NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pesan misterius yang berpendar di layar ponsel Hani terasa laksana embusan angin kutub yang membekukan darahnya. Ia menatap lekat-lekat barisan kalimat dari nomor tidak dikenal itu, lalu beralih memandangi wajah tenang Reza yang masih terlelap di balik pengaruh obat bius pascaoperasi.

Di atas meja nakas, flashdisk perak berisi draf digital Proyek-X memantulkan pendar lampu ruangan yang temaram.

Rumah lama ayah... laci paling bawah.

Rumah peninggalan almarhum ayahnya adalah tempat yang penuh dengan kenangan sekaligus luka. Sejak ayahnya tiada, rumah itu jarang ia jenguk secara mendalam, terlebih karena konflik pelik hak waris dan status kepemilikan surat rumah yang sempat memicu ketegangan antara dirinya dengan ibu tiri serta saudara tirinya.

Namun kini, petunjuk dari pria misterius berbaju hitam itu memaksanya untuk kembali ke tempat di mana semuanya bermula.

Hani menatap jam digital di dinding kamar rawat VIP. Pukul tiga lewat empat puluh lima menit dini hari. Fajar akan menyingsing dalam waktu kurang dari dua jam.

Jarak dari rumah sakit di pusat Jakarta menuju kediaman lama ayahnya membutuhkan waktu yang cukup panjang jika ia berkendara dengan normal. Ia tidak boleh membuang waktu sedetik pun.

Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara desisan, Hani melepaskan genggaman tangannya pada jemari Reza. Ia merapikan selimut pria itu, lalu menyelipkan flashdisk perak ke dalam saku blusnya dengan aman.

Sebelum melangkah keluar, Hani menghampiri Narendra Baskara yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tunggu luar dengan mata terpejam lelah.

"Pak Narendra," panggil Hani dengan suara setengah berbisik.

Narendra membuka matanya, langsung menegakkan posisi duduknya. "Hani? Ada apa? Apa kondisi Reza memburuk?"

"Tidak, Pak. Pak Reza stabil," Hani tersenyum tipis untuk menenangkan sang Direktur Utama.

"Namun, saya harus pergi sekarang. Ada urusan mendesak yang harus saya selesaikan di rumah lama almarhum ayah saya sebelum pagi datang. Saya titip Pak Reza dan Sarah. Saya akan kembali secepatnya begitu urusan ini selesai."

Narendra menatap Hani dengan kening berkerut, mendeteksi kilat ketegasan yang tidak biasa di sepasang mata wanita itu. "Apakah ini aman, Hani? Perlu aku mengirimkan beberapa personel pengaman internal untuk mengawalmu ke sana?"

Hani menggeleng halus. "Tidak perlu, Pak. Jika terlalu banyak orang yang bergerak, pihak Surya Adiguna mungkin akan mencium pergerakan kita. Saya akan naik taksi. Percayalah pada saya."

Narendra mengembus napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Hati-hati, Hani. Jika terjadi sesuatu, langsung hubungi nomor pribadiku."

...****************...

Perjalanan menuju rumah ayahnya terasa begitu panjang dan sunyi. Sepanjang jalan yang berkelok-kelok membelah perbukitan, Hani hanya menatap kosong ke luar jendela mobil taksi yang ia sewa.

Pikirannya berkecamuk antara rasa khawatir pada kondisi Reza, rasa bersalah pada Sarah, dan rasa penasaran yang membakar dadanya mengenai rahasia apa yang sebenarnya disimpan oleh sang ayah semasa hidupnya.

Ketika mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berarsitektur lama dengan halaman yang ditumbuhi rumput liar, rona merah fajar baru saja mengintip di ufuk timur. Rumah itu tampak sepi, berdiri kokoh di tengah keheningan pagi daerah pesisir.

Hani melangkah turun setelah membayar ongkos taksi. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma payau khas udara laut yang langsung menyergap dirinya.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengeluarkan kunci duplikat tua dari dalam dompetnya, memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu kayu jati depan, dan memutarnya.

Klek.

