NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

 Hari-hari berlalu dengan cepat, dan nama Ani perlahan mulai dikenal di lingkungan kantor. Bukan karena gosip atau hal yang tidak pantas, melainkan karena kinerjanya yang luar biasa. Di bagian perencanaan dan administrasi tempatnya bertugas, Ani bekerja dengan ketelitian, kecepatan, dan kerapian yang jarang dimiliki orang lain. Berkas-berkas yang dulu sering berantakan atau lambat terselesaikan, kini tertata rapi dan selesai jauh sebelum batas waktu. Laporan-laporannya jelas, rinci, dan sangat mudah dipahami.

Rekan-rekan kerjanya menyukai Ani. Sifatnya yang ramah, rendah hati, dan selalu bersedia membantu membuatnya disayangi banyak orang. Damar pun makin yakin akan keputusannya menempatkan Ani di sana. Ia sering memuji kerja keras Ani di depan staf lain, sesuatu yang sangat jarang dilakukan Damar pada karyawan baru.

Namun, semakin Ani bersinar, semakin gelap hati Dimas dan Rina. Bagi mereka, setiap pujian yang terdengar, setiap senyum ramah yang diarahkan pada Ani, adalah tamparan keras bagi harga diri mereka. Dimas merasa terpinggirkan. Ia yang sudah bertahun-tahun mengabdi, merasa posisinya terancam oleh wanita yang dulu dianggapnya tidak berdaya. Ditambah lagi, kedekatan Ani dengan Damar yang murni berbasis profesionalisme dan persahabatan lama dianggap Dimas sebagai hubungan yang lebih dari itu, memicu kecemburuan yang makin tak terkendali.

Rina, yang bekerja di bagian keuangan, dengan senang hati menjadi mata-mata sekaligus tangan kanan Dimas dalam merencanakan kejahatan. Ia mengumpulkan orang-orang yang juga iri pada prestasi Ani, membentuk kelompok kecil yang diam-diam menyebarkan racun kebencian.

"Apa susahnya sih menjatuhkannya?" bisik Rina suatu sore di ruangan Dimas, matanya berkilat jahat. "Semua orang di kantor ini kan berurusan sama uang atau berkas. Kalau ada yang salah sedikit saja, habis sudah nama baiknya. Apalagi Pak Damar itu terkenal tegas soal aturan dan kejujuran."

Dimas mengangguk pelan, mendengarkan sambil tersenyum miring. Ia tahu betul kebijakan Damar. Sekali terbukti melakukan kesalahan, apalagi kecurangan, maka jabatan atau masa kerja tidak akan dipertimbangkan. Damar tidak segan memecat siapa pun.

"Benar. Tapi Ani itu teliti, Rina. Dia tidak sembarangan kerja. Kalau kita cari kesalahan yang dia buat sendiri, kita tidak akan pernah dapat. Dia terlalu hati-hati," jawab Dimas pelan, seolah sedang memikirkan strategi perang.

Rina tertawa kecil, tawanya dingin dan menyeramkan. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Dimas.

"Siapa bilang kita harus menunggu dia salah? Kalau dia tidak salah, ya kita yang buat dia salah, Mas. Kan gampang. Berkas-berkas lewat banyak tangan. Data bisa diubah, tanda tangan bisa dipalsukan, atau dokumen penting bisa 'hilang' secara misterius. Yang penting nanti jejaknya mengarah ke dia saja."

Mata Dimas membelalak sesaat, diikuti senyum licik yang perlahan muncul di bibirnya. Ia mengusap dagunya, mulai menyukai ide jahat itu. Demi menjatuhkan Ani, demi membuat Ani malu, menangis, dan pergi dari sini, ia rela melakukan apa saja, meski itu berarti berbuat curang dan berdosa. Baginya, tujuan menghapus rasa malunya lebih penting daripada apa pun.

"Kamu punya rencana?" tanya Dimas pelan namun penuh minat.

