Ratu yang ditakuti oleh kakaknya sendiri.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...