NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Konflik etika
Popularitas:167.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 33

Malam itu begitu pekat, jenis kegelapan yang seolah mampu menelan cahaya apa pun, jika saja bukan karena amukan api di bawah sana, kegelapan malam di pulau Morthem tak akan bisa tertandingi karena itulah Aragon memilih pulau tersebut sebagai pulau yang menyimpan barang-barang gelapnya.

Dari balik jendela pesawat pribadi yang mulai mendekati Pulau Morthem, pemandangan di bawah tampak seperti korek api yang baru saja digoreskan di atas kain beludru hitam. Merah, ganas, dan lapar.

Lidah-lidah api menjilat angkasa, bara api dari semua yang ada di pulau itu meleleh seperti lahar seolah gunung api memuntahkan isinya, dan apinya melahap apa saja yang berada dalam jangkauannya tanpa ampun.

Aragon menatap kehancuran itu dengan sepasang mata yang sedingin es. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada kepalan tangan yang mengencang. Wajahnya begitu tenang, seolah ia hanya sedang menyaksikan siaran ulang sebuah drama

membosankan di layar televisi, bukan melihat aset dan wilayah kekuasaannya sendiri yang sedang dijadikan abu. Alih-alih murka, seulas senyum tipis, hampir tak kentara, justru terbit di sudut bibirnya.

Namun, Pria itu juga tampaknya menikmati tontonan tersebut, karena ada sesuatu yang membangkitkan adrenalinnya.

”Hank?”

“Ya Tuan?”

“Kapan terakhir kali kau melihatku bersenang-senang?”

”Mungkin sekitar 8 tahun lalu Tuan? Ketika anda membantai suruh pimpinan Mafia dan seluruh pasukannya hanya dengan waktu satu malam.”

Aragon tersenyum.

“Hmm… Jika malam ini tidak menyenangkan, aku akan benar-benar kecewa.” Kata Aragon.

Saat jet pribadi itu melayang tepat di atas jantung Pulau Morthem, pemandangan di bawah kian mengerikan. Seluruh daratan telah diselimuti warna merah membara, seakan-akan pulau itu adalah puncak gunung berapi yang baru saja memuntahkan lahar pekat ke segala penjuru.

Orang Italia menyebutnya Inferno pribadi, yang diciptakan khusus untuk menyambut kedatangannya. Inferno yang berarti “neraka” atau “Kobaran api yang sangat besar dan dahsyat.”

Namun, di tengah lautan api itu, landasan pacu pribadi miliknya masih berdiri utuh, sebuah undangan terbuka yang sengaja disisakan. Di sanalah mereka berada.

Puluhan siluet manusia berdiri dalam formasi semi-lingkaran, mengepung area pendaratan. Anak-anak buah Steven Gu berjaga dan bersiap layaknya mesin tempur.

Steven Gu tampak begitu pongah dengan sebatang cerutu besar yang terselip di antara jarinya, membiarkan asap cerutunya bergulung di antara hawa panas malam itu.

Pesawat Aragon mendarat dengan mulus, rodanya mencicit tajam saat bergesekan dengan beton landasan. Di belakangnya, helikopter-helikopter taktis yang mengawal sejak tadi menyusul turun satu per satu.

Deru baling-baling yang memekakkan telinga menciptakan badai angin buatan, mengempaskan debu, sisa abu pembakaran, dan hawa panas ke segala arah, memaksa beberapa anak buah Steven menyipitkan mata.

Steven Gu memang bajingan, tapi dia punya kode etik sendiri. Dia tidak berniat meledakkan jet Aragon di udara. Baginya, menjatuhkan lawan dengan cara pengecut seperti itu hanya akan merendahkan harga dirinya di dunia bawah tanah.

Lagipula, ada hitung-hitungan yang harus diselesaikan secara tatap muka. Sebuah pertarungan yang elegan, menurut prinsip gilanya, adalah ketika dua predator berdiri saling berhadapan, sama-sama tahu bahwa hanya ada satu dari mereka yang akan keluar hidup-hidup.

Pintu hidrolik pesawat terbuka, mendesis pelan membelah keheningan yang perlahan pulih saat mesin-mesin helikopter mulai dimatikan.

Sesosok pria bertubuh jangkung muncul dari kegelapan kabin.

Aragon.

Ia melangkah menuruni tangga dengan ritme yang konstan dan tenang, namun justru ketenangan itulah yang menebarkan aura intimidasi yang pekat.

Mantel panjang hitamnya tersampir longgar di bahu, berkibar dramatis dihantam angin malam yang membawa aroma belerang dan besi terbakar.

Di belakangnya, melangkah Hank, tangan kanannya yang bergerak seperti bayangan yang waspada, mengunci setiap pergerakan lawan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Suasana langsung menegang hingga ke titik didih.

Anak buah Steven Gu serentak mengokang senjata dan memperbaiki kuda-kuda. Di sisi lain, pasukan elit Aragon yang baru saja turun dari helikopter langsung menyebar, membentuk barikade pelindung. Kedua kubu saling mengunci pandangan. Udara malam itu terasa begitu rapuh; satu jentikan jari atau satu percikan api kecil saja sudah cukup untuk menyulut pertumpahan darah massal.

“Akhirnya, kau berani juga menampakkan seonggok dagingmu di sini, Aragon!” seru Steven Gu, suaranya menggelegar mengalahkan desau angin, disambut tawa rendah beberapa anak buahnya.

Aragon menghentikan langkahnya tepat di depan Steven Gu. Matanya menatap datar pria di hadapannya. “Kau membuat kekacauan yang tidak perlu di wilayahku.”

“Salahmu sendiri!” Steven meludah ke samping, wajahnya mengeras. “Kau melanggar janji. Kau tidak datang pada pertemuan kemarin!”

“Aku punya urusan mendadak yang jauh lebih penting.”

“Bangsat!” Steven mengacungkan cerutunya yang menyala. “Urusan apa yang lebih penting daripada membahas keterlambatan pasokan barangku, hah?! Kau menahan apa yang menjadi hakku! Bagaimana bisa seorang Aragon kecurian! Tapi itu bukan yang ingin ku persoalkan. Persoalannya adalah dimana barangku! Aku sudah membayarnya penuh!”

“Aku sudah katakan akan mengurusnya. Keterlambatan logistik adalah hal biasa,” ucap Aragon, suaranya tetap datar, namun menusuk. “Jangan merengek seperti mafia amatir, Steven. Itu memuakkan.”

Wajah Steven merah padam. Ia mengembuskan asap cerutunya dengan kasar ke udara, sebuah isyarat tersembunyi yang langsung ditangkap oleh anak-anak buahnya.

Dari sudut matanya, Aragon menangkap pergeseran posisi. Beberapa orang di sayap kiri dan kanan Steven mulai bergerak memutar secara perlahan, mencoba mengambil posisi mengepung. Senjata-senjata mereka berkilatan diterpa cahaya api: parang panjang, palu besi berat, hingga pistol semi-otomatis dengan jari-jari yang sudah menempel ketat di pelatuk.

Lebih dari itu, Aragon melempar pandangannya sekilas ke arah menara pengawas dan reruntuhan hanggar di kejauhan. Detektor intuisinya menangkap kilatan lensa di kegelapan. Sniper. Steven telah menempatkan penembak jitu di titik-titik strategis.

Pulau Morthem benar-benar telah dikuasai sepenuhnya oleh Steven Gu.

Satu hal yang mengusik benak Aragon: ini tidak masuk akal. Berdasarkan kekuatan finansial dan jumlah pasukan Steven Gu seharusnya tidak akan pernah cukup untuk menembus sistem pertahanan Pulau Morthem, apalagi mendudukinya dalam waktu sesingkat ini.

Terlebih, pasokan senjata berat yang dijanjikan Aragon, yang kini di curi, adalah kartu as yang seharusnya ditunggu Steven. Tanpa itu, Steven tidak punya apa-apa.

Artinya, ada kekuatan besar lain yang sedang mendanai dan menyokong pria ini dari balik layar.

“Siapa yang memberimu keberanian ini, Steven? Siapa yang berdiri di belakangmu?” tanya Aragon, suaranya merendah, menuntut jawaban.

Steven Gu menyeringai lebar, merasa di atas angin karena posisi kepungannyanya yang sempurna. “Seseorang yang sangat membencimu. Seseorang yang bersedia membayar mahal hanya untuk melihat kepalamu menggelinding di atas tanah ini.”

Aragon terdiam sesaat. Labirin teka-teki di kepalanya langsung terjawab. “Jadi…”

Dengan gerakan yang begitu kasual, seolah hanya ingin mengambil saputangan, tangan Aragon menyelinap ke balik mantel panjangnya. Ketika tangannya kembali memunculkan diri, sebilah pistol perak kustom berkilau mengerikan di bawah cahaya api.

“…ini bukan lagi soal keterlambatan pasokan barang,” lanjut Aragon. Tatapannya yang semula tenang kini berubah menjadi sepasang mata predator yang siap mengoyak mangsa. “Ini soal pengkhianatan dan perebutan wilayah.”

“Tepat sekali! Dan tamatlah riwayatmu…”

Bersambung

1
yaman taena
next
yaman taena
upp
yafun alsan
Seru
yafun alsan
seru bgt
ersan waniy
next
ersan waniy
upp
venom olsaf
ok
venom olsaf
seru
ulfa ines
next kk
ulfa ines
up kk
taena pernasa
upp
taena pernasa
seru
sinar uwira
upp
sinar uwira
seru
sairan kilan
lagi
sairan kilan
-upp
sairan kilan
seru woew
sairan kilan
nunggu upp
Vuya Taluf
Udh nyaman sptny
Vuya Taluf
nh uhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!