Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 : Racun di Meja Gala
Malam itu, Madrid terasa seperti panggung yang gelap dan mewah, tempat semua intrik dan pengkhianatan dipertontonkan. Restoran Coque, yang baru saja dianugerahi bintang Michelin ketiga, adalah lokasi acara gala perayaan Proyek Ibiza—acara yang ironisnya diprakarsai oleh Santiago sebelum kehancurannya.
Alicia Valero tiba tepat pukul sembilan malam. Ia mengenakan gaun malam rancangan Delpozo berwarna hijau zamrud tua, yang memeluk tubuhnya seperti cairan. Potongan punggungnya yang rendah dan kalung berlian yang ia kenakan membuat Alicia tampak seperti Dewi Balas Dendam yang tak terjangkau.
Di sisinya, Rafael Montenegro adalah bayangan gelap yang sempurna, mengenakan tuksedo klasik yang membuatnya tampak lebih tinggi dan lebih mengancam. Tangannya diletakkan dengan posesif di punggung bawah Alicia, sentuhan yang merupakan pernyataan publik: Alicia adalah miliknya.
Saat mereka melangkah masuk, keheningan segera menyelimuti ruang makan privat. Ini bukanlah keheningan kagum; ini adalah keheningan yang penuh gosip dan antisipasi. Semua mata dewan direksi, investor, dan jurnalis (yang menyamar sebagai tamu) tertuju pada pasangan baru ini. Mereka adalah headline bergerak.
Alicia tersenyum. Senyumnya seperti pedang yang disarungkan. Ia menikmati tatapan terkejut, jijik, dan kekaguman yang bercampur aduk.
“Mereka menonton kita, mi reina,” bisik Rafael di dekat telinganya, suaranya hangat dan mengikat.
“Itu yang kita inginkan,” balas Alicia. “Setiap tatapan adalah kuku yang menancap di peti mati Santiago.”
Santiago Valero sudah duduk di meja utama, di mana posisi seharusnya Alicia berada. Ia tidak sendirian. Ia duduk di sebelah Isabel, tetangga muda yang genit itu. Isabel, yang biasanya berpakaian minim dan mencolok, kali ini mengenakan gaun hitam sederhana yang sedikit tertutup.
Melihat Santiago secara langsung setelah empat hari neraka, Alicia merasakan gelombang kemarahan yang dingin. Namun, ia tidak menunjukkan apa pun selain keangkuhan.
Alicia dan Rafael berjalan menuju meja utama. Alicia menatap Santiago.
“Santiago. Aku berasumsi kau ada di sini untuk menikmati kemenangan Solera,” sapa Alicia, suaranya manis dan mematikan.
Santiago bangkit. Wajahnya tidak lagi pucat; kini ia tampak kurus, tetapi matanya memancarkan tekad baru yang keras.
“Tentu saja, Alicia. Aku adalah pendiri perusahaan ini. Aku datang untuk menyaksikan masa depannya,” jawab Santiago. Ia menoleh ke Rafael. “Selamat, Rafael. Kau mendapatkan sisa-sisa yang menarik.”
Rafael tersenyum dingin. “Sisa-sisa yang menghasilkan lebih banyak uang dalam empat hari daripada yang kau hasilkan dalam empat bulan terakhir, Santiago. Dan aku jamin, sisa-sisa ini memiliki kualitas yang lebih baik daripada yang kau tinggalkan.”
Isabel, di samping Santiago, mencoba berbicara, tetapi Alicia memotongnya dengan tatapan meremehkan.
“Isabel, aku terkejut melihatmu di sini. Aku pikir kau hanya menerima undangan yang beraroma Gardenia Putih,” sindir Alicia, membuat beberapa tamu di dekatnya tersenyum masam.
Isabel menunduk malu. Namun, Santiago meletakkan tangan di tangan Isabel dengan gerakan yang mengejutkan.
“Isabel adalah tamu terhormatku. Dan aku rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan pengumuman resmi,” kata Santiago, suaranya menguasai keramaian.
Alicia dan Rafael saling pandang, merasakan sesuatu yang tidak beres. Ini bukan Santiago yang mereka kenal—bukan pria yang menyerah di konferensi pers.
Saat hidangan pembuka disajikan, Santiago mengambil garpu perak dan mengetuk gelas sampanye kristalnya.
