Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Lily
Putri Lily termenung di dalam ruangan kapal. Hamparan laut yang luas, biru tanpa batas, ombak berkilau di bawah cahaya matahari. Pemandangan itu seharusnya menenangkan, namun air laut tak lagi mampu mengusir rasa bosan yang menggerogoti pikirannya.
Di sudut ruangan, King Cristopher duduk di balik meja kayu, tenggelam dalam tumpukan berkas istana. Tangannya bergerak cepat, membuka gulungan, memberi tanda, lalu menumpuknya kembali dengan ketelitian seorang penguasa. Sejak kesepakatan terakhir, hampir tak ada kata yang terucap di antara mereka. Hanya suara debur ombak dan gesekan kertas yang menjadi saksi perjalanan panjang menuju benua barat.
Lily menghela napas pelan, perjalanan ini masih lama. Tiba-tiba ia tersentak, seolah baru menyadari sesuatu yang sangat penting. Jantungnya berdegup cepat. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan berlari kecil keluar ruangan. Gaunnya terangkat sedikit, langkahnya tergesa, wajahnya berubah pucat oleh kecemasan yang mendadak.
Seorang pelayan yang berjaga langsung menunduk hormat.
“Putri.”
“Apa kalian menyimpan peti hitam milikku?” tanya Lily cepat, nadanya mendesak.
Pelayan itu mengangguk. “Benar, Putri. Peti tersebut disimpan di ruang penyimpanan barang.”
“Antarkan aku ke sana sekarang. Aku harus mengambil barang penting dari sana.” kata Lily tanpa memberi ruang untuk kata ‘tidak’.
Pelayan itu ragu, menelan ludah. “Mohon ampun, Putri. Lantai bawah licin dan berbahaya…”
“Aku tidak peduli,” potong Lily, matanya tajam dan gelisah. “Ini tentang hidup dan matiku.”
Pelayan itu spontan panik. Kata-kata hidup dan mati membuat wajahnya memucat. Jika terjadi sesuatu pada calon ratu Kingdom Conqueror, nyawanya sendiri tak akan cukup untuk menebusnya.
“S-saya akan mengantarkan Anda, Putri.” katanya cepat.
Mereka berjalan menuruni tangga kapal menuju lantai bawah. Udara berubah lembap dan berat. Ruang penyimpanan terbentang luas, dipenuhi peti-peti kayu, persenjataan, dan peralatan perang. Cahaya lampu minyak memantul di lantai yang yang sedikit basah.
Begitu melihat peti hitamnya di sudut ruangan, Lily berlari kecil mendahului pelayan.
“Putri…!” seru pelayan itu, ngeri. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, melihat sang Putri berlari tanpa rasa takut.
Lily berlutut di depan peti, memastikan satu per satu lubang kecil di setiap sisinya masih terbuka dengan napas tertahan. Begitu melihat semuanya aman, ia membuka besi penutup peti itu.
Bulu-bulu emas mencuat keluar.
“Auummmmm!”
Dengan gerakan cepat, Eri melompat keluar dan langsung menerjang Lily. Tubuh mereka jatuh ke lantai, Lily terbaring sambil tertawa pelan saat singa besar itu mendarat di dadanya, menggesekkan kepala dengan manja.
Pelayan itu menjerit ketakutan, hampir terjatuh ke belakang. Jantungnya terasa berhenti melihat seekor singa muncul dari peti dan berhenti sepenuhnya saat melihat sang putri justru mengelus bulu emas itu dengan lembut, memeluknya seolah memeluk anak kucing.
“Sudah, kau aman,” bisik Lily, jarinya menyusuri surai Eri dengan penuh kasih.
Ia menatap mata singa itu. “Apa kau lapar?”
“Aummm,” jawab Eri manja, ekornya berayun pelan.
Lily menoleh ke arah pelayan yang gemetar. “Apakah aku boleh meminta daging?”
“Ada apa ini?”
Sebelum pelayan itu sempat menjawab, suara berat datang dari belakang.
King Cristopher berdiri di ambang pintu ruang penyimpanan. Teriakan pelayan membuatnya meninggalkan berkas-berkasnya. Matanya langsung tertuju pada pemandangan di hadapannya, dimana Putri Lily terbaring di lantai kapal, memeluk seekor singa emas dengan wajah tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Untuk sesaat, bahkan Raja Penakluk itu kehilangan kata.
Pelayan segera menunduk lebih dalam lalu menyingkir dari hadapan King Cristopher, memberi ruang dengan langkah gemetar. Udara di ruang penyimpanan terasa semakin berat.
King Cristopher menatap pemandangan yang jauh dari bayangannya tentang seorang calon ratu. Putri Lily terbaring di lantai kapal yang kotor, gaunnya bersentuhan dengan kayu lembap dan bekas air laut, sementara seekor singa emas besar berada dalam pelukannya. Lengan Lily melingkar di leher hewan itu dengan alami, seolah singa itu adalah bagian dari dirinya.
