Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aku pun keluar dan langsung naik ke tempat tidur sedangkan Galang dia masuk kamar mandi. Tak lama Galang keluar hanya memakai celana pendek sambil mengelap rambutnya. Aku yang kaget langsung menutup wajah ku dengan selimut. Galang tidak bicara dia langsung memakai baju tanpa lengan dan tidur di samping ku. Aku gak bisa tidur karena ini kali pertama aku tidur di rumah orang bahkan di samping ku ada orang asing yang baru aku kenal. Karena gak bisa tidur akhirnya aku bangun dan memilih duduk di sopa yang ada di kamar sampai akhirnya aku ketiduran.
Paginya saat aku membuka mata aku lihat Galang sudah rapi.
"Lo gak mau tidur bareng gue?, lagian gue gak akan sentuh lo juga, " ucap nya sinis.
"Semalam gak bisa tidur terus aku main HP dan ketiduran, " jawab ku.
Galang gak membalas ucapan Ku lagi dia langsung keluar begitu saja. Aku pun langsung bangun dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan sikat gigi saja. Setelah selesai aku pun menyusul Galang ke bawah untuk sarapan.
"Pagi semuanya, " sapa ku karena di meja makan sudah ada mama, papa dan adiknya Galang Sintia.
"Sini kakak! " panggil Sintia dan aku pun duduk di samping Galang.
"Gimana tidur kamu nyenyak? " tanya mama.
"Awalnya sih gak bisa tidur ma, " jawab ku jujur.
"Ya wajar kan lingkungan baru pasti seperti itu, " balas mama mengerti aku.
"Alah manja aja itu, " sindir Galang.
"Galang, " tegur mama.
Galang gak bicara lagi dan dia fokus sama makanannya. Aku pun langsung diam dan fokus makan.
"Lo mau bareng gue gak? " tanya Galang pada Sintia.
"Gak perlu, nanti di jemput Restu, " jawab Sintia.
"Ya udah aku berangkat dulu ma, pa, " pamitnya tanpa melirik ke arah ku dan aku hanya diam saja.
Mama menggelengkan kepala melihat sikap Galang pada ku yang cuek. Setelah semua orang selesai sarapan aku pun hendak membereskan meja makan namun di larang sang mama.
"Udah biarin aja, nanti ada mbak yang beresin. Mending kamu mandi dan siap-siap mama mau ajak kamu jalan-jalan, " ucap mama dan aku pun langsung naik ke kamar dan pergi mandi.
Setelah rapi aku pun turun dan mencari keberadaan sang mama.
"Mbak lihat mama? " tanya ku pada pembantu di rumah galang.
"Oh ibu keluar dulu, ibu suruh neng nunggu aja ibu bentar kok keluarnya, " jawab pembantu itu.
Aku pun memilih ke belakang untuk jalan-jalan. Halaman rumah Galang besar dan membuat aku berpikir kalau di bersihkan sendiri kayanya capek dan gak beres sehari. Aku pun melihat seorang pria yang sedang membersihkan halaman belakang karena penasaran aku pun mendekatinya.
"Mang, " panggil ku dan dia pun melihat ke arah ku.
"Eh non, ada apa? " tanya nya.
"Mang udah lama kerja disini? " tanya ku.
"Udah neng, dari den Galang kecil. Kenapa non? ".
"Enggak apa-apa mang, aku cuman nanya aja, " jawab ku.
"Den Galang itu sebenarnya baik neng, cuman kalau belum kenal dia kaya gitu tapi nanti juga enggak kok, " beritahu nya.
"Iya mang, aku juga ngerti kok, " balas ku.
"Alika, " panggil mama dan aku pun langsung menghampirinya.
"Maaf ya sayang tadi mama lupa kalau ada janji sama temen mama. Sekarang sudah beres kita langsung berangkat, " ajak mama dan aku pun mengangguk.
