Berlatar di Seoul, Seo Yerin adalah wanita karier sempurna yang hidupnya hancur setelah diracuni oleh suaminya sendiri dan dikhianati sahabat dekatnya. Namun setelah kematiannya, ia secara misterius kembali ke masa lalu tepat di hari saat dirinya dilamar.
Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Pertama, dia menghajar orang yang melamarnya tepat di hadapan semua orang dan merencanakan balas dendam kepada sahabat dan semua orang yang membuatnya menderita.
Namun di tengah usahanya mengubah takdir, ia tanpa sadar terlibat dengan seorang pria berbahaya dari dunia bawah tanah—seorang mafia dingin yang juga sedang menyiapkan balas dendamnya sendiri.
Apakah pembalasan dendamnya dapat membawanya menuju kebahagiaan? Atau malah membuatnya semakin terseret ke dalam jurang neraka? Saksikan perjalanan Yerin hanya di novel ini ☺️☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SuciptaYasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 Awal kehancuran
Hujan malam membasahi kaca gedung pencakar langit di pusat kota Seoul ketika lampu lantai paling atas akhirnya padam.
Para karyawan sudah pulang sejak satu jam lalu, tetapi satu sosok wanita masih berdiri di depan jendela besar ruangannya dengan ekspresi tenang dan dingin.
Dia adalah Seo Yerin.
Diusianya yang ke-35 tahun ini, ia dikenal sebagai wanita karir yang sempurna. Presdir dari perusahaan kecantikan terbesar di asia, Queen Beauty, wanita yang muncul di majalah bisnis setiap bulan, ikon elegansi yang selalu tampak kuat di depan kamera.
Banyak orang iri pada kehidupannya, karirnya yang luar biasa, wajah cantiknya, dan kekayaannya. Namun tidak ada yang tahu bahwa dibalik hidupnya yang glamor, terdapat neraka kecil di balik pintu rumah tangganya.
....
Pintu apartemen mewah itu terbuka perlahan. Yerin melepas heels hitamnya dengan lelah. Bahunya terasa pegal setelah rapat selama sepuluh jam berturut-turut.
Tetapi begitu memasuki ruang tamu, langkahnya langsung terhenti.
Apartemen itu tampak sangat berantakan. Kotak makanan tercecer di meja. Piring kotor menumpuk di wastafel. Bungkusan plastik berserakan di lantai.
Di sofa ruang tamu, ayah mertuanya duduk santai sambil menonton televisi dengan volume keras seolah tak peduli pada dunia.
Sementara itu, ibu mertuanya sibuk membongkar tas-tas belanja bermerek dengan wajah puas.
“Ah, Yerin. Kau pulang?” katanya tanpa menoleh.
Yerin memejamkan mata sebentar. 'Lagi lagi... selalu seperti ini...' pikirnya.
Ia sudah terlalu lelah untuk marah karena pada akhirnya apa yang dia ucapkan akan berubah menjadi pertengkaran panjang dan ujung-ujungnya, dia sendiri yang membereskan semua kekacauan itu.
Yerin menarik napas panjang lalu berjalan melewati ruang tamu dengan niat untuk langsung masuk ke kamarnya.
“Oh ya, transfer uang lagi untuk besok,” ucap ibu mertuanya yang sontak membuat langkah Yerin berhenti.
“Apa?”
Wanita tua itu mengangkat tas kulit baru berwarna merah marun sambil tersenyum bangga. “Uang yang kau berikan sebelumnya sudah habis.”
“Habis? Aku sudah memberimu 30 juta won minggu lalu.”
“Iya, lalu kenapa?”
“Seharusnya itu cukup untuk satu bulan, tapi semuanya sudah habis?"
Ibu mertuanya akhirnya menoleh, wajahnya penuh kejengkelan. “Kau pikir hidup di dunia ini murah? Lagipula aku membeli beberapa barang penting.”
Seo Yerin melirik tas-tas bermerek di sofa. “Tas baru? Sepatu? Perhiasan? Apa itu semua lebih penting daripada makanan?”
"CUKUP!"
Suara ayah mertuanya terdengar lantang. "Yerin, sudah sepantasnya kau membiayai keluarga karena hanya kau yang bekerja di rumah ini? Lagipula gajimu besar, memberi 30 juta setiap minggu tidak akan membuatmu jatuh miskin!"
