NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Ruang rapat utama di lantai tertinggi gedung Pratama Group diselimuti atmosfer yang luar biasa tegang.

Ruangan bernuansa marmer hitam dan kaca itu biasanya digunakan untuk mengambil keputusan-keputusan krusial yang menentukan arah bisnis nasional. Namun pagi ini, sebuah Pertemuan Direksi Luar Biasa telah digelar secara mendadak atas desakan Mita.

Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Mita melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Dagu dibusungkan, dan seulas senyum kemenangan terukir di wajahnya yang dipoles riasan tegas.

Di dalam ruangan, Tuan Bayu duduk di kursi utama, diapit oleh beberapa komisaris utama dan jajaran direksi yang berkumpul dengan wajah tegang dan saling berbisik serak.

Mita tidak menyadari bahwa ketegangan di ruangan itu bukan karena mengkhawatirkan masa depan perusahaan, melainkan karena mereka semua tahu badai besar akan segera menggulung wanita itu.

Dengan gerakan anggun, Mita menaruh tablet digitalnya di atas meja oval berukuran besar dan langsung berdiri di hadapan para pemegang saham.

"Selamat pagi, Papa, para komisaris, dan rekan-rekan direksi sekalian," buka Mita, suaranya terdengar lantang dan penuh wibawa tiruan.

"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk pertemuan darurat ini. Kita semua tahu musibah tragis yang menimpa salah satu anak magang jenius kita, Gia. Berita mengenai kondisinya yang koma kritis tanpa harapan sembuh tentu menjadi pukulan besar bagi kita."

Mita menjeda kalimatnya, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat sebelum tatapannya berubah menjadi sangat ambisius.

"Namun, roda korporasi Pratama Group tidak boleh berhenti berputar hanya karena satu individu. Oleh karena itu, saya secara resmi mengajukan proposal untuk mengambil alih seluruh dokumen, hak akses, dan proyek IT strategis yang sebelumnya dipegang oleh Gia," ucap Mita dengan kelicikan yang dibalut profesionalisme.

"Ini semua demi efisiensi dan stabilitas korporasi. Tim saya telah siap mengamankan seluruh data sensitif tersebut agar tidak ada proyek yang terbengkalai."

Beberapa komisaris senior tampak saling pandang, lalu beralih menatap Tuan Bayu yang sejak tadi hanya terdiam.

Tuan Bayu membiarkan Mita mempresentasikan idenya tanpa memotong satu patah kata pun.

Pria tua itu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menyilangkan jari-jemarinya di depan dada dengan ekspresi datar yang tidak terbaca.

Ia membiarkan sang putri tiri mengoceh panjang lebar mengenai rencana pengambilalihan aset, membiarkan Mita menggali lubang kuburnya sendiri semakin dalam di depan seluruh saksi kunci perusahaan.

Setiap argumen, setiap data keuangan yang dipaparkan Mita pagi itu, sebenarnya justru menjadi konfirmasi tertulis atas motif kejahatannya semalam.

Mita begitu buta oleh ambisi hingga tidak menyadari bahwa layar proyektor di belakangnya secara perlahan mulai berkedip, bersiap menampilkan kejutan yang akan menghentikan detak jantungnya.

Tepat di tengah presentasi Mita yang menggebu-gebu mengenai rencana pengalihan aset, pintu ganda ruang rapat eksekutif itu mendadak terbuka lebar.

Brak!

Suasana seketika hening. Mita menghentikan kalimatnya di udara, sementara seluruh pasang mata di dalam ruangan menoleh serentak ke arah pintu.

Pratama melangkah masuk dengan aura intimidasi yang begitu pekat.

Meskipun punggungnya masih diperban total di balik kemeja dan jas mahalnya—membuat setiap pergerakan bahunya terasa kaku dan menyakitkan—pria itu tetap berjalan dengan langkah tegap, tanpa menunjukkan setitik pun kelemahan.

Mita terkesiap. "Pak Pratama? Anda, sudah kembali ke kantor?"

Pratama tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirik Mita sama sekali.

Tatapannya lurus ke depan, dingin dan mematikan.

Di belakangnya, Diko berjalan cepat membawakan sebuah laptop hitam khusus.

