menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Pagi itu suasana kantor divisi marketing sudah cukup ramai sejak pukul delapan. Suara keyboard, obrolan kecil, dan bunyi mesin printer bercampur menjadi rutinitas biasa di ruangan yang dipenuhi meja kerja berjajar rapi itu. Di salah satu sudut ruangan, Shinta duduk sambil membuka laptopnya pelan.
Hari itu ada rapat penting bersama Pak Radit untuk membahas proyek pengiklanan produk snack terbaru perusahaan mereka. Produk baru itu rencananya akan diluncurkan bulan depan, sehingga tim marketing harus segera menyiapkan konsep iklan sekaligus strategi penjualan. Dunia marketing memang aneh. Orang dewasa berkumpul serius hanya untuk mencari cara agar manusia lain membeli keripik sambil merasa hidup mereka lebih bermakna.
Rara yang duduk di sebelah Shinta tampak jauh lebih santai.
“Wajahmu tegang sekali,” bisik Rara sambil menyalakan laptop. “Baru juga pagi.”
“Tidak apa-apa,” jawab Shinta singkat.
Padahal jelas ada apa-apa.
Shinta melirik sekilas ke arah samping. Andika duduk hanya dua kursi darinya. Pria itu terlihat fokus membaca data penjualan di tablet miliknya. Kemeja biru muda yang dipakainya tampak rapi seperti biasa. Rambutnya juga tertata rapi tanpa terlihat berlebihan.
Yang membuat Shinta kesal justru karena Andika tampak terlalu tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Beberapa menit kemudian Pak Radit masuk ke ruangan sambil membawa map hitam dan segelas kopi.
“Oke semuanya, kita mulai rapat pagi ini,” ucapnya tegas.
Semua langsung duduk rapi. Obrolan kecil perlahan menghilang.
Pak Radit berdiri di depan layar presentasi lalu mulai membuka pembahasan.
“Produk snack terbaru kita akan launching bulan depan. Saya ingin konsep iklan yang sederhana tapi mudah diingat. Jangan terlalu rumit. Konsumen sekarang cepat bosan.”
Beberapa staf mulai mengangguk.
“Siapa yang mau mulai kasih ide?”
Salah satu staf pria bernama Deni mengangkat tangan lebih dulu.
“Saya kepikiran konsep anak muda nongkrong malam sambil makan snack, Pak. Jadi kesannya santai dan modern.”
Pak Radit mengangguk kecil.
“Lumayan. Tapi masih terlalu umum.”
Lalu staf lain memberikan ide tentang keluarga harmonis yang berkumpul sambil menikmati produk snack tersebut. Ada juga yang mengusulkan konsep persahabatan dan petualangan.
Shinta menyimak semua ide itu dengan tenang sambil mencatat poin penting. Sesekali dia melirik Andika tanpa sadar.
Pria itu tampak serius mendengarkan setiap pendapat.
“Kalau menurut saya,” ujar Andika akhirnya, “iklan sekarang lebih efektif kalau ada unsur emosionalnya. Orang lebih mudah ingat sesuatu yang dekat dengan pengalaman mereka.”
Pak Radit langsung tertarik.
“Maksudnya?”
“Tidak perlu cerita terlalu besar. Justru hal sederhana lebih kena. Misalnya momen seseorang merasa nyaman karena produk kita hadir di situasi tertentu.”
Shinta memalingkan wajahnya pelan.
Suara Andika masih sama seperti dulu. Tenang dan enak didengar. Dan itu justru membuatnya makin tidak nyaman.
Rara tiba-tiba mengangkat tangan.
“Saya ada ide, Pak.”
Pak Radit menoleh.
“Coba.”
Rara berdeham kecil sebelum mulai bicara dengan penuh semangat.
“Konsepnya tentang mantan pasangan yang tidak sengaja ketemu lagi. Awalnya canggung. Terus mereka ngobrol sambil makan snack produk kita. Akhirnya jadi balikan.”
Ruangan langsung hening dua detik.
Lalu beberapa orang tertawa kecil.