Pintu terbuka dengan derit halus. Bagian dalam rumah itu tampak berdebu, dengan furnitur yang ditutupi kain putih penutup debu. Hani melangkah lurus menuju ruang tengah, tempat di mana meja kerja kayu besar milik almarhum ayahnya berada.

Meja kerja itu tampak kusam. Hani mendekat, lalu berlutut di lantai beton yang dingin tepat di hadapan deretan laci meja tersebut.

Ia mengabaikan laci pertama dan kedua, lalu memusatkan pandangannya pada laci paling bawah, sebuah laci dalam yang biasanya digunakan ayahnya untuk menyimpan bundelan dokumen kelayakan lama.

Hani mencoba menarik handle laci tersebut, namun terkunci rapat. Ia meraba bagian bawah meja, mencari celah rahasia tempat ayahnya biasa menyembunyikan kunci darurat. Benar saja, jemarinya menyentuh sebuah benda logam kecil yang direkatkan dengan selotip di balik kerangka kayu meja.

Dengan cepat, Hani melepaskan kunci kecil itu dan memasukkannya ke lubang laci bawah.

Klik.

Laci itu terbuka dengan desiran berat. Di dalamnya hanya terlihat beberapa map folio kosong dan tumpukan koran lama yang sudah menguning. Hani mengernyitkan dahinya bingung. Apakah pria misterius itu membohonginya?

Namun, ingatan Hani mendadak berputar pada masa kecilnya, ketika ia sering melihat ayahnya mengetuk-ngetuk bagian dalam laci untuk memeriksa rongga ganda. Hani memasukkan tangannya jauh ke dalam laci, meraba dinding kayu paling belakang, lalu menekan kuat dua sudut engsel bagian dalam secara bersamaan.

Plak.

Sebuah papan pembatas kayu tipis di bagian paling belakang laci itu terlepas, menyingkap sebuah rongga rahasia berukuran kecil yang selama ini tersembunyi dengan sangat rapi.

Di dalam rongga ganda tersebut, terdapat sebuah kotak beludru hitam kecil yang sudah berjamur dan sebuah buku catatan harian bersampul kulit cokelat tua.

Hani mengeluarkan kedua benda itu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia membuka buku catatan harian ayahnya terlebih dahulu.

Halaman demi halaman dipenuhi oleh tulisan tangan rapi sang ayah mengenai analisis keuangan delapan tahun lalu. Hingga akhirnya, jemari Hani berhenti pada sebuah halaman yang ditandai dengan tinta merah tebal.

14 Mei 2018.

"Surya Adiguna mendatangi kantorku lagi hari ini. Dia menawarkan saham kosong atas nama Hani Adisa Putri, putri tunggal dari pernikahan pertamaku. Saham itu bernilai puluhan miliar rupiah, hasil dari pengalihan aset gelap Baskara Group yang dia cuci melalui perusahaan cangkang di luar negeri. Dia ingin aku menandatangani laporan audit palsu sebagai jaminan mutlak mutasi dana tersebut."

"Aku menolaknya mentah-mentah. Saham itu bukan hadiah untuk putriku, melainkan jerat tali gantung yang akan menghancurkan masa depan Hani jika sewaktu-waktu skandal pencucian uang ini meledak ke permukaan. Aku menyembunyikan sertifikat kepemilikan saham asli dan draf pengakuan dosa tertulis milik Surya di dalam kotak hitam. Jika sesuatu terjadi padaku, dokumen di dalam kotak inilah yang akan menjadi pelindung sekaligus senjata pemungkas bagi Hani untuk menghancurkan Surya Adiguna."

Air mata Hani jatuh menetes, membasahi barisan tulisan tangan ayahnya yang penuh dengan rasa cinta dan perlindungan seorang orang tua terhadap anak tunggalnya.

Ayahnya rela dituduh korupsi, rela namanya membusuk di dalam sejarah Baskara Group, demi memastikan bahwa nama Hani bersih dan tidak terseret dalam lingkaran setan korporasi milik Surya Adiguna.

