NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati di Penerbangan

Rana meregangkan kedua lengannya ke atas sembari memutar lehernya perlahan. Perjalanan darat membelah malam dari Batulicin menuju Banjarbaru memakan waktu hampir lima jam penuh, menyisakan rasa pegal dan kaku yang teramat sangat di sekujur persendian tubuhnya.

Sepanjang malam bernaung di dalam kabin mobil travel, Rana sama sekali tidak berani memejamkan mata walau hanya untuk beberapa menit. Rasa waspada yang akut menahan kelopak matanya tetap terbuka lebar, sebab dari seluruh penumpang yang memesan kursi di armada tersebut, hanya dirinya sendirilah yang berjenis kelamin perempuan. Trauma masa lalu dan kejadian mengerikan bersama Sapo di mess tempo hari telah menjelma menjadi alarm otomatis yang memaksanya untuk selalu berjaga-jaga di lingkungan asing.

Rana menatap jam dinding digital di atas meja nakas kamar hotelnya yang masih menunjukkan pukul lima pagi. Menolak larut dalam rasa lelah, Rana bergegas melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, lalu melaksanakan ibadah salat Subuh dengan khusyuk di atas sejadah tipis yang ia bentangkan menghadap kiblat.

Sesuai dengan anjuran dari Hasrul semalam, Rana memang memutuskan untuk bermalam di sebuah hotel melati di dekat bandara; sebuah tempat yang direkomendasikan langsung oleh sopir travel yang membawa dirinya. Pilihan itu terbukti tepat; setidaknya ia bisa meluruskan punggung dan membersihkan diri dengan aman tanpa harus telantar di bangku atau lantai dingin bandara yang rawan.

Setelah menyelesaikan ritual mandinya dan mengemas kembali pakaiannya, Rana turun ke lobi bawah untuk mengambil jatah sarapan berupa sebungkus nasi kuning hangat yang disediakan pihak pengelola hotel.

Tak ingin membuang waktu karena jadwal penerbangannya bertolak pada pukul delapan pagi, Rana segera melakukan proses checkout di meja resepsionis. Ia kemudian merogoh ponselnya untuk memesan layanan ojek online agar membawanya langsung menuju Bandara Internasional Syamsudin Noor. Langkah ini ia pilih karena dirinya memang masih sangat awam dan buta dengan rute jalanan di wilayah Banjarbaru.

Sesampainya di pelataran megah bandara, Rana segera melangkah masuk menembus pintu pemeriksaan keamanan pertama. Ia berjalan lurus menuju konter maskapai untuk melakukan proses check-in manual sekaligus memverifikasi kode pemesanan tiketnya. Setelah mendapatkan lembar boarding pass resmi di tangannya, Rana melangkah ringan melewati eskalator menuju ruang tunggu keberangkatan di lantai atas.

Suasana ruang tunggu utama saat itu masih terhitung sangat sepi dan lengang; hanya ada beberapa gelintir orang yang duduk berjauhan dengan tumpukan barang bawaan mereka. Rana memilih mengambil posisi duduk di deretan kursi besi yang letaknya paling dekat dengan pintu gerbang (gate) penerbangannya.

Setelah meletakkan tas ranselnya di kursi sebelah, Rana akhirnya memiliki waktu luang untuk membuka kembali ponselnya yang sejak semalam terus bergetar samar di dalam tas.

Ia mulai membalas beberapa pesan yang masuk, termasuk pesan dari Mbak Mutia yang menanyakan posisinya, hingga jemarinya berhenti tepat di atas ruang obrolan dengan Pradika. Rana menggigit bibir bawahnya ragu sebelum mulai mengetikkan balasan.

Rana: Aku sudah di bandara, Mas. Ini sedang menunggu di depan gate ruang tunggu. Maaf baru sempat membalas pesanmu.

Seperti yang sudah-sudah, seolah-olah pria itu memang selalu mendedikasikan sebagian waktu luangnya untuk menanti kabar darinya, Pradika segera mengirimkan balasan dalam hitungan detik setelah status pesan berubah menjadi centang biru dua.

Pradika: Syukurlah kalau sudah sampai dengan aman di bandara, Rana. Bagaimana perjalanannya semalam? Apa barang bawaan yang kamu bawa pulang banyak?

Rana mengulas senyum tipis, merasa sedikit tersentuh dengan perhatian kecil yang konsisten diperlihatkan oleh pria itu.

Rana: Tidak, Mas. Aku hanya membawa satu tas ransel besar dan satu totebag kain saja di pundak.

Pradika: Baguslah kalau begitu. Dengan begitu kamu tidak perlu repot-repot lagi mengantre lama di loket bagasi nanti setelah mendarat di Surabaya. Bisa langsung keluar ke area jemputan.

Rana: Iya, Mas.

Di dalam ruang mesnya yang sunyi di Kalimantan Tengah, Pradika menatap baris demi baris balasan dari Rana. Ia menghela napas pendek sembari tersenyum maklum.

Selama ini, interaksi tertulis di antara mereka memang hanya berupa pesan-pesan singkat, kaku, dan sarat akan formalitas dari pihak Rana. Pradika sangat menyadari hal itu; ia tahu betul bahwa gadis admin itu kemungkinan besar masih belum merasa sepenuhnya nyaman atau mungkin masih diliputi benteng pertahanan diri yang kokoh.

