NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dijaga ketat..

Tentu, ini adalah kelanjutan cerita dengan fokus pada kecerdasan tak terduga Indira.

​Bab Selanjutnya: Analisis Fisika dan Kejutan Arjuna

​Indira menarik napas dalam-dalam. Tatapan menantang dari Arjuna terasa seperti ujian yang harus ia lewati. Jika ia menjawab dengan biasa, ia akan dianggap remeh. Jika ia menjawab dengan cerdas, ia mungkin bisa mendapatkan sedikit rasa hormat dari pria beku ini.

​Ia mengatur posisi duduknya, memegang buku Fisika dengan tegap. Ekspresi formal yang ia pasang kembali lagi.

​"Tuan Arjuna," ujar Indira, suaranya tenang dan tegas, seperti seorang guru yang siap mengajar. "Saya akan jelaskan. Hukum Kedua Newton, F \= ma, menyatakan bahwa gaya (F atau Force) yang bekerja pada suatu benda sama dengan massa (m) dikalikan dengan percepatan (a). Sederhananya, semakin besar gaya yang diberikan, atau semakin kecil massa yang menahannya, semakin besar percepatan atau perubahan gerak yang dihasilkan."

​Arjuna mendengarkan, menyilangkan tangannya di dada. Wajahnya tetap datar, menunggu poin utama Indira.

​"Bagaimana ini memengaruhi hidup Anda sekarang?" lanjut Indira, matanya kini menatap Arjuna dengan penuh keyakinan. "Kita bisa melihatnya dari dua sudut pandang, Tuan Arjuna."

​Indira mulai menjelaskan.

​"Pertama, Kecelakaan Anda. Truk yang menabrak mobil Anda memberikan gaya (F) yang sangat besar. Massa mobil Anda (m), meskipun berat, tidak cukup untuk menahan gaya sebesar itu. Hasilnya, terjadi percepatan negatif yang sangat mendadak—yaitu pengereman dan perubahan arah yang sangat cepat."

​Indira menunjuk ke perban di kepala Arjuna. "Gaya tumbukan itu diteruskan ke tubuh Anda. Semakin besar gaya, semakin besar percepatan internal. Hasilnya adalah gegar otak dan patah tulang rusuk. Secara fisika, itu adalah transfer energi yang brutal."

​Arjuna terkejut. Ia tidak menyangka gadis itu akan menganalisis kecelakaannya seolah itu adalah soal ujian.

​Indira melanjutkan ke poin kedua, suaranya lebih lembut, namun penuh makna.

​"Kedua, Kondisi Anda Saat Ini. Tubuh Anda sedang melawan penyakit. Agar sel-sel Anda pulih, mereka membutuhkan energi, dan dalam kasus Anda, energi itu berasal dari 'asupan' yang kaya nutrisi. Kita bisa mengibaratkan, nutrisi dari asupan ini adalah Gaya (F) positif yang diberikan pada tubuh Anda yang bermassa (m) sangat besar."

​"Gaya positif itu menghasilkan Percepatan (a) penyembuhan. Jika Anda tidak mendapatkan Gaya (F) itu, percepatan penyembuhan Anda akan menjadi nol, atau bahkan negatif. Jadi, Tuan Arjuna, Fisika sangat memengaruhi hidup Anda sekarang. Hidup Anda bergantung pada seberapa besar dan seberapa cepat nutrisi yang saya berikan (F) dapat mempercepat (a) proses pemulihan Anda."

​Indira menutup bukunya dengan pelan. Wajahnya kembali ke ekspresi formal.

​"Apakah penjelasan saya sudah cukup, Tuan Arjuna?"

​Arjuna terdiam, mematung di ranjang. Keheningan di ruangan itu terasa tegang, namun bukan lagi karena malu, melainkan karena kejutan.

​Ia menatap Indira dengan tatapan yang benar-benar berbeda. Gadis ini bukan hanya "wadah" yang ia bayar, bukan pula boneka polos yang bisa ia permainkan. Ia cerdas, lugas, dan mampu menganalisis situasi kompleks, bahkan kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, menggunakan teori fisika yang baru ia pelajari.

​"Luar biasa," bisik Arjuna, kali ini benar-benar tulus, tanpa ada nada sarkasme atau dingin di suaranya.

​"Aku... aku tidak menyangka kau akan menjelaskannya serinci itu," aku Arjuna. "Pendidikan yang Ayahku bayar memang tidak sia-sia. Lanjutkan. Sekarang, bacakan saja bab yang lain. Aku ingin mendengarnya."

​Permintaan Arjuna tidak lagi terasa seperti perintah sewenang-wenang. Itu terdengar seperti permintaan dari seorang pria yang tiba-tiba menemukan sesuatu yang menarik di hadapannya.

​Indira merasa lega. Ia telah memenangkan putaran pertama permainan ini.