Dengan tangan bergetar, Hani membuka kotak beludru hitam kecil tersebut. Di dalamnya, terlipat rapi sebuah lembar sertifikat saham asli Baskara Group yang mencantumkan nama lengkap dirinya, lengkap dengan tanda tangan basah dan cap jempol darah milik Surya Adiguna sebagai jaminan kepemilikan aset delapan tahun lalu. Di balik kertas sertifikat itu, terdapat sebuah kartu memori mikro tua.

"Ini dia..." bisik Hani dengan suara tercekat. "Bukti mutlak yang bisa menyeret Surya Adiguna ke dalam sel tahanan seumur hidupnya."

Dengan kepemilikan bukti baru ini, Hani kini memegang kendali penuh atas papan catur konflik korporasi ini. Ia tidak lagi sekadar menjadi pion yang bertahan dari serangan, melainkan telah menjelma menjadi ratu yang siap melakukan skakmat terhadap sang raja hitam.

Hani segera merapikan kembali laci meja kerja ayahnya, memasukkan buku harian dan kotak beludru itu ke dalam tas ransel kecilnya, lalu bergegas keluar dari rumah lama tersebut. Sinar matahari pagi kini sudah menerangi jalanan sepenuhnya.

Ia berniat mencari jalan keluar untuk segera kembali ke Jakarta dan menyerahkan bukti ini kepada Narendra Baskara. Namun, begitu langkah kakinya melewati gerbang berkarat halaman depan rumah, sebuah mobil SUV hitam berdesain sangar mendadak melaju kencang dari arah tikungan pantai dan mengerem mendadak tepat di hadapannya, menutup jalur jalan setapak.

Pintu penumpang terbuka kasar, dan dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian kasual gelap, kaki tangan bayaran Surya Adiguna melangkah turun dengan tatapan mata yang dingin dan mengancam. Salah satu dari mereka langsung mencabut sebuah pistol revolver dari balik jaketnya, mengarahkannya lurus ke dada Hani.

"Serahkan kotak beludru hitam yang baru saja kamu ambil dari dalam rumah, Hani Adisa," ucap pria bertubuh tegap itu dengan suara berat yang menekan.

"Tuan Surya sudah tahu tipuanmu di dermaga semalam. Draf yang kamu berikan palsu, dan dia tidak akan membiarkanmu lolos dua kali dengan membawa barang yang bisa menghancurkannya."

Hani melangkah mundur satu setapak, jantungnya berdegup kencang namun ia berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia mendekap tas ranselnya erat-erat di dada. "Kalian terlambat. Seluruh dokumen digitalnya sudah terkonfirmasi aman. Menembakku hanya akan mempercepat kehancuran bos kalian!"

"Jangan menggertak kami, Nona," pria itu menyeringai sinis, jemarinya mulai bergerak menarik pelatuk pistol. "Serahkan tas itu, atau kami terpaksa membawa mayatmu ke hadapan Tuan Surya."

Di tengah ketegangan yang kian mengencang di bawah cerahnya pagi, dari arah tikungan jalan belakang mobil para penjahat itu, deru mesin sebuah motor sport besar terdengar meraung kencang mendekati lokasi mereka.

Motor sport hitam itu bermanuver tajam, meluncur cepat mengarah langsung ke posisi pria yang sedang membidik Hani.

Penjahat itu yang terkejut langsung menoleh ke arah datangnya motor, sementara Hani membelalakkan matanya saat melihat pengendara motor tersebut mengenakan jaket kulit serba hitam dengan helm yang kacanya tertutup rapat, pria misterius yang mengiriminya pesan teks beberapa jam lalu.

DORRR!

Sebuah tembakan meletus memecah keheningan pagi, memantul di antara tebing pantai, bersamaan dengan momentum motor sport itu yang sengaja ditabrakkan ke bagian samping tubuh si penembak hingga pria itu terpelanting keras ke atas kap mobilnya sendiri.

1
Indah Callysta Annabel
ceritanya bagus banget, alurnya rapi, bahasanya menarik, semangat kak
Vimel: Terima kasih, kak 😊
total 1 replies
Indah Callysta Annabel
bagus banget ceritanya
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!