Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar digerbang Hijau 5
Valaria, setelah seharian penuh berkutat dengan galian tanah dan analisis yang rumit namun memuaskan, merasa seluruh energinya terkuras. Kelelahan fisik dari pekerjaan ladang berpadu dengan kelelahan mental karena menampung memori masa depan dalam tubuh seorang gadis desa. Malam telah tiba, dan suasana malam hari yang tenang menyelimuti Desa Panda. Hanya suara jangkrik yang bersahutan dan lolongan anjing sayup-sayup yang memecah keheningan.
Ia merebahkan diri di ranjang sederhana, tempat tidur berderit pelan di bawah bobot tubuhnya. Tidak butuh waktu lama; Valaria segera jatuh ke dalam tidur yang lelap, sebuah tidur tanpa jeda.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di kedalaman alam bawah sadarnya, tubuh Valaria memberontak, memproyeksikan kenangan yang sangat menyakitkan. Valaria bermimpi.
Mimpinya adalah kilasan mengerikan dari kehidupan Valaria asli. Di sana, ia melihat dirinya (Valaria asli) berjalan di bawah sinar bulan yang redup. Hatinya berdebar, dipenuhi harapan yang menyedihkan, karena ia akan bertemu dengan pria yang selalu ia kagumi dan cintai pria yang bernama Damian.
Damian muncul dalam mimpi itu, sosok yang memiliki daya tarik gelap, senyum yang mematikan, mata yang dingin, dan aura kekuasaan yang manipulatif.
Namun, yang ia lihat selanjutnya adalah siklus penderitaan Valaria asli. Damian terus-menerus menindas Valaria asli, menggunakannya sebagai alat. Mimpinya dipenuhi adegan-adegan Valaria yang diperintah untuk melakukan hal-hal tidak baik, tugas-tugas kotor, yang paling sering adalah mencarikan uang untuk Damian atau bahkan mencuri uang dari orang tuanya sendiri demi menyenangkan pria itu. Air mata, rasa malu, dan keputusasaan Valaria asli terasa sangat nyata dan menyesakkan bagi Valaria/Ria yang baru.
Lalu, adegan itu berpindah ke malam yang menentukan. Valaria asli, yang bersemangat ingin bertemu dengan Damian, bersembunyi di balik semak-semak, tetapi terhenti. Di sana, ia melihat Damian bersama wanita lain Laksmin, seorang gadis dari desa sebelah yang dikenal cantik dan licik.
Mereka sedang berbicara. Kata-kata mereka menusuk seperti belati dingin langsung ke hati Valaria asli.
"Aku tidak mengerti, Damian. Kenapa kau masih mempertahankan Valaria bodoh itu?" tanya Laksmin dengan nada meremehkan.
Damian tertawa, tawa yang kejam dan hampa. "Hanya alat, Laksmin. Kau tahu dia terlalu naif. Dia mencintaiku, dan itu membuatnya mudah dikendalikan. Aku tidak suka dengan Valaria. Aku hanya ingin memanfaatkan dia saja."
Kata-kata itu, diulang-ulang dalam mimpinya, menghancurkan sisa-sisa hati Valaria asli. Dalam mimpi itu, Valaria asli kembali dalam keputusasaan yang total. Ia berlari tanpa arah, air mata mengaburkan pandangannya.
Bruuuk!
Ia terjatuh, kepala membentur batu jalanan dengan keras. Rasa sakit yang memekakkan telinga. Darah. Kegelapan.
Valaria/Ria terbangun dengan napas terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia duduk di tempat tidur, jantungnya berdetak kencang, memproses trauma yang bukan miliknya, namun kini menjadi bagian dari dirinya. Rasa marah dan simpati yang mendalam terhadap Valaria asli membakar dadanya.
Pagi berikutnya, Valaria merasa energinya pulih, tetapi hatinya terasa berat. Ia sedang membantu Ibunya di dapur ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari pintu depan.
Pintu itu terbuka, menampakkan sosok Damian dan Laksmin yang berdiri di ambang pintu. Suasana seketika menjadi tegang, udara di ruangan itu terasa berat. Damian berdiri tegap, mengenakan pakaian yang lebih baik dari rata-rata pemuda desa, ekspresinya congkak dan menuntut. Di sebelahnya, Laksmin tersenyum sinis.