Singa itu mengangkat kepala. Sepasang mata emasnya menatap Cristopher lurus, tajam, penuh kewaspadaan. Tidak ada rasa takut, yang ada hanya peringatan. Seolah satu langkah salah dari sang raja akan dibalas dengan cakar dan taring.
Cristopher mengerutkan kening.
“Dari mana singa ini datang?” tanyanya, suaranya rendah dan menekan.
“Dari sini…” jawab Lily santai, bahkan tanpa bangkit. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk peti hitam di depannya.
Pandangan Cristopher beralih ke peti itu. Baru saat itulah ia memahami, lubang-lubang kecil di sisi peti sebagai sirkulasi, besi penutup yang dimodifikasi, ukuran yang dirancang dengan presisi. Gadis ini tidak sekadar membawa seekor singa. Ia telah memikirkan segalanya sejak awal, menyiapkan setiap detail agar tak ada celah bagi siapa pun untuk menolak keberadaan makhluk itu. Dia bukan gadis biasa yang bisa ditekan oleh kekuasaan atau ditundukkan oleh situasi.
Lily mengangkat wajahnya, menatap Cristopher tanpa gentar.
“Kau mengatakan padaku, bahwa aku boleh mendapatkan apa pun yang kuinginkan,” katanya tenang. “Bolehkah aku meminta daging untuk singaku?”
Sejenak ruangan itu sunyi. Para pelayan menahan napas, menunggu ledakan amarah yang mereka kira akan terjadi. Namun mereka tidak menyadari, sang raja telah terperangkap oleh kesepakatan yang telah ia buat sendiri.
Cristopher melirik singa itu sekali lagi, lalu Lily.
“Berikan apa yang dia minta.” katanya dingin, tanpa tambahan apa pun.
Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan lantai bawah, jubahnya berkibar singkat sebelum menghilang di balik pintu.
Begitu sosok sang raja lenyap, Lily tertawa kecil, ringan dan penuh kepuasan. Ia memeluk Eri lebih erat, menyandarkan keningnya ke surai emas itu.
“Kau dengar?” bisiknya. “Kau mendapatkan makananmu.”
Lily bangkit berdiri dengan anggun, seolah lantai kotor itu tak pernah menyentuhnya. Ia melangkah melewati para pelayan yang masih terpaku ketakutan, kepala mereka menunduk dalam-dalam.
“Aummmm,” Eri bersuara pelan, lalu berjalan mengikutinya dari belakang, ekornya bergoyang santai seperti penjaga setia yang telah memilih ratunya sendiri.
Suara auman singa menggema di dapur kapal. Koki utama Kingdom Conqueror refleks menjerit. Beberapa pelayan mundur serempak, wajah mereka pucat melihat calon ratu kerajaan datang dengan seekor singa emas yang berjalan tenang di sisinya.
“Berikan daging untuknya.” pinta Lily singkat.
Pelayan yang bertugas di gudang persediaan segera membuka peti pendingin. Tangannya gemetar saat ia mengambil potongan daging merah segar, lengannya kaku, kakinya nyaris tak mau bergerak mendekati singa itu.
“P-Putri…” koki itu berlutut setengah panik ketika Lily melangkah masuk ke area dapur. “Wilayah ini terlarang untuk bangsawan. Dapur kerajaan tidak…”
Lily tidak menoleh, tidak pula berhenti. Ia meraih sebuah pisau besar dari meja persiapan. Dengan satu tarikan halus, ia memotong daging besar itu menjadi empat bagian dengan mudah.
Pelayan dan pengawal yang menyaksikan terpaku. Seorang putri tidak seharusnya memegang pisau dapur, apalagi menggunakannya dengan keahlian seperti itu.
Lily berlutut di depan Eri, memberi potongan daging dengan tangannya sendiri. Jemarinya yang ramping menyusuri surai emas sang singa dengan lembut.
“Makan yang banyak,” katanya tersenyum hangat.
“Auuummm,” Eri menyahut manja, lalu melahap daging itu dari tangan Lily dengan lahap.
Dari kejauhan, sepasang mata mengamati pemandangan itu dengan ekspresi sulit dibaca. Di balik tatapan itu, ada ketidaknyamanan yang tak ingin ia akui. Gadis ini bukan hanya berbeda, ia jauh di luar prediksi.
“Sudah,” kata Lily pelan setelah potongan terakhir habis. Ia menepuk kepala Eri ringan. “Ayo ikut aku.”
Eri mengibaskan ekornya dan berdiri, patuh mengikuti langkah sang putri.
Cristopher melangkah mundur sebelum mereka menyadari kehadirannya. Ia kembali ke ruangannya, kembali membuka dokumen yang sempat terbengkalai, meski pikirannya tertinggal pada gadis yang memberi makan singa dengan tangannya sendiri.
nenek sihirny nanti Menjelma jdi Cinderelaa Loh CiLLLL🤣