Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 – Waktu yang Hampir Terlewat
Yukito berhenti melangkah di ujung lorong lantai atas gedung lama kampus. Lorong itu sepi, hanya suara langkah kaki mereka yang bergema pelan.
“Di sini,” katanya singkat sambil membuka pintu kayu yang jarang digunakan.
Airi mengintip ke dalam. Ruangan itu kecil, berisi rak-rak buku lama dan satu jendela besar yang menghadap ke barat. Cahaya sore masuk tanpa terhalang, membuat debu-debu halus berkilau di udara.
“Ini ruang baca lama,” lanjut Yukito. “Jarang ada yang ke sini.”
Airi mengangguk pelan. Ia suka tempat seperti ini—sunyi, tidak menuntut apa-apa darinya.
Mereka duduk di lantai, bersandar pada rak buku. Yukito mengeluarkan beberapa komik dari tasnya.
“Kamu suka genre apa?” tanyanya.
“Apa aja,” jawab Airi jujur. “Selama ceritanya tenang.”
Yukito menyerahkan satu komik padanya. Mereka membaca berdampingan, tanpa banyak bicara. Hanya suara halaman yang dibalik perlahan.
Waktu berjalan tanpa mereka sadari.
Sesekali Airi tersenyum kecil, sesekali Yukito melirik ke arahnya, memastikan ia menikmati cerita itu. Tidak ada percakapan panjang, tapi kehadiran satu sama lain terasa cukup.
Cahaya matahari perlahan berubah warna. Jingga yang hangat bergeser menjadi kemerahan, lalu mulai memudar.
Airi menutup komiknya pelan.
“Eh…” Ia melirik ke jendela. “Sudah sore.”
Yukito ikut menoleh, lalu melihat jam di ponselnya. “Oh.”
Nada suaranya terdengar sedikit menyesal, seolah ia baru sadar waktu bergerak terlalu cepat.
Airi berdiri dengan tergesa. “Aku harus pulang sekarang.”
“Kenapa?” tanya Yukito refleks.
Airi menggenggam tasnya erat. “Kalau pulang terlalu malam… ibuku bisa marah.”
Kalimat itu keluar begitu saja, seperti sesuatu yang sudah sering ia ucapkan.
Yukito terdiam sejenak. “Maaf. Aku nggak sadar waktunya.”
“Nggak apa-apa,” kata Airi cepat. “Aku juga lupa waktu.”
Mereka merapikan komik dan mengembalikannya ke rak. Langkah Airi terdengar lebih cepat dari sebelumnya, ada kegelisahan di setiap gerakannya.
Di depan pintu ruangan, ia berhenti.
“Makasih,” katanya sambil menunduk sedikit. “Aku senang.”
Yukito tersenyum kecil. “Kalau lain kali… kita bisa lanjut. Lebih awal.”
Airi mengangguk. “Iya.”
Ia bergegas menyusuri lorong, meninggalkan Yukito yang masih berdiri di depan pintu ruangan itu, memandangi cahaya senja terakhir yang hampir hilang.
Airi sampai di rumah dengan napas masih sedikit tersengal. Lampu ruang tamu sudah menyala.
“Kamu dari mana?” suara ibunya terdengar begitu Airi melepas sepatu.
“Perpustakaan, Bu,” jawabnya pelan.
Ibunya menatap jam dinding. “Sudah hampir malam. Lain kali jangan sampai selarut ini.”
“Iya, Bu. Maaf.”
Airi masuk ke kamarnya dan menutup pintu perlahan. Ia duduk di tepi kasur, mengeluarkan ponsel.
Ada satu pesan masuk.
Airi menatap layar ponselnya.
Ren:
Airi, kamu di mana?
Airi menghela napas pelan. Ia belum sempat menjawab, jarinya menggantung di atas layar.
Beberapa detik berlalu.
Lalu satu pesan lagi muncul.
Ren:
Kamu sudah pulang?
