Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Indonesia
"Kamu yakin? tidak akan terjebak dengan perasaan?" tanya Ferdi memastikan bahwa wanita di hadapannya tidak berbohong, bukan tanpa alasan cuma Ferdi hanya punya Amara keluarga nya selain kekasih nya, karena adik dan orang tua nya sudah meninggal, Dia tidak ingin wanita itu meninggalkan nya juga.
"Tentu, Aku yakin seratus persen," jawab Amara memeluk Ferdi dengan sayang, membuat pria itu mengacak rambut Amara dengan gemas, hubungan mereka sangat begitu hangat.
Akhirnya dengan terpaksa Ferdi pun mengizinkan Amara untuk pulang ke Indonesia walaupun dengan berat hati.
Malam hari nya, Amara kini sudah berada di mobil menuju bandara di antar Ferdi dan Risa kekasih nya, karena semenjak sore dia tidak pulang ke Mansion Kakek buyutnya, karena sebenarnya hampir semua barangnya ada di mansion Ferdi.
Setelah perjalanan panjang kini akhirnya, mobil yang dikendarai Ferdi sampai di bandara, Pria itu hanya mengantar saja tanpa niat turun atau menyapa keluarga adik angkatnya, karena pria itu memang selalu malas berinteraksi dengan orang.
"Kakak, kalo ada waktu nanti lihatin, Wilson di perusahaan Yuda Group yah, takut nya Dia melakukan kesalahan," ucap Amara sebelum turun dari mobil.
Wilson adalah orang kepercayaan nya, selama 6 tahun ini Amara lah yang mengelola perusahaan besar peninggalan Kakek buyutnya itu, setelah Neneknya sudah pensiun.
"Merepotkan sekali, urusan di markas dan perusahaan Wolker saja masih banyak, ini menambah beban lagi," gerutu Ferdi membuat Amara hanya menanggapinya dengan senyum tipis, lalu wanita itu mengecup pipi Ferdi sebelum akhirnya turun dari mobil nya.
"Dadah kakak dan calon kakak ipar, sampai bertemu 100 hari kedepan," teriak nya sambil melambaikan tangan nya, yang di balas lambaian juga oleh Ferdi dan juga Risa.
"Jangan sampai kau kembali, selamanya juga gak papa," batin Risa, kekasih Ferdi yang sedari tadi duduk di bangku belakang, dia merasa tidak suka dengan Amara, karena semenjak kehadiran wanita itu posisi nya selalu tersisihkan.
Sedangkan Neneknya dan Glen di ikuti Lisa dan suaminya ikut serta kini hanya menunggu kedatangan wanita itu, karena Lisa adalah Asisten kepercayaan nya selama di perusahaan kakek buyutnya yang iya kelola, bukan tanpa alasan membawa wanita itu karena selama ini Amara sudah ketergantungan dengan Lisa, jadi kemanapun wanita itu pasti akan ikut walaupun berujung dengan kekesalan Arman suami Lisa yang merasa tidak terima.
"Lisa, gak masalah kan ikut pulang ke Indonesia?" tanya Amara setelah sampai di hadapan semua orang.
"Masalah lah, pura-pura, nanya segala," batin Arman dengan kesal walaupun tidak berani mengatakan dengan langsung, karena pria itu juga tidak punya keberanian untuk itu.
"Santai saja Bos, justru ini akan menjadi momen yang menyenangkan," jawab Lisa sambil tersenyum sumringah.
Kemudian Amara pun langsung masuk ke dalam pesawat, menggandeng tangan Neneknya yang sedari tadi lebih memilih diam saja, sedangkan Glen pria itu juga tidak banyak bicara, Dia lebih memilih untuk diam saja karena kepalanya sedang sakit pengin secepatnya istirahat.
Perjalanan panjang itu Glen habis kan dengan tidur, sedangkan Amara wanita itu justru malah sibuk dengan laptopnya, wanita itu tidak bisa seperti orang lain yang mudah tidur.
Kini perjalanan pulang sama seperti pas berangkat yaitu 17 jam, kini setelah menghabiskan waktu 17 jam di dalam pesawat, akhirnya pesawat itu sudah sampai di bandara internasional jakarta .
Ada rasa bahagia di dalam hati Glen setelah sampai di jakarta, karena merasa usahanya tidak sia-sia walaupun akhirnya menyakiti kekasihnya Amira.
Glen melihat ponselnya dan melihat jam dan tanggal, berarti ini sudah dua hari sejak dia berangkat ke Amerika, Dia merasa di Amerika cuma sehari waktunya abis begitu saja, jadi otomatis sore nanti seharus acara ijab qobul dan malam nya resepsi pernikahan nya, padahal dia merasa lelah badan nya rentek-rentek pengin istirahat dengan benar karena saat di pesawat sangat tidak nyaman.