​Ia membuka lagi bukunya, dan mulai membacakan dengan suara yang jelas dan merdu. Di sisi lain ranjang, Arjuna mendengarkan. Ia tidak lagi melihat Indira sebagai putri pelayan, atau sebagai pemasok nutrisi yang dibayar mahal. Untuk sesaat, ia melihatnya sebagai sesuatu yang... setara dalam hal kecerdasan, meskipun status sosial mereka terpisah jurang.

​Indira baru saja menutup bukunya, menyisakan keheningan setelah penjelasan fisika yang cerdas itu.

 Wajah Arjuna kini menunjukkan ekspresi yang jauh berbeda—percampuran rasa terkejut, kagum, dan sebuah kegelisahan baru yang sulit diidentifikasi.

​"Luar biasa," puji Arjuna, kali ini benar-benar tulus. "Kamu bisa melanjutkan belajarmu. Aku akan istirahat."

​Indira mengangguk, merasa sedikit lega karena berhasil melewati tantangan tak terduga itu. Ia kembali membuka buku, mencoba fokus, namun ia merasa tatapan Arjuna tidak lepas darinya.

​Beberapa jam kemudian, Darsih kembali. Ia membawakan makan malam untuk Indira dan membantu Arjuna menyesuaikan posisi di ranjang sebelum sesi asupan kedua.

​Indira dan Darsih makan dalam diam, sementara Arjuna beristirahat dengan mata tertutup.

​Ketika waktu asupan kedua tiba, suasana kembali kaku. Arjuna membuka matanya, dan tanpa kata-kata, ia menatap Indira. Kali ini, tidak ada perintah lisan yang dingin, hanya tatapan yang menuntut.

​Indira kini lebih patuh dan cepat. Rasa malu itu masih ada, tetapi didorong oleh janji ibunya dan rasa lega fisik yang akan ia dapatkan. Ia tahu, ini adalah sebuah kebutuhan yang tak terhindarkan.

​Proses itu kembali berjalan cepat. Setelah selesai, Arjuna kembali memalingkan wajah, dan Indira segera merapikan diri.

​"Darsih," panggil Arjuna tiba-tiba, setelah Indira selesai.

​"Ya, Den?" sahut Darsih, yang sedang merapikan nampan makan malam.

​"Mulai besok, Ayahku akan meningkatkan penjagaan di seluruh area rumah sakit, terutama di lantai ini. Dan aku ingin, pengawal yang berjaga di depan pintu ini harus pengawal pribadiku, bukan pengawal rumah sakit. Mereka akan bekerja dalam shift 24 jam."

​Darsih terkejut. "Ada apa, Den? Apa terjadi sesuatu yang buruk?"

​Arjuna menggeleng. "Tidak ada. Hanya masalah bisnis biasa, persaingan. Kecelakaan kemarin itu... aku tidak yakin itu murni kecelakaan. Ini hanya tindakan pencegahan. Aku tidak ingin ada insiden lagi yang mengganggu pemulihanku."

​Arjuna berhenti sebentar, lalu menatap Darsih dan Indira secara bergantian.

​"Dan untuk kalian berdua," lanjut Arjuna dengan suara yang lebih serius. "Indira, kamu sudah menandatangani kontrak. Kamu adalah aset penting bagi kesembuhanku. Aku tidak ingin kamu atau Ibumu berada di luar jangkauan pengawalku. Mulai besok, Darsih akan tinggal bersamamu di kamar ini. Aku akan minta Perawat menyiapkan ranjang tambahan."

​Darsih dan Indira sama-sama terkejut.

​"Tapi, Den... saya tidak enak pada Nyonya dan Tuan kalau harus meninggalkan pekerjaan di rumah utama," kata Darsih sungkan.

​"Tidak masalah. Aku akan bicara pada Ayahku. Pekerjaanmu akan digantikan sementara oleh staf lain. Tugas utamamu sekarang adalah mendampingi Indira. Jangan biarkan dia sendirian. Jangan biarkan dia meninggalkan lantai ini tanpa pengawalan ketat."

"Bagaimana dengan sekolah ku? hari ini aku sudah bolos sekolah,," desahnya menatap Arjuna.

​Arjuna menatap lurus ke arah Indira. Ekspresinya bukan lagi dingin, tetapi tegas dan sedikit mengintimidasi.

"Kamu akan libur sampai aku keluar dari rumah sakit." tegasnya.

​"Kamu penawar ku saat ini, Indira. Kamu adalah satu-satunya yang bisa membuatku hidup. Jadi, aku harus memastikan tidak ada hal buruk yang menimpamu."

​Keputusan Arjuna itu bersifat mutlak. Ia tidak meminta, melainkan memerintah. Hal itu membuat Indira merasa lebih seperti tawanan yang dijaga daripada karyawan yang dikontrak.

***

 Ia adalah pusat dari pengamanan ketat itu.

