Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 KHSC
Pagi pertama Nareswari sebagai Nyonya Bhaskara dimulai dengan rutinitas yang ia bawa dari desa. Pukul empat pagi, jauh sebelum matahari menyentuh cakrawala Jakarta, Nares sudah bangun. Ia melaksanakan Shalat Subuh di kamar tamu utama, menggelar sajadah di atas lantai marmer yang dingin, dan menengadahkan tangan, memohon ketabahan.
Setelah berdo’a, Nares memutuskan untuk melawan kesunyian apartemen mewah itu dengan sesuatu yang ia kuasai: memasak. Ia berjalan menuju dapur, yang merupakan mahakarya stainless steel dan granite monokrom. Peralatan di sana tampak begitu canggih, seolah belum pernah disentuh oleh bumbu dapur yang sesungguhnya.
Nares mulai bekerja. Ia mengeluarkan bumbu-bumbu yang ia bawa dari koper—bawang merah, cabai, dan sedikit terasi. Ia memilih membuat nasi goreng sederhana, menu sarapan favorit Pak Harjo. Suara pisau yang beradu dengan talenan, aroma bawang yang mulai wangi, dan desis minyak panas, perlahan memenuhi ruang utama.
Pukul enam pagi, nasi goreng pedas dengan telur mata sapi yang sempurna sudah tersaji di meja makan kaca. Nares mengatur dua set piring—satu untuknya, dan satu untuk Juna. Ini adalah rutinitas pertamanya sebagai istri: menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Juna biasanya bangun pukul setengah tujuh, langsung mandi, dan sarapan yang sudah disiapkan oleh koki pribadinya, yang bertugas datang sebelum fajar.
Pagi itu, Juna terpaksa bangun lebih awal. Ia mengerjap, bingung. Aroma yang menyeruak masuk ke kamarnya adalah aroma yang asing: bawang goreng dan terasi. Ini bukan aroma kopi hitam atau roti panggang yang terstruktur; ini adalah aroma hidup.
Juna keluar dari kamarnya, mengenakan jubah mandi sutra hitam. Ia berjalan ke ruang utama, alisnya berkerut tajam. Ia menemukan Nares sudah rapi dengan pakaian santai, rambutnya dicepol sederhana, dan dua piring nasi goreng mengepul di meja.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Juna, suaranya dingin, tidak senang dengan gangguan di pagi harinya.
Nares menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Selamat pagi, Juna. Aku membuat sarapan. Aku tahu kau punya koki, tapi aku ingin memasak sendiri. Hanya nasi goreng sederhana.”
Juna berjalan mendekati meja, menatap piring di hadapannya. Ia tidak melihat makanan; ia melihat ancaman. Ancaman terhadap rutinitasnya, terhadap benteng yang ia bangun.
“Aku sudah memberitahumu, Nareswari. Kau tidak perlu melakukan ini,” kata Juna, nadanya keras. “Kami punya asisten. Kau harus fokus pada kuliahmu. Jangan ganggu rutinitas rumah ini.”
“Ini juga rumahku, Juna,” balas Nares, lembut namun tegas. “Aku tahu aku tidak boleh mengganggu pekerjaanmu. Tapi melayani suami, bahkan dengan masakan sederhana, adalah bagian dari kewajibanku. Aku tidak memaksa, tapi aku harap kau mau mencobanya.”
Juna berdiri kaku selama beberapa detik, mencoba memproses perlawanan pasif Nares. Akhirnya, ia menarik kursi dan duduk.
“Baik,” katanya dingin. “Kau bisa sarapan bersamaku. Ini pengecualian.”
Mereka sarapan dalam keheningan yang menyesakkan. Juna memakan nasi goreng itu dengan gerakan formal dan hati-hati. Nares diam-diam mengamati. Ekspresi Juna tidak berubah, tetapi Nares melihat Juna menghabiskan piringnya. Itu sudah cukup bagi Nares.
“Aku suka sambalnya,” kata Juna setelah selesai, tanpa menatap Nares. Itu adalah pujian pertamanya, sebuah pengakuan kecil yang mengejutkan.
“Terima kasih,” jawab Nares.
“Setelah ini, kau urus pendaftaran dan orientasimu. Rio sudah menunggu di bawah. Ingat, jaga batas-batas kita, Nareswari. Kehangatan ini tidak akan mengubah kontrak kita.”