"Aku punya teman di bagian arsip, dan aku sendiri pegang aliran data keuangan," jawab Rina percaya diri. "Bulan depan ada proyek besar pengadaan barang senilai ratusan juta. Dokumen perencanaannya ada di tangan Ani. Di situ banyak celah, Mas. Kita bisa atur supaya ada selisih data antara rencana yang dia buat dengan laporan yang ada di keuangan. Angkanya kita ubah sedikit saja, tapi jumlahnya besar. Nanti kalau diperiksa, semua bukti ada di mejanya, tanda tangannya ada di berkas itu. Siapa yang akan disalahkan? Dia. Dan Pak Damar paling benci kerugian perusahaan apalagi kalau ada unsur kelalaian atau kecurangan."

Dimas terdiam sejenak. Ada sedikit keraguan sekilas di hatinya, namun rasa cemburu dan egonya segera menutupinya rapat. Ia membayangkan wajah Ani yang pucat, kaget, dan sedih saat dituduh berbuat curang. Ia membayangkan Damar yang kecewa dan marah besar. Ia membayangkan Ani diusir dengan rasa malu yang tak terhingga, sama seperti dulu saat ia diusir dari hati dan rumah tangganya. Bayangan itu memberinya kepuasan yang aneh dan keliru.

"Lakukan," perintah Dimas akhirnya dengan suara berat dan dingin. "Lakukan semuanya. Pastikan tidak ada jejak yang mengarah ke kita. Pastikan semua bukti menunjuk ke dia. Aku ingin dia hancur, Rina. Aku ingin dia pulang ke kampungnya dengan kepala tertunduk, menyesal seumur hidupnya karena berani-berani menantangku."

Rina tersenyum lebar, puas bisa menjalankan kebenciannya. "Tenang saja, Mas. Semuanya sudah kususun matang. Sebulan lagi, percayalah... senyum manis dan wajah sombongnya itu akan hilang selamanya."

 Waktu terus berjalan, Ani sama sekali tidak menyadari jerat yang perlahan dipasang di sekelilingnya. Ia semakin tenggelam dalam pekerjaannya, semakin giat belajar, dan semakin berprestasi. Ia bahkan sering pulang agak sore untuk menyelesaikan tugas-tugas tambahan yang dipercayakan Damar padanya, termasuk menyusun rancangan anggaran dan kebutuhan untuk proyek besar yang akan datang.

Setiap malam, saat kembali ke apartemen, Ani selalu menelepon ibunya, Bu Asri. Ia bercerita tentang pekerjaannya yang menyenangkan, tentang Damar yang sangat baik, dan tentang rekan-rekan yang ramah. Ia tidak pernah sekalipun menyebutkan pertemuannya dengan Dimas. Ia tidak ingin orang tuanya khawatir, dan ia beranggapan keberadaan Dimas di sana hanyalah masa lalu yang tidak lagi berarti. Ia yakin, selama ia bekerja jujur dan benar, tidak ada yang bisa menyakitinya lagi.

Namun, angin mulai bertiup tidak enak. Beberapa kali Ani merasa ada yang janggal. Ada berkas yang tadinya sudah rapi di mejanya, esok harinya berantakan atau posisinya berubah. Ada data yang ia ingat jelas sudah tertulis, namun saat dicek ulang angkanya berbeda sedikit. Ani sempat bingung, mengecek ulang berkali-kali, mengira ia yang salah atau lupa. Ia pun makin berhati-hati, mencatat semua pekerjaannya dalam buku catatan pribadi yang selalu ia bawa dan kunci rapat.

