Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 GEREGETAN
Dan sore hari pun tiba, kini sudah menunjukkan pukul 4 sore di layar HP ku.
Ayu yang tadi siang sudah izin padaku untuk mengantar Ibunya ke puskesmas, sedang bersiap di kamarnya.
"Ayu, hati-hati di jalan. Bawa motornya pelan-pelan aja. Gak usah kenceng-kenceng." kataku sambil berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Iya Nis... Makasih udah diingetin." jawabnya sambil menaruh beberapa barang ke dalam tas kecilnya.
Tak lama, Ayu keluar kamar dan mengunci pintunya. Lalu diserahkan kunci itu padaku.
"Titip kunci kamarku ya Nis." katanya.
"Iya, aman sama aku." jawabku.
Ketika ia baru melangkah menjauh, hendak meninggalkanku, ia berbalik badan dan bertanya padaku.
"Nis... Kok orangnya belum datang juga ya?"
"Ya mana aku tau toh Yu, mungkin sebentar lagi kali... Kan kata Ustadz Furqon antara siang hari atau sore hari datengnya." jawabku.
"Iya sih... Ya udah, aku berangkat dulu ya... Assalamu'alaikum..."
"Iya... Wa'alaikumsalam..."
Saat Ayu melangkah menjauh, aku berteriak sedikit padanya.
"Ayu, tolong gerbangnya di tutup dan di selot aja ya..."
"Iya Nis..." jawabnya.
Setelahnya, aku berniat menunggu kedatangan si pengurus ke tiga itu di balkon saja. Sambil menikmati suasana sore hari.
Ketika aku duduk di kursi balkon, langsung terasa hembusan angin sejuk sore khas kaki Gunung Kelud.
Sinar matahari di ufuk barat mulai semakin memerah. Dan juga suara hewan-hewan hutan jati di sekitar, mulai digantikan oleh suara hewan-hewan malam yang keluar dari dalam sarang.
Aku memandang sebentar ke arah langit...
"Alhamdulillah awan mendungnya udah sedikit hilang. Jadi Ayu dan Ibunya gak akan kehujanan di jalan." gumamku dalam hati.
Dan sesekali aku melihat ke arah gerbang depan dari atas balkon ini. Aku benar-benar penasaran dengan pengurus pondok ke tiga itu.
Akan tetapi...
Detik demi detik berlalu...
Menit demi menit berlalu...
Bahkan sampai sedikit jenuh diriku menunggunya, karena sedikit lagi hampir menjelang maghrib.
Selama menunggu itu pula, tak ada kabar apapun dari Ustadz Furqon melalui HP ku. Dan aku juga tak menanyakannya.
Atau paling tidak, ada nomor baru yang meneleponku. Aku berharap mungkin itu adalah nomor si pengurus ke tiga itu.
Tapi...
Sama sekali tak ada tanda-tanda kedatangannya...
Sampai akhirnya, adzan maghrib pun berkumandang dari segala arah, mengiringi sinar matahari yang benar-benar hampir menghilang.
Aku putuskan saja untuk turun dari balkon. Segera ingin melaksanakan sholat maghrib.
.....
.....
🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙
🌳🌳🌳🕌🌳🌳🌳
Aku laksanakan sholat maghrib. Dilanjutkan setelahnya, aku membaca Al-Quran sampai menjelang Isya.
Selama membaca Al-Quran itu, aku sesekali menoleh ke belakang, ke arah gerbang depan. Memastikan apakah pengurus baru itu sudah datang atau belum.
Tapi...
Sampai adzan Isya pun terdengar, masih belum tampak juga kehadirannya...
Aku tak langsung melaksanakan sholat Isya, justru aku malah duduk di beranda masjid, menghadap ke arah gerbang depan.
Sambil terus bertanya-tanya dalam pikiranku sendiri...
"Kok belom dateng juga ya?"
"Apa dia datengnya malah besok pagi?"
"Kenapa gak ada kabar lagi dari Ustadz Furqon ya?"
Semua pertanyaan itu terus berulang di kepalaku.
Akhirnya, aku putuskan saja untuk sholat isya terlebih dahulu supaya hatiku tenang, dan juga tak melalaikan waktu sholat.
Setelah sholat Isya, aku rapikan mukena ke dalam lemari di sudut masjid.
Aku langsung bergegas keluar masjid. Tapi bukan ingin menuju balkon untuk bersantai, atau menuju kamar untuk beristirahat. Melainkan aku bergegas untuk menuju gerbang depan.
Aku tengok ke arah jalan menurun yang kini diterangi sinar lampu jalan yang berwarna kuning. Karena memang satu-satunya jalan menuju ke pondok putri ini adalah jalan menurun tersebut.
Aku sampai membuka gerbang, dan berjalan keluar. Aku berdiri di pinggir jalan. Kini, rasa penasaranku berubah menjadi kekhawatiran.
Aku khawatir jika terjadi sesuatu pada pengurus ke tiga itu saat di jalan menuju ke sini. Karena ada area perkebunan tebu yang cukup luas di sekeliling jalanan tersebut.
"Duuuh... Kemana sih orang itu? Masa iya sampe selesai isya begini masih belom dateng juga?" kataku.
Kini aku menjadi khawatir bercampur cemas.
"Apa aku telepon Ustadz Furqon aja ya?" gumamku.
Akhirnya aku kembali masuk ke dalam gerbang, dan langsung ku selot lagi. Tanpa aku kunci. Aku ingin menelepon Ustadz Furqon terlebih dahulu, hendak memastikan kabar selanjutnya tentang pengurus ke tiga itu.
Aku kembali menuju masjid, karena HP ku di taruh di dalamnya. Beberapa kali aku mencoba menghubungi Ustadz Furqon, tapi tak di angkat olehnya. Mungkin beliau sedang sibuk di pondok putra.
Dan aku seperti orang yang menunggu sesuatu yang tak pasti di sini, sendirian. Sampai akhirnya, aku ingin membuat teh manis hangat saja.
Lantas aku menuju ke dapur, merebus air, lalu menyeduh teh itu.
Dan sekali lagi, entah keberapa kalinya, aku kembali melihat ke arah gerbang depan. Memastikan apakah sudah ada tanda kedatangannya atau belum
Ah... Rasanya geregetan diriku...
"Aku tunggu aja deh di atas balkon sambil minum teh. Mungkin nanti orangnya pasti naik mobil atau motor. Gak mungkin juga kan dia jalan kaki sendirian ke sini, malam-malam pula."
Akhirnya aku berjalan ke atas menuju balkon. Saat aku baru saja duduk, HP ku berbunyi.
Ternyata malah Ayu yang meneleponku...
Dia mengabarkan bahwa malam ini tak tidur di pondok. Ia harus menemani Ibunya di rumah. Ternyata, Bapaknya juga sedang kurang enak badan.
Alhasil, aku memahami alasan Ayu. Dan juga menjadi tanda bahwa aku tidur sendirian jika ternyata si pengurus ke tiga itu tak jadi datang malam ini.
Detik demi detik berlalu...
Menit demi menit pun berlalu...
Kini jam di HP ku menunjukkan pukul setengah sembilan malam...
Dan sosok pengurus ke tiga itu masih belum juga menunjukkan kehadirannya...