Deni bahkan sampai menahan senyum.
“Apaan itu?” bisiknya pelan.
Shinta sampai mengernyit tidak percaya.
Baginya ide itu terdengar sangat aneh. Hubungan manusia memang sering tidak masuk akal, tapi menjadikan snack sebagai penyelamat kisah cinta terdengar seperti hasil percakapan orang kurang tidur.
Namun di luar dugaan, Pak Radit malah terlihat tertarik.
“Hm… menarik.”
Rara langsung semangat.
“Karena sekarang konsep nostalgia sama hubungan itu gampang viral, Pak.”
Pak Radit mengangguk sambil berpikir.
“Ada konflik, ada emosi, ada momen hangat. Saya suka.”
Shinta menatap Pak Radit dengan ekspresi sulit dipercaya.
Ide seperti itu diterima?
Pak Radit bahkan menunjuk Rara.
“Kamu coba buat skenarionya nanti. Detailkan alurnya.”
“Siap, Pak.”
Rara tersenyum bangga.
Sedangkan Shinta hanya diam sambil menatap laptopnya. Dunia marketing benar-benar misterius. Kadang orang yang belajar bertahun-tahun tentang strategi bisnis akhirnya tetap memilih konsep “mantan balikan gara-gara keripik.”
Setelah pembahasan iklan selesai, rapat berlanjut ke data penjualan.
Pak Radit menatap Andika.
“Oke, sekarang bagian penjualan. Andika.”
Andika berdiri sambil membawa tablet dan remote presentasi.
Slide grafik langsung muncul di layar.
“Untuk bulan ini penjualan naik sekitar tujuh persen dibanding bulan sebelumnya,” jelasnya.
Beberapa staf tampak cukup puas mendengarnya.
“Wilayah distribusi terbesar masih di Surabaya dan Sidoarjo. Tapi saya merasa market kita belum maksimal.”
Pak Radit menyilangkan tangan.
“Kenapa?”
“Karena distribusi kita masih terlalu fokus di kota besar. Produk kita sebenarnya punya potensi masuk ke daerah pinggiran dan kota kecil.”
Andika mengganti slide berikutnya.
“Selain itu promosi digital kita juga masih kurang luas. Banyak target pasar usia muda belum terlalu mengenal produk terbaru kita.”
Pak Radit mengangguk perlahan.
“Jadi menurutmu?”
“Kita perlu perluasan market sekaligus pendekatan distributor baru.”
Ruangan kembali hening sambil memperhatikan penjelasan Andika.
Shinta diam-diam mengakui kalau Andika memang pintar dalam pekerjaannya. Cara bicaranya tenang dan jelas. Dia juga tidak pernah terlihat gugup saat presentasi.
Itu salah satu hal yang dulu membuat Shinta kagum.
Dan sekarang justru membuatnya kesal.
Setelah presentasi selesai, Pak Radit tersenyum kecil.
“Oke. Data dan analisanya bagus.”
“Terima kasih, Pak.”
“Kalau memang perluasan market memungkinkan, nanti kita coba bahas lebih lanjut sama divisi distribusi.”
Andika mengangguk lalu kembali duduk.
Rapat formal akhirnya selesai setelah hampir satu jam.
Pak Radit meregangkan tubuhnya pelan.
“Oke, karena pagi ini kalian lumayan bikin otak saya bekerja keras, saya traktir minuman.”
Ruangan langsung lebih hidup.
“Wah, mantap Pak!”
“Terima kasih, Pak Radit!”
Pak Radit tertawa kecil.
“Asal jangan pesan yang aneh-aneh.”
Andika segera membuka aplikasi pemesanan di ponselnya.
“Saya catat pesanannya saja.”
Satu per satu mulai menyebut minuman mereka.
“Kopi susu.”
“Es cokelat.”
“Jus alpukat.”
“Americano dingin.”
Andika mengetik cepat sambil sesekali mengangguk.
Lalu dia menoleh ke arah Shinta.
“Kamu mau apa?”
Shinta sempat terdiam sepersekian detik karena Andika menatapnya langsung.