“Para hadirin sekalian,” mulai Santiago, senyumnya menyakitkan untuk dilihat. “Seperti yang Anda ketahui, saya telah berpisah dari istri saya, Alicia, dan telah mengundurkan diri dari peran saya di Solera untuk mengurus urusan pribadi. Saya telah menjual saham saya kepada Alicia, dan saya mengakui keberhasilan kemitraan Solera-Montenegro.”
Hingga di sini, Alicia merasa puas. Tetapi kemudian, Santiago menatap lurus ke mata Alicia.
“Namun, ada satu hal yang tidak saya jual. Dan ini adalah aset yang tidak bisa dibeli dengan uang, Rafael. Ini adalah hak moral.”
Ia mengambil napas dalam-dalam.
“Sebagai pendiri dan pilar etika perusahaan selama sepuluh tahun, saya tidak bisa membiarkan salah satu aset paling berharga kami dirusak. Beberapa bulan lalu, saya telah memulai proses pendaftaran Yayasan Nirlaba ‘Bumi Valero’ (Tierra Valero Foundation). Yayasan ini didedikasikan untuk pengembangan properti berkelanjutan dan telah secara resmi diakui oleh pemerintah kota Madrid.”
Jantung Alicia mulai berdebar kencang. Ia tidak tahu apa-apa tentang yayasan ini.
“Yayasan ini didanai oleh saya secara pribadi. Dan, inilah poinnya: Sejak hari ini, saya telah menjalin kesepakatan eksklusif dengan Dewan Kota Madrid. Setiap proyek real estat baru yang disetujui di atas lima puluh juta Euro di dalam batas kota Madrid, harus melalui persetujuan etis dan konsultasi lingkungan dengan Yayasan Bumi Valero.”
Sebuah desahan melanda ruangan.
Rafael menyipitkan mata, rahangnya mengeras. “Itu adalah intervensi pasar yang tidak sah, Santiago.”
“Ah, tapi ini adalah urusan moral, Rafael. Bukan bisnis murni,” balas Santiago, tampak menikmati kebingungan mereka. “Dan yang terbaik, saya telah menunjuk seseorang yang saya percayai sepenuhnya sebagai Kepala Yayasan dan Direktur Kepatuhan Etis yang baru.”
Santiago berdiri. Ia meraih tangan Isabel dan menariknya berdiri.
“Perkenalkan Isabel, yang bukan lagi sekadar tetangga atau rekan sekerja. Dia adalah Direktur Yayasan Bumi Valero. Dan dia akan meninjau setiap proposal baru Solera, Alicia.”
Tindakan tak terduga Santiago yang melemahkan Alicia: Santiago menggunakan pengaruh dan uangnya untuk mendirikan Yayasan Nirlaba 'Bumi Valero' dan menjadikannya filter wajib bagi proyek-proyek besar Solera di Madrid. Ia menunjuk Isabel, wanita selingkuhannya, sebagai Direktur Yayasan.
Alicia merasa perutnya melilit. Ini adalah serangan yang cerdas, kejam, dan hampir tidak bisa dibantah. Yayasan nirlaba memiliki kekebalan dan kekuatan moral. Santiago tidak menyerang bisnis secara langsung, tetapi ia menyuntikkan racun ke dalam sistem persetujuan proyek mereka—dan menempatkan musuh pribadi Alicia di pos kendali.
Rafael bereaksi lebih dulu. Ia memaksakan senyum di wajahnya, tetapi matanya adalah batu dingin.
“Kreatif, Santiago. Benar-benar kreatif. Sayangnya, intervensi non-bisnis ini hanya menunjukkan bahwa kau tidak mampu bersaing secara langsung,” cibir Rafael.
“Aku tidak peduli dengan persaingan, Rafael. Aku peduli dengan etika. Dan Isabel akan memastikan Solera tetap beretika, meskipun kau dan Alicia memimpinnya,” balas Santiago, tampak bangga.
Alicia menghela napas, menstabilkan dirinya. Ini bukan waktunya untuk marah. Ini waktunya untuk negosiasi.
“Sungguh mengharukan, Santiago. Begitu peduli dengan Madrid, sampai-sampai kau harus tidur dengan tetangga kita yang genit,” kata Alicia, suaranya menusuk. “Tapi mari kita realistis. Yayasan butuh uang untuk beroperasi. Berapa persen dari keuntungan Solera yang akan kau alokasikan untuknya?”
“Nol,” jawab Santiago, seringainya melebar. “Yayasan ini didanai oleh sisa-sisa saham yang kau beli dariku. Dan sebagai pendiri, aku tidak meminta imbalan apa pun dari Solera. Aku hanya meminta kepatuhan.”