Ibu mertuanya kembali menanggapi. “Kalau dulu perusahaan anakku dan karier politik suamiku tidak hancur, maka kau tidak akan hidup semewah sekarang!”
Yerin mengepalkan tangannya perlahan.
Karier politik ayah mertuanya hancur 8 tahun lalu karena kasus korupsi, sementara perusahaan suaminya bangkrut 7 tahun lalu karena terlibat penggelapan dana. Semenjak itu dirinyalah yang bekerja untuk menyokong kebutuhan keluarga.
Sebenarnya nominal uang bukan menjadi masalah baginya yang memiliki perusahaan kecantikan terkemuka, tapi dia tidak suka dengan bagaimana cara keluarga suaminya menghambur-hamburkan uang seolah itu adalah hasil kerja keras mereka.
BRAK.
Pintu apartemen tiba-tiba terbuka kasar. Seorang pria masuk dengan langkah sempoyongan disertai bau alkohol yang menyengat.
Cha Minhyuk—Suaminya.
Kemejanya berantakan, wajahnya merah karena mabuk. Ia tertawa sendiri sebelum menjatuhkan tubuh ke sofa.
Yerin tidak bisa tidak menanggapi. “Kau mabuk lagi?”
Minhyuk meliriknya malas. “Berisik.”
“Kau keluar seharian hanya untuk minum?”
“Memangnya kenapa?”
Nada bicara pria itu penuh tantangan.
Yerin berusaha keras untuk menahan emosinya. “Kau bahkan tidak pernah mencoba mencari pekerjaan, dan—”
“Hentikan itu!” bentak ibu mertuanya tiba-tiba.
Wanita tua itu berdiri sambil menunjuk Yerin dengan wajah sinis. “Jangan mempermalukan suamimu sendiri! Dulu dia yang membiayai hidupmu! Kalau bukan karena anakku, kau tidak akan punya apa-apa sekarang!”
Yerin hampir tertawa mendengarnya.
Tidak punya apa-apa? Padahal sebelum menikah dengan keluarga problematik ini hidupnya cukup bergelimang harta karena dia berasal dari keluarga kelas atas.
Namun setelah menikah, seolah kesialan itu menjalar ke rumah orang tuanya dan ikut membuat mereka bangkrut.
Sebelum Yerin sempat berbicara, Minhyuk mendekat kasar. "Aku lapar, cepat siapkan makanan untukku!"
Yerin refleks terdiam karena dia tahu pria itu tidak segan menggunakan kekerasan.
Malam ini dia terlalu lelah untuk melanjutkan pertengkaran. Ia hendak menyiapkan makanan dengan pasrah, namun saat itulah matanya menangkap sesuatu di tubuh suaminya.
Bekas lipstik merah samar di kerah kemejanya, serta sehelai rambut panjang seorang wanita di pundaknya.
Meski sudah melihat hal yang sangat jelas itu, Yerin hanya bisa memalingkan wajah. Tidak marah. Tidak menangis. Karena entah sejak kapan hatinya sudah terlalu mati untuk merasa sakit.
....
Malam itu, lampu neon memenuhi sebuah bar mewah di distrik hiburan malam.
Yerin duduk diam di depan gelas wine bersama sahabat akrabnya, Yoon Hyeri, satu-satunya orang yang mengetahui kehidupan aslinya serta tempat dirinya bisa curhat dan meluapkan isi hatinya yang terdalam.
Yerin menceritakan semua masalahnya kepada satu-satunya sahabatnya itu. Mulai dari sikap kasar mertuanya hingga kejanggalan pada suaminya.
Hyeri menatapnya prihatin begitu mendengar keseluruhan cerita sahabatnya itu.
“Sudah jelas suamimu selingkuh.”
Yerin tersenyum tipis lalu meneguk minumannya perlahan.
“Aku tahu, lagipula ini bukan pertama kalinya aku melihat kejanggalan padanya. Minggu lalu aku memergokinya menelpon dengan seorang wanita, tapi dia selalu mengelak....”
Hyeri ikut menghela napas frustrasi. “Kalau begitu kenapa kau masih bertahan?”
Yerin terdiam cukup lama. Matanya kosong menatap cairan merah dalam gelasnya.
“Aku juga tidak tahu. Mungkin... karena aku terus meyakinkan diriku bahwa semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu. Tapi nyatanya tidak.”
Hening sejenak, Yerin mengalihkan pandangannya ke balik jendela kaca. Di luar sana tampak pemandangan yang begitu mengiris hatinya, pemandangan sepasang suami-istri istri yang sedang berjualan di pinggir jalan.
