Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXXV
Di Kedai
Mu Chen duduk di balik meja kasir, sikunya bertumpu pada meja dan dagunya bersandar di tangan. Matanya menatap kosong ke arah pintu masuk, pikirannya melayang ntah kemana. Sudah sangat lama tidak ada kabar sama sekali dari Luna. Ia bertanya-tanya di mana gadis itu berada dan apakah dia baik-baik saja. Kekhawatiran itu terus menghantui pikirannya, membuatnya tak tenang.
Lamunan panjangnya itu tiba-tiba terputus.
"Permisi? Saya mau pesan makanan," suara seorang pembeli terdengar memecah keheningan.
Mu Chen tersentak kaget, seketika tersadar dari pikirannya sendiri. Ia segera mengusap wajahnya, mencoba mengusir rasa bengong, lalu tersenyum sopan ke arah pelanggan yang sudah berdiri di depan meja.
"A-a, iya. Maaf sebentar," jawabnya agak gugup sambil segera mengambil buku catatan pesanan. "Mau pesan apa, tuan?"
Mu Chen segera melayani pembeli itu, lalu menyuruh pelayan yang membantunya untuk menyiapkan pesanan tersebut. Setelah siap, makanan itu langsung diantar ke meja pembeli tadi.
Tiba-tiba, sekelompok orang berpakaian serba hitam datang berbaris mendekati kedai. Mereka berdiri tegak, lalu serentak memberi hormat kepada Mu Chen yang sedang berdiri di depan kasir. Mu Chen terkejut, wajahnya penuh kebingungan melihat tingkah orang-orang itu.
“Kalian ini siapa? Kenapa tiba-tiba memberi hormat padaku?” tanya Mu Chen heran.
Dari balik barisan itu, keluar seorang kakek tua berpakaian sangat rapi. Meski usianya sudah tua, postur tubuhnya tegap dan wajahnya berwibawa, jelas terlihat bahwa ia bukan orang sembarangan, melainkan seseorang yang memiliki kedudukan tinggi. Ia melangkah mendekat dan tersenyum ramah.
“Anak muda, bolehkah aku bicara denganmu sebentar?” pinta kakek itu dengan nada sopan namun berwibawa.
Mu Chen sempat ragu sejenak. Namun, melihat banyaknya orang berpakaian hitam yang berdiri akan membuat para pembeli di kedainya mulai terganggu dan merasa tidak nyaman. Akhirnya, Mu Chen mengangguk.
“Baiklah, mari kita bicara di dalam saja,” ajak Mu Chen.
Mereka berdua pun masuk ke ruang istirahat di belakang kedai, menjauh dari keramaian. Di sana, kakek itu mulai memperkenalkan dirinya.
“Namaku Zi Yao. Aku adalah Menteri Pertahanan Kerajaan Barat,” ucap kakek itu tenang.
Mendengar jabatan itu, ekspresi Mu Chen langsung berubah kaget. Tanpa berpikir panjang, ia segera memberi hormat dengan takzim sebagaimana layaknya rakyat biasa kepada pejabat tinggi kerajaan.
“Maafkan ketidaktahuan saya, Tuan Menteri,” ucap Mu Chen.
Namun, Zi Yao segera maju dan menurunkan tangan Mu Chen, lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan senyum haru.
“Tidak perlu sungkan, Nak. Panggil saja aku Kakek. Aku datang ke sini bukan sebagai menteri, tapi sebagai kakek yang ingin menjemput cucunya. Aku datang untuk membawamu pulang bersamaku,” ucap Zi Yao pelan.
Mu Chen semakin bingung dan mengerutkan kening. “Membawa saya pulang? Tapi kenapa? Saya tidak mengerti maksud Kakek.”
Zi Yao menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan kisah masa lalu.
“Ibu kandungmu adalah putriku kandungku. Dulu, saat aku hendak menjodohkannya dengan bangsawan lain, dia tiba-tiba pulang membawa ayahmu untuk menemuiku. Aku menentang keras hubungan mereka karena perbedaan status yang sangat jauh. Ayahmu hanyalah rakyat biasa, sedangkan ibumu adalah putri dari keluarga bangsawan tinggi.”
