Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Utusan
"Ngak ah. Gak asyik. Aku ingin memeluk anakku aja." Fian bergerak turun dan memeluk pinggang Lana, seakan ia tak mau berpisah dengan bayi yang dikandung Lana barang sedetik pun. Sepertinya Fian sangat menginginkan bayi itu.
Lana tak bisa berbuat apa-apa karena Fianlah yang selalu mengambil keputusan pada akhirnya. Ia hanya bisa menemani keinginan pria yang sudah menjadi suaminya ini. Tidur di sampingnya.
***
"Aku sebel banget, tau ... perempuan itu menempel terus sama suamiku ke mana-mana. Mentang-mentang dia bisa memberikan Mas Fian anak yang selalu dia inginkan." Lynda merengut sambil masih menempelkan benda pipih itu di telinga.
Terdengar suara pria muda yang tengah terkekeh di ujung sana. "Hati-hati ... yang baru bisa nyalip semua harta milik suamimu. Apa kamu yakin suamimu tidak begitu?"
"Tidak mungkinlah. Pasti dia cuma panas-panasin aku doang. Perempuan itu cuma nikah kontrak kok sama suamiku, yang akan berakhir beberapa bulan lagi. Lagipula wajahnya juga tipe upik abu. Gak pantas dibawa ke mana-mana."
"Yakin suamimu hanya ingin panas-panasin kamu doang?"
"Lho, buktinya dia mau tidur denganku waktu aku pulang dari Paris."
Pria itu hanya mendengus pelan. "Pastikan saja, daripada kamu menyesal. Atau kamu sama aku aja? Tapi untuk sementara karir modelku lagi naik. Aku tidak ingin terikat dengan siapa pun," jawab pria itu dingin. "Tapi aku pastikan, bila ada yang tahu hubungan kita dan dipos ke publik, aku tak masalah."
"Aku yang masalah karena aku masih menikah dengan Fian!" sahut Lynda kesal.
"Lalu maumu bagaimana? Amankan "milikmu" sebelum hubungan kita bocor ke publik."
Tak lama, Lynda mematikan ponselnya. Ia tengah berpikir keras. Beberapa barang berharganya seperti kalung dan gelang emas telah dikembalikan ke kamarnya di lantai atas, tapi barang berharga Fian lainnya, ia tidak tahu. Adakah barang berharga lainnya yang disembunyikan sang suami yang bisa membuat pria itu terikat padanya?
Lynda mengendap-endap melangkah di depan pintu kamar Fian. Sempat ia menempelkan telinga di depan pintu tapi sunyi, tak terdengar suara apa pun. Ia memutar ganggang pintu dan mendorongnya pelan. Tampak Fian dan Lana tengah tertidur. Dengan hati-hati ia masuk ke dalam dan menutup pintu. Lana terlihat tertidur dalam pelukan suaminya.
"Cih!" Mata wanita indo itu memicing kesal.
Kemudian ia memindai ke segala arah. Pandangannya berhenti pada sebuah kotak kayu yang diletakkan di atas meja nakas. Ia mendekat dan membukanya. Terlihat pendant dari emas dan guntingan kertas koran yang sudah usang. Ia mengambil pendant itu dan melihat isinya. "Oh, ini pasti punya Mas Fian. Ini foto ibunya dan Mas Fian waktu masih bayi." Ia memperhatikan wajah wanita di gambar. Fian sangat mirip dengan ibunya, hanya saja sang ibu punya mata yang lembut.
Kemudian ia melirik kertas usang itu. Sempat ia mengibas-ngibaskannya ke udara. "Lho, gak ada isinya? Apa cuma alas kotak saja?" Wanita cantik itu lalu mengembalikan kertas itu ke dalam kotak lalu menutupnya.
Ia tersenyum lebar saat menggenggam erat pendant itu. Fian pasti takkan berani menceraikannya bila benda ini ada padanya. Ia yakin itu.
Wanita itu pun melangkah ke luar kamar.
***
Terdengar ketukan pintu. Fian yang tengah melipat sajadah, berinisiatif membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya pada pembantu yang berdiri di depan pintu.
"Pak, ada rombongan orang mencari Bapak. Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Tidak ada orang yang mengerti ucapannya, Pak."
"Apa? Rombongan orang? Mereka cari aku?"
"Iya, Pak. Mereka menyebut nama Bapak."
"Apa kamu tidak tanya namanya?"
"Sa-saya tidak bisa bahasa Inggris, Pak. Satpam di depan juga." Pembantu itu tampak panik. Ya, selama ini aman-aman saja karena tamu Fian biasanya orang Indonesia. Kalaupun ada tamu bule, biasanya teman Lynda yang rata-rata disambut oleh Lynda sendiri.