Mama membawa aku ke sebuah mall dan mama banyak membelikan aku baju, tas, sandal dan yang lainnya.
"Ma ini udah banyak, " tolak ku saat mama mengajak ku ke toko baju lagi.
"Gak apa-apa, lagian tugas kamu sekarang itu buat habisin uang Galang toh kamu istrinya, " ujar mama.
"Ya ma gak segitunya juga, nanti bang Galang marah, " ucap ku.
"Gak akan kalau marah nanti mama yang maju, " balas mama dan masuk ke toko baju lagi.
Setelah selesai mama mengajak ku makan dan saat kami sedang makan tiba-tiba Galang datang dengan wajah muram.
"Ma, ngapain sih suruh aku datang? " tanya Galang dengan wajah kesal.
"Ya jemput istri kamu lah ngapain lagi, " jawab mama.
"Kan bisa pulang bareng mama, aku lagi banyak kerjaan ma, kemarin di tinggal seminggu, "
"Ada Indra, dia yang ngerjain juga beres, " balas mama.
"Ma, " Galang hendak membalas ucapan sang mama namun langsung di potong.
"Udah gak usah banyak ngomong, sekarang kamu ajak Alika pulang, mama mau ketemu teman mama dulu, " ucap mama lalu pergi dan sekarang tinggal aku dan Galang.
Galang melirik belanjaan ku dan membuang nafas kasar.
"Ini semua mama yang beli, " beritahu ku karena aku gak mau di bilang boros.
"Gue tau, masalahnya gimana bawa nya, " balas Galang.
Saat aku hendak menjawab Galang langsung berdiri dan berkata, "lo abisin dulu makannya, gue cari orang buat bawa ni belanjaan, ".
Galang pun langsung pergi dan aku di tinggal sendiri. Tak lama Galang datang berapa orang.
" Makan nya udah beres? "tanya Galang.
" Sudah, "jawab ku.
" Ya udah kita pulang, "lalu dia melirik ke orang yang tadi dia bawa.
" Kalian bawa semua barang ini ke lobby, "titah Galang dan mereka langsung membawa belanjaan ku, sedangkan aku hanya mengekor Galang.
Kami turun ke parkiran dan langsung naik mobil. Galang langsung menjalankan mobilnya menuju lobby mall dimana orang-orang tadi menunggu. Setelah semua barang di masukan Galang pun langsung pergi dari mall itu. Sepanjang jalan aku hanya diam saja karena bingung mau bicara apa.
"Lo mau gimana dengan pernikahan ini? " tanya Galang tiba-tiba membuat aku kaget.
"Gue belum bisa Terima pernikahan ini, jujur saja gue setuju nikahin lo karena gue gak mau terus di desak buat cari pasangan, makanya gue setuju sekalian nolong orang tuanya Doni agar tidak terlalu malu, " ucap Galang membuat aku kaget.
"Aku pun awalnya untuk menyelamatkan nabi baik keluarga ku dan aku gak mau menyia-nyiakan uang yang sudah keluar buat acara pernikahan itu walau pada akhirnya tetap gagal, "balas ku.
"Terus sekarang? " tanya Galang.
"Aku ikut abang saja, toh buat ku pernikahan itu bukan untuk di mainkan, aku bakal berusaha buat jadi istri yang baik dan menjalankan tugas ku sebagai istri. Tapi kalau abang tidak berpikir seperti itu aku gak akan maksa dan aku akan turuti sesuai pikiran abang, "jawab ku.
" Alasan gue tidak mempunyai pasangan karena gue suka sama seseorang, namun mustahil buat gue bersamanya, "beritahu Galang.
" kenapa? "tanya ku penasaran. " Kalau abang suka harusnya abang kejar, "lanjut ku.
" Entah lah, di sisi lain perasaan gue padanya cuman sekedar adik namun gue gak rela jika dia bersama orang lain, "jawab Galang.
Aku kaget ternyata Galang bisa jujur dan membahas pernikahan ini.