Juna pun kembali ke kamarnya dan meninggalkan Nares disana. Nares melihat punggung suaminya yang kian menghilang lalu setelahnya mengambil piring kotor dan membersihkannya. Karena siang nanti ia akan ke kampusnya.
Nares menghabiskan hari itu di kampus. Lingkungan yang baru, mahasiswa-mahasiswi lain yang serba mewah, dan hiruk-pikuk kota membuat Nares merasa seperti ikan air tawar yang dilemparkan ke laut. Ia adalah mahasiswa beasiswa dari desa, sementara teman-temannya adalah anak-anak konglomerat Ibukota.
Namun, semangat Nares membara. Ini adalah mimpinya. Ia mencatat dengan teliti setiap sesi orientasi, bertemu dengan dosen-dosennya, dan berusaha bersosialisasi. Ia menyembunyikan status pernikahannya. Di mata mereka, ia hanyalah Nareswari Kirana, mahasiswi baru yang cerdas.
Saat istirahat, Nares mencari tempat sunyi untuk Shalat Dzhuhur. Di tengah kebisingan kampus, ia menyempatkan diri berdo’a. Ia bersyukur atas beasiswa ini dan memohon kemudahan dalam menjalani peran gandanya.
Sementara itu, Juna, di kantor Bhaskara Corp yang megah, merasa aneh. Ia biasanya sangat fokus, tetapi hari itu, aroma nasi goreng dan wajah Nares yang polos saat ia mencium tangannya saat akad terus mengganggu konsentrasinya. Ia bahkan sempat meminta Rio untuk membuatkan kopi dengan sedikit rasa pedas—sesuatu yang belum pernah ia minta.
“Ada yang berbeda, Pak Juna?” tanya Rio, sekretarisnya, saat melihat Juna termenung menatap laporan keuangan.
“Tidak ada. Aku hanya sedang mempertimbangkan beberapa investasi properti di sektor residensial,” jawab Juna dingin, buru-buru menutupi kegelisahannya.
Juna tahu, Nares adalah sebuah variabel yang tidak terduga dalam persamaan hidupnya. Ia harus segera mengontrol variabel ini agar tidak merusak keseluruhan proyek kehidupannya yang sempurna.
***
Nares kembali ke apartemen menjelang malam, lelah secara fisik tetapi bahagia karena telah meraih mimpinya. Ia segera Shalat Maghrib dan Isya, lalu mandi, dan mulai merapikan kamar tamu utama. Ia menata buku-buku kuliahnya, meletakkan Al-Qur'an di nakas, dan menggantungkan foto kecil Ayah dan Ibunya di sudut meja belajar—sebuah sentuhan kehangatan yang asing bagi apartemen itu.
Pukul sembilan malam, Nares duduk di sofa ruang tamu yang kaku, membaca buku teks tentang Manajemen Pemasaran. Juna belum pulang.
Tepat pukul sebelas malam, pintu terbuka. Juna masuk, tampak lelah dan sedikit frustrasi. Wajahnya tegang, dasinya sedikit longgar. Ia terlihat lebih seperti seorang manusia yang kelelahan daripada seorang Dewa Bisnis.
Nares segera berdiri. Ia merasa harus melakukan sesuatu, bukan karena kontrak, tetapi karena ia melihat kelelahan di mata suaminya.
“Selamat datang, Juna. Kau mau aku siapkan teh hangat?” tawar Nares pelan.
Juna menggeleng, matanya menatap Nares dengan tatapan lelah. “Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Kau tidur saja. Ingat, kau harus kuliah besok.”
“Baik,” kata Nares. Ia melihat Juna melepaskan jasnya dan melemparkannya begitu saja ke sofa. “Jasmu. Biar aku gantungkan.”
Nares berjalan mendekat, mengambil jas Juna. Bau parfum dan rokok samar-samar tercium dari jas mahal itu. Saat ia hendak berbalik, Juna tiba-tiba meraih lengannya.
“Nareswari,” suara Juna serak dan dalam, lebih bernada peringatan. “Jangan melewati batas yang sudah kita sepakati. Jangan mencoba menjadi istri yang sesungguhnya.”
“Aku tidak mencoba, Juna,” kata Nares, menatap mata suaminya tanpa takut. “Aku sudah menjadi istrimu di hadapan Allah. Aku hanya melaksanakan kewajibanku. Aku melihat kau lelah. Aku hanya ingin memastikan kau nyaman.”