“Jus jeruk saja.”
“Oke.”
Andika kembali mengetik pesanannya.
Pak Radit lalu mulai mengobrol santai dengan para staf mengenai proyek distribusi dan target penjualan. Suasana ruangan perlahan berubah jauh lebih santai dibanding saat rapat tadi.
Rara bahkan mulai bercanda soal ide iklannya.
“Nanti kalau iklan saya viral jangan lupa traktir lagi, Pak.”
Pak Radit tertawa.
“Asal jangan sampai netizen bilang kita jualan drama, bukan snack.”
Semua ikut tertawa kecil.
Hanya Shinta yang lebih banyak diam.
Dia sesekali membalas obrolan seperlunya sambil berusaha menghindari kontak mata dengan Andika.
Baginya situasi itu melelahkan.
Apalagi sejak melihat wanita bernama Aqila sering datang menemui Andika di kantor. Meski Andika tidak pernah menjelaskan apa hubungan mereka, Shinta sudah terlanjur berpikir kalau wanita itu pasti pacarnya.
Dan itu membuatnya semakin ingin menjaga jarak.
Tidak lama kemudian pesanan minuman datang.
Andika langsung berdiri mengambil kantong minuman dari kurir.
“Nih, saya bagikan.”
Satu per satu minuman diberikan sesuai pesanan.
“Kopi susunya.”
“Ini americano.”
“Jus alpukat siapa?”
Ruangan kembali ramai oleh ucapan terima kasih dan suara sedotan plastik dibuka.
Andika lalu berhenti di depan meja Shinta sambil menyerahkan satu gelas minuman dingin.
“Punyanmu.”
Shinta menerimanya pelan.
Namun begitu melihat labelnya, dia langsung mengernyit.
“Ini bukan jus jeruk.”
Andika melihat gelas itu lalu tersenyum kecil.
“Oh, salah dengar mungkin.”
“Ini jus manggis.”
“Iya.”
Shinta menatapnya datar.
“Saya pesan jus jeruk.”
Andika malah terlihat santai.
“Tidak sengaja.”
Shinta masih menatap minuman itu dengan kesal kecil.
Lalu Andika sedikit mendekat dan berbisik pelan agar tidak terdengar yang lain.
“Bukannya dulu suka jus manggis?”
Kalimat itu membuat Shinta langsung diam.
Tangannya yang memegang gelas sedikit menegang.
Andika masih mengingat hal seperti itu?
Shinta segera membuang muka.
“Masa lalu tidak perlu diingat terus.”
Nada suaranya terdengar dingin.
Andika terdiam beberapa detik sebelum tersenyum tipis.
“Iya juga.”
Dia lalu kembali ke tempat duduknya seolah tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Shinta justru semakin gelisah.
Baginya sikap Andika benar-benar membingungkan.
Kalau memang sudah punya pacar, kenapa masih bersikap seperti itu padanya?
Kenapa masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya?
Shinta menatap jus manggis di tangannya cukup lama.
Dulu memang benar itu minuman favoritnya. Bahkan Andika sering membelikannya sepulang kuliah.
Dan sekarang pria itu tiba-tiba mengingatnya lagi seolah kenangan mereka masih dekat.
Shinta menghela napas pelan.
Dia tidak suka perasaan aneh itu muncul lagi.
Sementara di sisi lain ruangan, Andika sedang ikut tertawa mendengar candaan Deni tentang ide iklan Rara.
Tidak ada yang tahu kalau pria itu diam-diam sempat melirik Shinta sesaat.
Dan tidak ada yang tahu juga kalau wanita bernama Aqila yang selama ini disangka pacarnya sebenarnya hanyalah sepupu Andika sendiri.
Kesalahpahaman kecil yang perlahan mulai menciptakan jarak lebih besar di antara mereka. Manusia memang luar biasa. Bisa salah paham berbulan-bulan hanya karena malas bertanya langsung. Lalu hati mereka ikut berantakan sendiri. Sungguh spesies yang efisien dalam menciptakan masalah.