Ia juga mulai merasakan sikap dingin dari beberapa rekan kerja, terutama teman-teman dekat Rina. Dulu mereka ramah, tapi sekarang sering menatapnya sinis, berbisik-bisik saat ia lewat, atau sengaja mempersulit urusan administrasi kecil. Namun Ani memilih diam. Ia menganggap itu hal biasa di lingkungan kerja, mungkin ada rasa iri karena ia baru masuk tapi sudah diberi tanggung jawab besar. Ia percaya, ketulusan dan kerja kerasnya perlahan akan meluluhkan hati mereka.

Suatu sore, Damar memanggil Ani ke ruangannya. Wajah Damar tidak seperti biasanya, terlihat serius dan agak muram.

"Ani, duduk dulu," kata Damar pelan, sambil menunjuk kursi di hadapannya.

Hati Ani sedikit berdebar, namun ia duduk dengan tenang. "Ada apa, Pak Damar? Ada kesalahan dari laporan saya?"

Damar menghela napas panjang, menatap Ani lekat-lekat. "Bukan soal laporanmu yang kamu serahkan ke meja saya. Tapi... saya dapat laporan dari bagian keuangan. Ada selisih angka cukup besar antara rancangan anggaran proyek yang kamu susun dengan data yang masuk ke sana. Selisihnya hampir dua ratus juta rupiah, Ani. Dan yang lebih aneh... berkas asli yang ada di arsip, berbeda dengan salinan yang kamu pegang. Tanda tanganmu ada di berkas yang angkanya meleset itu."

Darah Ani serasa berhenti mengalir. Wajahnya seketika memucat, matanya membelalak tak percaya.

"Apa? Itu tidak mungkin, Pak!" jawab Ani cepat, suaranya bergetar kaget namun tegas. "Saya pastikan sekali lagi, semua angka yang saya tulis dan saya serahkan semuanya sudah saya hitung ulang berkali-kali. Angkanya pas, lengkap, dan benar. Tidak ada yang meleset. Dan tanda tangan... saya hanya menandatangani dokumen asli yang isinya benar. Saya tidak tahu dokumen yang lain itu dari mana asalnya!"

"Aku percaya padamu, Ani. Aku tahu siapa kamu," kata Damar lembut namun serius, nada bicaranya berubah dari panggilan kerja menjadi panggilan persahabatan. "Tapi bukti di atas kertas berkata lain. Dan ini bukan masalah sepele. Ini soal uang perusahaan, soal kepercayaan, dan ada indikasi penyalahgunaan dokumen. Orang-orang keuangan sudah heboh. Dimas juga yang menangani pengawasan proyek ini, dia yang pertama kali menemukan selisih itu dan melaporkannya padaku."

Nama Dimas disebutkan, dan seketika semuanya menjadi jelas bagi Ani. Perasaan janggal, berkas yang berubah posisi, data yang berganti angka... semuanya bukan kebetulan.

Ani menegakkan badannya, air mata bahagia dan rasa syukur yang dulu kini berubah menjadi air mata marah dan sedih yang tertahan. Ia mengerti sekarang. Ia pikir Dimas akan membiarkannya hidup tenang, ternyata keberadaannya saja sudah dianggap dosa besar oleh laki-laki itu. Dimas tidak cukup hanya membuangnya, dia juga ingin menghancurkan masa depan dan nama baiknya.

"Jadi dia yang melaporkan..." gumam Ani pelan, matanya berkaca-kaca namun tidak lagi takut. Ia menatap Damar dengan pandangan yang jernih dan berani.

"Pak Damar... Saya tidak tahu harus berkata apa lagi selain saya tidak bersalah. Dimas... dia punya dendam pribadi sama saya. Dia tidak terima saya ada di sini, dia tidak terima saya bekerja di bawah bimbingan Bapak. Saya rasa... ini semua adalah jebakan. Dia dan orang-orangnya sengaja mengubah data, memalsukan berkas, supaya saya dituduh curang dan diusir dari sini."