Valaria membeku sesaat. Ini adalah pria dari mimpi buruk itu. Pria yang menghancurkan pemilik asli tubuh ini.
Sebelum Valaria sempat bereaksi, adiknya, Raka, muncul dari sisi rumah. Raka baru saja pulang dari ladang, tubuhnya berlumuran sedikit lumpur, karena ia baru selesai mengalirkan air ke sawah dari irigasi. Raka-lah yang menemukan Valaria asli pingsan malam itu dan memanggil penduduk terdekat untuk membantu Valaria yang sudah pingsan dan berdarah kepalanya karena terjatuh.
Raka menatap Damian dengan pandangan curiga dan sedikit permusuhan. Damian mengabaikan Raka, mata tajamnya langsung tertuju pada Valaria. Ia melangkah maju dengan sikap dominan.
"Nah, ini dia. Kau diam saja sejak kemarin. Mana uang yang aku minta kamu cari?" tuntut Damian, suaranya mengandung ancaman halus yang biasa ia gunakan pada Valaria asli.
Valaria/Ria menatap Damian. Rasa amarah dari mimpi buruk itu tiba-tiba meledak. Dia melihat ke wajah pria itu dan tidak menemukan sedikit pun penyesalan atau kasih sayang, hanya eksploitasi murni.
Secara insting, Valaria memasang postur tubuh yang jauh berbeda dari Valaria asli yang penurut. Tubuhnya tegap, dagunya terangkat. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan gerakan tegas, dan wajahnya tajam, matanya menembus tatapan Damian.
"Tidak ada," jawab Valaria, suaranya datar, tanpa ketakutan, dan penuh otoritas. Matanya yang gelap memantulkan kejutan di wajah Damian. "Cari sendiri."
Valaria melangkah satu langkah lebih dekat, auranya yang baru gabungan kepercayaan diri seorang ilmuwan dan kemarahan seorang korban mengejutkan Damian.
"Kamu memiliki kaki dan tangan untuk digunakan. Kamu mampu bekerja. Kenapa minta kepadaku?" Valaria melanjutkan, nadanya kini mengandung penghinaan yang terang-terangan. "Aku bukan bankmu, dan aku bukan bonekamu. Jangan pernah meminta hal semacam itu lagi padaku."
Damian dan Laksmin mendengar kata-kata dari Valaria sangat terkejut. Laksmin, yang selalu terbiasa melihat Valaria menunduk, kini terperangah, tangan kirinya menutup mulutnya. Wajah Damian berubah dari sombong menjadi sangat bingung. Ini bukan Valaria yang ia kenal. Valaria yang dulu akan gemetar dan segera meminta maaf.
Raka yang juga terkejut dengan perubahan dramatis dalam diri kakaknya, namun terkejutnya bercampur dengan secercah harapan dan pemahaman yang samar. Raka ingat malam ketika Valaria jatuh. Penduduk desa sudah lama membicarakan bahwa setelah dia sadar, Valaria tidak mengingat banyak hal.
Raka paham. Ingatan dari Valaria sudah tidak ada. Tapi ia menyadari, mungkin ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada kakaknya.
Damian pulih dari keterkejutannya. Kemarahan mengambil alih. Ia mengerutkan dahi dengan kejam, menatap mata Valaria dengan tajam, mencoba mengintimidasi seperti yang selalu berhasil ia lakukan.
"Kau berani melawan? Kau pikir kau siapa sekarang? Jangan main-main denganku, Valaria!" desis Damian.
Valaria sama sekali tidak perduli. Ia melihat kemarahan Damian sebagai ekspresi kekalahan, bukan ancaman. Ia merasa jijik pada pria itu. Dengan gerakan menghina, Valaria memalingkan wajahnya dari Damian, mengakhiri konfrontasi itu tanpa kata-kata lebih lanjut.
Gerakan itu, memalingkan wajah, adalah penghinaan terakhir. Valaria asli tidak akan pernah berani melakukannya.
Raka melihat betapa enggannya kakaknya untuk bicara dengan Damian lebih lama. Sebuah dorongan melindungi yang kuat muncul dalam dirinya. Raka melangkah maju, berdiri di antara Valaria dan Damian.
"Sudah dengar, kan?" Raka berkata dingin. "Jangan ganggu Kakakku lagi. Kalian tidak punya urusan di sini." Raka mengusirnya bersama dengan Laksmin tanpa basa-basi.
"Pergi sekarang. Aku tidak akan mengulangi lagi," ancam Raka, tangannya mengepal di samping tubuhnya, siap membela kakaknya jika perlu.
Damian, dengan wajah merah padam karena marah dan dipermalukan di depan Laksmin, menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kendali di sini. Aura Valaria yang baru sangat asing dan kuat.
"Kau akan menyesalinya, Valaria!" ancam Damian sebelum berbalik dengan kasar, diikuti oleh Laksmin yang masih bingung.
Setelah keduanya pergi, Raka menghela napas panjang, kelegaan terpancar di wajahnya. Ia segera menutup pintu, dan membawa Valaria ke dalam, ke ruang tengah rumah mereka yang sederhana.
"Duduklah, Kak," kata Raka lembut, menuntun Valaria ke kursi kayu.
Keheningan melayang di antara mereka, diisi oleh gema konfrontasi yang baru saja terjadi. Raka menatap Valaria, matanya dipenuhi campuran kekhawatiran dan rasa ingin tahu.
"Aku... aku terkejut," Raka memulai, suaranya sedikit bergetar. "Aku belum pernah melihatmu bicara seperti itu pada Damian. Tidak pernah."
Valaria menatap adiknya. Wajah Raka polos dan tulus. Raka-lah satu-satunya yang menunjukkan kebaikan murni kepada Valaria asli.
"Aku minta maaf jika itu mengejutkanmu, Raka," jawab Valaria, nadanya melembut hanya untuk adiknya.
"Tidak, Kak. Itu... itu bagus," Raka bersikeras. "Aku hanya... aku perlu tahu. Soal apa yang terjadi barusan. Maksudku, sejak kau jatuh, kau jadi berbeda. Kau tidak ingat apapun tentang Damian, kan?"
Valaria menyandarkan punggungnya, memikirkan bagaimana menjelaskan kebenaran yang mustahil.
"Aku tidak ingat Damian secara pribadi," Valaria berbohong dengan sedikit rasa bersalah, menjaga rahasia transmigrasi dirinya. "Tapi aku tahu orang jahat saat aku melihatnya, Raka. Dan aku tahu bagaimana perasaanku tentang dia. Dia adalah parasit."
"Ya, dia memang parasit!" Raka berkata penuh emosi, suaranya meninggi. "Kak, kau tidak tahu betapa menderitanya kau karena dia. Kau selalu dimanfaatkan. Kau selalu menangis setelah dia pergi. Kau bahkan pernah... mencuri uang tabungan Ibu untuk diberikan padanya."
Air mata mulai menggenang di mata Raka. Itu adalah luka yang masih segar bagi keluarga mereka. Valaria meraih tangan Raka, menggenggamnya erat. Ia merasakan kepedihan Valaria asli melalui tubuh ini, dan juga kepedihan Raka yang melihat penderitaan kakaknya.
"Aku tahu. Dan itu tidak akan terjadi lagi," janji Valaria. Matanya kini tegas, bukan hanya sebagai Valaria yang baru, tetapi sebagai seorang kakak. "Siapa pun aku sekarang, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluarga ini lagi. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang lama."
Raka menatap ke mata Valaria, mencari kebenaran. Yang ia temukan adalah ketegasan yang belum pernah ia lihat.
"Aku percaya padamu, Kak," bisik Raka, lega. "Aku lega kau tidak mengingatnya. Setidaknya, kau bisa memulai lagi. Janji padaku, kau tidak akan pernah mendekati Damian lagi."
"Aku janji," kata Valaria, suaranya mantap. "Aku hanya peduli pada tanah dan keluarga kita sekarang. Damian tidak lebih dari debu di bawah sepatuku."
Perlahan, ketegangan di antara mereka mereda. Valaria telah memberikan konfirmasi yang dibutuhkan Raka, sekaligus menegaskan perubahan dalam dirinya. Mereka duduk bersama dalam keheningan yang tenang, ikatan persaudaraan mereka diperkuat oleh konfrontasi yang baru saja mereka lalui. Valaria sadar, ia tidak hanya mewarisi tubuh, tetapi juga tanggung jawab untuk memperbaiki hidup yang rusak ini.