"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 33 : Pulang?
"Akhirnya, mama dan papa saling suka, tapi cinta mereka nggak disetujuin sama kakek. Jadi..."
Suara Xiangran melemah, terpancar aura kesedihan dari matanya.
"Ooo, aku paham. Oiya, gimana kalo sekarang aku nyoba hasil latihan kita?"
Theo menepuk pundak Xiangran, menyemangati Xiangran.
"Huuuh... Baiklah, sekarang kak Theo harus maju," ucap Xiangran dengan gaya menantang.
"Hoo, begitu ya. Rasakan ini!" Theo berteriak, tapi ia tidak maju.
Theo menunggu, dalam diam mengamati setiap gerakan Xiangran.
Ketika Theo melihat sedikit celah, ia langsung maju.
Tap tap tap
Duak!
Meski Theo merasa berhasil memukul Xiangran, dia segera sadar kalau anak itu bisa menangkap semua serangannya.
"Apa?" Belum selesai menyadari tangkapan itu, tubuh Theo melayang di udara.
Swush
Bruak!
Cutie dan koloninya langsung datang ke lokasi Theo.
"Kak Theo... Ada apa?"
Sekelompok koloni lebah itu terlihat marah dan mengacungkan sengatnya.
"Hei, sudah, aku loh lagi latihan. Oiya, minta madu dua gelas ya. Makasih."
Koloni itu kembali ke sarangnya.
"Kak, hebat sekali!" Xiangran merasa takjub dengan kemampuan Theo mengendalikan hewan.
"Kemaren ular, sekarang lebah? Wah nanti jangan-jangan... Kakak bisa ngendaliin naga ya? Hahahahaha." Xiangran tertawa keras, membuat suara yang sangat gaduh.
"Kita keluar setelah minum madu ya."
"Um," balas Xiangran sambil mengangguk.
Setelah selesai minum madu, Theo dan Xiangran keluar dari kamar.
"Kak, kita tadi latihan lama loh. Kok, kok bisa... Harusnya kan udah sore, kok masih terang gini?"
"Ahahaha, ya itu tadi kita cuma bentar kok latihan."
"Yang bener?" Mata Xiangran bertemu dengan mata Theo, saling memandang dalam.
"Yah begitulah, lihat lilin yang kamu pake aja masih nyala tuh."
"Oh iya ya. Ok deh, kalo gitu aku mau lanjut bakar jarum lagi deh."
Theo kemudian berbaring di samping Lucy, tentu dengan bajunya yang masih dipakai Lucy.
"Sayang... Aku... Aku tau, kamu pasti khawatir. Tenang sayang, aku... Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku janji." Theo memandang tubuh Lucy dengan tatapan yang dalam.
Jelas di matanya, terlihat gejolak emosi sedih yang menumpuk.
Tidak lama... Theo mulai tenggelam dalam bunga tidurnya.
"Huuuh...
Aku... Aku ada dimana?
Ini... Jangan bilang... Rumah sakit?
Ugh... Aroma yang sangat menyengat.
Ummm.... Ayah, ibu? Adikku?"
Theo terbangun di atas kasur rumah sakit. Tubuhnya terlihat ditutup dengan perban.
"Ini... Mimpi? Tapi terlalu nyata."
Kemudian Theo berjalan, menyusuri rumah sakit itu.
"Huh? Rumah sakit apa ini? Sangat aneh, kenapa nggak ada orang?"
Ketika Theo menatap ke luar, tampak sebuah mobil hitam dengan plat BDA1215.
"itu..." Theo membulatkan matanya, "Itu mobil ayah!"
Theo berlari menuju mobil itu, nafasnya terengah-engah, berusaha memompa udara sebanyak mungkin.
Di samping mobil, tampak seorang pria dengan kacamata hitam yang khas dan jenggot yang benar benar rapi.
"Itu... Jenggot ayah, pasti! Nggak ada satupun orang yang punya jenggot itu!"
Theo berlari menuju pria itu, lalu ia memeluknya.
"Akhirnya... Akhirnya kami bisa bertemu denganmu." Pria itu menangis haru, tampak air matanya mengalir deras bagaikan air terjun.
"Nak, kamu telah bangun dari tidur panjangmu. Akhirnya!" teriak seorang wanita paruh baya yang baru saja datang.
"Ayah, Ibu, dimana adikku?"
"Adikmu? Hei Theo, kamu nggak punya adik kan?" Ibunya menatap Theo dengan heran.
"Nggak, dia ada. Namanya, Luciana Gracia."
Sayangnya kedua orang itu menggeleng pelan, "Nggak sayang, adikmu itu nggak ada. Kamu masih syok ya? Soalnya kan kamu baru aja kecelakaan."