"Ya sudah, aku keluar." Entah kenapa Fian tampak tenang, tapi pikirannya berkecamuk.
"Jadi dibolehin masuk, Pak?" tanya pembantu itu lagi.
"Suruh duduk di ruang tamu."
"Iya, Pak."
Fian menutup pintu. Dilihatnya Lana melipat mukena. "Aku mau tukar baju dulu."
Lana melihat saja sang suami berganti pakaian.
Ketika keluar, Fian malah menarik Lana bersamanya. "Kamu ikut ya."
"Apa? Emang siapa, Mas?"
"Entahlah, tapi feeling-ku mengatakan, ayahku menjemputku."
"Apa?"
Keduanya mendatangi ruang tamu. Ada lima orang pria berwajah Eropa yang menunggu mereka di sana. Salah seorang dari mereka langsung berdiri ketika melihat Fian datang. "Mister Alfian Abdul Razman?" ucapnya, sedikit kesulitan menyebut nama lengkap Fian.
"Yaa," jawab Fian dengan wajah tenang.
Kemudian pria itu berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen Itali. "Eh, maaf, Tuan, tapi ayah Anda mencari Anda, Tuan. Dia ingin Anda kembali ke rumah. Ayah Anda sekarang menunggu Anda di Itali."
"Siapa dia?" Bahasa Inggris Fian ternyata begitu lancar.
"Adrian Fiore. Nama Anda sebenarnya adalah Alessandro Fiore. Kami akhirnya bisa menemukan Anda di sini."
Fian hanya melihat saja. Ia tampak tak antusias. "Bagaimana kalau aku tidak mau pulang?"
"Hei, siapa ini?" Tiba-tiba Lynda ikut nimbrung karena melihat Lana bergabung dengan mereka.
Pria itu tampak bingung. "Ini siapa, Tuan?" Ia bingung karena ada dua wanita di sana.
"Oh, aku istri Fian!" sahut Lynda dalam bahasa Inggris melirik Lana. Ia tak mau kesempatan baiknya diambil oleh Lana.
"Oh, kalau begitu, kalian berdua bisa ikut dengan kami. Kami datang untuk mengawal kalian."
Lynda melirik Fian. "Apa orang tua kandungmu sudah ketemu?" Rupanya Lynda juga tahu, Fian hanyalah anak angkat Hawari.
"Sudah."
"Dari keluarga mana?" Lynda sudah membayangkan Fian pasti berasal dari keluarga yang sangat kaya raya mengingat pria itu dijemput dengan rombongan pria yang tampaknya adalah bodyguard karena bertubuh tinggi besar, sedang pria yang sedang berbicara dengan Fian bertubuh kurus. Semuanya datang dengan menggunakan jas hitam.
"Fiore. Dia dari keluarga Fiore," jawab pria itu.
"Apa? Fiore?" Mata Lynda terbelalak. Ia pernah tinggal di Itali untuk serangkaian pemotretan dan ia sangat tahu dengan keluarga Fiore. Keluarga ini dikenal sebagai mafia yang sangat berpengaruh, bahkan kenal dekat dengan beberapa penjabat hingga bisnisnya tak ada yang berani sentuh. Mereka juga terkenal sangat kejam dalam mengeksekusi lawannya. Kalau Fian adalah keturunan dari Fiore, besar kemungkinan hidupnya penuh dengan kekerasan dan pembunnuhan. Mendengar namanya saja bulu kuduknya langsung berdiri.
"Eh, aku jadi ingat jadwalku. Aku harus kembali ke Paris karena sudah terlalu lama mengambil liburan. Eh, mungkin suami Saya akan pergi dengan Lana, wanita itu." Lynda menunjuk Lana yang berada di belakang Fian dengan gugup. Tanpa menunggu jawaban, ia pergi dengan terburu-buru. "Gilla! Jadi nyonya mafia? Aku masih ingin berkarier jadi model, kali, dibanding terkurung di dalam rumah. Untung ada Lana yang bisa menggantikanku untuk sementara."
"Jadi ... bagaimana, Tuan?" tanya pria itu lagi. Ia tak peduli siapa yang akan ikut dengan Fian, asalkan Fian mau ikut ke Itali bersama mereka.
"Tadi 'kan sudah aku tanyakan. Bagaimana kalau aku tidak pergi?" Fian mengulang pertanyaannya.
"Itu tidak bisa, Tuan. Tuan Adrian pasti akan murka kalau kami tidak bisa membawa Anda pulang. Kami bisa kena hukuman, karena itu aku mohon Anda mau pulang bersama kami."
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp