Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah berhasil menenangkan badai kecemburuan Bella di dalam laboratorium, gue langsung menggandeng tangan halusnya dengan sangat erat, membawa cewek kaya itu keluar dari gedung fakultas kedokteran yang sudah mulai gelap. Bu Diana menyusul di belakang kami dengan langkah kaki yang kembali anggun dan berwibawa, meskipun sepasang mata indahnya sesekali masih melirik manja ke arah punggung tegap gue.
"Raka, Bella, kalian berdua pulanglah duluan dengan hati-hati. Ibu juga harus segera kembali ke rumah untuk mengistirahatkan pikiran," ucap Bu Diana saat kami sudah sampai di area parkiran mobil yang mulai sepi.
Gue mengangguk pelan. "Iya, Bu Diana. Ibu juga hati-hati di jalan ya."
Gue segera membimbing Bella masuk ke dalam mobil sport mewah miliknya. Bella duduk di kursi penumpang dengan posisi tubuh yang masih agak lemas, menyandarkan kepalanya yang cantik di bahu kanan gue yang sedang memegang setir kemudi. Rasa syok akibat salah paham tadi beneran membuat tenaganya seolah terkuras habis. Gue melajukan mobil membelah jalanan kota yang mulai temaram menuju arak kompleks apartemen elit tempat tinggal kami.
Namun, baru saja mobil sport kami berbelok memasuki sebuah jalan pintas yang cukup sepi dan minim penerangan lampu jalan di pinggiran kota, indera pendengaran dan insting tajam dari Fisik Level Dua gue mendadak menangkap kejanggalan yang sangat besar di depan sana.
Citttt
Gue langsung menginjak pedal rem dengan sangat dalam secara mendadak hingga ban mobil berdecit keras di atas aspal hitam. Di depan sana, tiga buah mobil jip hitam berukuran besar sengaja diparkir melintang menutup seluruh badan jalan secara total, memblokir jalur pelarian kami tanpa celah.
Bella langsung tersentak kaget dari sandarannya, sepasang mata indahnya melotot panik menatap ke arah depan. "Raka?! Ada apa ini? Siapa mereka yang nekat menutup jalanan umum seperti ini?"
Belum sempat gue menjawab, pintu-pintu mobil jip tersebut terbuka serempak. Belasan pria bertubuh kekar besar dengan wajah-wajah sangar penuh tato merangsek keluar. Mereka semua memegang berbagai macam senjata tajam, mulai dari celurit berkilau, balok kayu besar, hingga pipa besi tebal.
Dan yang paling membuat gue tersenyum dingin adalah kehadiran sesosok pria berjas kusut yang melangkah keluar dari jip paling tengah dengan wajah yang dipenuhi oleh urat amarah yang sangat memerah padam. Pria itu adalah Dion.
Dion berjalan mendekat ke arah moncong mobil kami sambil mengacungkan sebuah pipa besi tebal dengan tangan yang gemetar hebat menahan rasa dendam kesumat yang luar biasa parah setelah posisinya digulingkan dari perusahaan kemarin pagi.
"Raka! Turun lu bocah sialan! Hari ini gue bakal bikin lu cacat seumur hidup dan membusuk di jalanan sepi ini! Lu udah berani merebut harta kekayaan keluarga gue, dan sekarang lu harus bayar mahal semuanya dengan darah lu sendiri, bajingan!" teriak Dion dengan suara melengking gila yang sangat histeris, seluruh sisa akal sehatnya beneran sudah hilang total karena frustrasi jatuh miskin.
Bella yang melihat komplotan preman bayaran sebanyak itu langsung gemetar hebat ketakutan setengah mati, kedua tangan halusnya mencengkeram erat lengan kanan gue. "Raka... bagaimana ini? Preman mereka banyak sekali dan membawa senjata tajam. Kita kunci pintunya dan telepon polisi sekarang juga, Raka!"
Gue cuma tertawa kecil, menatap belasan kecoa bersenjata itu dengan pandangan mata yang penuh penghinaan mutlak. Gue melepaskan sabuk pengaman gue, lalu mengusap rambut Bella dengan penuh kelembutan untuk menyalurkan ketenangan dewa.
"Bel, lu tetep diam di dalam mobil dan kunci pintunya dari dalam ya. Cowok lu ini sama sekali tidak butuh bantuan polisi cuma untuk menginjak-injak sekumpulan kecoa kurap seperti mereka," ucap gue dengan nada suara bariton yang sangat tenang, dingin, namun memancarkan wibawa pembunuh yang sangat pekat.
Gue membuka pintu mobil lalu melangkah keluar dengan gerakan yang sangat santai, menutup kembali pintu mobil sport tersebut hingga berbunyi debuman pelan. Gue berdiri tegap di bawah temaram sinar bulan, menatap Dion dan belasan preman bayarannya dengan senyuman paling meremehkan yang pernah ada di dunia ini.