"Hah? Kecelakaan? Dimana?"
"Umm, mending baca ini deh."
...----------------...
[HEAD NEWS!!!
Korban Tabrak Lari Cafe Bukit Dingin
Seorang remaja pria bernama Theodore, biasa dipanggil Theo. Ditemukan tergeletak di depan cafe XXX di Bukit Dingin. Dokter menduga bahwa korban telah ditabrak dengan kencang oleh seorang pengendara motor.]
...----------------...
Sekita membaca itu, tanganku gemetar.
Ini... Ini nggak mungkin nyata man.
Aku baru aja nyelamatin Lucy, lalu aku latihan sama Xiangran. Bahkan, aku udah mati.
Begitulah pikiran Theo bergejolak dalam dirinya. Ingatan demi ingatan mulai terputar di pikiran Theo.
"Apakah... Aku... Gila?"
Theo menatap ponsel yang diberikan ibunya.
[17.26]
Lalu, Theo menutup ponsel itu dan membukanya.
[17.26]
'Gila! Nggak mungkin! Masa... Aku pindah lagi? Apalagi, ini bukan mimpi bro.'
Kebetulan, di dekat rumah sakit ada sebuah toko mainan anak-anak.
Theo berlari, kemudian mengambil sebuah gasing.
Whhhrrr
Gasing itu berputar, lalu Theo memegangnya.
Tek
Gasing itu berhenti berputar, "Nggak, aku gila. Aku... Gila? Sekarang, apakah aku sedang bermimpi, atau ini kenyataan?"
Theo memegang rambutnya yang acak-acakan, lalu ia teringat sesuatu.
"Oh iya, coba aku lakukan itu."
Theo menatap kedua tangannya, lalu ia menghitung jari di tangannya.
"1, 2, 3, ... 9, 10. Gila, nggak nggak. Jadi... Semua itu... Mimpi? Nggak."
Theo menatap tajam mata orang tuanya.
"Ini pasti mimpi, aku yakin kalian sedang menipu diriku. Cepat serang aku, hei orang mimpi, cepat!"
Tap tap tap
"Sayang... Papah tau, kamu lagi syok. Ayo kita ke rumah, kita liat deh beneran nggak kamu punya adek." Pria itu memeluk Theo hangat.
Bles
Ucapan pria itu terasa menusuk hati Theo. perlahan ia mulai membuka hatinya dan ikut pulang ke rumahnya.
Rumahnya masih sama, sebuah meja makan dengan televisi yang berhadapan.
"Wah, rumahku nggak berubah."
"Nggak dong, masa mau berubah." ibu Theo mendekati Theo sambil membawa bahan masakan.
"Ini, foto keluarga kita."
"Apa? Dimana? Dimana dia?
Adikku, adikku harusnya ada di sana. Nggak mungkin, adikku pasti ada di foto itu."
Theo segera pergi ke gudang, lalu ia mulai membongkar gudang seperti orang gila.
"Hah? Di sini? Nggak ada?"
Theo mengeluarkan semua kardus yang ada, membuat debu yang lama menumpuk di gudang berterbangan.
"Uhuk! Sayang... Uhuk! Kamu anak tunggal, Uhuk!"
"Theo! Hentikan sekarang juga, atau..."
Ayah Theo terlihat marah, tapi ibu Theo selalu mengingatkan ayahnya.
"Jangan sayang, dia masih syok. Ingat kata dokter."
"Fiuh..." Akhirnya ayah Theo masuk ke gudang dan membongkar semua foto yang ada.
"Nggak ada... Dia nggak ada di sana. Dimana dia? Oh, sekolah aku yakin namanya ada di sekolah."
Theo segera mengambil sepedanya, dengan tatapan yang sangat menyeramkan ia pergi ke sekolah.
Sekolah, sekolah, aku mau sekolah, hehehehe, khekhekhekehe
Dirinya terus terkekeh, bahkan setiap orang yang melihatnya akan memalingkan muka karena ketakutan.
"Ibu, khekhe, aku khekhe mau nanya soal Luciana Gracia."
"Umm... Theo, aku tau kamu mungkin syok habis kecelakaan. Tapi... Nama itu nggak ada di dalam buku daftar siswa." Wanita di balik meja resepsionis menatap Theo dengan wajah yang dingin.
Tiba-tiba, waktu terasa berhenti. Bulu kudukku bergetar, seluruh otakku telah hancur kacau balau. Tidak mungkin, selama ini... Aku hanya, berhalusinasi?
"Dasar jiwa yang malang."
...****************...
End Ch. 33 : Pulang?
Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment dan favorit.