Bukannya duduk di kursinya atau membahas proyek IT yang sedang dipaparkan, Pratama langsung memberi isyarat pada Diko.

Dengan cepat, Diko mencabut kabel konektor proyektor dari tablet Mita dan menyambungkannya ke laptop khusus tersebut.

"Apa yang Anda lakukan, Pak Pratama? Saya sedang mempresentasikan hal penting demi masa depan perusahaan!" protes Mita, suaranya mulai meninggi karena merasa otoritasnya diinjak-gila.

"Masa depanmu sudah berakhir, Mita," sahut Pratama, suaranya rendah namun menggema di seluruh sudut ruangan.

Bzzzt!

Layar proyektor raksasa di belakang Mita seketika berkedip dan berganti menampilkan data yang dikirimkan oleh Diandra semalam.

Seluruh isi ruangan langsung gempar. Barisan dokumen rahasia terpampang dengan sangat jelas: bukti aliran dana ilegal bernilai ratusan miliar, manipulasi tanda tangan aset pasca-kecelakaan Diandra yang asli, hingga dokumen kepemilikan mutlak atas nama perusahaan cangkang logistik luar negeri milik Mita yang digunakan untuk mendanai aksi pembakaran rumah petak semalam.

Wajah Mita seketika berubah pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang dihantam kepanikan yang luar biasa melihat semua rahasia tergelapnya mendadak ditelanjangi di depan jajaran komisaris utama.

"A-Apa ini?!" Mita mulai panik, suaranya bergetar hebat saat ia mencoba mengelak dan menunjuk-nunjuk layar proyektor.

"Ini fitnah! Papa, para komisaris, jangan percaya! Data ini adalah fabrikasi palsu! Ini pasti serangan siber palsu yang sengaja dibuat oleh kompetitor atau oleh orang dalam yang ingin menjatuhkan reputasi saya!"

"Aksismu semalam meninggalkan jejak, Mita. Dan jejak itu menuntun kami langsung ke lehermu," ucap Tuan Bayu yang akhirnya berdiri dari kursinya dengan tatapan penuh kebencian pada putri tirinya.

Menyadari bahwa posisinya sudah benar-benar terdesak dan jerat hukum sudah mengunci langkahnya, kelicikan Mita mencapai titik nadir.

Di balik kepanikannya, wanita itu ternyata telah menyiapkan rencana darurat yang paling ekstrem jika rahasianya terbongkar.

Mita diam-diam meraba saku jasnya, menekan sebuah tombol pada detonator kecil yang terhubung dengan bom asap dan peledak skala kecil yang sudah ditanam oleh anak buahnya di langit-langit ruang rapat beberapa jam lalu sebagai antisipasi.

Duar!

Blam!

Ledakan keras mengguncang ruangan, menghancurkan kaca-kaca besar dan seketika memenuhi ruang rapat dengan asap hitam yang sangat pekat.

Suasana berubah menjadi chaos luar biasa. Para komisaris berteriak histeris, tiarap di bawah meja di tengah kegelapan dan kepulan asap.

Pratama yang punggungnya masih terluka parah reflek terbatuk hebat akibat kepulan asap yang menusuk paru-parunya.

Rasa perih di punggungnya kembali mendera saat ia mencoba mencari arah keluar.

Namun, di tengah kebutaan visual itu, beberapa orang pria bertopeng—anak buah bayaran Mita yang memang sudah bersiaga di koridor luar—menerobos masuk menggunakan masker gas.

Mereka langsung menyergap tubuh Pratama yang posisinya paling dekat dengan pintu darurat.

"Bawa dia! Cepat!" perintah Mita yang suaranya terdengar di balik masker.

Dengan kelicikan yang luar biasa, Mita memanfaatkan situasi kacau tersebut untuk menculik Pratama yang kondisinya sedang melemah akibat luka bakar.

Sebelum Diko dan tim keamanan internal sempat menerobos kabut asap yang tebal, Mita bersama anak buahnya telah berhasil menyeret tubuh Pratama keluar melalui jalur lift barang, menyisakan ruang rapat yang hancur berantakan dan teka-teki mengerikan yang harus segera dipecahkan oleh Diandra di rumah sakit.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!