NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi, sampai Aurora bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berpacu panik.

Dokter di hadapannya menatapnya cukup lama. Tatapan penuh simpati yang mendalam, yang justru membuat perasaan Aurora semakin tidak tenang dan dicekam ketakutan.

"Aurora..." dokter itu menjeda kalimatnya sejenak, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja. "Hasil pemeriksaan terakhir Anda sudah keluar."

Aurora menggenggam kedua tangannya erat. Sangat erat di bawah meja. "Katakan saja, Dok. Saya siap."

Dokter itu menghela napas panjang yang teramat berat, lalu membuka berkas terakhir di depannya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, dan bagi Aurora, setiap detiknya terasa seperti hukuman mati yang berjalan lambat.

Akhirnya dokter mulai menjelaskan arti dari rentetan grafik dan analisis laboratorium tersebut. Namun, semakin lama Aurora mendengarkan, wajahnya semakin pucat pasi. Sepasang matanya perlahan membesar, seolah menolak memercayai apa yang baru saja didengarnya.

"Jadi..." suara Aurora bergetar hebat, tercekat di tenggorokan. "Benar-benar tidak ada kemungkinan atau alternatif lain, Dok?"

Dokter itu terdiam sesaat, lalu menjawab pelan dengan nada penuh penyesalan. "Kami sudah melakukan seluruh pemeriksaan yang diperlukan, Aurora. Dan hasilnya tetap sama. Kerusakannya sudah telanjur meluas."

Deg.

Aurora langsung menunduk. Air matanya mulai menggenang, mengaburkan pandangan. Ia bahkan tidak menyadari kapan seluruh tubuh dan tangannya mulai gemetar hebat.

Dokter kemudian mendorong sebuah map putih tebal ke arahnya. "Ini salinan lengkap hasil pemeriksaan Anda. Dan di dalamnya, saya juga sudah menyertakan surat keterangan medis resmi yang mungkin akan Anda perlukan di kemudian hari."

Aurora menatap map itu dengan pandangan nanar. Map putih biasa, namun entah kenapa saat jemarinya menyentuh permukaannya, benda itu terasa jauh lebih berat daripada apa pun yang pernah ia pegang seumur hidupnya.

Perlahan, dengan sisa keberanian yang ada, ia membukanya. Matanya bergerak membaca beberapa baris kalimat kaku, lalu berhenti tepat pada kesimpulan cetak tebal di lembar paling akhir surat tersebut.

Napas Aurora langsung tercekat. Jantungnya seolah berhenti berdetak detik itu juga.

Tidak. Ini tidak mungkin...

Air mata pertama jatuh membasahi kertas di tangannya, tepat di atas tulisan vonis tersebut. Lalu disusul air mata berikutnya, dan berikutnya, sampai tulisan di hadapannya mulai terlihat kabur dan membias.

"Maaf..." bisik Aurora dengan suara yang teramat serak dan pecah oleh isak tangis.

Sebuah kata maaf yang entah ditujukan pada kemalangan dirinya sendiri, atau pada seseorang yang bahkan tidak berada di ruangan itu.

Alexander.

Nama itu langsung muncul dan berputar-putar di pikirannya, menggoreskan luka yang teramat perih. Pria yang selalu berbicara penuh binar tentang masa depan mereka. Pria yang selalu membahas konsep sebuah keluarga kecil yang hangat. Pria yang selalu berkata bahwa mereka akan menghadapi rintangan apa pun bersama-sama.

Namun untuk pertama kalinya, Aurora mendadak kehilangan seluruh pijakannya. Ia tidak yakin apakah ia masih memiliki keberanian dan kepantasan untuk tetap berdiri di samping pria itu.

Apa keluarga besar sekelas Kingsley akan menerima wanita dengan kondisi cacat seperti aku?

Pertanyaan itu muncul tanpa sadar, menyisipkan rasa perih yang luar biasa. Keluarga sebesar Kingsley membutuhkan kesempurnaan. Mereka memiliki nama besar yang harus dijaga dan takhta korporasi yang membutuhkan penerus masa depan. Dan kenyataan kelam di dalam map ini dengan kejam menegaskan bahwa Aurora tidak akan pernah bisa memberikannya.

---

Setelah seluruh konsultasi yang menyiksa itu selesai, Aurora keluar dari rumah sakit dalam keadaan kosong. Benar-benar kosong tanpa sisa.

Ia berjalan di sepanjang trotoar New York tanpa tujuan, tanpa kesadaran penuh atas pijakan kakinya. Pikirannya melayang jauh, hanyut dalam keputusasaan.

Di tengah langkah kosongnya, ponsel di dalam saku mantelnya tiba-tiba bergetar hebat.

Alexander Calling...

Air mata Aurora kembali jatuh berderai melihat nama itu menyala di layar. Ia tidak sanggup mengangkatnya. Ia benar-benar tidak memiliki keberanian untuk sekadar mendengarkan suara hangat pria itu sekarang.

Beberapa detik kemudian, telepon kembali masuk. Lalu lagi. Dan lagi. Panggilan beruntun yang menandakan bahwa Alexander mulai didera rasa khawatir yang luar biasa di seberang sana.

Sementara Aurora hanya bisa terduduk sendirian di sebuah bangku taman yang sunyi, mendekap map putih hasil pemeriksaannya erat-erat di depan dada. Tangannya masih gemetar hebat. Ia menatap nanar baris kalimat kesimpulan akhir di dalam surat itu, seolah masih berharap tulisan kejam itu bisa berubah dengan sendirinya.

Aurora langsung memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan isak tangisnya pecah di tengah embusan angin malam. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Alexander... sebuah pemikiran yang teramat mengerikan mulai menyusup ke dalam benaknya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah sekali pun berani ia bayangkan.

Bagaimana jika... aku bukan lagi wanita yang tepat untuk mendampingi masa depannya?

Bagaimana jika... cara terbaik untuk mencintai Alexander adalah dengan merelakannya pergi?

---

Malam itu, Aurora pulang ke apartemen dengan kondisi fisik yang teramat kacau. Matanya bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis di sepanjang jalan.

Namun sebelum ia sempat melangkah masuk ke dalam gedung apartemen, langkahnya mendadak terkunci rapat. Di bawah temaram lampu jalanan, sesosok pria tegap sedang berdiri dengan gelisah sembari menggenggam ponselnya.

Alexander.

Pria itu langsung berbalik dan menghampirinya dengan langkah lebar begitu menyadari kehadiran Aurora. Wajah tampannya menyiratkan kekhawatiran dan kepanikan yang teramat pekat.

"Aurora!" panggil Alexander setengah berseru. Ia langsung memegang kedua bahu Aurora dengan erat, memindai wajah gadis itu dengan tatapan cemas yang meledak-ledak.

"Kamu ke mana saja, hah? Aku telepon puluhan kali dan kamu tidak mengangkatnya! Aku hampir gila dan berniat melapor polisi!"

Aurora hanya bisa membeku, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan tangis yang kembali mendesak ingin tumpah di depan pria itu. Dadanya terasa sesak sampai ke hulu hati.

Karena pria yang begitu mencintai dan memedulikannya dengan seluruh jiwa ini... tidak pernah tahu bahwa seluruh dunia yang mereka bangun bersama baru saja runtuh tak bersisa beberapa jam yang lalu.

Dan yang membuat hatinya jauh lebih hancur dari apa pun adalah... di depan wajah cemas Alexander malam ini, Aurora menyadari bahwa ia sudah harus mulai memikirkan sebuah rencana untuk berjalan menjauh dan meninggalkan hidup pria itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!