Airi menelan ludah. Ia masih duduk di tepi kasur, seragam kampusnya belum diganti, pikirannya masih tertinggal di ruangan sunyi sore tadi.
Ia mulai mengetik.
Airi:
Aku—
Belum sempat mengirim, layar ponselnya berubah.
Panggilan masuk.
Nama Ren bergetar di layar.
Airi terdiam sejenak, lalu mengangkatnya.
“Ren…”
“Kamu habis dari mana?” suara Ren terdengar cepat, jelas menahan cemas. “Aku chat dari tadi.”
“Maaf,” jawab Airi pelan. “Aku baru sampai rumah.”
“Jam segini?” Ren menghela napas panjang. “Kamu ke mana aja?”
“Ke perpustakaan,” jawab Airi jujur.
Hening sebentar di seberang.
“Sama siapa?” tanya Ren.
Airi menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. “Teman.”
“Teman siapa?” Ren mendesak, nadanya tidak tinggi, tapi cukup tajam untuk membuat Airi merasa bersalah.
“…Yukito.”
Nama itu membuat Ren terdiam lebih lama.
“Kamu nggak bilang apa-apa,” akhirnya Ren berkata. “Aku kira kamu sudah di rumah dari tadi.”
“Aku nggak sadar waktunya,” Airi menunduk. “Kami baca komik.”
Ren menghembuskan napas pelan, seolah mencoba menurunkan emosinya sendiri. “Airi… lain kali kabarin Ibu.”
“Aku tahu,” jawab Airi cepat. “Maaf.”
Keheningan kembali turun di antara mereka. Bukan keheningan yang nyaman—melainkan yang penuh perasaan yang tidak diucapkan.
“Aku cuma khawatir,” kata Ren akhirnya, suaranya lebih rendah. “Kamu tahu itu.”
“Iya,” Airi menjawab lirih.
“Aku nggak marah,” lanjut Ren. “Cuma… jangan hilang tanpa kabar.”
Airi memejamkan mata. “Iya, Ren.”
“Sekarang kamu sudah di rumah, kan?”
“Iya.”
“Baik.” Ren menghela napas sekali lagi. “Istirahatlah.”
Telepon terputus.
Airi menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa penuh—bukan karena dimarahi, tapi karena rasa bersalah yang selalu muncul setiap kali Ren mengkhawatirkannya.
Ia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Di satu sisi, ada ketenangan dari sore yang ia habiskan bersama Yukito.
Di sisi lain, ada Ren—yang selalu ada, selalu menjaga, bahkan ketika Airi tidak memintanya.
Waktu memang hampir terlewat sore itu.
Dan tanpa Airi sadari,
Malam itu, Airi tidak sempat memikirkan apa pun lebih lama.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur, rasa lelah langsung mengambil alih. Kaki yang sore tadi bergegas menyusuri lorong kampus, napas yang tertahan karena takut pulang terlalu malam, dan pikiran yang belum benar-benar tenang—semuanya menumpuk.
Lalu ia tertidur tanpa mengganti baju.
Lampu kamar masih menyala.
Pagi datang terlalu cepat.
“Airi—!”
Suara ibunya terdengar dari dapur.
Airi terbangun dengan kaget. Ia duduk tegak, matanya langsung mencari jam.
“—?!”
Jam menunjukkan waktu yang membuat jantungnya hampir jatuh.
“Astaga—!”
Ia bangkit, berlari ke kamar mandi, rambutnya masih berantakan, tas disambar tanpa dicek isinya. Sepatunya nyaris tertukar. Nafasnya sudah terengah sebelum ia keluar rumah.
“Airi, sarapan—!”
“Nanti aja, Bu!”
Ia berlari.
---
Halte bus pagi itu penuh. Airi berdiri di pinggir, memeluk tasnya, menatap jalan dengan gelisah. Bus belum datang. Jam di ponselnya terus berjalan.