Wajah Zi Yao terlihat sedih mengenang kejadian itu. “Tapi ibumu sangat mencintai ayahmu. Demi cintanya, dia nekat mengancam akan mengakhiri hidupnya sendiri jika aku tidak merestui mereka.”
Zi Yao lalu mengingat masa lalu yang terjadi dulu:
Flashback...
“Ayah, aku sangat mencintai Xuan. Aku tidak bisa hidup tanpa dia". isak Zhilan sambil menodongkan belati ke lehernya sendiri.
"Nak, apa yang kau lakukan?! Lepaskan belati itu! Jangan nekat, kita bicarakan ini baik-baik". seru Zi Yao dengan panik.
Zi Yao kembali menatap Mu Chen. Akhirnya, setelah berbicara panjang lebar dan melihat keteguhan hati mereka, aku pun luluh dan memberikan restuku. Awalnya aku menyuruh mereka tinggal bersamaku, tapi ayahmu menolak. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa membahagiakan ibumu dengan usahanya sendiri. Akhirnya, dengan berat hati aku membiarkan mereka pergi.
Aku sempat kehilangan jejak mereka selama bertahun-tahun. Ternyata ayahmu membawa ibumu pindah ke sini, membuka usaha kedai makan ini, dan di sinilah kamu lahir serta dibesarkan. Aku sebenarnya sudah lama ingin mencarimu dan adikmu, tapi selalu saja ada urusan yang menahanku. Sekarang, akhirnya aku bisa menemukan kalian. Walaupun ayah dan ibumu sudah tiada, yang paling penting kalian berdua selamat dan sehat.
Zi Yao menggenggam tangan Mu Chen. “Sekarang, aku ingin membawa kamu dan adikmu pulang ke kediamanku. Kalian berhak hidup layak dan mendapatkan kehormatan sebagai keturunanku.”
Mu Chen terdiam, hatinya bergejolak. Ia sempat ragu meninggalkan kehidupan sehari-hari nya ini. Namun, ia sadar bahwa kakeknya ini bukan orang sembarangan. Jika mereka ikut, status sosial mereka akan terangkat, hidup mereka terjamin, dan mungkin saja dengan kekuasaan kakeknya itu, ia bisa memiliki kedudukan yang cukup tinggi sehingga bisa melamar dan menikah dengan Luna tanpa ada yang meremehkan.
Setelah berpikir matang, Mu Chen pun mengangguk.
“Baiklah, Kakek. Aku bersedia ikut. Tapi aku harus bicara dulu dengan Anran mengenai hal ini, dia berhak tahu dan memutuskan juga,” ucap Mu Chen.
“Tentu saja. Mari kita temui adikmu itu sekarang,” jawab Zi Yao dengan senyum lega. Kakek itu pun bangkit berdiri, bersiap ikut bersama Mu Chen untuk menemui cucu perempuannya itu.
Sesampainya di rumah, Lulu yang sedang asyik bermain di halaman langsung berhenti. Matanya membelalak melihat Mu Chen datang bersama seorang kakek tua dan rombongan prajurit berpakaian hitam di belakangnya. Merasa takut, Lulu segera berlari secepatnya ke arah Mu Chen dan memeluk erat kakinya.
Mu Chen tersenyum lembut, lalu segera menggendong Lulu agar gadis kecil itu merasa aman.
“Kak… siapa orang-orang itu? Kenapa mereka banyak sekali?” tanya Lulu dengan suara sedikit gemetar, sambil menunjuk ke arah Zi Yao dan para pengawalnya.
Mu Chen mengusap kepala Lulu pelan, lalu menjelaskan dengan nada lembut. “Jangan takut, Lulu. Mereka itu tidak jahat. dia adalah Kakekmu.”
Mata Lulu berbinar kaget, lalu ia menoleh menatap Zi Yao yang tersenyum ramah ke arahnya. “Benarkah? Salam, Kakek,” ucap Lulu sopan sambil membungkuk kecil dari dalam gendongan Mu Chen.
Mu Chen lalu menoleh ke arah Zi Yao dan menjelaskan, “Kek, ini Lulu. Dia anak yatim piatu yang kami temui beberapa waktu lalu. Sekarang kami merawatnya dan menganggapnya seperti adik kandung kami sendiri.”