Di dalam kepala gue, layar hologram biru milik sistem mendadak muncul terang benderang dengan bunyi alarm pertempuran yang beneran sangat mantap memicu adrenalin.
"Misi Utama Pertarungan Diaktifkan! Hancurkan dan lumpuhkan total belasan preman bayaran suruhan Dion dalam waktu kurang dari tiga menit menggunakan kekuatan fisik murni tanpa senjata. Tunjukkan dominasi fisik Tuan Rumah di depan mata Bella. Hadiah Penyelesaian: Pembaruan Fisik Level Tiga (Tubuh Kebal Baja Raja), Tambahan Saldo Tiga Ratus Juta Rupiah, dan Poin Sistem bertambah Empat Ratus Poin. Hukuman Jika Gagal: Seluruh poin sistem Tuan Rumah akan hangus terbakar tanpa sisa."
Gue meregangkan otot-otot leher gue hingga terdengar suara gemertak tulang yang cukup nyaring di keheningan malam yang mencekam ini. "Dion, Dion... lu beneran tidak pernah kapok ya mencari masalah sama monster seperti gue. Karena lu udah repot-repot membawa samsak hidup sebanyak ini sore-sore, maka dengan senang hati gue bakal tunjukin ke lu apa arti neraka dunia yang sesungguhnya."
Dion yang merasa dihina langsung berteriak kesetanan memandangi para premannya. "Kurang ajar! Jangan banyak bacot lu anak miskin! Cepat serang dia bersamaan! Patahkan kedua kaki dan tangannya sekarang juga!"
"Seranggg!"
Belasan preman bertubuh gempal itu langsung melesat maju menerjang ke arah posisi gue berdiri secara bersamaan dari berbagai arah. Pipa besi dan celurit tajam berkilau menebas angin dengan sangat cepat mengarah lurus ke arah kepala dan dada bidang gue tanpa ampun sedikit pun.
Gue mengaktifkan seluruh aliran energi murni dari Fisik Level Dua ke dalam urat saraf gue. Dalam pandangan mata gue yang tajam, semua gerakan menerjang dari para preman kekar itu mendadak berubah menjadi sangat lambat sekali seolah-olah mereka sedang bergerak di dalam air.
Preman pertama yang berada paling depan mengayunkan pipa besinya dengan sangat keras ke arah pelipis kanan gue. Dengan gerakan refleks yang sangat anggun dan cepat bak kilat, gue sedikit memiringkan kepala gue ke kiri menghindari hantaman besi tersebut, lalu tangan kanan gue melesat maju seperti gumpalan besi menghantam tepat di tengah rahang bawah preman tersebut tanpa bisa dihindari.
Krakkk
Suara hancurnya tulang rahang terdengar sangat padat dan mengerikan. Preman pertama itu bahkan tidak sempat berteriak, tubuh kekarnya langsung berputar di udara sebelum akhirnya ambruk lemas menghantam aspal jalanan dengan mata mendelik ke atas tidak sadarkan diri seketika.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, gue memutar tubuh gue ke belakang, melakukan sapuan kaki bawah yang sangat bertenaga hingga menyapu bersih tiga kaki preman lain yang sedang mencoba menusuk punggung gue dari belakang.
Bughhh Bughhh
Ketiga preman itu langsung jatuh terjungkal dengan posisi kepala membentur aspal terlebih dahulu, membuat senjata tajam di tangan mereka terlepas jatuh berdentangan di atas jalan sepi tersebut.
Dua preman bertato macan di dadanya mencoba menyerang gue dari sisi kiri menggunakan dua celurit panjang. Gue melesat maju menerobos celah serangan mereka dengan kecepatan yang beneran tidak bisa ditangkap oleh mata manusia biasa. Gue mencengkeram kedua pergelangan tangan mereka dengan sangat kuat menggunakan kedua tangan gue, lalu memelintirnya ke arah luar dengan tenaga penuh secara bersamaan.
Kreeekkk
"Aaaaghhh! Tangan gue patahh!" teriak kedua preman itu dengan jeritan melengking yang sangat memilukan di keheningan malam saat merasakan tulang pergelangan tangan mereka remuk lebur dipelintir oleh cengkeraman dewa gue. Gue melayangkan dua tendangan depan tepat bersarang di ulu hati mereka, membuat kedua tubuh gempal itu terbang melayang sejauh tiga meter ke belakang sebelum akhirnya menabrak kap mobil jip hitam milik Dion hingga ringsek parah.
Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua menit, dari belasan preman sangar yang tadi berteriak sombong, kini semuanya sudah terkapar babak belur di atas aspal jalanan dengan kondisi tulang patah dan mengerang kesakitan luar biasa menahan siksaan fisik dari gue.