Kata ‘kewajiban’ dan ‘nyaman’ dari mulut Nares seolah menyalakan api dalam diri Juna. Juna tidak terbiasa dengan kepasrahan dan ketulusan seperti ini. Ia terbiasa dengan perhitungan, manipulasi, dan tuntutan. Ketulusan Nares, alih-alih meluluhkan, justru memicu pertahanannya.
“Nyaman?” Juna mencibir. Ia melangkah lebih dekat, memaksa Nares mundur selangkah hingga punggung Nares menyentuh dinding yang dingin. Juna mencondongkan tubuhnya, menahan Nares di antara dirinya dan dinding.
“Kau ingin tahu apa arti kewajiban seorang istri di hadapan Allah, Nareswari?” Juna berbisik, suaranya dipenuhi amarah terpendam dan keinginan yang tak ia inginkan. “Kewajiban itu jauh lebih dalam daripada sekadar menyajikan nasi goreng atau menggantung jas.”
Nares terpaku. Keberaniannya langsung menguap, digantikan oleh rasa gentar. Ia merasakan kehangatan tubuh Juna yang dekat, aroma parfumnya yang kuat, dan tatapan mata Juna yang kini tidak lagi dingin, melainkan panas dan berbahaya.
“Juna… kita sudah sepakat…” bisik Nares.
“Ya, kita sepakat. Secara emosional, kita nol. Tapi kita lupa satu hal,” Juna menyentuh cincin di jari Nares. “Cincin ini. Ini adalah bukti. Ini adalah mitsaqan ghaliza. Kau adalah istriku. Dan aku punya hak untuk melanggar kontrak itu, jika aku mau.”
Juna menyentuh pipi Nares dengan ibu jarinya yang dingin, lalu merunduk. Ia mencium Nares, sebuah ciuman yang mendominasi, dingin, dan penuh amarah. Ciuman itu bukan didasari nafsu, tetapi didasari keinginan Juna untuk menegaskan kendali dan batas kekuasaannya, membuktikan bahwa ia bisa memiliki Nares tanpa harus mencintainya. Nares terkejut, tubuhnya kaku, tetapi ia tidak melawan, membiarkan suaminya melakukan haknya.
Juna merasakan kepolosan Nares. Gadis itu tidak tahu bagaimana merespons, hanya kepasrahan. Innocence itu, sentuhan itu, seketika menghancurkan benteng amarah Juna. Ia tiba-tiba tersadar bahwa ia sedang melanggar batasan yang ia ciptakan sendiri. Ia sedang menyakiti seseorang yang tidak bersalah.
Secepat ia menyerang, secepat itu pula Juna mundur. Ia melepaskan Nares, wajahnya memerah karena gejolak emosi yang tak ia kenali.
“Itu adalah hakku. Dan kau memenuhinya. Sekarang, jangan pernah menguji batas kesabaranku lagi dengan kehangatanmu yang palsu. Kembali ke kamarmu,” kata Juna, suaranya tercekat. Ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya, menutup pintu dengan bunyi keras. Ia tidak masuk ke kamarnya; ia kembali ke satu-satunya tempat ia merasa aman: pekerjaan.
Nares berdiri mematung di lorong. Punggungnya masih bersandar di dinding, bibirnya terasa perih, dan seluruh tubuhnya gemetar. Ciuman itu, yang seharusnya manis, terasa dingin dan menyakitkan, sebuah pengingat brutal bahwa ia adalah milik Juna, tetapi hatinya tidak akan pernah ia miliki.
Nares menyentuh bibirnya, lalu menghela napas panjang. Ia berjalan pelan ke kamarnya. Ia tahu, ia telah melewati batas emosional Juna. Malam itu, Nares tidak tidur. Ia menghabiskan waktu dengan Shalat Tahajjud, memohon petunjuk. Ia sadar, ia tidak bisa melawan Juna dengan kemarahan atau tangisan. Ia hanya bisa melawannya dengan ketulusan dan do’a.
Di balik pintu ruang kerjanya, Juna duduk di balik meja, tangannya menutup wajahnya. Ciuman itu, sentuhan itu, telah menghancurkan tujuh tahun kendalinya. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena telah menggunakan haknya untuk menyakiti Nares. Ia benci betapa murninya Nares. Ia benci betapa Nares membuatnya merasa seperti seorang pria, bukan mesin.
Ia harus segera menguatkan benteng itu lagi, sebelum terlambat.
Bersambung....