Zi Yao mengangguk paham, wajahnya terlihat sangat santai dan tidak keberatan sama sekali. “Tidak apa-apa. Siapa pun yang kalian sayangi, aku juga akan menyayanginya,” jawabnya hangat.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Mu Chen lalu berseru memanggil adiknya, "Anran! Anran, keluarlah sebentar."
Dari arah dapur terdengar suara gadis yang menjawab riuh, “Sebentar, Kak! Aku sedang di dapur, sebentar lagi ke sana!”
Tak lama kemudian, Anran muncul dari balik tirai sambil mengelap tangannya yang basah ke ujung pakaiannya. “Ada apa, Kak? Ada tamu rupanya?” tanyanya sambil melangkah mendekat.
Saat Zi Yao melihat wajah Anran dengan jelas, tubuhnya seketika membeku. Ia berdiri tegak, matanya menatap wajah gadis itu dengan bibir bergetar. Air mata mulai membasahi pipinya.
“Wajahmu… sangat mirip sekali dengan ibumu, Zhilan. Persis seperti saat dia masih muda dulu,” gumam Zi Yao lirih, suaranya penuh haru mengenang putrinya yang telah tiada itu.
Mu Chen segera menyela pelan, “Anran, ini Kakek Zi Yao. Beliau adalah ayah dari Ibu kita, kakek kandung kita berdua.”
Anran terkejut bukan main. Matanya membulat menatap kakek tua di hadapannya itu. Namun, ia segera menundukkan kepala dengan takzim dan memberi hormat. “Salam, Kakek. Saya Anran.”
Zi Yao mengangguk dengan senyum lebar, lalu mengusap puncak kepala Anran penuh kasih sayang. “Semoga kau selalu sehat, panjang umur, dan berbahagia, cucuku.”
Setelah mereka duduk dan mengobrol cukup lama, Zi Yao akhirnya menyampaikan maksud kedatangannya yang sesungguhnya.
“Anran, Mu Chen, Kakek ingin mengajak kalian berdua pulang ke kediaman Kakek. Tinggallah bersama Kakek di sana. Kalian berhak hidup layak dan mendapatkan kehormatan sebagai keturunanku,” ucap Zi Yao dengan nada memohon namun berwibawa.
Mendengar itu, wajah Anran langsung berubah ragu. Ia menunduk sejenak, lalu menggeleng pelan. “Maaf, Kakek. Anran sudah sangat nyaman hidup di sini. Hidup kami sederhana, tapi kami bahagia. Anran tidak ingin meninggalkan tempat ini.”
Melihat penolakan itu, Mu Chen segera menyela, “Kek, bolehkah aku bicara sebentar dengan Anran berdua saja?”
“Tentu saja, silakan,” jawab Zi Yao mengerti.
Mu Chen pun mengajak Anran masuk ke kamar sebelah untuk berbicara pribadi. Di sana, Mu Chen menjelaskan semuanya, mulai dari latar belakang kakeknya yang merupakan pejabat tinggi, status mereka sebagai keluarga bangsawan, hingga kesempatan besar yang bisa mereka dapatkan, termasuk harapan Mu Chen agar bisa menikah dengan Luna.
Setelah perundingan yang cukup panjang, akhirnya hati Anran luluh. Ia sadar bahwa keputusan ini bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk masa depan kakaknya dan Lulu.
Mereka pun kembali menghadap Zi Yao. Anran menatap kakeknya itu lalu tersenyum tulus. “Baik, Kakek. Anran setuju. Kami bersedia ikut pulang bersama Kakek.”
Wajah Zi Yao seketika berbinar sangat gembira. Rasa bahagia dan lega terlihat jelas di matanya. “Bagus! Bagus sekali! Kakek sangat senang mendengarnya.”
“Kalau begitu, ayo segera kemasi barang-barang kalian. Kita akan berangkat secepatnya,” tambah Zi Yao semangat.
Tanpa membuang waktu, Mu Chen dan Anran segera mengemasi barang-barang mereka. Harta yang mereka bawa tidaklah banyak, hanya pakaian dan benda-benda kenangan peninggalan orang tua mereka. Rumah sederhana serta kedai mereka pun dititipkan untuk dijaga oleh orang kepercayaan Mu Chen. Akhirnya, bersama Lulu, mereka berangkat meninggalkan tempat itu, menuju kehidupan baru yang sedang menanti mereka.