Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Tujuh hari yang terasa seperti selamanya itu akhirnya usai. Langit di atas rumah tua peninggalan Ayah tampak mendung, seolah ikut mengantar kepergian Siham yang kini melangkah keluar dengan membawa beban di pundaknya. Rumah itu kini terkunci rapat, meninggalkan kenangan tentang Ayah dan Bunda yang telah tenang berdampingan di bawah tanah desa yang subur.
Di dalam mobil mewah milik Dewangga yang melaju kencang di jalan tol menuju Jakarta, keheningan terasa begitu kental dan menyesakkan. Dewangga fokus pada kemudi, sesekali melirik jam tangan pintarnya yang terus bergetar menampilkan notifikasi kerjaan yang menumpuk. Sementara itu, Siham duduk di kursi penumpang, menyandarkan kepalanya pada jendela kaca. Matanya yang sayu menatap jalanan yang buram, namun pikirannya kosong. Sejak hari pemakaman, Siham berubah menjadi sosok yang jauh lebih pendiam seperti sebuah naskah yang kehilangan kata-katanya.
Papa dan Mama mertuanya sudah lebih dulu pulang ke Jakarta pada hari ketiga karena ada urusan yayasan yang tidak bisa ditinggalkan, meninggalkan Dewangga untuk menemani Siham hingga hari ketujuh. Namun bagi Siham, kehadiran Dewangga justru membuatnya merasa lebih sendirian daripada saat ia benar-benar sendirian.
"Sampai di Jakarta nanti, aku harap kamu bisa langsung kembali normal," suara Dewangga memecah keheningan, dingin dan tanpa basa-basi.
Siham tidak merespon ataupun menyahut dengan ucapan dari Dewangga.
Dewangga mendengus kesal karena merasa diabaikan oleh Siham. "Aku bicara padamu Siham. Kamu ini kan seorang editor senior. Profesionalitasmu sedang diuji. Jangan sampai karena duka ini, kinerjamu di kantor Pak Hendra menurun. Kamu harus tahu cara memposisikan diri. Di desa kamu boleh jadi anak yang berduka, tapi di Jakarta, kamu adalah aset perusahaan. Jangan bawa-bawa wajah kuyu itu kantor Kamu."
Siham perlahan memutar kepalanya, menatap Dewangga dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis yang getir menghiasi bibirnya yang pucat.
"Memposisikan diri?" tanya Siham pelan, suaranya terdengar seperti gesekan kertas kering. "Sepertinya kamu pakarnya dalam hal itu, Mas."
Dewangga mengernyitkan kening. "Apa maksudmu?"
"Kamu hebat dalam memposisikan diri sebagai suami yang sempurna di depan Papa dan Mama mu, tapi sangat ahli menjadi orang asing saat kita hanya berdua," Siham memperbaiki posisi duduknya, meski rasa nyeri di punggungnya mulai menusuk lagi. "Kamu juga sangat profesional dalam memposisikan masa lalu di atas masa depan kita. Jadi, jangan ajari aku soal memposisikan diri."
Dewangga mencengkeram kemudi lebih erat. "Jangan mulai lagi, Siham. Aku hanya mengingatkanmu agar tidak terpuruk terlalu dalam. Hidup harus terus berjalan."
"Hidup memang terus berjalan, Mas. Tapi kadang, ada orang yang berjalan sambil membawa belati yang tertancap di punggungnya oleh orang yang paling dia percaya," balas Siham, nada bicaranya datar namun menusuk. "Kamu menuntutku profesional sebagai editor, tapi kamu sendiri gagal menjadi profesional dalam janji pernikahanmu. Kamu bilang aku harus melupakan duka? Lucu sekali, sementara kamu sendiri masih memelihara hantu yang bahkan tidak pernah peduli padamu selama bertahun-tahun ini."
"Siham! Jaga bicaramu!" bentak Dewangga, wajahnya mengeras.
Siham tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke mata. "Kenapa? Tersinggung? Aku tidak menyebut nama siapa pun, Mas. Aku hanya bicara tentang seseorang yang terjebak pada memori yang sudah berdebu sampai lupa bahwa ada manusia bernapas di sampingnya yang sedang perlahan-lahan mati."
Dewangga terdiam. Ia tahu arah pembicaraan Siham, namun gengsinya melarangnya untuk mengaku. Ia merasa Siham sedang menyerang titik terlemahnya rahasia tentang Agata yang selalu ia simpan di balik jas mahalnya.
"Aku akan kembali bekerja besok, Mas. Tenang saja," lanjut Siham, kembali memalingkan wajahnya ke jendela. "Aku akan menjadi editor yang sangat profesional. Bahkan, aku sedang menyiapkan sebuah karya yang akan membuatmu sadar, bahwa selama ini kamu sedang tidur dengan seorang saksi bisu yang mencatat setiap inci rasa sakit yang kamu berikan."
"Apa maksudmu dengan karya?" tanya Dewangga penuh selidik.
"Kamu akan tahu saat naskah itu naik cetak. Itu adalah naskah terbaik Aksara Renjana. Judulnya mungkin akan terasa sangat familiar bagimu," ucap Siham misterius.
Dewangga merasa ada sesuatu yang tidak beres. Perubahan sikap Siham yang kini berani membalas sindirannya dengan kata-kata tajam membuatnya merasa kehilangan kendali. Biasanya, Siham hanya akan diam atau menangis. Namun sekarang, Siham terlihat seperti seseorang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.
Setibanya di apartemen mewah mereka di Jakarta, suasana kembali terasa asing bagi Siham. Rumah ini bukan lagi tempat berteduh, melainkan sebuah museum yang menyimpan banyak luka. Begitu masuk ke kamar, Dewangga langsung menuju ruang kerjanya, menghindari perdebatan lebih lanjut.
Siham duduk di tepi ranjang, membuka tasnya dan mengambil botol obat dosis tingginya. Ia menatap butiran pil itu dengan nanar.
"Satu minggu cuti untuk pemulihan, tapi duka justru membuat sel ini tumbuh lebih cepat," bisiknya pada diri sendiri.
Ia mengambil laptopnya. Di dalam folder "Aksara Renjana", sebuah bab baru mulai diketik. Bab tentang kepulangan seorang istri yang membawa kabar duka, namun disambut dengan dinginnya sindiran seorang suami yang belum lepas dari belenggu masa lalu.
Siham tahu, waktunya di Jakarta mungkin tidak akan lama lagi sebelum liburan ke Swiss yang dijanjikan Mama mertuanya tiba. Dan sebelum hari itu sampai, ia harus memastikan bahwa seluruh dunia tahu bagaimana rasanya menjadi Siham wanita yang dicintai sebagai menantu balas budi, namun diabaikan sebagai istri yang sedang meregang nyawa.
Dewangga di ruang sebelah tidak tahu, bahwa sindirannya hari ini adalah paku terakhir yang dipasang Siham pada peti mati cinta mereka. Siham tidak lagi sedih. Ia hanya sedang menunggu waktu untuk meledakkan semua rahasia yang telah ia susun rapi dalam naskah terakhirnya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor