Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Langit senja masih membekas dalam benak Liana saat ia melangkah ke arah rumahnya.
Aroma laut masih melekat di rambut Liana dan kulitnya masih terasa hangat sisa-sisa matahari pantai yang baru ia tinggalkan.
Liburan singkat bersama teman-temannya adalah pelarian kecil dari rutinitas yang selama ini membungkus hidupnya.
Ia berjalan ke arah teras dan Liana melihat sepatu pria yang sangat ia kenali modelnya.
Langkahnya sempat terhenti dengan jantungnya yang berdegup kencang oleh sebuah firasat.
"Assalamualaikum Pa, Ma. Aku pulang." ucap Liana yang kemudian masuk ke ruang tamu dan melihat kedua orang tuanya sedang duduk di kursi tamu.
“Wa'alaikumsalam, Liana. Duduklah disini sebentar, ya,” ucap Mama Prameswari.
Liana melangkah masuk dan matanya seketika berbinar.
Di hadapan Papa Habibie, duduk seorang pria dengan bahu tegap dan tatapan mata yang teduh namun tajam.
“Paman Abi!” seru Liana spontan.
Tanpa mempedulikan suasana serius di ruangan itu, Liana berlari kecil dan langsung memeluk pria itu dengan erat.
Paman Abi adalah sosok yang sangat ia rindukan.
Ia masih ingat betul bagaimana saat kecil dulu, Paman Abi selalu menggendongnya di pundak, membelikannya es krim dan Liana kecil selalu merengek manja sambil berkata,
“Aku kalau sudah besar mau menikah sama Paman Abi saja!”
Paman Abi hanya tersenyum tipis, membalas pelukan itu sekilas sebelum perlahan melepaskannya.
“Kamu sudah besar sekarang, Liana,” ucapnya dengan suara berat yang menenangkan.
Liana duduk di samping mamanya dengan wajah berseri-seri, namun senyum itu perlahan memudar saat melihat wajah Papa Habibie yang luar biasa serius.
“Ada apa, Ma, Pa? Tumben Paman Abi datang malam-malam?”
Papa Habibie menarik napas panjang dan menjawab pertanyaan dari putrinya.
“Liana, Papa dan Paman Abi sudah membicarakan ini sejak lama. Kami ingin menjodohkanmu dengan Abi.”
Liana terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari Papa Habibie.
Perkataan yang dulu sering ia ucapkan sebagai candaan masa kecil, kini menghantamnya sebagai kenyataan yang berat.
“Menikah? Tapi aku baru pulang liburan, Pa. Dan bukankah Paman Abi sudah.....”
Liana melirik Paman Abi. Pria itu tetap tenang, namun sorot matanya menyimpan beban.
“Liana, aku tidak ingin memaksamu. Tapi aku perlu jujur sejak awal kalau aku sudah memiliki istri. Kamu tahu itu, bukan?”
Dunia Liana seakan runtuh seketika dan senyumnya hilang saat mendengar perkataan Abi.
“Tante Genata?” gumamnya lirih menyebut nama istri Abi yang ia tahu sangat cantik dan lembut.
Paman Abi mengangguk pelan sambil menatap wajah Liana.
“Genata dan aku sudah bertahun-tahun menikah, tapi kami belum dikaruniai anak. Genata sendiri yang meminta ini. Ia sudah merestuiku untuk menikah lagi dengannmu demi garis keturunan keluarga kami. Dan orang tuamu juga menyetujuinya.”
Liana memandang kedua orang tuanya dengan tatapan tak percaya.
“Jadi, aku akan menjadi istri kedua? Paman ingin menjadikanku madu dari Tante Genata?”
Papa Habibie menggenggam tangan Liana yang sudah menunjukkan rasa tidak terima.
“Liana dengarkan Papa dulu, ini tentang balas budi, Nak. Saat perusahaan Papa hampir hancur, Abi yang mempertaruhkan segalanya untuk menolong kita. Ini janji yang harus ditepati.”
“Tapi aku bukan pengganti rahim!” bisik Liana tajam, air matanya mulai menggenang.
“Aku memang menyayangi Paman Abi, tapi bukan seperti ini caranya!”
Liana bangkit dari duduknya dan ia berlari menuju kamarnya dan membanting pintu.
Di dalam kamar, ia ambruk di tepi ranjang sambil menangis.
