Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
"Kagak lah! Ngapain juga gue sedih?" Melody langsung tegak begitu memastikan tidak ada orang luar di kelas. Ia menyambar cermin kecil dan merapikan rambutnya yang tadi sengaja dibuat sedikit berantakan.
"Gue baru sadar aja, selera si Kaisar ternyata yang tipikal polos-polos bangsat. Cocok dah, yang satu es batu, yang satu uler kadut," ucap Melody santai, membuat Rere dan Rhea tertawa terbahak-bahak.
"Sumpah, akting lo keren sih, Mel! Muka lo tadi udah kayak orang mau mati besok," puji Rhea sambil mengacungkan jempol.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Thomas masuk dengan langkah tenang, membawa sebuket bunga matahari yang cerah di tangannya. Ia berjalan lurus ke arah meja Melody.
"Buat kamu, Melody. Semoga bisa bikin perasaan kamu lebih baik," ucap Thomas lembut.
Melody menerima bunga itu, lalu menatap wajah Thomas lekat-lekat dari jarak dekat. "Eh, kalau diliat-liat dari deket, ini cowok gantengnya bukan main. Auranya beda, kayak ada yang disembunyiin tapi bikin penasaran," batinnya.
"Lo... kalau diliat dari deket tampan banget ya," ucap Melody tanpa sadar.
Thomas sempat tertegun, sorot matanya yang tenang mendadak berubah sedikit tajam sebelum kembali lembut. "Ah, engga kok," jawabnya singkat, namun ada kesan ia sedang menutupi identitas atau sesuatu yang besar.
Tak lama kemudian, suasana kelas mendadak berat. Geng Amours masuk secara bersamaan. Galen, Jigar, David, Azka, dan tentu saja Kaisar yang berjalan paling depan dengan aura gelapnya. Biasanya, siswa lain akan langsung menyingkir, tapi Thomas tetap berdiri kokoh di samping meja Melody tanpa rasa takut sedikit pun.
"Jadi gimana, Mel? Kamu mau nerima aku?" tanya Thomas dengan suara yang cukup lantang hingga terdengar ke seluruh penjuru kelas.
Pertanyaan itu membuat langkah Azka, David, Jigar, dan Galen terhenti seketika. Mereka semua menoleh dengan mata melotot. Terutama Kaisar. Langkah cowok itu berhenti tepat beberapa meter dari meja Melody. Tatapannya dingin, menusuk tepat ke arah tangan Thomas yang hampir menyentuh pundak Melody.
"Buset, ada yang mau jadi pahlawan baru nih?" bisik Jigar ke arah David, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba keluar dari tubuh Kaisar.
Kaisar tidak bicara, tapi rahangnya mengeras. Ia menatap Thomas seolah-olah Thomas adalah musuh dunia bawah yang harus ia musnahkan detik itu juga.
Melody memasang wajah tersipu yang dibuat-buat, jemarinya memilin ujung seragamnya dengan gaya malu-malu kucing. Pemandangan itu sukses membuat Rere dan Rhea melongo hampir menjatuhkan rahang mereka ke lantai.
"Aduh, banyak yang liatin... Sini deh ikut gue!" ucap Melody sambil buru-buru menarik tangan Thomas keluar kelas, melewati geng Amours yang masih berdiri mematung.
"Keknya dia beneran nerima si Thomas deh," gumam Rhea dengan wajah tak percaya.
Di koridor yang agak sepi, Melody langsung melepas tangan Thomas dan menghela napas panjang. "Aduh, Thomas... gimana ya? Gue bukannya mau PHP, tapi masalahnya gue belum suka sama elo. Cuma... gue butuh tameng sebenernya buat ngindarin drama-drama di dalem," ucap Melody jujur tanpa saringan.
Thomas justru tersenyum manis, senyum yang entah kenapa terlihat sangat tulus tapi juga misterius di saat yang sama. "Nggak apa-apa, Mel. Kita deket dulu aja. Kamu boleh nolak aku kapan pun kamu mau, aku nggak akan maksa."
Mendengar itu, Melody jadi merasa tidak enak. "Duh, ini cowok baik bener, jadi merasa berdosa gue," batinnya. Tapi sedetik kemudian, sebuah ide brilian (menurutnya) muncul di otaknya yang gesrek.
"Gini aja deh, gimana kalau kita pacaran tapi... boongan? Tapi kita aslinya nggak pacaran loh ya! Gue cuma butuh status biar nggak diganggu si polos-polos bangsat itu lagi. Gimana? Lo keberatan nggak?" tanya Melody penuh harap.
"Setuju," jawab Thomas singkat tanpa ragu sedikit pun.
"Oke! Deal ya! Inget, ini cuma akting!" Melody menjabat tangan Thomas dengan semangat.
Melody pun kembali masuk ke dalam kelas dengan langkah riang dan wajah gembira, seolah beban hidupnya baru saja diangkat oleh malaikat. Ia berjalan melewati meja Kaisar tanpa melirik sedikit pun, sengaja bersenandung kecil sambil memeluk buket bunga matahari dari Thomas.
Kaisar yang memperhatikan setiap gerak-gerik Melody dari balik tatapan dinginnya, meremas pulpen di tangannya hingga terdengar bunyi retakan kecil. Aura di sekitar cowok itu mendadak jadi sangat mencekam, membuat Jigar dan David yang duduk di dekatnya refleks bergeser menjauh.
"Seneng banget ya abis ditembak?" sindir Jigar mencoba mencairkan suasana, tapi malah dihadiahi tatapan maut dari Kaisar.
Melody duduk di kursinya dengan gaya bos besar. "Iya dong! Hari ini cerah, bunga wangi, dan gue punya pacar baru yang ganteng plus nggak dingin kayak kulkas dua pintu!" serunya sengaja dikencangkan agar terdengar ke seluruh penjuru kelas.