Setelah bergelut dengan pikiran nya, Glen kini masuk ke dalam mobil jemputan yang sudah iya persiapkan, Sedangkan Amara kini langsung jalan menuju ke arah taxi di ikuti Lisa dan suaminya, dia hendak pulang sendiri saja tidak mau naik bareng dengan Glen karena tidak ingin pulang ke kediaman Argadinata.
"Sasa, kenapa gak mau naik bareng?" tanya Nenek nya merasa bingung dengan cucu nya itu.
"Nenek, Aku mau pulang apartemen ku saja tidak mau pulang ke kediaman itu," jawab nya dengan datar tanpa ekspresi.
"Ini sudah jam 12 siang sampai rumah paling jam 1, nanti sore juga sudah mau ijab qobul nya, gak keburu, acaranya di kediaman Argadinata, kau juga harus mewarnai kembali rambut mu," ucap Glen panjang lebar yang sedari tadi diam.
"Kenapa mepet banget sih? Ngeselin," gerutu Amara sambil masuk ke dalam mobil, dia merasa kesal, Dia juga gak suka dia atur, lalu akhirnya menyuruh Lisa dan suaminya naik Taxi karena mereka beda arah.
Sepanjang perjalanan itu, Amara tidak bersuara, semua hening larut dalam pikiran nya masing-masing, hingga akhirnya mobil sudah sampai di pelataran kediaman Argadinata.
Setelah mengantarkan Amara, Glen ingin memutuskan pulang terlebih dahulu karena perlu mengambil beberapa barang di rumah nya, Dia tidak ingin ikut campur juga jika terjadi pertengkaran karena menurutnya itu privasi keluarga.
Begitu juga dengan Nenek Yuni yang ingin pulang ke rumah lama nya dulu, karena lebih nyaman di rumah nya sendiri.
Amara pada akhirnya mau tak mau masuk sendiri ke rumah nya, rumah tempat iya tumben hingga remaja, masa-masa senang dan penuh canda tawa dan pertengkaran kecil bersama Darel kakak nya dan Amira adik nya, Dia rindu itu semua, tapi kenangan manis itu berubah hanya karena satu kesalahan .
"Selamat Datang kembali Nona Amara," sambutan para pelayan membuat nya kaget, karena dia belum sempat mengetuk pintu, tapi wanita itu berusaha untuk tidak memperlihatkan keterkejutannya, Dia lebih memilih jalan saja tanpa sedikitpun ingin menyapa atau bersuara.
Di depannya sudah ada Darel dan juga ada Bunda nya dan juga Ayahnya, tapi wanita itu memilih untuk menatap ke sekeliling ruangan yang tampak sudah di dekor untuk pernikahan.
"Wah-wah, akhirnya putri ku mau pulang juga," suara Ayah nya sudah terdengar antusias, pria paruh baya itu mendekat hendak memeluk putrinya itu namun yang terjadi Amara langsung menghindar.
"Tuan Farel, Putri Anda sudah mati, jadi jangan sembarang kalo Saya ini putri Anda yah," ucap Amara dengan dingin, sorot mata nya sangat begitu tajam.
"Sayang, Maafkan Ayah Nak, Ayah waktu itu terpaksa," jawab Farel merasa sangat bersalah.
"Stop membela diri, Saya tidak butuh itu," seru Amara berusaha untuk menghindar saat Farel Hendak mendekat lagi.
"Saya cuma mau melihat Amira," lanjut nya menatap ke sekeliling, wanita itu berjalan begitu saja melewati Darel dan juga Dinda, hal itu membuat Dinda menjadi sangat begitu sedih ketika di abaikan.
"Amara, apa kau tidak merindukan Bunda, sayang?" panggil Dinda, membuat wanita itu berbalik badan, lalu detik berikutnya membuang muka.
"Saya bukan Amara putri Anda, putri Anda sudah mati mengenaskan, jadi jangan menunjukkan wajah menyedihkan itu, itu membuat saya tambah benci," ucap Amara dengan pedas nya, ucapan itu terdengar sangat menyakitkan di hati Dinda, sebenarnya apa yang putrinya rasakan sampai dia berkata sekejam itu pada nya, itu yang Dinda pertanyakan pada dirinya sendiri.
"Jangan mendekat atau mengikuti Saya, saya hanya ingin melihat Amira," lanjut nya saat Dinda hendak memeluknya, wanita itu langsung berjalan menaiki tangga menuju lantai dua kamar kembaran nya berada.
"Lihat, dia bahkan gak mau ngomong dengan ku, apa yang kau lakukan pada nya Mas? kenapa dia bilang begitu?" Tanya Dinda menatap suaminya dengan sedih, dia memukul dadanya sendiri untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Bunda, jangan lakukan ini, Mungkin Amara lagi emosi saja," ucap Darel berusaha untuk menghentikan Bunda nya, Dia merasa ikut bersalah juga karena secara tidak langsung Darel ikut serta dalam rencana masa lalu itu.
BERSAMBUNG