Kenangan ia digendong Paman Abi saat kecil kini terasa seperti duri yang menusuk hatinya.
Tak lama setelah Liana masuk ke kamarnya, Papa Habibie dan Mama Prameswari mengetuk pintu kamarnya.
“Liana, Papa mohon jangan permalukan Papa,” ucap Papa Habibie dengan suara serak.
“Ini tentang harga diri dan janji. Menikahlah dengan Abi.”
“Aku tidak ingin jadi istri kedua, Pa! Dan aku ingin hidup ku sendiri!" teriak Liana.
Suasana menjadi sangat tegang dan terdengar suara tangisan Liana.
Ia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orang tuanya yang memaksanya untuk menikah dengan Abi.
Papa Habibie menatap wajah istrinya dengan wajah yang sedih.
“Ahh…!”
Papa Habibie memegangi dadanya dengan wajah pucat pasi.
Suara rintihan itu membuat Liana terkejut dan Liana langsung membuka pintu kamarnya.
“Papa!!” jerit Liana.
Brugh!
Tubuh Papa ambruk ke lantai sampai membuat Mama Prameswari menjerit histeris.
Liana langsung menghambur ke lantai, memeluk tubuh ayahnya yang tak bergerak.
“Papa! Bangun, Pa! Aku minta maaf! Aku nggak akan membantah lagi permintaan Papa.
Abi yang mendengar suara gaduh dan langsung menghampiri mereka.
Ia melihat Papa Habibie yang tergeletak pingsan di lantai.
Dengan sigap, ia memeriksa denyut nadi Papa Habibie dan segera mengeluarkan ponselnya.
“Ambulans secepatnya! Serangan jantung!” perintahnya tegas ke seberang telepon.
Suasana di rumah itu seketika berubah menjadi hiruk-pikuk yang mencekam.
Suara sirine ambulans yang semakin mendekat meraung-raung, membelah kesunyian malam dan menambah debaran jantung Liana yang tak beraturan.
Abi berdiri dengan tenang sambil memegang pundak Liana yang masih terisak di lantai.
"Liana, lebih baik kamu ganti pakaian dulu sebelum tim medis masuk ke rumah."
Liana yang mendengar langsung masuk ke kamar nya.
Dengan tangan gemetar, Liana berdiri dan terhuyung masuk kembali ke dalam kamarnya.
Ia menyambar sehelai cardigan panjang dan mengganti celana pendek santai sisa liburannya dengan celana kain yang lebih sopan.
Pikirannya kalut dan bayangan ayahnya yang ambruk terus berputar.
Saat ia kembali ke ruang tamu, dua petugas medis sudah masuk membawa tandu lipat. Mereka bekerja dengan sangat cepat dan efisien.
“Tekanan darah sangat rendah, detak jantung tidak stabil,” lapor salah satu petugas sambil memasang masker oksigen ke wajah Papa Habibie.
Mama Prameswari terus terisak sambil memegangi tangan suaminya yang terkulai lemas.
Abi mendampingi mereka, berbicara singkat dengan petugas medis mengenai riwayat kesehatan Papa Habibie seolah ia sudah menjadi bagian dari keluarga itu sejak lama.
“Liana, naiklah ke mobil ambulans bersama Mama. Aku akan mengikuti dari belakang dengan mobilku,” ucap Abi dengan tegas saat tandu Papa mulai diangkat keluar.
Liana hanya bisa menganggukkan kepalanya dan membantu mamanya berdiri.
Ia menuntun wanita yang sudah terlihat sangat rapuh itu menuju mobil ambulans yang lampunya terus berputar merah biru.
Di dalam ambulans yang sempit, Liana menatap wajah pucat ayahnya.
Rasa bersalah menghujam jantungnya lebih dalam daripada kenyataan tentang perjodohan itu sendiri.
Ia menoleh ke arah jendela dan melihat mobil hitam milik Abi yang melaju tepat di belakang mereka
Suasana rumah sakit terasa begitu dingin dan mencekam.
Begitu tandu didorong masuk ke ruang UGD, pintu kaca otomatis tertutup rapat, memisahkan Liana dan Mamanya dari sosok Papa yang sedang berjuang melawan maut.
Mama Prameswari luruh di kursi tunggu, tangisnya pecah tanpa suara.
Liana hanya bisa berdiri mematung, menatap tangannya yang masih sedikit gemetar