Namun, Pradika bukanlah pria yang gemar menggantungkan sebuah ketidakpastian. Dengan keberanian yang ia kumpulkan sejak semalam, jemarinya kembali bergerak di ponsel, melayangkan pertanyaan krusial yang sempat membuat Rana tersedak di rumah makan Banjar.

Pradika: Ran, kalau boleh tahu... bagaimana dengan tawaranku yang semalam? Mengenai niatku untuk datang melamarmu ke rumah Bojonegoro setelah cutiku turun nanti?

Kini giliran Rana yang seketika tampak terpaku membeku di kursinya. Matanya menatap lekat-lekat barisan kalimat di layar ponsel itu dengan isi kepala yang mendadak berputar keras menyusun skenario. Bagaimana... bagaimana dirinya harus membalas pertanyaan ini?

Jika dirinya beralasan menolak dengan dalih sudah memiliki tunangan atau kekasih di kampung halaman, itu artinya dia harus memproduksi sebuah kebohongan baru; sesuatu yang sangat dibenci oleh hati nuraninya. Dan jika dirinya langsung menjatuhkan penolakan secara mentah-mentah dan blak-blakan, apakah pria sebaik Pradika akan merasa tersinggung lalu menaruh dendam atau marah kepadanya?

Jujur di dalam hatinya yang paling dalam, Rana sama sekali tidak membenci Pradika. Jauh dari kata benci, Rana justru selalu merasakan sebuah sensasi aman, dihormati, dan dihargai setiap kali dirinya berada di dekat atau berinteraksi dengan laki-laki asal Jakarta tersebut. Kehadiran Pradika laksana sebuah payung kokoh di tengah badai hidupnya yang kelam di site.

Akan tetapi, logika dan akal sehat Rana menolak untuk membiarkan dirinya menerima sebuah lamaran pernikahan begitu saja. Bagaimanapun, mereka berdua belum saling mengenal secara dekat dan secara personal; mereka tidak pernah melewati fase kedekatan selayaknya sepasang kekasih pada umumnya. Pernikahan, di mata Rana yang tumbuh besar menyaksikan toxic-nya hubungan keluarga ibunya, adalah sebuah komitmen sakral yang terlalu mengerikan untuk dipertaruhkan tanpa fondasi yang matang.

Di saat Rana masih sibuk bergelut dengan badai pikirannya sendiri, jemarinya yang mendadak dingin di atas layar ponsel kembali dikejutkan dengan munculnya sebaris pesan baru dari nomor Pradika.

Pradika: Jangan buru-buru dan memaksakan diri untuk menjawabnya sekarang, Ran. Pikirkanlah dulu dengan tenang selama kamu cuti. Jika perlu, kamu bisa melaksanakan salat istikharah untuk meminta petunjuk langsung kepada Allah. Aku di sini akan selalu menunggu jawaban darimu dengan penuh kesabaran. Jadi, kamu tidak perlu merasa terbebani.

Rana tertegun di tempat duduknya. Matanya mendadak terasa panas, dan sekat di tenggorokannya terasa menyempit oleh emosi haru yang membuncah.

Apakah... apakah di dunia yang keras ini benar-benar masih menyisakan sosok pria sesaleh dan sebaik Mas Pradika? batin Rana berbisik lirih, separuh tidak percaya dengan realita yang tengah dihadapinya.

Pria itu tidak hanya hadir sebagai penolong utamanya saat melewati krisis moral yang hampir menghancurkan kehormatannya, tetapi juga telah rela mengorbankan nama baik serta reputasi profesionalnya di depan manajemen personalia demi memberikan perlindungan hukum bagi dirinya.

Dan sekarang, di saat pria lain mungkin akan menuntut balasan atau kepastian instan, Pradika justru dengan lapang dada memberikan waktu yang tidak terbatas serta ruang spiritual yang luas bagi Rana demi sebuah jawaban; jawaban yang bahkan belum tentu bisa ia berikan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pria itu. Kebesaran hati Pradika laksana oase yang sejuk di tengah gersangnya perlakuan yang biasa Rana terima dari lingkungan darah dagingnya sendiri.

Namun, pergolakan batin dan untaian rasa haru Rana terpaksa harus tertunda secara mendadak. Suara dengung statis dari pengeras suara di langit-langit ruang tunggu berbunyi nyaring, disusul oleh suara merdu petugas bandara yang mengumumkan bahwa panggilan boarding untuk penerbangan nomor JT-532 menuju Kota Surabaya telah resmi dibuka.

Rana menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Ia buru-buru menyimpan ponselnya ke dalam saku tas, menyampirkan tas ranselnya ke pundak, dan segera melangkah teratur menuju barisan antrean di loket gate keberangkatan.

Di setiap langkah kakinya menembus garbarata menuju pintu pesawat, bayangan pertanyaan Pradika dan ketidakpastian agenda penting yang menantinya di rumah terus berputar, bercampur menjadi satu benang merah misteri yang siap ia urai setibanya di tanah Jawa nanti.

1
Meymei
sama kak 🥹
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!