Alicia menyadari kebrutalan rencana itu. Santiago menenggelamkan dirinya sendiri secara finansial sedikit demi sedikit hanya untuk menyakiti Alicia dan Rafael setiap hari. Ini adalah balas dendam yang lebih dalam dari sekadar bisnis.
“Kau telah menjadi martir yang menyedihkan, Santiago,” bisik Alicia.
“Aku adalah ayah baptis yang menonton anak-anakku bermain dengan api, Alicia. Dan aku akan pastikan api itu tidak membakar seluruh kota,” balas Santiago.
Makan malam pun dimulai. Setiap suapan terasa seperti racun. Di bawah meja, tangan Alicia mencari tangan Rafael. Ia mencengkeramnya erat, mencari kekuatan dan stabilitas.
“Kita harus menghancurkannya. Sekarang,” bisik Alicia kepada Rafael.
“Dengan cara apa? Dia telah membentengi dirinya dengan moralitas dan nirlaba. Dia tak tersentuh oleh hukum bisnis. Kita menyerang yayasan, kita kalah secara publik,” balas Rafael, suaranya serak karena frustrasi yang jarang terjadi.
“Kita harus menyerangnya di tempat yang paling dia pedulikan. Reputasi Isabel,” ujar Alicia.
“Isabel sekarang adalah santa bagi media lokal. Dia adalah wanita muda yang diselamatkan oleh martir Santiago untuk tujuan mulia. Kau tidak bisa menyerangnya dengan perselingkuhan; kau hanya akan terlihat seperti mantan istri yang cemburu.”
Rafael melepaskan tangan Alicia. Ia menuangkan anggur merah untuknya, dan menatapnya dengan serius.
“Kita bermain dengan aturan Santiago untuk sementara waktu. Tapi kita tidak akan tunduk. Kita akan menyusun rencana. Sekarang, mainkan peranku, querida. Tunjukkan pada semua orang betapa bersemangatnya dirimu bersama musuh terbesarnya. Buat dia menderita karena kau meninggalkannya untukku.”
Alicia mengangguk. Rafael benar. Mereka tidak bisa menunjukkan kelemahan.
Alicia menyandarkan kepalanya ke bahu Rafael, sebuah gerakan yang intim dan berani. Ia tahu semua mata tertuju pada mereka.
“Aku tidak butuh anggur untuk membuatku bersemangat, Rafael,” bisik Alicia.
Rafael tersenyum, senyum yang menjanjikan lebih dari sekadar gairah. “Aku tahu. Tapi kita harus menjaga penampilan, bukan?”
Ia meraih tangan Alicia yang bebas dan mencium punggungnya, tatapannya terarah langsung pada Santiago. Santiago melihat adegan itu. Wajahnya menegang, dan ia meminum wiskinya dengan sekali teguk.
Konfrontasi ini adalah kemenangan taktis bagi Santiago. Ia telah berhasil meracuni kemenangan Solera dan kemitraan Alicia. Alicia kini dihadapkan pada dilema baru: bagaimana ia bisa mengalahkan musuh yang memilih kemiskinan dan moralitas palsu sebagai senjata?
Saat malam semakin larut, Alicia dan Rafael pergi, meninggalkan Santiago di sana bersama Isabel.
Di dalam mobil, Rafael tidak menyalakan mesinnya. Ia menoleh ke Alicia.
“Rencana baru. Kita tidak bisa menghancurkan yayasannya di Madrid. Kita akan menghancurkan basis kekuatannya yang tersisa,” kata Rafael.
“Maksudmu?”
“Kau menyelamatkan Proyek Ibiza. Tapi siapa yang mengurus pembangunan residensial mewah yang menjadi jantung Solera di Madrid? Santiago. Itulah kebanggaannya yang sebenarnya. Besok pagi, kita mulai negosiasi yang sebenarnya, Alicia. Kita tidak hanya mengambil saham, kita mengambil jiwanya.”
“Apa yang harus kita negosiasikan?” tanya Alicia, matanya menyala kembali.
“Kita akan menegosiasikan ranjang Santiago.”
Rafael mencium Alicia, ciuman yang menjanjikan lebih dari sekadar balas dendam. Itu adalah janji kehancuran total. Yayasan Bumi Valero adalah masalah, tetapi Santiago Valero adalah musuh utama mereka. Dan Alicia siap untuk bertarung lagi, dengan semua senjata yang ia miliki.