​Indira menatap ibunya, mencari dukungan. Darsih hanya tersenyum tipis.

​"Tidak apa-apa, Nak. Den Arjuna hanya khawatir. Dia itu anak yang baik, cuma kaku saja. Sekarang, kita istirahat saja di sini. Semua biaya makan dan tinggal di sini sudah ditanggung Tuan Wijaya. Anggap saja kita sedang liburan mewah yang dibayar," bisik Darsih mencoba menghibur, sambil memeluk putrinya erat.

***

​Keesokan paginya, situasi di lantai VVIP benar-benar berubah.

​Dua pria bertubuh besar dengan setelan jas hitam legam berdiri di depan pintu kamar Arjuna. Mereka adalah pengawal pribadi Arjuna yang terkenal sangat loyal dan efisien.

​Indira dan Darsih kini merasa seperti berada di dalam sebuah benteng. Mereka makan, mandi, dan beristirahat di kamar itu. Ketika mereka harus berjalan ke ruang tunggu atau ke kantin rumah sakit, mereka selalu dikawal.

​Pagi itu, Darsih hendak menelepon Nyonya Hamidah untuk menanyakan kabar, tetapi teleponnya berdering duluan.

​"Halo, Nyonya?"

​"Darsih, tolong dengarkan saya baik-baik," suara Hamidah terdengar tegang. "Jangan tinggalkan kamar itu sampai Arjuna benar-benar sembuh. Saya tahu kamu bingung, tapi kami sedang mengurus masalah besar di luar. Kami tidak ingin ada hal yang mengejutkan Arjuna dan menghambat pemulihannya."

​"Baik, Nyonya. Saya mengerti. Tapi apakah Den Arjuna baik-baik saja?"

​"Dia akan baik-baik saja selama Indira ada di sana," jawab Nyonya Hamidah, suaranya mengandung janji sekaligus beban. "Jaga Indira, Darsih. Dia adalah harta kami sekarang. Semua kebutuhanmu akan diurus oleh rumah sakit."

​Panggilan terputus.

​Darsih menatap putrinya yang sedang duduk di sofa, kembali membaca buku pelajaran nya. Ia kini benar-benar sadar: putrinya adalah aset yang harus dijaga ketat, terlepas dari segala keanehan kondisinya.

​Tiba-tiba, Arjuna memanggil Indira.

​"Indira," panggilnya, wajahnya kembali tanpa ekspresi.

​"Ya, Tuan Arjuna?"

​"Berapa banyak... yang kamu hasilkan dalam sehari?" tanya Arjuna, pertanyaannya terdengar sangat lugas dan tanpa basa-basi.

​Indira terkejut dengan pertanyaan yang terlalu personal itu. "Maksud Anda, Tuan Arjuna?"

​"Cairan itu. Dalam sehari. Secara total," jelas Arjuna, matanya menatap lekat-lekat ke arah dada Indira, berusaha menjaga profesionalisme, namun pertanyaannya tetap terasa sangat tidak pantas.

"Aku perlu tahu berapa banyak potensi nutrisi yang kupunya, agar Dokter bisa menyesuaikan rencana pemulihanku."

​Indira merasa pipinya memanas, tetapi ia berusaha menjawab secara ilmiah, seperti yang ia lakukan sebelumnya.

​"A-aku tidak tahu pasti jumlahnya, Tuan Arjuna. Tapi, dalam sehari, bajuku bisa basah sampai tiga kali jika aku tidak mengeluarkannya. Semakin sering dikeluarkan, semakin cepat terisi lagi. Menurut Dokter, produksinya sangat tinggi dan stabil," jawab Indira jujur, walau sangat malu.

​Arjuna mengangguk. Ia meraih teleponnya dan menghubungi Dokter Kepala, menyampaikan informasi kuantitas itu.

​Setelah panggilan selesai, Arjuna menatap Indira lagi, ada bayangan rasa bersalah di matanya.

​"Aku minta maaf harus menanyakan hal pribadi seperti itu," kata Arjuna, nadanya sedikit melunak. "Tapi ini semua tentang kelangsungan hidupku."

​"Aku mengerti, Tuan Arjuna," balas Indira, menjaga formalitas.

​Arjuna terdiam, lalu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tak terduga.

​"Mulai sekarang, anggap saja aku adalah adik kecilmu. Itu mungkin akan membuatmu lebih nyaman. Kita adalah... mitra. Kamu memberiku hidup, dan aku menjamin masa depanmu."

​Indira menatap Arjuna yang terbaring kaku dengan rusuk retak. Pria tampan, dingin, dan berkuasa itu memintanya menganggapnya sebagai adik kecil. Sebuah permintaan yang absurd, mengingat perbedaan usia mereka sekitar 10 tahun dan jangan lupakan status sosial mereka yang sangat timpang.

​bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!