“Telat… telat… telat…”
Tiba-tiba suara mesin motor memecah keramaian.
Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depannya.
“Airi.”
Ia menoleh.
“Haruto?”
Helm di tangan Haruto masih tergantung santai. Jaketnya setengah terbuka, rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumnya—seperti biasa—terlalu percaya diri.
“Kamu mau ke kampus?” tanyanya.
Airi ragu. “Aku… iya. Tapi—”
“Naik,” potong Haruto ringan. “Bus nggak bakal datang cepet.”
Airi menelan ludah. Motor itu besar. Jalannya pasti cepat.
“Aku… agak takut.”
Haruto menatapnya sekilas, lalu menurunkan nada suaranya. “Aku pelan. Janji.”
Beberapa detik terasa panjang.
Lalu Airi mengangguk kecil. “Baik.”
Ia naik, tangannya mencengkeram jaket Haruto dengan hati-hati. Mesin meraung, motor melaju—lebih cepat dari bus, tapi tidak secepat yang ia bayangkan.
Angin pagi menerpa wajahnya.
Jantungnya berdegup kencang, tapi… ia sampai tepat waktu.
Haruto menghentikan motor di depan gerbang kampus.
“Turun hati-hati,” katanya.
Airi melepas helm, napasnya masih belum stabil. “Makasih… serius. Kalau nggak ada kamu, aku pasti telat.”
Haruto tersenyum kecil. “Sama-sama.”
Airi membungkuk sopan, lalu berlari kecil masuk ke area kampus.
- - -
“Airi!”
Hinami melambaikan tangan dari dekat gedung seni.
“Kamu selamat,” katanya datar.
“Nyaris nggak,” Airi terkekeh kecil.
Haruto ikut mendekat, menyandarkan motor.
Hinami menoleh padanya. “Haruto, aku pinjam Airi ya.”
Haruto mengangguk refleks. “Oh, iya—”
“Sudah bilang ke Ren juga,” tambah Hinami tenang.
Kalimat itu membuat Haruto tertegun.
“…Ren?” alisnya mengerut. “Ren itu bapaknya Airi?”
Airi langsung membeku.
Hinami berkedip. “Bukan.”
“Terus kenapa perlu izin segala?” Haruto mendengus kecil, jelas kesal. “Airi kan—”
“Sudah-sudah,” potong Airi cepat sambil tersenyum canggung. “Kalau dilanjutin nggak ada selesai-nya.”
Ia menoleh ke Haruto. “Aku pergi dulu sama Hinami ya. Makasih lagi.”
Haruto hanya diam, menatap Airi berjalan menjauh.
Mesin motornya belum dinyalakan.
Ia sadar—
ia juga bisa khawatir.
Tapi ia bukan siapa-siapa.
- - -
Studio musik kampus tidak ramai.
Kamera dipasang, lampu dinyalakan. Airi duduk di kursi kecil, Hinami berdiri di belakang kamera, memeriksa angle.
“Ini cuma video perkenalan karakter,” kata Hinami. “Santai aja.”
Airi mengangguk. “Oke.”
Belum sempat mulai, ponsel Hinami berbunyi.
“Oh,” katanya setelah membaca pesan. “Kelas pagi dibatalkan. Dosennya kejebak macet.”
Airi terdiam. “…Serius?”
Hinami mengangguk.
Airi tertawa kecil, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Percuma ya tadi aku kebut-kebutan.”
Hinami menatapnya datar. “Iya.”
Lampu kamera menyala.
“Siap?” tanya Hinami.
Airi mengangguk, menarik napas.
Di balik layar, pagi itu dimulai dengan kelelahan, tumpangan yang tak terduga, dan perasaan-perasaan yang belum punya nama.
Dan entah kenapa,
semuanya terasa baru saja dimulai.
bukan hanya waktu yang berjalan terlalu cepat—
tapi juga perasaan-perasaan yang mulai saling bersinggungan,
pelan, namun tak terhindarkan.