Meski melelahkan, meski kesusahan dan miskin, mereka tetap saling mendukung, bercanda dan tertawa seolah tanpa beban.
“Aku lelah, Hyeri.” Nada suaranya sangat pelan. Namun untuk pertama kalinya terdengar rapuh. “Aku bekerja seperti orang gila setiap hari. Menanggung keluarga mereka. Membersihkan semua kekacauan yang mereka buat. Tapi di rumahku sendiri, aku bahkan tidak merasa hidup.”
Hyeri menggenggam tangan sahabatnya itu dengan lembut. “Yerin..."
Yerin menunduk beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku akan bercerai.”
Hyeri langsung membelalak. “Apa? Kau serius?”
"Aku sudah memikirkannya sejak lama," jawabnya sambil mengangguk pelan.
“Tapi soal aset kalian… Kalau kalian bercerai, maka suamimu akan mendapat setengah hartamu.”
“Aku tahu.”
“Itu jumlah yang sangat besar, Yerin.”
Yerin hanya bisa tersenyum pahit. “Lebih baik kehilangan setengah hartaku daripada terus hidup bersama parasit seperti mereka.”
Hyeri terdiam cukup lama. Lalu akhirnya ia menghela napas dan tersenyum kecil. “Kalau dipikir-pikir… kau ada benarnya juga. Kalau begitu aku akan mendukungmu sepenuhnya.”
Hyeri mengangkat gelasnya. “Untuk kehidupan barumu!”
Yerin menatap sahabatnya beberapa detik sebelum ikut mengangkat gelas. Senyuman kecil muncul di wajahnya yang lelah.
“Aku senang masih punya sahabat sepertimu.”
Hyeri tersenyum hangat. “Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu.”
Ting!
Gelas mereka beradu pelan bersama dengan keputusan berat yang diambil dengan berani.
....
Beberapa hari berlalu.
Rutinitas Seo Yerin tetap sibuk seperti biasa. Rapat. Presentasi. Kontrak kerja sama. Peluncuran produk baru.
Sebagai Presdir dari perusahaan besar, waktunya hampir tidak pernah kosong. Namun di sela-sela semua kesibukan itu, ia mulai diam-diam mengurus dokumen perceraiannya.
Hari itu, ruang rapat lantai 20 dipenuhi ketegangan setelah rapat selesai.
Salah satu direktur wanita menatapnya dengan hati-hati. “Presdir Seo… apa rumor itu benar?”
“Rumor apa?” tanya Yerin sambil menutup map dokumennya.
“Saya dengar Anda akan bercerai dengan suami Anda.”
Beberapa staf langsung saling melirik gugup.
Perceraian Yerin jelas bukan berita kecil. Dunia bisnis dan media pasti akan gempar jika kabar itu keluar.
Namun Yerin tetap tenang dan menjawab: “Ya, itu benar.”
Direktur wanita itu tampak tidak percaya. “Apa Anda benar-benar yakin?”
“Bagaimanapun juga ini keputusanku," jawab Yerin sambil tersenyum tipis.
Para bawahannya mulai berbincang-bincang setelah mendengar berita yang sangat mencengangkan itu.
Namun tiba-tiba—
BRAK!
Suara keras terdengar. Map dokumen jatuh berserakan ke lantai bersamaan dengan tubuh Yerin yang roboh begitu saja.
“PRESDIR SEO!”
Semua orang langsung panik.
“CEPAT PANGGIL AMBULANS!”
“PRESDIR!”
Pandangan Yerin mulai kabur. Suara orang-orang terdengar semakin jauh. Kepalanya terasa sangat sakit.
Sejak pagi, ia sudah merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, tapi ia mengabaikannya karena terlalu sibuk dan menganggapnya hanya karena kelelahan biasa.
Namun sekarang, bahkan bernapas saja sudah terasa sangat berat.
Pandangannya perlahan memudar, hingga semuanya benar-benar menghilang.
biasa'a akan mengulangkan kejadian" sblm'a
keren crita'a
bagus alur'a... jgn smp gk lanjut ya thor
oowh... ternyata anak pungut yg menguasai dunia bawah calon'a yerin, gpp yg penting kuat smua
😂🤭
betul g yaa🤔
lanjuuut thor💪
aah inilah org yg akan menolong yerin, seorang dr dunia bawah