Damar diam saja, menyandarkan punggungnya ke kursi, wajahnya penuh pemikiran. Ia sudah menduga ada yang tidak beres, terutama saat Dimas yang biasanya pasif, tiba-tiba begitu bersemangat dan agresif mencari-cari kesalahan. Damar tahu betul karakter Dimas sifat iri hati dan egonya yang besar.

"Aku curiga begitu juga, Ani. Tapi masalahnya, kita butuh bukti. Tuduhan tanpa bukti sama saja dengan fitnah, dan posisimu makin lemah. Sekarang semua orang menatapmu dengan pandangan curiga. Mereka bilang kamu masuk ke sini bukan untuk kerja, tapi cari untung, dan karena kamu sahabatku, aku dianggap memihakmu. Dimas dan Rina pandai sekali memutarbalikkan fakta di belakangku."

Damar bangkit berdiri, berjalan mengelilingi meja kerjanya, lalu berhenti tepat di depan Ani. Tatapannya tegas dan penuh perhitungan.

"Ani, dengar aku. Ini ujian berat. Mereka ingin kamu hancur, ingin kamu menangis, ingin kamu pergi dengan kepala tertunduk. Kalau kamu mundur sekarang, mereka menang. Kalau kamu marah dan meledak, kamu kalah dan dianggap tidak profesional. Sekarang satu-satunya cara untuk membuktikan kebenaran dan menjatuhkan mereka balik adalah dengan kecerdasan dan ketenanganmu sendiri."

Ani menyeka air mata yang hampir jatuh, menarik napas panjang, dan mengangguk mantap. Rasa sakit dan kaget tadi berubah menjadi api semangat yang berkobar lagi, kali ini lebih besar dari sebelumnya.

"Saya mengerti, Pak Damar. Saya tidak akan pergi. Saya tidak akan membiarkan mereka menang. Nama baik saya, kehormatan saya, dan kepercayaan Bapak yang sudah diberikan ke saya... tidak akan saya biarkan ternoda oleh kejahatan mereka. Saya akan buktikan kebenarannya. Saya akan cari celah di jebakan mereka. Saya akan tunjukkan pada semua orang, siapa sebenarnya yang jujur dan siapa yang sebenarnya licik di kantor ini."

Damar tersenyum bangga, menepuk bahu Ani erat. "Itu Ani yang aku kenal. Bagus. Mulai sekarang, kita mainkan permainan mereka, tapi dengan aturan kita sendiri. Aku akan beri kamu akses ke data arsip lengkap. Cari apa pun yang bisa membuktikan keaslian datamu. Ingat, penjahat pasti meninggalkan jejak. Dimas dan Rina terlalu percaya diri, dan rasa percaya diri berlebihan seringkali membuat orang ceroboh. Kita cari celah itu bersama-sama."

Saat Ani keluar dari ruangan Damar, ia melihat Dimas berdiri di ujung lorong, bersandar di dinding sambil menyilangkan tangan, menatapnya dengan senyum kemenangan yang sinis dan penuh ejekan. Dimas yakin, pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir sebelum Ani dipecat dan dipermalukan.

Namun, Ani tidak menunduk. Ia tidak terlihat sedih atau takut. Ia justru berjalan lurus menuju Dimas, menatap mata mantan suaminya itu tepat di depan wajahnya, dengan pandangan yang tajam, dingin, dan penuh harga diri. Pandangan yang berkata: Permainan baru saja dimulai, Mas Dimas. Dan kali ini, saya bukan lagi wanita yang akan diam saja saat disakiti.

Dimas sedikit terkejut melihat perubahan tatapan itu, namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Ani sudah berjalan melewatinya begitu saja, meninggalkan Dimas yang merasa ada rasa cemas asing mulai menjalar di hatinya. Ia merasa... mungkin kali ini ia telah salah sasaran. Ia tidak sadar, bahwa wanita yang ingin ia hancurkan itu, kini telah berubah menjadi lawan yang jauh lebih tangguh daripada yang pernah ia bayangkan.

bersambung ,,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!